HIM

title: him

genre: romantic, friendship, uncategorized

cast: You & Choi Siwon super Junior

It’s my first time to share my fanfic in here. Hope you enjoy it ;p

I know who are you and I know who am i

Koridor sekolah penuh dengan gerumbulan para gadis-gadis –genit, setelah mendengar bahwa ada seorang siswa pertukaran pelajar asalKoreaselatan yang akan belajar di sekolah kami, sekolah negeri yang kaya akan orang-orang ber-kkn. Gezz, yeah semenjak praktek KKN yang telah meributkan negeri ini,Indonesiaterkenal akan kekorupsiannya. Tentu saja, aku orangIndonesia.

“Well, aku tahu kau crazy of Korean people but why? Mengapa kau tidak seperti gadis-gadis err genit itu?” Tanya seorang teman padaku, yeah aku salah satu orang yang terkena hallyu-wave. Dan apa yang ia Tanya? Menjadi gadis genit? Huek~

“Aku memang sukaKoreadan bukan berarti aku harus menjadi gadis genit seperti mereka.” Jawabku sambil menunjuk ke gerombolan gadis genit yang sedang sibuk ber-make up. Entahlah, mereka sedang memakai bedak serta menyisir rapi rambutnya, bukankah itu juga ber-make up?

“IA DATANG!” seorang siswa berteriak sambil berlari di koridor, dan ialah dalang keributan. Ia telah membuat semua orang berhamburan menuju pintu gedung sekolah, teman-temanku sempat mengajakku, tapi tetap saja aku malas untuk mengurusinya dan lebih memilih untuk menunggu mereka di depan kelas.

Gerombolan gadis itu kembali berhamburan di koridor, mungkin si siswakoreaitu akan memasuki kelas barunya, ngg… hanya menebak. Dan tak perlu waktu lama, aku sudah dapat melihat siswaKoreaitu. Errr, ia tampan sangat tampan dengan wajah yang bisa kukatakan mempunyai garis wajah yang SEMPURNA, badannya proposional seperti anak paskibraka tapi lebih dari mereka. Yeah, itu dia. Di balik kekagumanku aku harus membuat diriku calm, aku harus calm aku tidak mau hal yang memalukan menimpa diriku.

Tiba-tiba siswa itu berhenti di depanku, melihat papan kelas dan membacanya.

“X-A.” bacanya berbahasa Inggris, aku kaku terdiam melihatnya, wangi tubuhnya sudah dapat ku cium walaupun jarak kami masih agak jauh, parfum berkelas, pikirku. Tiba-tiba wajahnya menengokku dan tersenyum hingga lesung pipinya terbentuk. Aku bisa melting kalau begini!

“Ngg… Your class?” tanyanya kaku padaku, aku mengangguk masih tak bisa berkata-kata pada akhirnya ada orang asing yang mengajakku ngobrol, ini impianku dari dulu. Beberapa siswa yang dapat aku lihat di sekitarku menatapku jealous. MAMPUS!

“Ah, my classmate. I’m Choi Siwon. Nice to meet you.” Tangannya menjulur padaku, bisa kurasakan wajahku agak memanas, apakah wajahku seperti buah tomat sekarang? Aku harap tidak.

“Nice to meet you too.” Aku membalas uluran tangannya membuat para siswa sedikit bergemuruh, tanpa pikir panjang aku melepas tangannya. Teman-temanku yang sekiranya sudah sadar akan kedatangannya di kelas mulai menyerobotku dan mempersilahkannya masuk. Sial! Tapi baguslah, setidaknya aku tidak menjadi malu di depannya karena terdiam kaku di depannya. Heff, aku harap anak ini tak membawa masalah pada kelasku, I hope so.

@@@

“Bisakah kau mengajariku bab ini?” ia bertanya dengan aksenKoreapadaku. Ternyata ia sudah agak pintar dalam berbahasaIndonesiawalaupun agak aneh mendengarnya. Aku melihat bab ia maksud, ku tepuk jidatku.

“Siwon-ssi, aku tidak pintar dalam pelajaran fisika. I’m not clever on it, kau dapat bertanya pada anak berkaca mata yang duduk di ujungsana. He’s clever!” Sudah beberapa kali aku menunjuk Verry untuk menjelaskannya tentang bab-bab fisika yang membuat pusing kepalaku. Yeah! I hate pyshic. Dan ia tetap bergeming untuk duduk di depanku agar aku menjelaskannya. Apa ia gila?

