It’s The Way

Judul : It’s The Way

Tag : Choi Siwon, Han Silla and other cast

Genre : Romance

Rating : PG-15

Length : One Shoot

 

Matahari terlihat buram, musim gugur akan segera berakhir. Kehangatan musim panas telah lama beranjak dari Negeri Ginseng dan dinginnya udara terus menghantui hanguk saram untuk kesekian kalinya. Siwon menggosok telapak tangannya, nafasnya terhembus berat, udara kota Seoul sudah mulai mencekam baginya.

Satu cup cappuccino muncul secara tiba-tiba di depan wajahnya, ia mendongakkan kepalanya, melihat seorang pria berambut blonde yang tersenyum –lebih tepatnya menyunggingkan senyuman padanya.

“Terima kasih Hyeong.” Kata Siwon pelan, menerima cappuccino itu dengan santai.

“Kau bisa datang saja di sini, Jongjin akan selalu menemani kesepianmu itu.” sindir pria blonde itu sembari duduk di hadapan Siwon. Siwon mendecakkan lidahnya, lalu menghirup cairan pekat dari cappuccino dengan gaya ala modelnya.

“Siapa bilang aku kesepian. Memangnya kau tidak kesepian apa? statusmu terlihat jelas di mataku Hyeong.”

“Ck! Aku, Yesung… tidak akan pernah kesepian. Selalu ada ddangkoma bersamaku,” pria blonde bernama Yesung itu tertawa, ia mengacak-acak rambut Siwon dengan gemas.

Siwon tersenyum kaku. Baginya, mendengar Yesung adalah salah satu hal yang harus ia hindari selama ini, apalagi menyangkut ddangkoma atau ddangkomi yang notabene adalah kura-kura peliharaan pria blonde itu. Ia tidak dapat menyangkalnya, selama Yesung masih waras maka ia akan selalu mendengarnya.

“Hm… Geurae, aku pamit hyeong. Hari ini aku ada kuliah,” pamitnya sembari mengangkat salah satu tangannya, ketiga jarinya jelas terangkat seperti biasa yang merupakan kekhasan Siwon bila berpamitan atau sekedar mengganti handbye-nya.

Setelah keluar dari café berlogo H&G milik Yesung, ia pun memasuki mobil audi hitamnya, membelah jalan kota Seoul yang kali ini terkesan lebih lenggang daripada hari biasanya.

 

@@@

 

BRUUKK!

“Ah, Mian…”

Mata Siwon membulat, ia terkejut mendengar suara yang tidak asing lagi baginya. Suara yang begitu merdu di telinganya, suara yang selalu membuat bulu kuduknya meremang karena jantungnya yang bergetar aneh.

Dengan cekatan Siwon membungkuk, ia membantu mengumpulkan beberapa buku Gadis – pemilik suara itu yang terjatuh akibat kejadian yang menimpanya barusan. Baru kali ini Siwon merasa bodoh karena menabrak seorang Gadis secara tidak sadar. Akhir-akhir ini ia sering melamun, masalah silih berganti di balik wajah tampannya itu.

“Jwesonghamnida agasshi. Aku tidak melihatmu,” kata Siwon menyunggingkan senyuman terbaiknya. Gadis itu tersenyum tipis, “Aniyeyo, aku yang salah. Jwesonghamnida.”

Mendengar suara Gadis itu menimbulkan sensasi aneh baginya, ia tersenyum bodoh menyadari bahwa Gadis itu sudah berlalu dari hadapannya, meninggalkannya yang lagi-lagi melamun, walau dalam hal ini bukan melamunkan masalahnya.

Siwon berjalan sepanjang koridor kampusnya, beberapa pasang mata melihatnya begitu takjub, senyuman indah tidak pernah sirna dari wajah Siwon. Masalahnya terasa lebih ringan, sulit untuk mengakuinya tapi kali ini ia benar-benar tersihir.

Han Silla, ia sudah menjadi vitamin Siwon untuk beberapa bulan terakhir ini.

 

@@@

 

Silla terduduk diam, ia menghirup udara di sekitarnya dengan pelan, berusaha tenang dengan berbagai tugas dari dosen pembimbingnya yang terkesan begitu menyebalkan untuk akhir-akhir ini. Matanya bergerak, melihat pohon-pohon Sakura yang tidak berbunga, udara cukup dingin tapi perasaannya tidak bisa dilawan untuk tetap stay di luar gedung kampus.

“Silla-ya! Kau menabrak Siwon kan? Iya kan?” tanya seorang gadis berambut bob yang tiba-tiba menghampirinya. Silla bergumam, ia mengenal gadis itu dengan baik, tapi tidak dengan nama yang baru disebutkan oleh gadis itu.

“Siwon? Yang mana sih? Seonbae atau Hobae?”

Gadis bob itu menatap Silla tidak percaya, “Kau tidak mengenalnya?” Silla mengangguk, ia tersenyum kikuk.

Bagi Silla mengenal Seonbae atau hobae itu tidak perlu, mengingat ia hanya akan belajar dan terus belajar demi menggapai sarjananya nanti. Ia hanya akan berteman dengan seonbae yang dianggapnya bisa berguna daripada tidak sama sekali.

“Tadi! Yang menabrak dan membantu mengambil bukumu itu!” kata gadis itu geregetan.

“Oh! Itu yang namanya Siwon? Tampan yah, memangnya dia kenapa Neolji-ya?” tanya Silla pada gadis bob bernama Neolji itu. Neolji mendesah, “Ck! Dia anak pewaris Hyundai, dan dia sangat tampan. Seharusnya kau mengetahuinya, dia juga model terkenal.”

Silla menganggukkan kepalanya, ia tidak peduli dengan ocehan Neolji yang darah fangirlnya tidak main-main. Ia ingat salah satu kejadian yang membuatnya malu setengah mati karena Neolji membawanya untuk menguntit seorang artis.

“Silla-ya, besok kau harus menemaniku untuk menguntit Siwon! Sepertinya blogku akan semakin ramai bila ada fotonya yang terpampang di setiap postingan blogku.” Silla membulatkan matanya.

“Ya!! sasaeng, pergilah! aku harus banyak membaca. Minggu depan ada tes wawancara mengenai PSY syndrome, seharusnya kau tahu itu!” kata Silla sembari mendorong-dorong bahu Neolji. Neolji mendesah, “PSY Syndrome adalah hal yang mudah, tinggal mencarinya di internet sehari sebelum tes.”

“Aku tahu itu, tapi kau juga harus tahu mengenai pemikiran orang-orang yang terkena syndrome itu. Mr. Jung tidak akan main-main bila bertanya, ia akan menyerang kita,”

“Silla-ya, kalau perlu aku akan ber-gangnam style di hadapan pria berkepala botak itu untuk menunjukkan bagaimana syndrome PSY menjelajar di otak anak-anak muda.” Celoteh Neolji sembari menari-nari dihadapannya.

Silla tertawa pelan, “Kau seperti orang bodoh. Cepat belajar sasaeng Neolji!”

 

@@@

 

Siwon menyunggingkan senyumannya, matanya mengarah keluar jendela kelasnya, siluet tubuh Gadis bernama Han Silla menghiasi pandangannya. Ia memang orang yang tekun, tapi kali ini ia tidak bisa memusatkan perhatiannya pada rumus-rumus integral yang dibahas oleh seorang dosen berkebangsaan Jerman di depan kelas.

Seluruh perhatiannya tersedot oleh Han Silla, gadis vitaminnya yang selalu hadir ketika ia membutuhkannya.

“Yeah, tugas kalian hanya mencari penurunan rumus-rumus integral, dikumpul minggu depan. And Goodbye guys! Have a nice day!” dosen Jerman itu menyudahi pertemuannya, membuat kebahagiaan Siwon bertambah dua kali lipat, dengan cekatan ia berjalan keluar kelas. Logikanya terus mendesak untuk mengenal gadis vitaminnya itu lebih lanjut.

Kaki Siwon terasa sedikit kaku ketika ia menanjakkan kakinya di taman kampus, matanya tidak lepas dari Han Silla yang sibuk membaca buku tebal yang ia tidak ketahui jelas apa judulnya. Tapi, melihatnya seperti itu membuat hati Siwon membuncah bangga, Han Silla sangat tekun.

Refleks ia menghentikan langkahnya, kemudian bersembunyi di balik salah satu pohon Sakura, seorang gadis berambut bob menghampiri Silla dengan dua cup minuman hangat yang asapnya tergepul indah dari kejauhan. Siwon tidak mau gegabah, Ia tahu gadis berambut bob itu. Fangirl aneh yang tak jarang mengikutinya ke mana-mana.

