Prue or Xin?

Maybe is wasn’t important, but i would like to post.

Ini adalah hasih imajinasi yang terinspirasi dari novel berjudul SEOULMATE  karya kak Lia Indra Andriana, jadi jangan bash saya kalau jalan ceritanya hampir sama .__.)

Dan cerita ini menjadi pajangan mading kelas untuk beberapa minggu. Jadi ada chapter-chapternya So Check this out:

Prue or Xin?

 

Cerita ini terinspirasi dari novel Seoulmate

CHAPTER 1

Cloudy merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu rumahnya. Ia menerawang, melihat ke atas, mengingat sebuah kejadian yang dulu sering menerpanya ketika ia tertidur di malam hari. Setiap jam 3 malam ia akan terbangun, dan mendengar seseorang memanggil-manggil namanya. Memang menyeramkan, bahkan ia pernah berteriak dengan kencang, tapi tidak ada satupun keluarganya yang terbangun mendengarnya. Yang ia rasakan hanyalah suara teriakannya yang menggema di setiap sudut kamarnya.

“Cloudy, aku di sini.” Sebuah suara mengagetkannya, ia mengenal seuara itu. Suara yang tidak asing lagi baginya, tapi suara itu bukanlah suara yang memanggilnya setiap malam.

“Apakah kau yang dulu memanggilku setiap jam 3?” ia bertanya pada udara kosong di sebelahnya. Tapi baginya itu bukan hanya sekedar udara kosong.Adaseseorang, bukan tapi sebuah makhluk berwujud manusia. Bukan hantu, tapi arwah. Arwah gadis bernama Prue.

@@@

Cloudy mengitari taman sekolahnya, ia telah melihat sebuah cahaya terang yang berasal dari belakang taman sekolah. Bukan cahaya matahari di siang bolong tapi cahaya putih bersinar dari awan. Ini tidak biasa, lagipula ia merasakan hal yang aneh dari sinar itu.

Tiba-tiba tubuh Cloudy terdiam, ia melihat seorang gadis turun dari cahaya itu. Gadis itu berparas cantik dengan kulit yang putih pucat hampir menyamakan pakaian yang gadis itu kenakan serta rambutnya yang panjang berwarna hitam, sangat cantik. Cloudy ketakutan, ia ingin lari dari tempat itu, tapi kakinya tak bisa bergerak sama sekali, seperti ada yang menguncinya untuk diam.

Gadis itu turun dengan sempurna dan ia melihat Cloudy yang terdiam Shock,”Hi!” gadis itu menghampiri Cloudy dengan wajah yang berseri-seri. Cloudy merengut ketakutan ketika ia tahu gadis itu tak mempunyai kaki seperti manusia dan tentu saja gadis itu bukan manusia.

“H…hi” Cloudy bisa merasakan aura dingin di dekatnya, ia ketakutan tapi dengan wajah si gadis jadi-jadian yang amat sangat cantik itu, ia masih bisa membalas sapaannya.

Gadis itu mengulurkan tangannya, ia masih tetap percaya diri mengulurkan tangannya pada Cloudy walaupun ia tahu tangannya tak akan bisa di sentuh oleh Cloudy. Ia hanya ingin merasa kembali ke dunia nyata, kembali ke masa lalu.

“Aku Prue, dan kau akan menjadi penolongku.” Gadis aneh itu mengenalkan dirinya pada Cloudy. Suara gadis itu amat lembut seperti suara para penyanyi. Tiba-tiba sebuah huruf tertulis di lengan Cloudy, Cloudy meringis kesakitan seperti ada banyak jarum yang menusuk-nusuk lengannya. Tercetaklah Huruf ‘P’ di lengannya itu, yang berarti Prue.

“Ini adalah tanda bahwa kau sudah menjadi penolongku,” Gadis bernama Prue itu menunjuk huruf yang tertulis di lengan Cloudy.

“Tidak! Aku tidak mau menjadi penolongmu. Kau hantu!” Cloudy membentak Prue ketakutan, ia mencoba menghapus huruf yang telah mengotori lengannya itu.

Prue tersenyum manis,”Itu tidak akan bisa hilang.” Ucapnya.

“Menjauhlah!” Cloudy berlari meninggalkan Prue yang masih saja tersenyum melihatnya. Punggung Cloudy bahkan sudah tak terlihat lagi dari jangkauan mata Prue, tapi wanita itu masih tetap tersenyum. Ia melihat ke atas langit, ini kali keduanya dapat melihat langit yang berwarna biru itu.

Cloudy berlari menuju kelasnya, ia tak peduli dengan tatapan aneh orang-orang yang melihatnya. Ia sama sekali tak ingin membantu hantu gentayangan yang bernama Prue itu, tidak! Ia masih mempunyai banyak masalah dan belum di atasinya dengan baik.

@@@

“Bukan aku! Itu Casey si hantu aneh.” Prue menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menanggapi pertanyaan Cloudy yang merujuk pada dirinya. Ia memang arwah, tapi bukan berarti ia bisa mengganggu manusia seperti hantu. Ia berbeda dengan hantu.

Mendengar jawaban Prue, Cloudy merasa keki. Casey hantu yang memang selalu bergentayangan di kamarnya itu selalu membuat onar. Casey adalah hantu laki-laki yang berparas cantik, bahkan melebihi cantik manusia seperti biasa dan ia juga hantu yang paling aneh ditemui Cloudy. Ia tidak tahu bahwa yang sering mengganggunya adalah Casey sendiri, si pembuat onar.

Semenjak mengenal Prue, ia bisa melihat hantu ataupun apalah yang namanya makhluk lain selain manusia. Prue yang membukakan mata batinnya, itu bukanlah mau Cloudy tapi kemauan Prue sendiri, dengan alasan agar dapat membantu Prue kembali hidup seperti sedia kala dan juga Prue ingin, ia mendapatkan banyak teman, walaupun berbeda alam.