“emm… how about biology?” tanyanya, pertanyaan-pertanyaannya membuatku harus mempunyai kesabaran ekstra. Aku adalah orang yang tidak suka berdiskusi tentang pelajaran karena aku benci pelajaran! So, other question pls?

“you could ask our leader~” aku menunjuk ketua kelasku, dan aku memang memanggil ketua kelasku itu dengan sebutan ‘leader’. Ia kembali tak bergeming. Hey, sepertinya ia benar-benar gila sekarang.

@@@

“Kau tahu, Siwon itu sangat dekat padamu. Hingga aku tak pernah melihatnya lepas darimu. Kalian seperti lem.” Ucap temanku saat kami sedang bekerja kelompok di rumahku, aku tertawa lepas.

“Hahaha mungkin ia sadar akan kecantikanku.” Candaku membuat mendapat jitakan berjamaah dari beberapa teman yang ada. Sementara mengusap kepalaku yang terkena jitakan mereka malah cekikikan melihatku.

“Aku senang menjadi teman Siwon. Ia sangat sopan.” Ucapku di sela-sela tawa mereka.

“Tentu saja ia sopan, apa kau tidak tahu bahwa Siwon adalah anak konglomerat? Ia anak pengusaha terkenal diKoreajadi jangan bingung akan kelakuannya bak pangeran.” Jelas salah seorang temanku, sambil memperlihatkanku sebuah artikel di internet yang terpampang di laptopnya. Aku hanya dapat ber’oh’ ria melihat artikel itu.

@@@

Hari demi hari aku lewati bersama Siwon, aku tidak tahu mengapa hal ini terjadi. Di mana ada diriku ia juga selalu ada. Bukan berpikir yang tidak-tidak hanya saja ia memang seperti lem untukku. Gossip-gossip murahan di sekolah bahkan menyebutku sebagai pacar Siwon, hell! Mendengar gossip itu hanya membuatku dan Siwon tertawa. Yeah cukup mengocok perut.

“Yak! Apakah kau mau membuat hal itu terlihat nyata?” Tanya Siwon padaku dengan bahasa Indonesia yang dapat kubilang sudah mencapai standar. Aku melihatnya dengan tatapan tak mengerti. Ia mendesah, lalu menggaruk kepalanya yang mungkin tidak gatal.

“yeah kau tahu… kita pacaran. Kau jadi pacarku, dan aku jadi pacarmu.” DEG! Dadaku serasa di serang beribu panah. Jantungku berdegup kencang. Lupakan!

“neo micheosseo?” tanyaku, ia menggeleng.

“Tidak, aku serius.” Jawabnya sambil memegang kedua bahuku dengan wajah penuh keyakinan. Aku melepas kedua tangannya dari bahuku, dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku tidak menjawabnya, dan lebih memilih meninggalkannya yang duduk di teras kelas. Aku kembali berbaur dengan teman kelasku yang lain, mencoba melupakan perkataannya tadi. Ini sangat mustahil!

@@@

“Siwon akan kembali keKorea, orang tuanya yang meminta hal itu.” Teman-temanku memberitahukan hal itu padaku berulang kali. Dan berulang kali juga aku merasa dadaku sesak. Ia akan pergi~ sudahlah, ia memang harus pulang, di didik lebih baik diKoreaagar dapat menjadi penerus perusahaan ayahnya.

“Aku harus pulang,” ucapnya mengagetkanku, ia kembali memeberiku wajah seriusnya. Dan aku hanya bisa menatapnya wajahnya, berharap di kemudian hari aku dapat melihatnya lagi.

“Aku masih berharap akan hal itu, kau taukanhal yang kita bicarakan minggu lalu. Aku harap kau mengerti akan… about my feeling on you.” Your feeling? Kau membuatku putus asa Siwon-ah! Aku tidak dapat berkata, tetap diam memperhatikannya berbicara.

“Aku akan terus mencarimu di kemudian hari, mencarimu dan aku tak akan mencari penggantimu. Just you.” Ia berkata penuh perasaan dan semua perkataannya menusuk hatiku.

“I’m Promise!”

@@@

7 years later~

Distrik Gangnam,Seoul. South Korean.

Aku baru saja pergi ke kawasan ini, kawasan elit. Aku akan mewawancarai seorang pengusaha terkenal yang katanya akan pensiun dan usahanya akan diteruskan oleh anaknya. Aku memang sudah tinggal selama 3 tahun diKoreaini dan sekarang mempunyai pekerjaan sebagai penulis muda terkenal asalIndonesia.

