New Fiction

When some people try to kill me with their word

Aku terkepung di antara mata-mata yang mengarahkan kilauan tajam kepadaku. Apa salahku?

“Ahhh… Dia sendiri nggak pinter matematika,” oh itu benar. Lalu masalahnya? Berkali-kali aku mendengar cacian yang tertuju kepadaku. Sakit…

“Oohh jadi dia itu playgirl!!” Aku mengenal org yang berbicara seperti itu. Ah sial!! Aku tahu siapa dalang semua ini!!!

~~~~~~~~~~~~~@@@@~~~~~~~~~~

Aku mengutuk rok cokelat yang selalu setia menemaniku di hari jum’at dan sabtu. Robeknya telah memanjang.

Lagi-lagi di perjalanan menuju kelas, orang itu menatapku dengan skeptis

“Huh!!” Aku terperangah dan menatap orang yang mengeluh itu dengan tajam. Well, kalau ini terjadi berarti ia yg melakukan hal bodoh karena iri padaku.

Ku pegang dadaku dengan sabar. Sabar adalah kata yang paling bermakna di dalam tubuhku ini.

“Aku mendengar semuanya, itu betul?”

Sebuah pesan mengerutkan dahiku. My ex boyfriend. Aku membalasnya dengan cepat, “aku tidak tahu dan tidak mengerti dengan org-org seperti penggosip,”

Aku tidak ingin berkata tidak untuk menyanggah semuanya. Aku tidak suka bersikap layaknya aku masih mau dengannya. Who’s want? No, I don’t.

Tanpa menunggu perhitungan menit pesan balasan muncul di layar hpku,

“Kalau itu benar tidak apa-apa. Mengaku saja.”

SHIT! Dasar lelaki tidak tahu malu. Aku membalasnya dengan membabi buta, “aku tidak mau berkompromi dengan masalah yang tidak benar, dan aku tidak menyuruhmu untuk memaksaku berkata iya.”

Tidak ada sms darinya lagi sejak hari itu.

Tiba-tiba sebuah ide tercetus di otakku, aku mengirimkan pesan kepada si dalang.

“Apakah kau puas sekarang? Tolong berhentilah mengumbarkan yang tidak penting. Kalau kau mau ambillah aku tidak peduli!”

Aku tahu mengapa semua ini terjadi, dalang itu sangat menyukai ex boyfriend ku. Ckckck aku tidak mengerti.

Aku begitu shock dengan balasan yang aku terima, “Belum… Aku tahu, tapi melihatmu membuatku muak.”

Baiklah ini adalah sebuah balasan yang menarik. Aku patut bersyukur karena memakai blackberry yang pesan dalang itu bisa aku screen gabber. Wait, aku bisa menulis nomor si pengguna right? Jadi semuanya jelas!

Keesokan harinya aku langsung memperlihatkan pesan yang telah aku print kepada teman-temanku, banyak yang setuju dengan ideku banyak juga yang menolak. Akhirnya aku menemukan sebuah hal yang menarik.

“Bila kau tidak menghapus gosip palsumu maka aku akan membuktikan semuanya.”

Aku memperilhatkannya kertas print itu. Wajahnya menjadi sedikit pucat.

“Umbar saja, banyak yang lebih percaya padaku!” Ucapnya padaku baiklah akan ku buktikan.

Aku kembali berpikir menyusun rencana. Apakah bagus? aku pikir tidak. Kalau aku membuktikan maka aku terlihat peduli, kalau tidak? Bisa sja hal itu berakhir karena aku cuek dengan sikap mereka.

Aku memilih tidak…

*Beberapa bulan kemudian*

Masih banyak dan makin mengerikan. Anak kelas 3 sudah tidak pernah datang, mereka tengah menunggu hasil ujian. Aku pikir semuanya akan hilang tapi tidak… Mereka terlalu membesar-besarkannya.

“Mereka bodoh atau apa? Mengapa aku di sangkut pautkan?” Sebuah sms mendarat di layarku. My ex.

Aku tidak membalasnya dan lebih memilih diam. Sebagaimanapun org menjelek-jelekkanku aku masih mempunyai orang-orang yang mempercayaiku.

When they’re trying to defeat me, the other people defeat them firstly.

Aku membuktikan semuanya. Semua hal yang sebenarnya terjadi. Bukan aku tetapi orang itu. Ia mengalahkan si dalang dengan menggunakan fasilitas cyber world. Dunia maya.

“Kalau memang iri nggak perlu gosipin org yang nggak benar.”

Itu status facebooknya. Aku benar-benar tidak tahu tentang itu kecuali bila temanku tidak memberitahukannya kepadaku.

Ini memang hasil yang memuaskan, aku tidak perlu melakukan apa-apa. Orang lainlah yang melakukannya. So then, thanks.

“Maaf”

Sebuah kata yang muncul di layar hpku membuatku sedikit kasihan. Dalang itu tengah dijauhi org dan beberapa gosip menimpanya. Aku tahu rasanya, tapi balas dendam itu tidak baik.

“Tidak apa-apa mari berteman… Kembali.” Balasku tanpa beban. Memang lebih baik menjadi org yang tak berkata banyak daripada bermulut besar.

The right thing will be the winner in the end.

Posted with WordPress for BlackBerry.

4 thoughts on “New Fiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s