“Ck… aku sudah..”

Tiba-tiba Prue menghilang dari hadapan Cloudy. Cloudy sadar ada yang mendengar percakapannya dengan Prue. Ia mendesah ketika melihat adiknya yang bersembunyi di bawah meja dengan wajah yang merengut ketakutan. Ia takut melihat kakaknya yang sudah mulai tidak waras.

@@@

“Tolonglah, Bantu aku hidup kembali. Tolong,” setiap hari Cloudy harus mendengar kata-kata itu. Prue terus mengikutinya setiap saat, di manapun ia berada. Cloudy mendesah, ia membanting pintu lokernya.

“Baiklah.” Ucap Cloudy muluk-muluk ia menyerah akan Prue yang terus memohon. Dan sepertinya ia baru sada ketika beberapa siswa berbisik melihatnya yang berbicara pada udara kosong.

Cloudy kembali membali membuka pintu lokernya, ia menyembunyikan wajahnya di balik loker,”bodoh” rutuknya pada dirinya sendiri.

Prue yang senang mendengar ucapan Cloudy berputar-putar senang menembus tubuh beberapa manusia yang melewatinya. Ia bahkan menari-nari tanpa kaki di udara. Cloudy tambah kesal karena Prue yang terlihat sangat senang.

@@@

“Aku sedang menghapal naskah drama.” Kata Cloudy menghampiri adiknya yang terlihat ketakutan. Adiknya menghembuskan nafas. Untung saja Cloudy memang aktif dalam klub drama walaupun ia hanya menjadi cameo atau hanya membantu di belakang layar.

“ehm, aku pikir kamu gila.” Ia tertawa membuat Cloudy menahan emosinya, ia bersyukur ternyata adiknya masih gampang dibodohi seperti biasa.

Cloudy meninggalkan adiknya yang masih tertawa, ia mengunci pintu kamarnya dan menyalakan musik dengan agak keras, ia ingin bertemu dengan hantu cantik itu dan memarahinya.

“Casey!” Cloudy berteriak dalam keributan musik yang di putarnya. Apalagi lagu itu adalah lagu rock, Hearts Burst Into fire. Cloudy memang tak menyukai lagu rock hanya saja, ia sengaja mendownloadnya untuk kebutuhan berbicara pada Prue di kamar. Memang ribut, yang terpenting ia bisa bercakap pada arwah itu.

“Apa?” Casey muncul dengan sebuah makanan snack di tangannya. Cloudy tidak tahu ternyata hantu juga bisa makan seperti apa yang dilakukan Casey di hadapannya.

Cloudy duduk di lantai kamarnya.“Kau yang menggangguku setiap jam 3 itukan?” tanyanya dengan wajah serius. Casey si hantu itu ikut duduk di depannya lalu tertawa.

“Hahahaha memangnya kenapa? Kau takut?” Casey menantangnya, ia tahu itu memang benar. Agak memalukan memang, tapi itu hal yang wajar bagi Cloudy yang seorang manusia bukan HANTU!

Cloudy tahu ia tak bisa memukul ataupun menjitak Casey, ia hanya terdiam serius menatap Casey. Yang ia punya untuk melawan Casey hanya tatapan mata tajamnya, ia bisa menatap Casey hingga Casey menyerah dan meminta maaf. Casey memang takut akan tatapan Cloudy yang menurutnya sangat menakutkan.

“Baiklah, aku minta maaf!” katanya meninggalkan Cloudy yang kemudian mendesah. Ini akal-akalan Casey, ia akan pergi tanpa berpamitan apabila sudah meminta maaf. Casey adalah hantu yang tak mau dikalah walaupun ia hantu yang baik. Dan Casey bukan satu-satunya hantu yang ia kenal.

CHAPTER 2

Prue menatap seseorang di hadapannya, wanita tua berambut keriting dengan beberapa uban. Ia tak mengenal wanita ini, hanya saja ia seperti mengenalnya. Prue memperhatikan wanita itu dengan seksama, tidak ada gerakan yang luput dari penglihatannya.

Wanita itu tersenyum lembut menawarkan jajanan yang ia jual berharap ada orang yang mau membeli Sun cake yang menjadi kue khasTaiwan. Orang Singapura memang kebanyakan adalah orang yang merantau dariTaiwanataupun Hongkong jadi tidak salah jajanan khas Taiwanpun banyak dijual di Singapura apalagi diFoodRepublicyang berada di lantai 4 Wisma Atria tersebut. Prue tersenyum puas melihat seorang pelanggan yang membeli sun cake dari wanita tua itu. Prue tahu sepertinya ia menyukai Sun Cake itu.

Prue menghilang, ia sadar ada beberapa orang yang dapat melihatnya. Orang-orang dengan indra ke-enam.

 @@@

Cloudy berjalan-jalan di sekeliling kompleks rumahnya. Ia tak sendiri, Prue berada di sebelahnya, selalu menempel di dekat Cloudy. Prue yang mengajak Cloudy berjalan-jalan berharap ada orang yang tiba-tiba ia kenal, walaupun hal itu tidak besar kemungkinan akan terjadi.

“Aku fikir, aku pernah berjalan-jalan di daerah ini.” Ucap Prue pada Cloudy. Cloudy hanya berdehem meresponnya. Ia takut akan ada yang memergokinya berbicara sendiri. Tiba-tiba Prue berhenti, ia menatap sebuah rumah di seberang jalan dengan wajah yang penuh kecemasan. Cloudy menyadari hal yang menimpa Prue. Tanpa disuruh, ia menyebrangi jalan yang lenggang itu dan membunyikan bel rumah itu.