Secara harfiah Siwon tidak mengerti dengan Han Silla yang mau saja berteman dengan Sasaeng gila itu. Gadis berambut bob itu aneh, tidah tahu malu dan terlihat mencolok sebagai penguntit. Sebagian gadis di kampus menjauhi gadis bob itu.

Berpikir tentang penguntit, Siwon tidak sadar bahwa beberapa bulan terakhir ia benar-benar menjadi seorang penguntit. Katakanlah ia sasaeng dari gadis bernama Han Silla, ia akui itu dan beberapa temannya pun mengetahui kegiatan anehnya itu. Ia tidak malu dan tidak akan pernah berhenti sebelum Han Silla menyadari kehadirannya.

Apabila Silla menyadarinya maka kali itu juga ia pasti akan mengajak gadis itu untuk berkenalan, walau ia tahu hampir seluruh manusia di kampusnya mengetahui dirinya, bahkan seluk-beluk keluarganya.

Siwon yakin, gadis itu pasti akan menyadari kehadirannya.

 

@@@

 

“Mengumpatlah!” sahut Siwon pada seorang pria yang tersenyum kaku padanya. Pria itu meninju bahu Siwon dengan kesal, “Yaa! Aku kan sudah pernah bilang untuk tidak menyentuh yadong-ku!”

Siwon tertawa, “Eunhyuk Hyeong, sebagai koreografer kau harus berpikir untuk mencari gaya dance yang lain daripada menghabiskan waktu untuk menonton yadong.”

Eunhyuk, pria itu mendecakkan lidahnya. Lagi-lagi ia memukul bahu Siwon dengan kesal, “Kau pikir yadong itu hanya hiburan? Karena hal itulah aku bisa melahirkan koreo yang baru.”

Mendengar hal itu tentu membuat Siwon terkejut. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dengan hobi sahabatnya itu. Dengan lemas Siwon memberikan sebuah kaset bertuliskan huruf hanja, Yadong kepada Eunhyuk.

“Hyeong untuk kali ini saja demi masa depanmu yang cerah,” kata Siwon.

“Haleluya!” sahut Eunhyuk bahagia. Ia mengambil kaset itu lalu memasukkannya pada tas merah yang berada di sudut ruangan berkaca itu.

Siwon terdiam, ia berjalan sembari memandang wajahnya pada cermin di hadapannya, makin hari wajahnya makin muram saja. Ia tidak punya banyak waktu untuk bersantai-santai, beberapa kali ia harus menghadapi jadwal super ketat sebagai model dan juga –calon direktur perusahaan ayahnya.

Hanya di kampus ia bisa melepas kebahagiannya, gadis vitamin itu benar-benar memberinya semangat. Ia tentu selalu berharap agar Silla menyadari keberadaannya, dengan begitu pula ia pasti berani untuk mendekatinya. Ia Egois, tapi ia mempunyai banyak alasan untuk tidak mengakuinya.

“Bagaimana gadis vitaminmu itu?” tanya Eunhyuk sembari menari-nari di hadapannya.

Siwon mengangkat kedua bahunya, menyandarkan tubuhnya pada cermin itu, “Tadi pagi aku menabraknya secara tidak sengaja. Kami berbicara walau hanya beberapa kata.”

“Kau tidak segentle perawakanmu, bila aku jadi dirimu maka aku akan mengajaknya berkenalan sejak awal melihatnya.” Sindir Eunhyuk. Siwon tertawa hambar,

“Aku akan mengajaknya berkenalan, tapi bukan sekarang.”

“Apa lagi yang kau tunggu? Bila terdahului oleh seseorang bagaimana?” tanya Eunhyuk lugas.

Siwon berdehem, “Itu tidak akan.”

“Oh yah?” Eunhyuk tersenyum menggoda, “Aku tidak akan menyetujuinya. Itu tidak akan terjadi Hyeong. Trust me!”

“Siwon-ah! Aku hanya memberikanmu nasihat, Cepatlah sebelum terlambat!”

Siwon menganggukkan kepalanya, ia tidak begitu peduli dengan nasihat Eunhyuk. Tentu itu tidak akan terjadi, lagipula ia tidak pernah melihat seorang Han Silla bersama dengan pria, selain dosen pembimbing dan juga Leeteuk, sahabatnya.

 

@@@

 

“Silla-ssi! Ini Lee Donghae, dia akan menggantikanku sebagai ketua fotography Agency untuk sementara waktu,” kata Leeteuk sembari menunjuk seorang pria berwajah tampan di hadapan Silla.

Silla mengerjapkan matanya beberapa kali, “Ah, Ye Han Silla imnida.”

Pria berwajah tampan itu menganggukkan kepalanya, “Lee Donghae imnida.”

“Seonbae, kenapa harus diganti?” tanya Silla pada Leeteuk, pria yang memakai kaos putih dan berdimple itu bingung. Leeteuk tersenyum, dimple di kedua sisi bibirnya terbentuk sempurna.

“Aku harus mengurus skripsi-ku. Jwesonghamnida, tapi Lee Donghae adalah orang yang baik, fotonya juga bagus-bagus.” Jawab Leeteuk, ia menepuk-nepuk punggung Donghae.

Donghae tersenyum tipis, “Tidak terlalu bagus,”

“Oh, em… Geurae. Permisi seonbae, Donghae-ssi. Hari ini aku ada tes penting,” pamit Silla sedikit canggung.

 Kedua pria itu mengangguk, bahkan Donghae sempat menepuk-nepuk bahunya. Sejurus kemudian, wajah Silla berubah seperti goguma. Silla tidak tahu pasti mengapa darahnya mengalir begitu cepat, jantungnya berdesir aneh ketika Donghae memperlakukannya seperti itu, apalagi wajah Donghae sangatlah tampan. Ia harus memberitahukannya pada Neolji tentang perasaan anehnya kali ini.

“Kau jatuh cinta!” pekik Neolji senang, ia mencubit-cubit pergelangan tangan Silla hingga memerah, Neolji gemas dengan sikap seseorang yang tengah jatuh cinta, apalagi kali ini sahabatnya sendiri yang mengalaminya.

Silla bergumam, ia tidak terlalu suka dengan kalimat ‘jatuh cinta’ yang disebutkan oleh Neolji barusan. Berbicara tentang jatuh cinta membuatnya sedikit jijik, bagaimana pun ia tidak pernah berpikir untuk jatuh cinta lagi sebelum ia bekerja nanti.

“Dengan?” tanya Silla menggantung.

“Lee Donghae!” celetuk Neolji. Silla menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, mencoba untuk menyembunyikan wajah gogumanya dari Neolji yang cerewet dan bermulut ember itu. Ia sudah salah tujuan dari awal, seharusnya ia tidak perlu memberitahukan soal Donghae pada Neolji.

“Ah, itu bukan jatuh cinta. Lagipula aku baru melihatnya hari ini, aku baru mengenalnya dan itu pasti salah bila dikatakan jatuh cinta.” Silla membenarkan statement Neolji.

Neolji menggeleng, “Aniya! Aniya! Itulah yang dinamakan jatuh cinta dari awal perjumpaan. Asal kau tahu saja, banyak orang yang terkena syndrome itu. Kau ingat kata Mr. Jung? Cinta itu datang dan hilang tanpa kita ketahui. Disaat itulah orang telihat bodoh dan dilema.”

“Dan aku tidak menginginkan hal itu terjadi padaku. Hanya spekulasi bahwa aku mengangumi ketampanan Lee Donghae. Yah, dia tampan.”

“Ck! Bahkan kau tidak pernah mengagumi ketapanan Choi Siwon yang melebih Lee Donghae. Di mana otakmu Silla-ya?” tanya Neolji gusar. Ia mulai mencium bau yang tidak waras dengan otak Silla.

“Aku hanya belum mengenal seorang Choi Siwon sehingga aku tidak mengakui ketampanannya. Rasanya baru hari ini aku melihat Lee Donghae, itu pun karena Leeteuk seonbae yang mengenalkannya padaku.”

“Choi Siwon, Lee Donghae, Park Jung Soo dan lain sebagainya adalah kkot mi nam kampus yang tidak pernah kau perhatikan Silla-ya. Kau benar-benar aneh, tidak gagap teknologi tapi gagap akan pria tampan.” Celoteh Neolji. Silla diam, ia mencuekkan celotehan Neolji yang makin aneh dan menyindir.

Yang pasti, kali ini ia harus menghabus bayang-bayang jatuh cinta seperti yang dikatakan Neolji barusan. Ia tidak ingin terbuai oleh kata ‘cinta’ yang membuatnya seperti orang bodoh.

“Silla-ya!!” teriak seorang pria sembari berjalan mendekat ke arah taman.

Neolji melompat-lompat gugup, “Itu Donghae Silla-ya! Donghae!!”