Sebenarnya ini adalah kerjaan editorku untuk menyuruhku mewawancarai pengusaha itu, temannya yang penulis terkenal sakit. Sebenarnya temannyalah yang akan mewawancarai sang pengusaha demi bukunya yang berjudul ‘Succes Man’ yeah, dari judulnya kita tahu apa maksudnya. Buku itu berisi wawancara-wawancara dengan berbagai pengusaha sukses yang terkenal. Lupakanlah! Editorku itu menyebalkan, tapi karena iming-iming pulang kampung keIndonesiaaku mau melakukannya.

Tak sampai waktu lama, aku mendapatkan rumah si pengusaha. Bisa kukatakan rumahnya seperti istana, sangat besar!

Seorang pembantu rumah tangga membawaku masuk di rumah itu, dengan berbekal sebuahsuratizin aku sudah dapat masuk ke istana ini. Aku tak dapat konsentrasi berjalan, melihat isi rumahnya membuatku agak lupa akan tujuanku.

‘DEG!’ aku berhenti ketika melihat sebuah figura besar menghiasi dinding di depanku. CHOI SIWON! Itu foto sebuah foto keluarga, dan… ada Siwon disana. Jadi, ini…

“Cogiyo, duduklah di sini.” Si pembantu mengagetkanku, membuatku meminta maaf padanya lalu duduk di sebuah sofa besar. Tak memakan waktu lama aku sudah ada di sebuah ruangan kerja yang besar milik pengusaha err ayah Siwon.

Wawancarakupun di mulai. Ayah Siwon baik seperti anaknya, walaupun dari tampangnya ia terlihat sebagai orang yang tak banyak bicara. Dan hal yang aku tidak ingin lakukan, mewawancarai anaknya, Choi Siwon sendiri. Aku ingat! 7 tahun yang lalu, tapi itu tidak memungkinkan ia mengingatnya. Ia pasti lupa padaku~

@@@

Yang benar saja, ia memang sudah melupakanku. Sekarang ia memang tambah tampan, walaupun merasa kecewa, tapi memang itulah yang terjadi. Aku memang tak dapat melakukan apa-apa, haruskah aku berteriak di depannya bahwa aku adalah teman SMA-nya? Sungguh hal bodoh!

“Sudah beberapa minggu ini, kau tak mengetik. Apa yang terjadi? Apakah kau mau mengundur hari kepulanganmu keIndonesia?” Tanya editorku penasaran. Aku menggeleng, lalu menghembuskan nafasku.

“entahlah, aku berubah menjadi orang yang moody’an beberapa hari ini.” Jawabku lengah. Editorku tersenyum menggoda. Ish~

“Kau jatuh cinta?” tanyanya membuat wajahku memanas. Aku terdiam, ia makin menggodaku. Dasar editor sialan!

“aku harus maklum akan perasaanmu tentang hal itu, yang terpenting adalah kau harus mengetik. Chaw~ aku harus pergi. Annyeong~” pamitnya berlalu pergi dari apartemenku. Dia memang menyebalkan!

Aku masih malas menulis dan lebih memilih mengecek emailku, membalas pesan-pesan pencinta karyaku. Semuanya sama, bertanya kapan akan terbitnya buku baru. Sungguh menyebalkan! Aku sedang bad mood. Daripada sibuk memikirkan buku, lebih baik aku pergi berjalan-jalan, menikmati udara musim gugur sambil makan Udon, makanan kesukaanku.

@@@

“Udon supnya 1 porsi.” Ucapku pada pelayan yang sudah aku hafal wajahnya, aku adalah pembeli langganan mereka, tak jarang aku sering di berikan makanan gratis oleh si pemilik usaha ini kk~

“Udon supnya 1 porsi!” seseorang memesan pada seorang pelayan, ia duduk tepat di sebelahku. Dari suaranya, ia mengingatkanku akan Siwon. Heff, semenjak aku mewawancarainya aku menjadi hafal nada suaranya.

Tak perlu waktu lama, udon pesananku sudah datang. Aku mulai menikmati makanan KhasKoreaini dengan hidkmat. Hehe, ini patut di coba untuk orang-orangIndonesia. Mienya sangat lembut mengingatkanku akan Mie Ayam.