Ia Sadar akan keteledorannya, bisa saja Prue hanya berhenti karena sesuatu bukan karena rumah itu. Tapi, ia merasakan hal yang aneh. Prue sedang tidak bercanda, dan ia ingin membantu Prue agar kembali hidup dan kehidupannya akan kembali normal.

“Maaf, kamu siapa?” seorang gadis yang agak lebih tua dari Cloudy membukakan pintu, dan langsung bertanya padanya. Gadis itu tampak buru-buru, seperti ingin mengerjakan sesuatu.

Cloudy menggaruk kepalanya yang tidak gatal,”Apakah kau mengenal gadis berambut panjang berwarna hitam, ia orangBeijing.”

“Tidak!” gadis itu menutup pintu di depan cloudy dengan sangat keras, Cloudy agak kaget, ia sadar gadis itu mengenal Prue, dari cara menjawabnya pertanyaan Cloudy yang sebenarnya masih jauh dari ciri-ciri Prue yang lain. Tapi untuk sekarang ia tak mempunyai bukti yang memadai untuk memaksanya mengenal Prue.

“Ayolah Cloudy,iatak mengenalku.” Ucapan Prue yang pasrah membuat Cloudy berjalan meninggalkan rumah itu. Cloudy masih sempat memperhatikan rumah itu sebelum ia pergi jauh. Ia membutuhkan bantuan Casey!

Sesampainya di rumah, Prue berpamitan untuk pergi sebentar. Cloudy tahu, Prue akan ke rumah itu lagi berusaha mengingat wanita itu dan tentu saja ia membolehkannya lagipula ia ingin meminta bantuan Casey tanpa sepengetahuan Prue.

Seperginya Prue, Cloudy kembali membunyikan musik rock ia kemudian memanggil Casey. Casey datang,”Sepertinya kau rindu padaku.” Ucapan narsis dari hantu cantik itu membuat Cloudy memutar bola matanya. Casey sepertinya hantu yang berdarah AB. Yeah, darah AB itu terkenal dengan keanehannya, itu fakta.

“Dasar hantu jelek! Kau ini mati karena serangan jantung saja sudah berlagak.” Cloudy sengaja mengejek cara kematian Casey yang menurutnya tidak keren. Casey melongo, Ia tidak pernah memberi tahu penyebab kematiannya pada manusia itu. Tentu saja, banyak hantu yang dapat memberikan Cloudy info tentangnya, iakansalah satu hantu yang terkenal akan kecantikan dan ketampanan wajahnya.

Casey menatapnya dengan enggan,”Adaapa?” tanyanya.

Cloudy menangkupkan kedua tangannya di depan Casey, ia tahu ini salah satu cara agar Casey mau membantunya.”Bantulah aku mencari tahu tentang si pemilik rumah bernomor 16 di kompleks kita ini. Aku mohon! Cari tahu juga tentang apa hubungannya dengan Prue tolonglah Casey yang tampan.” Ia memohon dengan amat sangat terpaksa, Casey agak shock dengan permohonan Cloudy, tapi ia merasa tersanjung.

“Adasatu syarat.” Ucap Casey ia mengangkat satu tangannya ke udara. Cloudy menunggu ia berbicara, berharap syaratnya tak susah.

Casey berdehem,“Kau harus pergi ke Old Hospital Changi,”

‘BRUKK’

Sebuah buku tebal melewati badan hantu Casey, Cloudy shock, Ia tahu rumah sakit itu sangat berhantu dan menyeramkan. Tiba-tiba Casey tertawa melihat respon Cloudy, ia hanya bercanda tentang syarat itu. Tentu saja ia akan membantu Cloudy, iakanhantu yang baik.

Casey tertawa di balik suara rock si vokalis band yang terputar di computer Cloudy.”Hahahhahaha… aku bercanda!”

“Baiklah, aku harap kau menemukan infonya secepat mungkin.”Ucap Cloudy,iaberdiri, mematikan musik rock yang sama, lalu keluar kamarnya, ia masih keki dengan candaan Casey yang menurutnya tidak lucu.

 @@@

Cloudy duduk di samping adiknya yang sedang asyik bermain PSP hitam dengan suara yang ribut. Ia tidak konsentrasi dalam mendengar musik lewat ipod apple berwarna putih miliknya, apalagi Prue yang mengoceh di belakangnya tentang ketertarikannya pada seorang teman Cloudy yang tampan.

Cloudy mendesah, kali ini perjalanan menuju rumah neneknya yang cukup jauh sangat ribut. Rumah neneknya memang berada di daerah pinggirankotaSingapura dan kesanamenempuh 1 jam perjalanan menggunakan mobil pribadi.

Sesampainya di rumah nenek, ia dibuat terkejut akan makhluk baru yang ia lihat di depan pagar rumah neneknya itu, yeah seorang hantu anak kecil dengan wajah yang penuh darah. Prue senang melihat anak kecil itu, tidak ada sedikitpun rasa takut yang diperlihatkannya tentu saja mereka sama-sama makhluk lain. Berbeda dengan Cloudy yang menatap hantu anak itu dengan rasa kasihan.

Cloudy bukan terkejut karena takut, ia mengenal anak itu, anak yang beberapa bulan lalu mengajaknya bermain, ia tetangga neneknya. Neneknya tidak tinggal sendiri ia tinggal bersama paman dan bibi Cloudy yang menetap disana.

Cloudy masuk ke dalam rumah neneknya, tidak ada yang berubah hanya saja untuk kali ini ia sering melihat beberapa makhluk yang lewat di sekitarnya. Cloudy berdehem, “Nek, Han dia…” ia menutup mulutnya, ini salah. ia baru sadar, ia baru saja akan mengungkapkan bahwa ia bisa melihat hal-hal aneh. Neneknya tersenyum melihatnya, tersenyum terpaksa lebih tepatnya.