Silla mendecakkan lidahnya, ia menepuk-nepuk bahu Neolji yang begitu gugup melihat Donghae walau kali ini ia sama gugupnya dengan Neolji. Mendengar namanya dipanggil oleh Donghae membuat jantungnya berdetak tidak karuan.

“Ya?” tanya Silla menutupi kegugupannya.

“Begini, besok kau ada waktu kan? Bagaimana kalau kau belajar tentang teknik foto freeze?” tanya Donghae. Silla terdiam, ia memikirkan jawaban yang tepat akan ajakan Donghae.

“Baiklah, akan ku beritahu anggota lain. Di mana?” tanya Silla kemudian. Donghae tersenyum mendapati ajakannya yang disetujui oleh Silla, “Di lab. Kimia lantai dua.”

Silla menganggukkan kepalanya, kali ini ia lebih serius. Jantungnya mulai berdetak dengan normal ketika ia bisa menormalkan pemikirannya akan Lee Donghae. Kedepannya ia akan berusaha untuk menghilanhkan pemikiran itu.

“Bisa aku tahu berapa nomor handphonemu?”  tanya Donghae.

“Ah, Matta!” sahut Silla, ia mengambil Samsung galaxy notenya lalu memberikannya pada Donghae.

Donghae menekan layar gadget Silla dengan cekatan, kantung celananya bergetar, gadget Donghae yang bermerek sama dengan milik Silla bergetar menerima miss call dari nomor Silla. “Ah, Geurae, besok yah!!” pamit Donghae dan berlalu dari hadapan kedua gadis itu.

 

@@@

 

Siwon bernapas dengan gusar, pemandangan itu terlihat menjengkelkan baginya. Kata-kata Eunhyuk benar terjadi. Seorang pria yang ia ketahui bernama Lee Donghae mengenal seorang Han Silla. Bagaimana bisa? Pertanyaan itu memenuhi otaknya.

Ingin rasanya ia menjadi seorang Lee Donghae. Tapi, tentu hal itu tidak terjadi saat ini. ia seorang Choi Siwon! Dan ia punya cara sendiri untuk mendekati Han Silla. Otaknya mulai bekerja tidak sesuai dengan pemikirannya.

Ah, ia mengerti!

“Hyeong, apa yang kau lakukan?” tanya Siwon geregetan, ia mendekatkan handphonenya ke telinga.

“Apa yang aku lakukan?” suara pria di seberang itu begitu bingung. “Lee Donghae? Bagaimana bisa ia mengenal Silla?” tanya Siwon sekali lagi.

Suara tawa renyah menghiasi pendengaran Siwon, “Ternyata, kau jangan khawatir. Ia hanya menggantikanku sebagai ketua fotography Agency untuk waktu yang tidak lama. Ia tidak tertarik dengan Han Sillamu kan?”

“Tapi ia seorang cassanova. Kau membuat Han Silla jatuh cinta pada pria itu huh? Mengapa kau tidak memilihku saja sebagai penggantimu?”

Leeteuk tertawa lebih keras, “Ya! Siwon-ah, memangnya kau punya waktu? Jadwalmu sangat padat bukan? Jangan khawatir, aku akan mengancam Donghae untuk tidak terlalu dekat dengan gadismu itu. Aku akan bilang bahwa Han Silla adalah milik-”

Siwon mematikan sambungan teleponnya. Otaknya berkecamuk, ia baru saja melakukan hal aneh. Han Silla belum sepenuhnya miliknya dan ia tidak punya hak apapun untuk mengganggu kehidupannya. Ia hanya tidak ingin ada pria lain yang mengganggu dan ia takut apabila Donghae tertarik pada gadis itu.

Bila memang Silla jodohnya, pasti ada jalan yang terbuka lebar untuk mendekatinya. Ia percaya itu.

 

@@@

 

“Siwon-ah! Aku benar-benar terkejut menerima teleponmu kemarin.”

Siwon tersenyum tipis menanggapi ucapan Leeteuk. Ia melempar sebuah botol air mineral kepada Leeteuk, “Aku hanya gusar Hyeong, aku belum siap untuk melihatnya dengan orang lain.”

Leeteuk tersenyum memperlihatkan dimple-nya lalu meminum air mineral itu hingga setengah botol, “Gwencanha, aku sudah memberitahukannya pada Donghae. Dan dia sudah punya pacar. Kau jangan khawatir.”

“Mworago? Kau memberitahukannya?”

“Ne. Aku sedikit kesal karena kau tidak punya nyali untuk berkenalan dengannya, kapan kau berani Siwon-ah? Badan saja yang besar.” Sindir Leeteuk.

“Hingga ia menyadari keberadaanku hyeong.”

“Dan bila tidak? Kau harus bagaimana? Menyimpan rasamu hingga ia menikah dengan orang lain? Kau ini aneh.”

Siwon tertawa hambar, “Tentu aku tidak akan membiarkannya untuk menikah dengan orang lain. By the way, bagaimana dengan skripsimu hyeong?”

“Bukan urusanmu.” Jawab Leeteuk acuh yang asyik menggerak-gerakkan tangannya mengikuti irama lagu yang berkumandang lewat loudspeaker yang berada di sisi ruangan tempat yang selalu ia gunakan untuk berkumpul dengan sahabat-sahabatnya.

Mau tidak mau Siwon juga ikut menggerak-gerakkan tubuhnya untuk menari, ia melihat siluet tubuhnya di cermin, sudah lama ia tidak pernah dance setelah mendapati berbagai jadwal padat dari ayahnya.

“…Like this yo! Like this…” Siwon dan Leeteuk tertawa, mereka mengikuti dance lagu itu dengan enerjik.

 

@@@

 

Siwon melumat permukaan sedotan minumannya enggan, pemotretan hari ini membuatnya kalang kabut. Bagaimana ia tidak gusar, lagi-lagi ia harus memperlihatkan tubuh rotinya pada khalayak umum lewat majalah-majalah yang membayarnya sebagai model. Tentu, sebagai pria ia juga perlu privacy, ia tidak suka mengumbar-umbar bagian tubuhnya di depan umum.

“Ottokhaeyo? Lanjut ke Hyundai?” tanya asistennya. Siwon mendesah, “Eo? Observasi itukah?” tanya Siwon mencoba untuk santai.

Pria berjas putih di hadapannya mengangguk, ia memberi perintah pada seorang sopir yang menunggu mereka di depan café untuk segera bersiap menyalakan mesin mobil dan mengantar sang –calon direktur mereka ke Hyundai, salah satu supermarket ternama di Seoul.

“Woonji-ya, berikan aku free time pada hari kamis nanti! Aku akan memberitahukannya pada direktur Choi.” Kata Siwon dengan suara beratnya, memberikan suasana tegas pada asistennya itu.

“Tapi, tu-”

“Jebal, aku sedikit runyam, harusnya kau mengetahui itu.” potong Siwon membuat asisten itu terdiam. Ia mencoret-coret sebuah kertas pada map hitam di tangannya, Siwon tersenyum tipis. Ia tahu, asistennya itu tengah mencoret jadwal hari kamis nanti.

“Eo? Woonji-ya, aku pikir tempat ini harus diperlebar sedikit, bukannya hari minggu nanti ada festival budaya? Kau suruh si pak tua itu untuk menggambar ulang denah area hall. Bila tidak diperlebar maka hall ini akan terlalu sesak oleh lautan manusia.”

Woonji mengangguk, ia mencatat seluruh perkataan siwon dengan cekatan. Setelah selesai mencatatnya, ia lalu menyuruh seorang bodyguard untuk memanggil seorang pria berambut putih yang tengah berada di barisan paling belakang rombongan Choi corp.

Pria berumur itu lalu mendekat,  Woonji berbisik padanya, “Ah, arayo. Tadinya aku ingin memberi saran itu padanya.” ujar pria itu sembari tersenyum pada Woonji.

“Geundae, anda benar-benar berhasil tuan.” Sahut Woonji pada Siwon yang sibuk memperhatikan supermarket milik ayahnya itu.

Siwon tersenyum lebar pada Woonji dan mengangkat tangannya, Woonji terdiam dan menatap tangan Siwon bingung, “Highfive Woonji-ya, Highfive!”

Woonji tersenyum kikuk, ia menepuk telapak tangan Siwon dengan kaku. Siwon tertawa kecil, “Aigo~ orang-orang ini terlalu kaku.” Gumamnya.

Mata Siwon kembali sibuk memperhatikan salah satu sisi gedung Hyundai, tiba-tiba jantungnya berdesir, ia menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas sisi itu. tangannya terjentik. Ia berhenti, lalu menghadap ke Woonji.

“Woonji-ya, istirahat 10 menit.” Suruhnya singkat lalu meninggalkan Woonji yang sibuk memberikan arahan pada rombongan itu.