“Ckckck… kau makan dengan sangat lahap.” Orang di sebelahku itu mengomentari cara makanku. Ngg… aku tersenyum malu menanggapinya.

“APA?!” aku berteriak shock melihat orang itu, beberapa orang kaget akan teriakanku, enyahlah aku tak peduli!

“calm down,” ucapnya menahan tawa. Oh gosh, dia mempermalukanku. Aku tak peduli dengan tatapan matanya yang lembut padaku, aku kembali berkonsentrasi pada Udonku agar aku bisa pulang dengan cepat.

“Yak! Kau makan terlalu tergesa-gesa.” Tegurnya.

“bukan urusanmu.” Ucapku tak peduli, ia tetap menegurku hingga suapan terakhirku. Lihatlah, ia bahkan belum memakan udonnya.

“Makanlah udonmu, sebelum dingin.” Aku menegurnya, ia tersadar akan udonnya, lalu memakan udonnya sembari melihatku.

“aboji, ini uangnya,” aku memberikan uang kepada aboji itu dan pulang,

“Kau ingin ke mana?” tanyanya padaku, ketika ia berhasil menahan tanganku.

“Pulang,” jawabku singkat. Ia menggeleng dan menyuruhku duduk kembali. Lihatlah! Ia hanya makan dan terus menahan tanganku dengan tangannya yang besar dan kuat.

“Kita jalan-jalan.” Ajaknya ketika ia sudah menghabiskan udonnya, ia membuatku tersadar dari keseriusanku dalam melepas tangannya dari tanganku.

“anio, tidak perlu. Aku tidak mengenalmu dan kau juga tidak mengenalku.” Jelasku, ia terdiam mimic wajahnya berubah aneh.

“kalau tidak mengenalku, mengapa tadi kau kaget?” tanyanya.

“bukan urusanmu.” Jawabku keki. Bukan sebuah pertanyaan lagi yang kudapatkan, ia menarikku keluar warung itu dan memaksaku untuk masuk ke dalam sebuah mobil, yang aku tahu pasti mobilnya. Aku tak dapat berbuat apa-apa, ia terus saja menahanku dalam keadaan apapun! Bahkan ketika menyetir, itu memang mustahil, tapi itulah dirinya.

@@@

Ia membawaku ke Sungai Han, sembari duduk di sebuah kursi panjang ia mulai berbicara, ia sama seperti Siwon dulu, cerewet.

“Maaf soal wawancara itu, hanya saja aku terlalu shock ketika tahu kau mewawancaraiku.” Ia meminta maaf padaku dengan nada menyesal, aku kembali bingung mau berkata apa-apa. Memarahinya? Tentu saja tidak. Mengapa aku harus memarahinya karena tidak mengingatku? Itukan urusannya.

“Hm… kau sudah berapa lama di sini? Hangulmu sangat baik.” Ucapnya menggeser ke topic lain. Aku menghembuskan nafasku dengan berat.

“3 tahun.” Jawabku singkat. Dan ia hanya berdehem.

“Apa kau ingat janji itu?” tanyanya, please jangan Tanya tentang itu.

“Tidak.” Jawabku. Jawabanku membuatnya tersenyum manis. Apa maksud dari senyumannya?

“Really, but from your answer. I think you still remember it.” Ucapnya, aku menoleh ke arahnya. Ia menatapku dengan tatapan seperti dulu. Aku kembali mengalihkan pandanganku ke arah sungai han, melihatnya membuat dadaku sesak.

“Apakah hal itu bisa menjadi nyata?” tanyanya. Aku diam memandang sungai Han.

“Apakah kau merindukanIndonesia?” aku berbalik bertanya padanya, aku tidak mau membicarakan tentang hal itu.

“Tentu saja, tapi semenjak aku melihatmu rasa rindu itu sedikit terobati.” Jawabnya. Kata-katanya kembali menyangkut tentang hal itu. Bisakah ia diam? Heuf~

“Lihatlah, kau tambah cantik sekarang~” ucapnya, tapi tetap saja perkataannya membuatku tertawa, ia tak bisa menggombal!

“HAHAHA… Sudahlah, aku tambah semrawut semenjak menjadi penulis.” Tawaku, membuatnya tersenyum manis.

“Hmm, ingatlah janjiku. Janji itu harus ditepati.” Ucapnya membuatku diam seketika. Tawaku hilang terganti dengan deheman.