“Han, anak kecil itu meninggal karena tertabrak mobil di depan rumah kita. Ia kehabisan darah karena pertolongan yang terlambat.” Jelas neneknya. Cloudy mengangguk, kasihan pada Han, anak itu. Anak sekecil itu telah mati karena hal yang mengerikan, padahal ia sangat baik dan ramah.

“Nenekmu dapat melihatku.” Ucap Prue pada Cloudy, ia membungkuk sopan pada nenek Cloudy, cara orangBeijingmemperlakukan orang yang lebih tua darinya. Nenek Cloudy tersenyum manis ke arah Cloudy, walaupun senyuman itu untuk Prue.

Secarik kertas disematkan di tangan Cloudy sebelum Cloudy pulang kembali kekota, neneknya yang menyematkan kertas itu. Cloudy tahu itu ada sangkut pautnya dengan Prue teman arwahnya dan ia harap itu pertolongan dari neneknya.

“Selamatkanlah dirinya.” Bisik neneknya, ia mengangguk sopan. Ia memang harus menyelamatkan Prue, arwah yang ingin tinggal di dunia yang terasa kejam ini.

Di rumah, diam-diam Cloudy membuka kertas itu. Prue dan Casey sedang asyik menonton anime di computer Cloudy mereka tertawa-tawa melihat Natsu –tokoh Fairy tail- yang masih bertengkar dengan Grey teman kelompoknya sendiri.

“Lao Zhao…Bugis streetnumber 9” Cloudy membacanya pelan. Disuratitu ada penjelasan tentang Lao Zhao yang nyatanya adalah teman neneknya yang juga bisa melihat makhluk seperti itu. Menurut neneknya, Lao Zhao akan memberinya sedikit informasi tentang Prue.

Cloudy melihat Prue dan Casey yang masih tertawa. Ia merasa kasihan terhadap dua makhluk itu. Prue sangat cantik, Casey ia tampan, kalau mereka hidup tentu saja banyak yang menyukai mereka berdua, tidak sepertinya yang tidak terlalu cantik, bahkan ia cukup dijauhi di kalangan teman-temannya.

Ia sebenarnya berharap dapat membantu Casey hidup kembali, tapi Casey tidak mungkin bisa hidup kembali, ini sudah 5 tahun semenjak kematiannya berbeda dengan Prue yang baru meninggal 1 bulan yang lalu dan ia sadar, ia akan terus di temani oleh Casey setiap hari.

 @@@

Ketika malam tiba, Casey melayang keluar rumah Cloudy, ia akan ke rumah bernomor 16 yang dimaksud oleh Cloudy. Ia sudah biasa melayang di daerah ini, menembus orang ataupun kendaraan yang melewatinya. Ia juga terkenal di kalangan hantu komplek itu.Adajuga beberapa hantu yang memang adalah temannya semasa ia hidup. Beberapa hantu yang terlihat menakutkan menegur Casey, Casey membalas mereka dengan senyuman khasnya.

Casey merapikan rambutnya yang ikal sebahu itu, “Kau memang tampan Casey.” Ia memuji dirinya sendiri. Tak lama ia sudah sampai di depan rumah bernomor 16 itu. Seorang hantu tua terlihat menjaga di depan pagar rumah itu.

Casey menyapanya, “malam.” Sapanya. Hantu bapak tua itu melihat Casey dengan enggan. “Jangan masuk.” Ucapnya ketus. Casey memanyunkan bibirnya.

“Tidak, aku hanya ingin bertanya tentang wanita di dalam pada beberapa hantu di sekitar sini.” Katanya sopan. Hantu tua itu menatap Casey cemas, ia memalingkan wajahnya. Casey terperanjat, kepala hantu tua itu dapat berputar seperti burung hantu. Casey kemudian bersikap normal layaknya hantu, hantu tua itu mati karena gantung diri.

“Bertanyalah pada mereka.” Hantu itu menunjuk sebuah kerumunan hantu yang sedang asyik duduk di bawah pohon cemara rumah bernomor 16 itu. Ia masih bersyukur, ia diterima baik oleh hantu-hantu itu dan dengan mudah mendapatkan infromasi tentang wanita pemilik rumah itu.

CHAPTER 3

Cloudy berjalan dengan cepat, ia takut apabila Prue memergokinya pergi ke rumah Lao Zhao. Bukan bermaksud yang jelek, hanya ia takut apabila Prue sudah mengingat banyak dan dengan cepat ia hidup, ia takut kehilangan teman seperti Prue. Ia sepenuhnya telah sadar, Prue adalah temannya. Prue yang telah membuatnya bersemangat untuk beberapa hari, ia juga sadar selama ini ia tak mempunyai teman seperti Prue dan ia tak ingin cepat berpisah dengan Prue.

Ia menanyakan nama Lao Zhao pada seorang penjaga kasir, rumah yang neneknya maksud telah berubah menjadi sebuah mini market, tentu saja kawasan jalan Bugis telah berubah menjadi tempat-tempat usaha terkenal di Singapura. Kasir itu mengangguk menyunggingkan senyum.

“Kau berteman dengan kakekku yah?” penjaga kasir itu tertawa dengan candaannya, Cloudy tidak meresponnya, ia cukup malu juga mencari kakek tua. Penjaga kasir itu memanggil kakeknya yang berada tak jauh dari mereka, ia sedang duduk membaca Koran dengan kacamata bacanya.

Kakek itu melihat Cloudy, ”Ah… kemarilah, aku tahu kamu cucunya temanku. Ia telah menjelaskan tentang dirimu lewat telepon.”