Siwon berlari kecil, matanya terlihat sangat segar setelah melihat seorang gadis yang sudah membuat jantungnya berdetak tidak karuan untuk beberapa bulan ini. Han Silla! Tentu ia akan melakukan apa saja untuk dapat melihat gadis itu.

“Ah, chogiyo, anda menganggu pelanggan saya.” Seorang gadis menepuk punggung Siwon. Mau tak mau Siwon harus berpindah tempat, “Jwesonghamnida.” Kata Siwon sedikit malu.

Kedua bibir Siwon melebar, ia tersenyum menonton pemandangan yang membuat hatinya membuncah bahagia. Penguntit, ia memang sedang menjadi penguntit gadis vitaminnya itu. Langkahnya terdengar tegas, mendekati gadis itu. Tentu ia tidak akan menyapa gadis itu, hanya melewatinya saja dan membuat gadis itu sadar akan kehadirannya. Bukannya itu yang memang ia inginkan? Membuat Han Silla sadar akan kehadirannya.

“Eo? Choi Siwon!!”

Siwon tersenyum getir, ekor matanya melirik gadis bob sahabat gadis vitaminnya itu. Im Neolji! Sasaeng gila itu tidak akan menguntitnya, tentu tidak, karena Han Silla berada di sampingnya.

Han Silla melihatnya, menatapnya datar seakan ingin tahu seperti apa Siwon itu. Jantung Siwon kembali berdesir aneh, Han Silla! gadis itu tersenyum padanya, menundukkan kepalanya sopan. Lantas, Siwon membalasnya, smirk-nya terangkai jelas di wajahnya.

“Tuan! Tuan!!”

Hembusan napas Siwon terdengar berat, Woonji berlari menghampirinya, “Mari kita makan, waktu istirahat sudah saya perpanjang.”

“Baiklah.” Ujar Siwon malas. Ekor matanya melirik Han Silla yang sibuk melihat-lihat baju di salah satu toko, sedangkan Neolji, gadis itu belum mengedipkan matanya sejak melihatnya.

Apa dia sudah menyadari kehadiranku?

 

@@@

 

“Jadi, apa selanjutnya?” tanya Eunhyuk tak peduli. Ia terlalu sibuk memainkan gadgetnya daripada memperhatikan Siwon yang tengah ‘curhat’ mengenai gadis vitaminnya. Eunhyuk memang tidak terlalu peduli, bagaimana pun juga ia sudah lelah mendengarkan Siwon yang berceloteh tanpa ada kemajuan pasti.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Siwon memutar balikkan pertanyaan.

“Eo? Kau bertanya padaku?” Siwon mengangguk.

Eunhyuk memandang Siwon tidak percaya, sembari menaruh gadgetnya di lantai ia menjitak kepala Siwon tanpa belas kasihan, “Apa yang kau pikirkan huh? Siwon-ah, neo jeongmal babo!”

“Aku tidak tahu harus apa hyeong, aku benar-benar kehilangan akal untuk menyapanya.” Aku Siwon. Eunhyuk mengacak pinggangnya kesal. Ia tidak mengerti arah pikiran Siwon –manusia super gentle yang sudah ia kenal sejak sekolah menengah atas itu.

“Khh~ kau benar-benar, akh! Melihatmu membuatku kesal, badanmu yang super gentle itu dikalahkan oleh syndrome cinta! Bayangkan saja,” hardik Eunhyuk.

Siwon tersenyum hambar, apa yang dikatakan oleh Eunhyuk memang benar. Dia menjadi orang yang tidak waras semenjak mengenal Han Silla –dan ia tidak bisa mengelak. Apapun tentang Han Silla selalu membuat otaknya membeku, ia kehilangan akal untuk sementara.

“Aniya! Maksudku, bagaimana caraku untuk berkenalan dengannya? Tentu tidak mungkin untuk menghampirinya lalu berkenalan tanpa tujuan pasti.”

“Ya! tujuanmu berkenalan dengannya, iya kan?” Eunhyuk menggelengkan kepalanya, ia sedikit frustasi.

“Bukan itu, kau tahulah, tentu tidak mungkin aku berkata seperti itu. Taktik! Itu yang ku perlukan. Hyeong, kau kan cassanova, setidaknya kau punya taktik jitu!” ujar Siwon. Eunhyuk menghembuskan napasnya, memikirkan arah pembicaraan Siwon yang muali menyindirnya.

“Geurae, aku punya taktik!”

 

@@@

 

Siwon berjalan, ia bernapas dengan gusar. Udara terasa lebih mencekam dari hari biasanya, dieratkannya syal abu-abu yang terpasang di lehernya dengan tegas. Matanya terarah lurus kepada seorang gadis yang tengah duduk di taman kampus menikmati buku yang ia baca.

“Annyeong haseyo~” sapa Siwon sekenanya. Sapaannya terdengar begitu kaku, napas Siwon memburu, jantungnya berdesir mengingat ini pertama kalinya ia bisa duduk berdekatan dengan gadis vitaminnya itu. Han Silla.

Silla sedikit terkejut, ia mengalihkan pandangannya kepada Siwon yang baru saja duduk di sebelahnya. Senyum tipis terukir jelas di wajahnya, “Annyeong haseyo.” Sapanya kaku.

“Ah, Choi Siwon imnida,” ujar Siwon sembari menjulurkan tangannya, awalnya Silla terkejut mendapati sosok Siwon yang ramah, tidak seperti ia pikirkan beberapa hari yang lalu. Ia pikir Siwon adalah orang yang sombong dan tipikal pria metropolitan.

“Han Silla imnida.” Kata Silla singkat. Ia menarik tangannya, kemudian menutup buku yang ia baca. Keseriusannya dalam membaca telah terusik oleh kehadiran Siwon.

“Oh ya-” koor Siwon dan Silla bersamaan.

“Kau duluan,” suruh Siwon. Silla tersenyum kecil,

“Sepertinya kurang penting sih, tapi temanku, Im Neolji dia tergila-gila olehmu.” Kata Silla. Siwon tertawa hambar, Silla seharusnya tidak perlu mengatakan ‘rahasia umum’ itu.

“Ah, Ne. Semua orang mengetahui sahabatmu itu.” kata Siwon membuat Silla terkekeh. Dalam hati kecil Siwon ia menggerutu, entah mengapa mereka membicarakan Im Neolji, sasaeng tidak waras itu.

“Oh yah, aku sering melihatmu bersama Leeteuk hyeong, katanya kau fotografer yang cukup handal.” Kata Siwon mencoba untuk santai, ia menarik napas dengan pelan, mengisi paru-parunya yang mulai kehabisan oksigen.

Silla terkesiap, “Leeteuk seonbae terlalu melebih-lebihkan.”

“Anirago, aku sudah melihat foto-fotomu dan semuanya mengesankan.” Aku Siwon. Lagi-lagi Silla terkesiap, “Bagaimana bisa?”

Siwon mengelus tengkuknya, ia sudah kelepasan. Leeteuk sering memperlihatkan foto-foto yang Silla potret padanya. Leeteuk lah yang membuat Siwon makin mempertegas perasaannya pada Silla. Sosok Leeteuk bagaikan cupid baginya.

“Leeteuk yang memperlihatkannya padaku. Jinjjayo, benar-benar mengesankan.” Puji Siwon. Silla tersenyum malu, “Eo, geurae gamsahamnida.”

“Silla-ya!!”

Mata Siwon mengarah pada seorang pria yang berjalan ke arahnya, tidak, pria itu berjalan ke arah Silla. Hati Siwon mencelos, itu Donghae. Pria yang membuatnya harus ber-was-was, ia tentu takut bila pria itu tertarik dengan Silla.

“Ah, Siwon-ssi!” sapa Donghae, ia menjabat tangan Siwon ramah. Siwon menatapnya datar.

“Oh yah, Silla-ya aku hanya ingin mengingatkanmu agar mempersiapkan meeting pertama dengan para anggota photography agency. Ingat itu, arasseo?”

Silla mengangguk mantap, senyumnya merekah lebar setelah melihat wajah Donghae yang terlihat amat tampan, tatapan polos Donghae membuat Silla agak salah tingah. “Geundae, aku pergi dulu. Annyeong Silla-ya, Siwon-ssi!!”

Donghae mengacak puncak kepala Silla gemas, lalu berjalan menjauhi taman kampus. Siwon mendesis, ia tidak suka dengan tingkah Donghae memperlakukan Silla seperti itu, hal yang Donghae lakukan seperti memberi harapan pada Silla.

“Silla-ya.” panggil Siwon. Silla mengerjapkan matanya, kemudian tersenyum kikuk pada Siwon, “Ne?”

“Hm… Senang berkenalan denganmu. Lain kali kita bertemu lagi eo?”

