Akhir Kehidupan Beliau

Ini adalah cerpen yang aku buat berdasarkan kejadian nyata yang baru-baru terjadi. Cerpen ini dibuat khusus buat Almarhumah Ibu Lala. Semoga beliau tenang di sisi-Nya :’)

Aku menatap polos tubuh kaku yang tertidur pulas di hadapanku. Aku masih belum percaya dengan apa yang telah terjadi saat ini. Bacaan ayat-ayat dalam surah Yasin yang terdengar memenuhi telingaku. Tubuh beliau telah ditutupi oleh beberapa helai kain hingga menutupi wajahnya. Beberapa kali aku dapat melihat wajah beliau yang pucat dan menatapnya dengan rasa ketidak percayaan.

Aku kembali mengingat kejadian tadi malam, peristiwanya sangat menyita air mata. Aku ingat saat melihat beliau yang masih bernapas walaupun napasnya tersenggal-senggal, tubuhnya yang hanya dilapisi oleh kulit tipis dan matanya yang menatap ke atas serta jari telunjuknya yang tidak henti menunjuk ke beberapa arah. Malaikat Izrail akan datang mencabut nyawa beliau. Suasana rumah sakit kala itu terasa mencekam.

“Allah Allah…” beliau terus menyebut nama Allah dengan napas yang tersenggal-senggal padahal selang oksigen masih menempel di hidungnya. Aku terlarut dalam suasana, menangis hingga mata terasa kering.

Suasana kala itu sangat tidak menyenangkan, beberapa kali aku melemparkan pandangan ke anak beliau satu-satunya, Eva. Aku tidak percaya bahwa sebentar lagi anak ini akan menjadi anak piatu dan ia tidak mengetahui apa yang telah terjadi dengan ibunya saat ini.

Ingatan akan mimpi yang menerpaku di kala tidurpun mengyakinkan semuanya. Aku masih ingat mimpiku, mimpi yang terlihat seperti Flashback kejadian beberapa tahun yang lalu. Mimpi itu membawaku bertemu beliau yang masih sehat dan masih bisa tertawa. Beliau memakai baju kemeja merah pemberian mama, badannya yang berisi serta matanya yang sipit. Sepenuhnya aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat di kala mimpi itu dan entah mengapa aku sudah merasakan hal yang tidak enak. Ternyata benar, aku terbangun dan mendapatkan telepon selular mama yang berbunyi di atas meja rias. Itu bunyi telepon, dan aku telah menerka apa yang akan dikatakan orang di seberang sana.

Aku tersadar dari lamunanku, Beberapa orang menangis di depanku, mereka saling menyerobot untuk dapat melihat mayat beliau sebelum di makamkan. Mengapa begitu cepat? Pikirku tidak terima. Aku ikut berkerumun bersama orang-orang yang melihat mayat beliau. Kain kafan telah menutupi tubuh kaku itu. Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas, kedua mataku telah tertutupi oleh air bening yang terkumpul di pelupuk mata.

Seketika air mataku telah mengalir dengan deras. Aku terus memukul dadaku yang terasa sesak. Aku tidak ingin hal ini terjadi! Aku rasa ingin berteriak dengan kencang saat melihat tubuh kaku itu digoyong ke luar rumah.

“Nana… tantemu tersenyum.” Kata Mama menyadarkanku. Air mata memang masih mengalir dan aku sedikit lega mendengar perkataan mama. Di akhir hayatnya beliau tersenyum.

Sudah beberapa bulan ini Maag dan TBC beliau kambuh. Karena terlambatnya penanganan akhirnya maag beliau sudah mencapai stadium empat, stadium akhir. Maag beliau akhirnya menyerang hatinya dan hatinya pun hancur. Seperti inilah, baliau tidak tertolong.

Ini sepenuhnya bukan salah keluargaku, aku menaruh rasa salah itu kepada suaminya yang tidak bisa menjaga beliau dengan baik. Selama ini beliau tinggal bersama suaminya di Palu, Sulawesi Tengah. Kami kira beliau baik dan bahagia di sana. Ternyata tidak! Beliau tersiksa. Rasa kesalku dengan suami beliau tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Tapi, apa daya aku tidak bisa berbuat apa-apa. Inilah takdirnya. Beliau telah tiada dan tidak ada yang bisa dipersalahkan.

Sudah beberapa hari setelah kejadian itu. Aku akhirnya  kembali ke Bau-Bau dan menuntut ilmu di sana. Izin selama satu minggu untuk ke Makassar memang terbilang cukup berat, tapi inilah, kalau saja aku dan keluargaku tidak ke Makassar kemungkinan besar aku tidak melihat beliau di akhir hayatnya. Aku menyayangi beliau sebagaimana ia adalah orang tuaku, akupun sadar, beginilah hidup semuanya akan kembali ke asalnya. Selamat Jalan Tante Lala, semoga engkau tenang di sana.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s