Cloudy menghampiri kakek itu, duduk di kursi sebelahnya.

“Temanmu itu, tidak mati ia hanya koma dan ingin kembali hidup. Aku hanya memberitahukanmu namanya. Namanya Xin Biao. Aku tahu kau tidak ingin cepat-cepat membuatnya sadar, tapi jangan lama menahannya ia sedang dikejar oleh seseorang.” GLEK! Cloudy menelan ludah, seseorang? Ia tahu pasti tempat yang sering Prue kunjungi, dan tentu saja banyak orang yang berkeliaran di tempat itu. Tidak salah lagi, ada banyak yang menyadari keberadaan Prue.

Cloudy pulang dengan tergesa-gesa, Ia ingin melarang Prue untuk pergi ke tempat penjual Sun cake itu. “PRUE!” Cloudy tidak peduli dengan adik ataupun ibunya yang terkejut dengan teriakannya yang memanggil Prue. Ia menutup pintu kamarnya dan menyalakan musik rock lagi, Casey menghampirinya sambil menutup telinganya.

Cloudy menatap isi kamarnya, “Mana Prue!?” tanyanya pada Casey. Casey menggaruk kepalanya bingung.

“Ia belum pulang,” jawab Casey pelan.

“APA?” Casey menutup telinganya sambil mengelilingi Cloudy, berharap ia tidak berteriak lagi.

“Memangnya kenapa?” Tanya Casey, Cloudy sangat cemas.

“Adaorang… ada orang!” Cloudy gugup, ia masih cemas dengan keadaan Prue. “Sun Cake!” ia berbicara dan bersiap untuk berlari keluar kamarnya, tiba-tiba ia terhenti dan menarik nafasnya dalam-dalam.

“Kau di sini!” ia terduduk di lantai dengan rasa lega melihat Prue yang baru tiba. Prue melihatnya bingung, ia mendekati Cloudy. Cloudy ingin sekali memeluk Prue, Prue baik-baik saja!

Prue mencoba memegang punggung Cloudy walaupun itu tidak berhasil, “Adaapa?” tanyanya.

Cloudy menarik nafasnya dalam-dalam, “Jangan ke Food republic lagi! Tolong jangan ke sana.” Pintanya. Prue tampak bingung dengan Cloudy, bukannya kesanadapat membuatnya lebih cepat membuat ingatannya kembali.

“Tolong… ada orang jahat.” Pinta Cloudy sekali lagi, Prue merasa cemas dengan tingkah Cloudy yang berubah untuk sementara. Prue mengangguk, walaupun ia tahu ia tidak bisa berhenti kesana. Melihat wanita tua itu membuatnya rindu akan kehidupan. “ya aku tidak kesana.” Ucap Prue membuat Cloudy tersenyum.

 “Aku akan cepat membuatmu sadar.” Kata Cloudy pada Prue, Prue tersenyum, Casey ikut tersenyum melihat tingkah 2 teman berbeda alam itu.

Di lain Hal, Lao Zhou tertawa mengagetkan cucunya yang sedang menjaga kasir itu, cucunya itu menatap kakeknya dengan tatapan seperti biasa.

“Kakek, sudah minum obat?” tanyanya pada Lao Zhou. Lao Zhou mengangguk, ia baru saja meminum obat yang selalu menjadi kawan perutnya tiap hari. Lao Zhou kembali tertawa.

“Aku hanya teringat akan sesuatu, aku telah membohongi anak sekolah tadi,” ucapnya sambil meminum Chinese tea kesukaannya.

Cucunya mengernyit, “Maksud kakek?”

Lagi-lagi Lao Zhou tertawa, “Tidak, sedikit berbohong agar arwah itu tidak berkeliaran lagi di Wisma Atria itu. Karena dirinya, aku di sibukkan oleh pertanyaan-pertanyaan aneh beberapa orang yang dapat melihatnya.” Jelas Lao Zhou membuat cucunya makin heran. Kakeknya memang sering di datangi oleh orang-orang yang tidak jelas dan mereka sering menceritakan tentang arwah, hantu, atau apapun itu. Yang ia lakukan hanyalah menggeleng menanggapi penjelasan kakeknya itu.

@@@

Pada jam 3 malam, Cloudy bangun ia tahu Prue tidak ada di kamarnya, Prue lebih suka berkeliaran di daerah Orchard road pada malam hari karena disanaterasa lebih tenang, apalagi dengan berbagai pemandangan pohon-pohon rindang yang tertata rapi. Cloudy bermaksud untuk berdiskusi dengan Casey pada malam ini. Ia ingin memanggil Casey tapi ia mengurungi tindakannya itu, Casey telah duduk di sebelah tempat tidurnya.

“Aku tahu, cepat diskusikan.” Ucapnya tanpa di suruh. Mereka mulai mendiskusikan soal temuan mereka masing-masing.

Casey dan Cloudy saling bertatapan, seakan mendapat hal yang paling penting, “Namanya Xin Biao!” mereka berdua mengungkapkan hal yang sama. Cloudy tersenyum.

“Aku diberitahu oleh hantu sekitar yang sering melihat Prue datang ke rumah wanita yang bernama Lien itu. Ia temannya.” Jelas Casey panjang lebar tentang apa yang ia temukan, Mulut Casey seakan berbusa-busa karena terlalu bersemangat menjelaskan temuannya itu.

“Tapi, mengapa ia seperti tidak mau bercerita tentang Prue.” Cloudy kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Wanita bernama Lien itu tahu siapa yang dimaksudnya tapi ia seakan ingin menjauh dari hal yang berbau Prue.