Kepala Silla bergerak naik turun, ia tersenyum lebar, “Senang berkenalan denganmu juga Siwon-ssi.”

 

@@@

 

Silla menatap Neolji yang tampak cantik dengan balutan dress putih dan tas selempang merah di hadapannya. Di dalam hatinya Silla ber’wah’ melihat sosok Neolji yang berbeda dari biasanya. She’s beautiful itu yang memenuhi kepala Silla saat ini.

“Benar kau tidak mau datang ke festival ini?” tanya Neolji. Silla mengangguk, bukan tidak mau ia hanya ingin mengerjakan beberapa tugas dari dosennya, ia tidak suka menunda-nunda pekerjaan, berbeda dengan Neolji.

“Aku pikir Donghae oppa akan datang! Apa kau mau kehilangan kesempatan emas ini?” tanya Neolji. Silla terkekeh,

“Ya! Aku sudah bilang padamu bahwa aku tidak jatuh cinta dengan pria itu. Hanya sebatas kagum, itu saja.” aku Silla.

Neolji mendecakkan lidahnya, “Kagum? Ya! Dia memperlakukanmu seperti gadis yang sangat istimewa. Seharusnya kau sadar itu!”

Silla terdiam, Neolji benar. Donghae sering melakukan skinship dengannya, tapi tidak sampai keluar dari batas normal. Perlakuan Donghae benar-benar menariknya ke dalam lingkup sosok pria tampan itu.

“Mungkin karena ia suka skinship, ia menganggapku sebagai adik kok, seperti Leeteuk seonbae.” Ujar Silla. Neolji menarik napas, “Geurae, kau benar-benar beruntung diperlakukan seperti itu oleh para kkot mi nam, aku iri padamu.”

“Heh! Jangan berpikir yang tidak-tidak! Sana festival akan segera dimulai.” Kata Silla mengingatkan Neolji.

Neolji menjentikkan jarinya, “Geundae, aku pergi.”

Selepas kepergian Neolji dari apartenya, Silla kembali berkutat dengan buku-buku berjudul sama. Syndrome Syndrome dan Syndrome ia tidak mengerti arah Mr. Jung yang selalu memperdebatkan soal beberapa syndrome yang terjadi pada manusia belakangan ini.

Silla mengalihkan pandangannya ke arah gadgetnya yang bergetar, ia mengucek matanya lalu melihat pesan yang menimbulkan gadgetnya bergetar.

 

From: Neolji

Yaa!! Silla-ya, Siwon oppa mencarimu. Kalian saling kenal yah?

Mengapa tidak pernah memberitahukannya padaku?😦

 

Dengan tangkas Silla membalas pesan pendek itu,

Mianheyo, aku lupa memberitahukanmu. Bilang saja aku sedang sibuk

Mengerjakan tugas.

 

“Ah, Michigetta!” pekiknya kesal. Ia menjambak rambutnya kesal, ia tidak kesal dengan tugas atau apapun itu. Entah mengapa pikirannya terbang mengingat sosok Siwon yang baru saja ia kenal beberapa hari yang lalu.

Sosok Siwon tidak asing lagi baginya, Neolji sering membicarakannya. Yeah, walaupun ia sering mencuekkan kecerewetan sahabatnya itu, “Lupakan!!” ujarnya kesal lalu kembali berkutat dengan buku-buku tebal itu.

 

@@@

 

“Siwon-ah, waeyo?” tanya Yesung pada Siwon yang duduk di salah satu sisi cafénya.

Siwon baru saja beranjak dari festival yang diadakan kampusnya, awalnya ia berpikir bahwa Silla akan datang, tapi sayang sekali, batang hidung Silla tidak terlihat karena terlalu sibuk mengerjakan tugas. Rasa kekecewaan tentu menghampirinya, tapi jujur saja ia makin senang dengan ketekunan Silla.

“Eo? Ani, espresso mu makin enak hyeong.” ujar Siwon mencoba mengalihkan topic.

Yesung tersenyum bangga, “Ini espresso mahal! Kau jangan main-main,”

“Eo, bagaimana kesepianmu huh?” tanya Yesung, Siwon menatapnya enggan,

“Awal yang baik, tapi gadis itu terlalu rajin mengerjakan tugas.” Jawabnya jujur.

Yesung tertawa kecil, ia menepuk punggung Siwon sembari berkata ‘sabar’ berulang kali. Siwon mendesis, ia membatin dan menggerutu akan sikap Yesung yang seakan tidak bernasib sama dengannya.

“Hyeong, kau sudah tua. Kapan menikah?” tanyanya membuat mata Yesung terbelalak.

“Tua kau bilang huh?” Siwon mengangguk sembari terkekeh, “Hyeong, aku belum pernah melihatmu menggandeng seorang wanita. Sebentar lagi umurmu akan menginjak kepala tiga, seharusnya kau sudah mempersiapkan segalanya.”

“Kau seharusnya mendengarkan nasihat Siwon!” sahut Jongjin adik Yesung yang menyetujui perkataan Siwon.

“Ya!! Kerjakan tugasmu, dasar pelayan!!” hardik Yesung, untung saja keadaan café tidak terlalu ramai, sudah saatnya Yesung menggantungkan tulisan close di depan pintu cafenya, waktu makin menipis untuk hari ini.

“Ah, sebaiknya kau pulang saja, memikirkan pekerjaanmu yang makin menggila. Kau hadir di sini membuatku geram, selalu saja membullyku.” Gerutu Yesung. Siwon terkekeh,

“Geundae, aku pulang dulu Hyeong.” pamitnya. Ia mengangkat tangannya seperti biasa.

“Siwon-ah! Jangan ke club malam!!” sahut Yesung, Siwon mengangguk, tentu ia tidak akan ke club malam, baginya akan lebih baik bila menghabiskan waktu di gereja daripada berfoya-foya tidak jelas.

Ya berdoa ke gereja, berdoa pada Tuhan bahwa Silla benar jodohku.

 

@@@

 

Donghae terduduk lemas, ia menundukkan kepalanya sembari terisak tidak jelas di hadapan Silla. Silla mengelus tengkuknya, sejak awal ia sudah merasa ada yang aneh dengan kedatangan Donghae yang tiba-tiba menghampirinya di cafetaria dekat kampus.

“Naneun ottokhae Silla-ya?” ringis Donghae sembari mengusap permukaan matanya.

“Aku kurang tahu juga, tapi sebaiknya kau harus menjelaskan pada gadismu bahwa kemarin kau tidak ke club malam, bicarakan dengan pelan tanpa emosi. Kau harus bisa meredam emosinya.” Nasihat Silla tegas. Donghae mengerucutkan bibirnya,

“Tapi, Eunsuk tidak ingin mendengarkanku. Ia terus menghindariku sejak pagi tadi.”

“Kejar dia! Wanita itu suka dikejar oleh pria yang ia sukai, eum… rasanya seperti itu.” ujar Silla ragu. Donghae lalu menyeruput Strawberry jus yang baru diantarkan oleh seorang pelayan, ia menatap Silla penuh harap.

“Ottokhaeyo?” Ringisnya.

Silla menggaruk kepalanya, ia tidak pernah mengerti soal percintaan dan kali ini Donghae meminta saran padanya tentang permasalahan yang dialaminya dengan pacarnya yang bernama Eunsuk. Walau awalnya ia sedikit terkejut karena ternyata Donghae sudah memiliki pacar. Pupus sudah harapan kecilnya yang sempat membayanginya beberapa hari yang lalu.

“Eunsuk-ah!!” pekik Donghae kemudian berlari mengejar seorang gadis yang baru saja akan masuk ke dalam cafetaria. Gadis itu berlari setelah melihat Donghae dan Silla.

“Geundae, masalah lagi.” batin Silla kesal.

“Aku hanya anggota Photography agency, Donghae-ssi hanya meminta saran padaku tentang masalah kalian. Jebal, percayalah kata-kataku.” Pinta Silla pada gadis yang ia ketahui bernama Eunsuk di taman kampus.

Gadis itu mencibir, “Kau dibayar berapa sih? Bisa-bisanya kau mau membohongiku. Kau menyukai Donghae oppa kan? Kalian berselingkuh kan?”

Silla menatap Eunsuk sinis, ia tidak suka dengan tingkah gadis yang notabene hobaenya itu. Tidak punya sopan santun sama sekali, ia jadi sedikit bingung dengan Donghae yang mau mempertahankan hubungannya dengan Eunsuk.

“Aish! Jinjja, kau ini hobae yang tidak punya sopan santun.” Geram Silla. Eunsuk mendesis, “Mworago?”

“Ya! Eunsuk-ah, percaya padaku Oppa-mu itu hanya pengganti Leeteuk seonbae sebagai ketua photography agency, di sini aku hanya sebagai asistennya saja. Kau jangan salah sangka –oh yah, sikapmu tolong ubah sedikit. Seharusnya kau tahu siapa seonbae di sini.” Hardik Silla tak main-main.

