Memories

Image

Ketika diriku harus menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan. Peluh, Kesal, Senang semuanya bercampur jadi satu. Aku mau cerita ketika detik-detik pesawat membawaku ke Kendari hingga menaiki Kapal cepat ke Baubau. Tidak jelas lagi bagaimana awalnya bisa pindah ke kota bernama aneh itu, yang terpusatnya aku ikut orang tua ke sana. Untung saja mereka pindah di saat aku telah lulus SMP kalau tidak, aku tidak bisa memikirkan bagaimana masa-masa sulitku ketika UAN.

Pagi itu, sedikit merenggang. Perasaanku panas dingin karena akan pergi ke provinsi Sulawesi Tenggara yang sama sekali aku belum tahu bagaimana seluk beluk kotanya. Apakah Baubau itu seperti di Banjarmasin, Kotamadya dengan Big Mall atau ½ Sengkang. Semuanya memenuhi kepala. Tetapi, ada satu hal yang membuatku tidak sabar ke sana. LEARN HANGUL!!!

Yang aku tahu, sekolah di Baubau itu memiliki satu mata pelajaran berbau Korea. Aku tahunya sekedari dari Internet dan sangat berbahagia menyambut kepindahan. Awalnya memang sangat tidak sabar tapi sayangnya entah aku merasa bosan atau lingkungan tidak cocok. Saat ini, aku merasa tidak nyaman.

Aku bersama bapak, berangkat ke Baubau duluan. Agak sulit karena aku masih awkward dengan bapak sendiri, mungkin karena umurku yang sudah remaja. But, aku selalu menyebut kalimat, “Enjoy it Nana!” sedikit semangat.

Ketika di Bandara Sultan Hasanuddin aku dan bapak duduk di ruang tunggu. Dengan santai aku terus mendengarkan musik dari hp supaya tidak bosan. Tidak lupa aku memakai headseat berwarna putih merah muda pemberian anak Utama yang unyu-unyu. I Feel Enjoy!

Ada satu kejadian yang sangat aku ingat, karena memakai headseat aku jadi tidak dengar pengumuman dari pramugari, you know guys! Volume musik yang terputar sudah hampir melewati garis aman. Aku sempat bersyukur karena bapak yang dari toilet mendengarkan pengumuman. Lantas, aku dan bapak berlari-lari menaiki bus yang belum berangkat menuju dekat pesawat.

Aku shock ketika tahu pesawat apa yang aku naiki kala itu, maunya pesawat berkelas dan besarnya selangit. Nyatanya, cuman pesawat kecil yang hanya digunakan untuk penerbangan dekat. Sial =,= yang buruknya di dalam pesawat keadaannya sedikit sempit dan panas. Entah karena penumpangnya yang banyak ataukah pesawat yang kecil aku merasa seperti itu. Hal yang kusebutkan tadi membuatku sedikit mual, aku berharap kala itu juga ada pramugari yang membawakan makanan or anything like drink. Tapi, selama 2 jam di atas pesawat tidak ada pramugari yang menawarkan.

Lagi-lagi aku harus kuat dan mengatakan, ENJOY! Kala itu aku juga berkata, “Let’s see the beautiful sky and forget the urgent moment,”

Saat itu, tepat di sebelah bapak ada orang keturunan Chinese yang mengeluh karena liburannya kali itu membosankan. Aku pikir orang itu memang suka holiday di beberapa daerah di Indonesia, karena seiring mengeluh ia menyebutkan nama-nama daerah yang pernah ia kunjungi, seperti Bali, Raja Ampat, dan sebagainya. Biasalah orang kaya -,-

“Aduhh… saya nggak tau nih. Apa sih yang dipunya Sulawesi tenggara!” ucapnya dengan sombong. Saat itu juga aku menyela, “Wakatobi!”

Ia berpikir sejenak, “Aduhh saya dengar-dengar perjalanan ke sana sedikit mengerikan,” Aku pun diam. tidak ada gunanya berbicara dengan orang seperti itu. Mana aku belum ke Wakatobi, jadi nggak bisa jelasin ini itu ke bapak kaya.

Aku mengernyit ketika pesawat akan mendarat. Yang terlintas dipikiranku kala itu adalah Tandus. Tanah di Kendari terlihat tandus. Baiklah, mungkin tidak juga. Aku mencoba untuk berpikir positive.

Happly, aku kira aku dan bapak bakal terlantar di bandara tanpa tujuan. Syukurnya ada teman bapak yang ternyata orang Banjarmasin, masih satu kampung dengan orang tuaku. Om itu, seharusnya aku memanggilnya kakek atau mungkin Pa’ Le soalnya rambutnya sudah memutih. Ia sangat senang menerima bapak, “Wah Lawas nah kada bertemu,” artinya sudah lama tidak bertemu.

Aku tersenyum ketika di sepanjang jalan beliau berbicara menggunakan bahasa Banjar. Feel like I’m back to Banjar. Sesekali aku juga ingin mempraktikan bahasa banjar yang telah jarang aku gunakan, tapi sayang sekali sepertinya anak seperti diriku tidak tahu ingin berkata apa.

Sekitar 2-3 hari di Kendari akhirnya aku dan bapak akan pergi ke Baubau. Aku senang ketika tahu alat transportasi apa yang digunakan untuk ke sana, Fast Boat! Menyenangkan, apalagi dengan AC dan pemandangan yang tiada duanya. Aku baru merasakan naik kapal itu. oh tentu saja! Di Sengkang tidak ada kapal cepat yang ada perahu kecil di Danau Tempe.

Sekitar jam 5 sore aku dan bapak sampai di Baubau. Aku ingat betul, ketika banyak manusia yang memperhatikanku dengan err bingung. Aku juga ingat dengan kata seorang paman, “Mereka kira kamu turis dari Korea,” aku tertawa pelan. Yay! Di Sengkang aku di sebut Anak Korea di sini aku di sebut Turis korea. Baiklah, aku akan memperlihatkan fashion mereka.

Kalian tahulah, aku terkena Hallyu Wave semenjak 2008, itu berarti apa sih yang tidak untuk Korea? One more, rambutku sengaja aku potong pendek untuk mengikuti gaya mereka plus mataku yang sipit. Aku juga ingat, beberapa hari tinggal di Baubau aku selalu dijadikan bahan tertawaan bapak. Beberapa teman kantor bapak yang baru bahkan mengira aku benar-benar turis Korea yang ingin mengurus kewarganegaraan di kantor. It’s Crazy! I feel like I’m in heaven.

Hm, satu kata yang aku ingat pernah aku ucapkan ketika baru turun dari kapal cepat, “Baubau, let me be success person here~” doa di kala itu. Semoga, itu tercapai dengan baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s