Casey menerawang, ia ingat sesuatu. “Entahlah, kata para hantu ia pernah menangis beberapa malam dan setelah itu mereka tidak pernah melihat Prue datang ke rumah wanita itu.” Cloudy menjetikkan jarinya. Ini sudah jelas.

“Ia sahabatnya!” lagi-lagi Casey dan Cloudy mengungkapkan hal yang sama. Mereka saling tersenyum, dan ber’tos’ sadar! Tentu saja telapak tangan Cloudy menembus tangan Casey. Cloudy tertawa, “Hm, sepertinya aku harus mengingat hal itu.”

Keesokan harinya Cloudy bergegas ke rumah Lien, wanita itu. Ia mengajak Prue, dan tak ingin melepasnya ke mana-mana ia masih ingat kata teman neneknya itu, Lao Zhao.

“Untuk apa lagi?” Tanya Lien melihat Cloudy yang tersenyum manis di depan rumahnya. Cloudy cemas, akan ketertutupan Lien itu.

“Kau kenal Xin Biao?” Tanya Cloudy, siap-siap terkejut apabila ia dibantingkan pintu lagi. Kali ini tidak! Wajah Lien terlihat pucat pasi, ia masih membiarkan Cloudy berdiri di depan pintunya.

“Aku… aku…” Lien, wanita itu gugup menanggapi pertanyaan Cloudy. Cloudy menunggu jawaban Lien dengan sabar.

Wanita itu terduduk di depan pintu, air matanya mengalir. Cloudy yang melihatnya kalang kabut ia tak tahu harus melakukan apa. Prue, ia terduduk di samping wanita itu.

“Ia gila?” Cloudy tidak merespon pertanyaan Prue itu. Ia yakin wanita ini hanya tertekan. “Tidak ada orang di rumahnya.” Prue berkata lagi setelah memeriksa keadaan rumah wanita itu. Cloudy tidak merespon Prue, ia ikut terduduk di depan wanita itu sambil menunggu ia berhenti menangis.

Wanita itu lalu berdiri, ia mempersilahkan Cloudy untuk masuk ke ruamahnya yang sepi itu. Prue masih mengekor di belakang Cloudy, ia layaknya seorang Bodyguard yang menjaga Cloudy, yeah hanya untuk jaga-jaga.

“Aku sahabatnya Xin Biao… ia meninggal beberapa bulan yang lalu.” Ucap gadis itu memulai ceritanya. Cloudy tahu, dan terpaannya dengan Casey benar.

Cloudy mengangguk, “Ia meninggal karena apa?” Tanyanya.

Lien menggeleng, “Aku tidak tahu.” Jawabnya. Prue mendengar ketidakyakinan Lien. Ia ingin menarik Cloudy keluar dari rumah itu, “Cloudy! Keluar… ayolah keluar.” Pintanya, tapi Cloudy mengindahkannya. Ia sengaja menembus tangannya pada badan Prue agar ia diam.

“Cloudy! Ia gila…” ucap Prue. Ia makin yakin ada yang tidak beres. Ia keluar dari rumah itu, ia akan memanggil Casey. Walaupun was-was meninggalkan Cloudy disana, untuk beberapa menit.

Cloudy masih di dalam rumah itu mendengar penuturan Lien, terkadang Lien menangis dengan sangat kencang dan Cloudy dapat merasakan kesedihan seorang sahabat yang ditinggalkan. Sayangnya, Prue tidak mengingat wanita ini.

Lien sesenggukan, Cloudy melihat Casey dan Prue datang menembus pintu rumah Lien. Cloudy menggeleng. Mereka terlalu takut akan Lien, padahal Lien tak bermaksud jahat padanya. Tiba-tiba Lien memeluk Cloudy, Cloudypun membalasnya sambil mengusap-usap punggung Lien berharap ia tak menangis lagi, Cloudy tak bisa melakukan apa-apa, ia mengerti perasaan Lien sebagai seorang sahabat seperti perasaannya dengan Prue yang sebentar lagi akan meninggalkannya.

Casey mendekati Lien dan Cloudy, ia menatap Lien dengan serius. “CLOUDY!” tiba-tiba ia berteriak dengan cukup keras mengagetkan Cloudy. Cloudy terlepas dari pelukan Lien, ia menatap Casey seakan ingin membunuhnya, Casey balas menatapnya dengan tatapan cemas.

“PULANG!” lagi-lagi Casey berteriak mengagetkan Cloudy tidak biasanya Casey seperti itu. Suaranya seakan serak karena teriakan pertama. Prue maju mendekati Lien, ia seakan ingin membuka mata batin Lien.

Cloudy menghela nafas, “Maaf, aku sedang tidak enak badan.”  Ucapnya pada Lien. Ia tak mengerti kepada 2 makhluk yang tiba-tiba bertingkah laku aneh itu.

Mata Lien berubah tajam, ia menatap Cloudy seakan ingin memakannya. Cloudy terdiam menatap raut wajah Lien yang berubah mengerikan, “engg… Kak Lien.” Ucap Cloudy gugup. Cloudy melihat sebuah cutter yang di pegang oleh Lien. Sekarang ia tahu maksud ke-2 temannya itu. Ia menatap Casey cemas, ia benar-benar salah mengartikan maksud baik Casey dan Prue yang menyuruhnya pulang sedaritadi.

“PERGILAH!!” Teriak Casey dengan suara yang sangat serak, ia ingin menarik Cloudy keluar tapi ia tahu ia tak bisa menggapainya.

Lien menatap Cloudy, “Kau harus tahu! Xin mati ditanganku. Aku yang memberi racun di minumannya.” Lien tertawa-tawa akan pengakuannya, Prue benar, Lien tidak waras. Lien mendekat ke arah Cloudy yang terdiam, ia ingin menghentikan tingkah Lien tapi ia juga ingin mengikuti kata Casey, ia bingung. Sedangkan Prue berdiri di dekat Lien, ia memang akan membuka mata batinnya.