Eunsuk terkesiap, ia menelan ludahnya pahit, melihat Silla yang begitu tegas membuat sikapnya melumat, “Geurayo? J…jweonghamnida seonbae.”

Dengan mantap Silla menganggukkan kepalanya, ia kemudian memegang bahu Eunsuk dengan lembut,

“Eunsuk-ah, kasihan oppa-mu. Sejak awal ia menangisimu dan jujur saja aku tidak terlalu tahu mengenai persoalan cinta walau aku calon psikolog. Jangan sampai membuatku sibuk lagi dengan permasalahan kalian, cukup sekali ini saja.”

“Ah, Ne mianheyo eonni-ya. Geundae, aku akan memaafkanmu oppa!” pekik Eunsuk pada Donghae yang sedaritadi duduk diam di salah satu kursi di taman kampus itu.

Lantas Donghae berdiri, senyumnya tersungging manis di wajahnya, “Geuraeyo?” Eunsuk mengangguk.

“Ah, Matta! Cepat tinggalkan taman ini, aku ingin belajar dengan tenang.” Usir Silla sembari terkekeh. Donghae dan Eunsuk pun pamit kemudian meninggalkan Silla yang kembali sibuk dengan buku-buku tebalnya.

“Kau begitu sibuk yah?”

Silla mengerjapkan matanya, ia menutup buku yang baru saja ia baca dan menatap Siwon, pria yang saat ini memakai baju berwarna merah marun dengan celana kain yang duduk di sampingnya, “Eo? Sibuk?”

Siwon mengangguk, “Aku pikir kau tidak perlu memaksakan diri untuk mengerjakan tugas-tugasmu. Sesekali kau harus bersantai.”

“Ah, Ne, hanya saja aku tidak suka menunda-nunda waktu. Aku pikir, bila mengerjakan tugasku dengan cepat aku bisa mendapatkan waktu senggang yang lebih banyak nantinya.”

“Kau benar, tapi jujur saja, kau terlihat seperti zombie.” Aku Siwon. Silla terkekeh, “Aku memang Zombie kok.”

“Oh yah, Silla-ssi. Besok kau punya waktu?” tanya Siwon kemudian, ia menarik napasnya pelan, mencoba menetralkan detak jantungnya yang rasanya akan meledak dalam hitungan detik.

Gadis di sebelahnya itu terdiam, ia menggaruk kepalanya yang mungkin tidak gatal. Siwon tahu, gadis itu tengan menimang-nimang ajakannya. Ajakan kencan, sebut saja seperti itu. Eunhyuk yang memberinya saran untuk mengajak Silla berkencan.

“Hm, ada apa?” tanya Silla. Di dalam hatinya Siwon berteriak senang, “Besok, di taman ini jam 10 pagi! Aku akan mengajakmu refreshing,” ajak Siwon.

Silla menganggukkan kepalanya, “Hm, jam 10 pagi. Baiklah,”

 

@@@

 

“Tuan, Tuan!!” Siwon menampik panggilan Woonji, dengan cuek ia merapikan baju kaos putih yang ia kenakan. Dilihatnya jam yang terpasang di lengan kirinya, “1 jam lagi.” batinnya tidak sabaram.

“Tuan! Tuan!!” kali ini Woonji memekik. Siwon menatapnya kesal, “Mworagoyo?”

“Choi sajangnim masuk rumah sakit! Jantungnya melemah.”

Siwon terdiam, wajahnya menunjukkan sirat kecemasan, “Kita ke rumah sakit sekarang juga!” perintah Siwon tegas.

Dalam hitungan detik Siwon sudah berada di dalam mobil, ia mengarahkan wajahnya keluar jendela mobil yang memperlihatkannya sausana kota Seoul. Ia cemas dengan keadaan ayahnya dan berharap ayahnya tidak apa-apa.

“Aboji, ottokhaeyo?” tanya Siwon pada dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.

Dokter itu tersenyum simpul, “Gwencanhayo, jantungnya melemah dalam beberapa menit. Choi sajangnim tidak apa-apa, beliau hanya terlalu lelah.”

Siwon menghembuskan napasnya lega, diliriknya ruangan ICU dengan wajah tenang, “Woonji-ya, jemput Eommonim sekarang juga.” Perintahnya, tidak perlu menunggu lama Woonji sudah berlalu menjemput ibu Siwon.

Dengan ragu, Siwon memasuki ruang ICU itu, dilihatnya ayahnya yang terbaring di kasur putih itu dengan tenang, “Aboji,” bisik Siwon lembut. Siwon sangat menyayangi ayahnya walau dalam beberapa hal ia sering kesal karena perintah ayahnya yang terlalu memberatkannya.

“Aku sudah pernah bilang, jangan terlalu memaksakan diri.” Bisik Siwon tepat di telinga ayahnya yang terbaring pulas di kasur itu. Tangan Siwon menggenggam tangan ayahnya, ia tentu takut apabila hal yang tidak-tidak terjadi pada pria yang disayanginya itu.

“Aboji, waeguraeyo?” tiba-tiba seorang wanita paruh baya memasuki ruang itu, Siwon tersenyum kecil, “Aboji terlalu lelah eommonim.”

Lalu ibu Siwon tersenyum getir, “Aish! Jinjja, ayahmu ini terlalu memaksakan diri padahal eomma sudah sering melarangnya.”

Siwon tertawa kecil, dilihatnya ayahnya yang terbangun. Ibunya lalu duduk di dekat Siwon dan menatap suaminya itu kesal, “Aku sudah bilang kan!”

Dalam hati kecilnya Siwon merasa senang melihat keluarganya itu. Walau kali ini mereka berkumpul di rumah sakit, tapi bagi Siwon kebahagiaan inilah yang membuat hidupnay berarti. Keluarga masih tetap nomor satu dihidupnya.

 

@@@

 

Silla mengecek jam tangannya untuk kesekian kalinya, sudah satu setengah jam lebih ia menunggu Siwon di taman kampus tapi pria berhidung mancung itu belum juga muncul. Awalnya ia sudah merasa senang dengan ajakan Siwon, bagaimana pun juga ia memang membutuhkan refreshing. Tapi, hatinya menjadi kesal karena Siwon tidak muncul-muncul.

Diraihnya gadget dari dalam kantong celananya, menekan beberapa digit angka lalu mendekatkan gadget itu ke telinganya, “Neolji-ya, cepat ke Handel and Gretel aku ingin berjalan-jalan. Palli!!”

Neolji menatap Silla yang menyeruput cappucinonya gusar di café langganan mereka H&G, ia tidak mengerti dengan sikap Silla hari ini, “Neoya, waegureyo?” tanya Neolji. Silla menunjuk dirinya sendiri, “Naega wae?”

“Lihatlah dirimu hari ini, kau gusar Silla-ya. Ada apa? Marhebwa, ceritakan padaku.” ajaknya. Silla menggeleng, “Na gwencanha.” Bohongnya.

“Aigo, kau tidak bisa berbohong padaku Silla-ya. Cepat ceritakan sebelum aku meninggalkanmu di sini.”

“Aish!  Hal yang tidak penting,” elak Silla. Neolji memberinya tatapan introgasi, “Marhebwa,”

Mau tidak mau Silla menceritakannya pada Neolji. Neolji mendengarnya dengan khidmat. Soal cinta katakan saja pada Neolji, dia benar-benar menguasai hal berbau perasaan yang membuatnya terkenal sebagai dokter cinta bagi beberapa gadis di kampus.

“Aigo, awalnya aku ingin berteriak karena kau tidak memberitahukanku soal kencanmu dengan Siwon. Tapi, kali ini aku akan menjadi doketr cintamu,” racau Neolji membuat Silla sedikit muak.

“Aku hanya gusar dan kesal…” ujar Silla pelan. Neolji menganggukkan kepalanya, “Dan ia membuat kepercayaanmu terhadapnya memudar.”

Benar saja, Siwon telah menghilangkan beberapa persen kepercayaan Silla padanya. Tapi, Silla tidak mempermasalahkan itu, ia berharap Siwon mempunyai alasan pasti akan ketidakhadirannya itu. Yeah, ia harap.

 

@@@

 

Siwon menatap daftar brand ternama di laptopnya. Kesehatan ayahnya belum stabil dan tentu hal itu membuatnya harus menjadi pengganti jabatan direktur untuk sementara. Woonji, asistennya itu selalu menemaninya ke mana pun ia berada.

“Tuan, apa anda ingin aku pesankan satu cup espresso?”  tanya Woonji. Siwon mengangguk walau matanya masih sibuk meneliti data-data brand itu, “Kalau bisa espresso milik Yesung hyeong. Handel and Gretel, neo ara?” tanya Siwon.