“oh yah, kapan kau mengunjungiIndonesia?” tanyaku kembali mengganti topik, ia menghirup nafas. Sebenarnya, aku memang ingin ia bertanya seperti itu. Tapi, perlu dipikirkan lagi, aku siapa dia siapa? Mungkin saja ia terpaksa ingin menepati janjinya untuk menjadi pacarku, lalu setelah janji itu tertepati ia akan minta putus. Itu sudah pasti!

“Tolong, jangan mengganti topiknya.” Ia memegang kedua bahuku, agar aku menatapnya. Seperti kelakuannya 7 tahun lalu. Aku melepas kedua tangannya dari bahuku.

“sepertinya itu tidak usah dibicarakan. Aku tahu aku siapa, kau pasti sudah mendapatkan orang yang lebih cantik, kaya, dan baik. Jadi, jangan membuatku berharap akan dirimu.” Jelasku, ia terdiam mendengar perkataanku.

“AHHAHAHA…” tiba-tiba tawanya memecah keheningan. Aku menatapnya aneh.

“Neo micheo?” tanyaku, membuatnya berhenti tertawa tapi tetap cekikikan.

“Kau ini! Kau pikir wanita seperti itu gampang di dapat?  Berharap kau menjadi kekasihku saja sangat susah!” ucapnya membuatku menatapnya bingung.

“ehm… Yang aku tahu seorang penulis mempunyai banyak royalty, apalagi bukunya banyak yang menjadi best seller. Kau ini, sudah mempunyai fanboy yang banyak tapi tetap saja mengaku tidak cantik.” Jelasnya, membuatku menatapnya tak percaya. Bagaimana ia tahu tentang itu? Best seller dan… Fanboy.

“Aku salah satu fansmu nona cantik.” Ucapnya sembari mengeluarkan sebuah buku dari dalam jaketnya. Itu salah satu karyaku yang kuingat menceritakan tentang hidup masa kecilku.

Ehm… aku memang menulis tentang diriku sendiri. Dan soal fanboy, entahlah aku rasa ia hanya mengarangnya saja.

“mau ku tanda tangani?” tawarku, ia mengangguk.

“yeah, walaupun begitu kau jangan sombong yah.” Ucapnya sambil mencubit pipiku gemas. Ia tersenyum kembali padaku, bedanya senyumnya kali ini agak lebar dari sebelumnya.

“Jadi, kau pacarkukan?” tanyanya ngarep. Ia mengusap ujung puncak kepalaku lembut

“Kau ngarep? Sejak kapan aku bilang iya?” aku berbalik bertanya padanya, aku memberikannya sebuah mehrong. Biar saja.

“Mwoya? Dari raut wajahmupun aku tahu kau menyukaiku juga, dasar bodoh. Wajahmu merah seperti buah tomat kau tahu?” lantas aku memegang kedua pipiku, apanya yang merah? Ini pasti karena dingin.

“Aku kedinginan…” ucapku asal. Tiba-tiba ia merangkulku menyandarkan kepalaku ke dadanya yang bidang. =///=)

“masih kedinginan naui chagiya?” tanyanya dengan nada lembut.

“Anio, yeobo.” Jawabku menahan tawa.

“mwo?” tanyanya mengeratkan rangkulannya. Aku menyenggol badannya dengan sikunya. Terlalu erat, susah untuk bernapas. Ia ini monster apa manusia sih? Badannya terlalu besar. Setelah kupikir-pikir ia tidak seromantis yang kupikirkan, ia tidak menyatakan cintanya seperti orang-orang, malah ia hanya merangkulku seperti itu. Astaga!

“AIGO!! Aku harus menyelesaikan bukuku.” Aku berdiri tiba-tiba mengingat deadline bukuku itu. Siwon melihatku kaget, ia merengut cemberut.

“Jangan pentingkan deadline itu, aku masih ingin bersamamu.” Ucapnya dengan nada manja, aku kembali duduk dan memukul-mukul kepalaku akan keteledoranku, itu karena Choi Siwon. Gezz.

Tiba-tiba tangan Siwon menahan tanganku dan kembali merangkulku. Ia sangat manja!

“Kau tidak perlu lagi membuat buku, calon suamimu ini seorang pengusaha. Jadi, jangan pikirkan deadlinemu itu.” Ucapnya membuatku kembali menyenggol badannya. Dia ini, manjanya tak tertahankan, aku tak tahu akan jadi apa diriku bila menjadi istrinya, mwo istri?!

“Kau Gila?”

END

2 thoughts on “HIM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s