Prue mulai berkoar-koar tidak jelas, ia sekan membaca mantra untuk membukakan mata batin Lien. Seketika Lien berteriak, “Kau siapa?” tanyanya gagap menunjuk Casey yang berdiri di belakang Cloudy, Cloudy tahu Lien bukan menunjukknya tapi menunjuk Casey.

“Dia Casey,” Cloudy yang menjawabnya. Lien menjatuhkan cutter yang dipegangnya, tangannya bergetar melihat Casey yang melayang di udara.

“Lien.” Prue memanggilnya, Prue sengaja berdiri atau melayang di depan Lien.

Lien tak berbicara, tenggorokannya seakan tercekat melihat Prue, “Xin…” ucapnya pelan hampir tak terdengar. Casey diam sedangkan Cloudy mengambil cutter yang jatuh sekedar mengamankannya.

“Ma…maaf.” Lien menangis terduduk di depan Prue, “Maaf… aku meracunimu karena aku iri padamu. Kau mempunyai segala hal yang ingin ku miliki, kau cantik, kaya, pintar. Aku iri padamu! Aku… aku menyesal.” Isak Lien. Prue melihatnya tak tega, ia tetap tersenyum.

“Aku tahu, Lien… aku tahu. Kau sahabatku.” Ucap Prue. Cloudy dan Casey sadar ingatan Prue atau Xin Biao itu telah kembali. Cloudy menghela nafas, ia berat untuk berpisah dengan Prue.

“Tolong, bawakan aku ke polisi,” Lien menyerah, ia menyuruh Cloudy membawanya ke kantor polisi, Prue mengangguk, merespon Cloudy yang melihatnya seakan meminta jawaban. Cloudy masih bingung bagaimana ia akan menjelaskannya kepada polisi, padahal ia tak punya sangkut paut dalam masalah Xin Biao dan Lien.

Tak menunggu lama, Lien di jemput oleh polisi, Cloudy hanya memberitahukan seadanya kepada polisi. Ia ingin membuat polisi itu melihat Prue tapi tentu saja itu tidak bisa terjadi. Ia tak ingin membuat gempar dunia, bahwa seorang polisi mempunyai hantu sebagai saksinya.

Dari info polisi, ia dapat mengetahui rumah sakit tempat Prue di rawat,MountElizabethHospital. Ingatan Prue memang kembali. Ingatan itu kembali beberapa saat setelah melihat Lien yang menangis. Ia mengingat kejadian yang menimpanya sebulan lalu.

CHAPTER 4

“XIN!!” Lien berteriak memanggil Xin yang baru muncul dari hadapannya. Xin terlambat 5 menit pada janjian kali ini. Seperti biasa mereka berjanjian untuk bertemu sekedar makan siang di Food republic di Wisma Atria. Walaupun berbeda fakultas tapi persahabatan mereka tetap harus di acungi jempol, setiap minggu pasti mereka akan bertemu di tempat itu hanya untuk sekedar curhat satu sama lain.

“Maaf… 5 menit.” Xin cengengesan melihat Lien yang wajahnya cemberut. Lien tertawa, “Baiklah, tapi kali ini kau yang mentraktirku.” Pintanya. Xin mengangguk pasrah.

Lien berjalan ke salah satu counter minuman, Ia datang membawa Bubble hot tea dan Papaya Milk di kedua tangannya, “Ini,” ia memberikan minuman kesukaan Xin, Bubble Hot tea. Xin tersenyum senang, bukan ia yang mentraktir Lien, tapi Lien sendiri yang mentraktirnya.

Xin berdiri, “Baiklah aku akan membeli Sun Cake pada bibi Zhang seperti biasa, tunggu yah,” ia berpamitan pada Lien yang baru saja duduk. Lien mengangguk, tak lama Xin datang membawa 2 dos Sun Cake yang berukuran sedang. Sepertinya mereka tidak makan siang, hanya bercemil di siang hari.

Xin duduk, “waahhh ini favoritku!” ia bersorak girang ketika ia mulai meminum Bubble hot teanya. Bubble yang masuk di mulutnya, dikunyah dengan baik-baik olehnya. Lien tertawa ia juga menghirup minumannya Papaya Milk.

Mereka terlihat sangat senang, tidak ada yang mengkhawatirkan. Tiba-tiba, Xin merasakan ada yang mencengkramnya di leher, Tenggorokannya terasa sangat sakit, bahkan ia bisa merasakan wajahnya berubah pucat pasi. Lien berteriak-teriak melihat Xin yang seperti itu, Xin tak sadarkan diri! Yang ia ingat terakhir adalah orang-orang yang memakai baju putih disekitarnya, ia sadar, ia di rumah sakit.

Cloudy duduk di tempat duduk, koridor rumah sakitMountElizabethHospitaltempat Xin dirawat. Di sebelahnya ada Casey yang memperhatikan beberapa suster yang berlalu-lalang, terkadang ia melihat seorang anak kecil ataupun pasien yang tersenyum kepadanya. Dan Casey tahu orang-orang itu tak akan lama lagi hidupnya. Prue? Ia sedang berdiri di depan pintu kamar pasien, ia melihat kamar itu lewat kaca jendela, ia tak berani masuk. Ia hanya menatap seorang wanita dan remaja lelaki seumuran Cloudy, mereka ibu dan adiknya.

“Masuklah…” ucap Cloudy pelan hampir tak terdengar, ia masih tak ingin berpisah dengan Prue. Prue sudah ia anggap sebagai sahabatnya, walaupun umur mereka terpaut 3 tahun.