Woonji mengangguk, “Ne, chankamman gidaryoseoyo.”

Setelah kepergian Woonji, Siwon menangkupkan wajahnya frustasi. Ia lelah dengan semua jadwal yang seakan membunuhnya perlahan-lahan. Ia memang selalu berpikir tentang kondisi ayahnya setiap saat, kondisinya pasti tidak jauh berbeda dengan apa yang ia rasakan saat ini.

Beberapa hari tidak melihat gadis vitaminnya ditambah ketidakhadirannya di saat-saat penting bagi perkembangan hubungannya dengan Han Silla. Ia tidak bisa mengelak, ia kecewa dengan dirinya sendiri, ia kecewa dengan keadaan yang membawanya. Apa Tuhan menjauhkan mereka berdua? Siwon terus mengelak pertanyaan itu.

Tangan Siwon bergerak mengambil gadget yang tergeletak di atas mejanya, menekan layar gadgetnya dengan cekatan,

 

To: Leeteuk Hyeong

Tolong sampaikan maafku pada Han Silla. Jebal!

 

Napasnya terhembus pelan saat layar gadgetnya tertulis message sent. Ia tidak perlu ragu, Leeteuk pasti menyampaikan pesannya itu. Leeteuk mengerti kondisinya saat ini dan Siwon tahu, Leeteuk juga punya andil besar atas hubungannya dengan Silla.

 

@@@

 

Seperti biasa, Silla duduk di taman kampus ditemani dengan beberapa buku tebal di sampingnya. Beberapa hari ini ia tidak pernah mendapat kabar tentang Siwon, melihatnya saja tidak pernah. Ia tidak pernah mengerti arah hatinya yang makin hari makin memikirkan sosok Siwon.

“Ingat! Hati juga sering salah sasaran.” Suara Mr. Jung terus membayanginya bila ia memikirkan Siwon. Kata-kata Mr. Jung-lah yang membuatnya kukuh untuk tidak pernah percaya dengan yang namanya cinta.

Bukan tidak percaya, tapi tidak ingin tahu.

Kantong Silla bergetar, ia lalu mengambil gadgetnya dan membaca sebuah pesan singkat dari seonbae kesayangannya. Leeteuk.

 

Silla-ya, Siwon menyuruhku untuk menyampaikan maafnya padamu.

Kalian sedang bertengkar?

 

Silla menghembuskan napasnya pelan, dengan cekatan ia membalas pesan singkat itu,

 

Ah, Ne. Tidak apa-apa, aku tidak mempermasalahkannya ^^~

 

“Belajar lagi?” Silla terkesiap, ia mendapati sosok Neolji yang sedang berdiri di hadapannya dengan tangan yang mengacak pinggang.

“Hanya membaca, gangguan mental pada anak kecil.” Ujar Silla.

Neolji mendecakkan lidahnya, “Ah ye Silla Agassi, otak anda memang cemerlang.”

“Tidak seperti yang kau bayangkan. Aku hanya belajar apa yang aku sukai.”

“Bereskan buku-buku tebalmu itu sekarang juga! Temani aku berbelanja, ppaliwa!” suruh Neolji. Silla menggerutu, “Ah ye, Neolji Agassi.”

Setelah membereskan buku-bukunya, Neolji langsung menarik lengan Silla dengan paksa. Ia menyeret Silla memasuki bus yang akan membawa mereka ke daerah Myeondong. Silla hanya bisa mengeluh mendapati tasnya yang terasa berat karena buku-buku tebal dari perpusatakaan kampus. Lain kali ia akan meminjam buku sedikit demi sedikit agar tidak memberatkan bahunya.

 

@@@

 

Silla mengerjapkan matanya, ia menatap Sinhae –adik kesayangannya yang menyambutnya begitu khidmat di pekarangan rumahnya. Sudah lebih dari satu minggu ia tidak berkunjung ke rumahnya, ia terlalu sibuk dengan tugas-tugasnya.

Sebenarnya rumah keluarga Silla tidak terlalu jauh dari pusat kota Seoul, aparte yang selama ini Silla gunakan adalah hadiah dari kedua orang tuanya untuk membuatnya lebih mandiri dan nyaman untuk belajar.

“Sinhae-ya! Kau tambah gemuk saja, sepertinya ada banyak hal yang ku tinggalkan,” ujar Silla sembari mencubit pipi tembem adiknya itu. Sinhae meringis, “Cish, noona melupakan kami dalam seminggu.”

“Ah, Mianhe… tugasku makin menggila.”

Sinhae mengerucutkan bibirnya, “Masuk noona, kata aboji sebentar malam ada tamu penting, kau harus menjadi feminim lagi.”

“Tamu? Aku tidak perlu keluar dari kamar kalau begitu.” Gumam Silla tapi masih dapat didengar oleh Sinhae, “Aniya, eomma bilang noona harus menemani tamu itu. Sepertinya acara perjodohan.” Kekeh Sinhae.

“Mworago? Pikiran eomma masih modern Sinhae-ya! kau mengada-ada saja.” elak Silla. Ia berjalan memasuki rumahnya ditemani oleh Sinhae yang asyik memainkan rambut Silla.

“Ani!! Aku tidak mengada-ada! kata eomma, noona akan berkenalan dengan anak tamu itu. Dan apabila noona mau, kalian bisa dijodohkan dalam waktu dekat.” Kata Sinhae jujur. Silla tertawa pelan, “Geuraeyo? Aku harap anak itu tampan.” Bisik Silla. Sinhae mengedikkan bahunya tak peduli kemudian berjalan memasuki dapur.

“Ah, Matta. Kau tambah kurus saja Silla-ya, makanmu tidak teratur yah? Apa tugasmu terlalu banyak?”

pertanyaan beruntun dari eomma-nya membuat Silla tersenyum kecil. Dilihatnya wajah eomma-nya yang makin menampakkan kerutan. Silla merindukan wajah itu, wajah yang selalu hadir di hari-harinya dulu. Terkadang ia marah pada dirinya sendiri karena jarang pulang ke rumah, membuat kedua orang tuanya khawatir.

“Tugasku banyak, tapi jangan khawatir, makanku teratur.” Jawab Silla singkat. Ia memeluk tubuh eomma-nya sekilas, lalu mencium keningnya.

“Eommonim, sebentar malam ada tamu?” tanya Silla. Eomma-nya mengangguk, “Ne, keluarga teman kecil ayahmu. Kau harus memakai dress putih kesayanganmu itu yah, sudah lama eomma tidak melihatmu mengenakannya.”

“Ah, Geurae. Aku tidak punya dress lain lagi.” desah Silla. Eomma-nya mengelus puncak kepala Silla, dikecupnya kening Silla dengan gemas.

“Sebagai wanita seharusnya kau mulai berubah, sering-seringlah memakai dress.” Ujar eomma-nya. Silla mengangguk patuh walau dalam hatinya ia menggeurutu karena tidak menyukai perintah eomma-nya itu.

 

@@@

 

Sudah kesekian kalinya Siwon mendesah, ia tidak suka dengan ajakan kedua orang tuanya yang menyuruhnya untuk ikut berkunjung ke rumah teman masa kecil ayahnya. Ia paling tidak suka dengan acara-acara seperti itu apalagi yang pada akhirnya akan membicarakan tentang perjodohan. Seriously, he never like it.

“Siwon-ah, teman ayah itu mempunyai empat anak. Dua perempuan, dua laki-laki. Anak pertama sudah menikah dan yang ketiga sedang belajar di Asia Tenggara…”

Bla… bla… dan bla… Siwon tidak mendengar perkataan ayahnya dengan serius. Ia hanya mengangguk dan mengeluarkan suara Eo? Atau Geurayo? Ketika ia rasa harus memperhatikan ucapan ayahnya. Siwon sudah tahu, pada akhirnya ayahnya akan berusaha untuk menarik perhatiannya kepada salah seorang anak wanita, teman kecil ayahnya itu.

Tentu hal itu tidak berguna, bagaimana pun juga Siwon sudah menjatuhkan hatinya kepada Han Silla, ia sudah berkomitmen untuk memilih Silla sebagai pendamping hidupnya nanti. Kalau pun ada acara perjodohan, maka ia akan melarikan diri.

“Rumahnya di mana?” tanya Siwon sembari merapikan rambutnya yang sedikit terusik oleh tiupan angin malam kota Seoul. Setelah ayahnya menyebutkan salah satu kawasan elit yang tidak jauh dari pusat kota, Siwon langsung menancap gas mobilnya.