Prue melayang di depan Cloudy, ia terduduk di depannya sambil menatap mata bening Cloudy. “Dik…” ia memanggil Cloudy. Cloudy tidak bergeming, ia tidak suka di panggil adik, baginya ia tetap seumuran dengan Prue.

Casey menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Aku merasa berat.” Ucapnya. Cloudy mengangguk pelan.“Tidak, pergilah… mereka merindukanmu.” Kata Cloudy ia menggeleng. Mendengar hal itu, Prue merasakan wajah ibunya terlintas di pikirannya.

Prue berdiri, ia melayang di depan pintu kamar itu. “Baiklah… Cloudy, Casey see you later.” Prue berpamitan sebelum menembus pintu itu. Cloudy mengeluh.

“Bahkan berpamitanpun tetap tersenyum.” Cloudy menatap jalanan di depannya, Casey berdiri ia melihat ke dalam kamar itu.

“Dokter akan datang.” Ucapnya, tak lama memang dokter datang melewati Cloudy dan menembus Casey. Bisa dilihat Prue atau Xin akan sadar. “Syukurlah.” Ucap Cloudy dalam batinnya.

Cloudy ingin menarik tangan Casey untuk pulang tapi sia-sia. “ayo pulang,” ajak Cloudy, Casey mengekorinya dari belakang. Ia berputar-putar mengelilingi Cloudy yang berjalan. “Aku juga ingin hidup..” Casey seakan tertawa meratapi nasibnya yang berbeda dengan Prue ia tidak koma tapi sudah mati. Cloudy menatapnya kasihan.

“Tapi aku lebih senang menjadi pengganggumu.” Casey tertawa bersama angin membuat Cloudy mendesah, ia kembali mengingat hari-hari sebelum ia mengenal Casey. Makhluk itu memang aneh dan suka menganggunya setiap malam.

Cloudy tersenyum, ia masih mempunyai satu teman yang tak akan bisa pergi, Casey.

@@@

Cloudy duduk dan Casey berdiri di sebelahnya mereka merutuki orang yang mereka tunggu, lebih tepatnya Cloudy yang menunggu, Casey hanya ikut-ikutan berjalan di Food republic di kawasan Vivo itu. Orang itu sudah terlambat 7 menit. Casey yang paling cerewet, ia tidak suka orang yang tidak tepat waktu.

“Lebih baik kita pulang.” Pinta Casey, ia sudah lapar karena menunggu orang itu. Ia lebih baik pulang dan bisa sepuasnya makan, tidak seperti di tempat umum. Bisa-bisa orang akan melihat makanan yang melayang sendiri. Eh, tunggu.

“Cloudy! Aku bisa menyentuh…” Casey baru sadar, ia sebenarnya bisa menyentuh. Ia lupa bagaimana caranya ia bisa menyentuh kantung-kantung makanan yang biasanya ia curi dari kulkas Cloudy. Hanya saja bila ia ingin menyentuh orang ia seakan lupa akan hal itu, dan iapun selalu menembus badan manusia.

Casey mencubit kulit lengan Cloudy dengan gemas, “AWW!!” Cloudy menjerit sehingga beberapa orang melihatnya bingung. Sedangkan Casey tertawa puas. Cloudy menatapnya seperti biasa.

“Maaf, aku terlambat.” Seseorang mengagetkan mereka.

PRUE!

Casey menganga, ia mengitari tubuh Prue berharap Prue melihatnya. Cloudy terkejut, tapi dengan cepat ia sadar, itu bukan Prue itu Xin.

“Cloudy!” Prue bukan itu Xin, ia menyebut namanya. Cloudy mengangguk, ia tahu Xin mengenalnya tapi, ia pasti tak mengingat hal itu.

“emm… Casey.” Ucap Xin kembali, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Maaf, aku sedang tak enak badan.” Ucap Xin. Cloudy benar ia tak mengingatnya. Melihat Caseypun tidak.

Casey menjerit, “Aku tahu!” ia akan membukakan mata batin Xin. Cloudy menggeleng pelan dengan saran Casey, itu tidak akan berhasil. Cloudy ingat, ia menarik tangan Casey menjauh dari Xin. Xin tidak sadar, bahwa Cloudy telah menarik udara kosong di sebelahnya.

Xin tersenyum seperti biasa seperti Prue, “Perkenalkan tentor barumu, Xin Biao.” Ucapnya sambil mengulurkan tangan.

Cloudy membalas uluran tangannya, “Cloudy.” Ucapnya. Tiba-tiba Xin membalikkan tangan Cloudy. Huruf P itu masih ada, permanent di lengan Cloudy.

Xin merutuk, “Maaf dik,” ucapnya, sedangkan Cloudy hanya bisa tersenyum berharap Xin mengingat semuanya.

Xin memperhatikan Cloudy lekat-lekat, “Kau mau menjadi adikku?” tanyanya tiba-tiba, Cloudy menganggup mantap sedangkan Casey hanya menatap mereka berdua dengan iri. Ia juga ingin di lihat.

“Aku merindukan Casey.” Ucapan Xin membuat Casey makin mantap ingin membukakan mata batin Xin. Tapi, tidak sekarang. Ia akan menunggu Xin mengingat semuanya, ia tahu hal itu akan terjadi, kalau tidak Casey nekat akan mengganggu Xin setiap malam, agar ia bisa mengobati rindunya pada Xin.

“Aku merindukan Prue.” Cloudy dan Casey mengutarakan hal yang sama. Xin terkejut kemudian tertawa, “Aku pikir, kamu bisa memanggilku dengan nama itu.” Ucapnya sangat senang. Ia ingin menjadi seorang Prue…. kembali.

END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s