Siwon terdiam, ia menatap sebuah rumah yang cukup sederhana bila dikatakan sebagai rumah seorang pengusaha terkenal di Jepang. Kawasan rumah itu memang elit, tapi tidak untuk rumahnya, sederhana tapi terlihat sangat nyaman.

Ibunya langsung menarik tangan Siwon, mengaitkan tangannya pada lengan kekar Siwon kemudian berjalan memasuki pekarang rumah itu. Tak berselang lama, si pemilik rumah yang Siwon ketahui bermarga Han menyambut mereka.

“Silla!!” gumam Siwon dengan mata yang berbinar, ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang ini. Silla berdiri di samping istri teman ayahnya, mengamit lengan seorang pria yang tingginya masih berada di bawahnya.

Sama halnya dengan Siwon, Silla tak kalah terkejut, ia langsung menormalkan raut wajahnya ketika Ibu Siwon meremas bahunya gemas, “Ah! Silla-ya, kau sudah besar!” ujar ibu Siwon ramah.

“Ah ye, ahjumma.”

Napas Siwon memburu, rasanya ia ingin berteriak pada ayahnya untuk meminta mengadakan acara perjodohan sekarang juga. Dalam hatinya ia terus mengucapkan kata syukur, Ya Tuhan! Kau benar-benar baik, dia memang jodohku!!

“Aigo, anakmu tampan sekali!” puji Mr. Han sembari menepuk bahu Siwon. Siwon menganggukkan kepalanya sopan, “Gamsahamnida samchon.”

Mr. Han tertawa, “Samchon? Hahaha… anakmu benar-benar sopan! Sama seperti ayahnya.”

Mr. Choi tertawa, ia menepuk-nepuk bahu Siwon dengan bangga. Kemudian kedua keluarga itu duduk di ruang tamu, keadaan tidak terlalu canggung. Keluarga Mr. Han sangat ramah, walau Silla tidak terlalu banyak bicara.

Siwon mencuri pandang, ia sering menatap Silla secara tidak sadar. Vitamin Siwon kembali terisi setelah beberapa lama tidak melihat Silla. Silla mengelus tengkuknya, lalu menaruh dagunya di atas bahu Sinhae –adik gadis vitaminnya itu, melihat hal itu tentu membuat Siwon iri, rasanya ia ingin menjadi Sinhae.

“Mari makan, maaf makanannya tidak seenak buatan restoran.” Ujar Mrs. Han. Siwon menelan ludahnya, tidak seenak buatan restoran? Rasanya tidak mungkin mengingat makanan yang terhidang di atas meja sangatlah mewah.

Setelah makan malam, keluarga itu kembali bergurau. Mrs. Han menatap Sinhae, “Sinhae-ya, ajak Siwon ke taman belakang, sepertinya kaliah harus berbicara agar saling mengenal satu sama lain.”

Sinhae mengangguk, ia lalu mengajak Siwon ke taman belakang diikuti oleh Silla yang dipaksa oleh tatapan sinis eomma-nya. Mau tidak mau ia harus ikut, mengingat situasi yang menimpanya saat ini membuatnya bergidik ngeri. Perjodohan? Ia harap tidak walaupun Siwon adalah pria yang tampan.

Siwon duduk pada kursi panjang yang terletak di taman belakang milik keluarga Han yang terlihat terang oleh lampu sorot. Sinhae duduk di sebelahnya dan Silla yang berjalan mendekati kolam ikan. Miris, pikir Siwon. Padahal ia berharap Silla ikut duduk di samping Sinhae.

“Hyeong!” panggilan Sinhae memecah lamunan Siwon.

“Eng?” tanya Siwon. Sinhae tersenyum menggodanya, “Kau melirik noona-ku yah? Aigo, kau harus melewati mayatku dulu.”

Mata Siwon membulat, “Aniya, aniya.”

“Ah, Geurae… aku bercanda, aku hanya disuruh eomma untuk mengantarmu ke taman belakang. Bicaralah dengan noona anehku itu hyeong, awas! terkadang ia bisa berubah menjadi wanita yang sentimental.” Kata Sinhae kemudian memasuki sebuah ruangan kecil di taman belakang itu.

Setelah menghirup udara dengan tenang, Siwon berjalan mendekati Silla yang sibuk memberi makan ikan-ikan koi di kolam itu. Ia bermaksud untuk meminta maaf dengan Silla, walaupun ia tahu permintaan maafnya –yang sebelumnya disampaikan oleh Leeteuk telah diterima.

“Silla-ya, soal waktu itu-”

“Eo? Gwencanha, aku tidak mempermasalahkannya. Kau pasti punya alasan penting sehingga tidak bisa datang. Aku mengerti itu Siwon-ssi.”

Silla tersenyum tipis, hati Siwon makin membuncah bahagia. Ia ingin memeluk Silla dan memuji-muji gadis itu karena sudah mengerti keadaannya. Jarang ada gadis seperti dirinya, pikir Siwon.

“Jadi, ayahmu pengusaha?” tanya Siwon kaku. Silla mengangguk, “Jangan beritahu siapa-siapa yah, aku tidak suka bila orang-orang mendekatiku karena mereka tahu asal usul keluargaku.”

“Ah, Tentu saja.” ucap Siwon.

Sepintas Siwon terdiam, lidahnya terasa kelu untuk berbicara pada Silla. Otaknya terasa blank karena tidak tahu ingin berbicara pada gadis itu. Silla terkesan terlalu cuek, dan sejujurnya Siwon tidak suka itu.

“Mari kita duduk, sepertinya kau lelah berdiri terus.” Kata Silla, ia berjalan dengan cukup anggun dengan high heels transparan yang selalu tersimpan rapi di bawah kasur kamarnya. Silla tidak pernah memakainya semenjak pernikahan kakaknya satu tahun yang lalu.

“Silla-ya, nomormu berapa?” tanya Siwon memecah keheningan, Silla menggaruk kepalanya, “Matta! Karena tidak tahu nomormu aku jadi tidak bisa menghubungimu untuk menyanyakan kehadiranmu waktu itu.”

Siwon meraih gadget Silla lalu menekan beberapa digit angka, “Ini nomorku.” Ujar Siwon sembari mengembalikan gadget Silla. Silla mengangguk santai, ia menekan beberapa tombol di layar gadgetnya lalu menaruhnya kesembarang tempat.

“Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk, aboji sudah terlalu tua hingga aku harus menggantinya bekerja untuk beberapa hari ke depan.” kata Siwon.

“Ah ne, aku mendengar pembicaraan tadi. Aku harap ayahmu cepat sembut –dan sepertinya kau memang perlu bersiap kapan saja untuk menggantikan beliau. Lagipula itu bagus untuk melatih mentalmu.” Nasihat silla.

“Yeah, melatih mentalku untuk tidak melihatmu.” Batin Siwon.

“Ya! Siwon-ssi, kau tahu apa yang mereka bicarakan?” tanya Silla dengan mata yang mengarah ke ruang tamu. Melihat keluarga mereka yang sepertinya sedang asyik berbicara. Siwon membasahi bibirnya.

“Menurutmu?”

“Entahlah, menurutmu?”

“Perjodohan.” Jawab Siwon santai. Silla membelalakkan matanya, “Andwaeyo!!” pekiknya.

Siwon tertawa pelan, “Eo? Waeyo? Menurutmu apa lagi yang mereka bicarakan selain perjodohan? Aku sering melihat teman ayahku yang membawa anak-anak mereka bertamu di rumah temannya, dan kemudian mereka mengadakan perjodohan.”

Silla menepuk bahu Siwon kesal. Mata Silla kembali sibuk memperhatikan keadaan di ruang tengah. Siwon terkekeh, ia menatap wajah Silla dari samping, akhirnya ia bisa melihat gadis vitaminnya itu secara dekat.

“Huh, memangnya kau ingin dijodohkan? Saat ini kita berada di zaman modern. Kau harus tahu itu Mr. Choi.” Ujar Silla berusaha santai walau jantungnya terus berdesir sejak awal melihat Siwon.

Ia tidak pernah tahu mengapa jantungnya bekerja seperti itu, lagi-lagi ia membayangkan ucapan-ucapan Mr. Jung yang menggema di kepalanya. Aniya! Aniya! Pekiknya mengelak seluruh perkiraan perasaannya.

“Asalkan denganmu aku mau saja.” gumam Siwon.

“Eo? Apa?” tanya Silla. Siwon rasanya ingin berteriak di depan Silla, membawa gadis itu ke depan kedua orang tua mereka dan menyuruh mereka untuk melaksanakan perjodohan segera.

“Mollayo,” ucap Siwon singkat.

Tiba-tiba Siwon menjatuhkan kepalanya pada bahu Silla. Otomatis Silla terkejut, tubuhnya menjadi kaku karena jantungnya yang hampir meledak. Ia berharap Siwon tidak mendengar detak jantungnya itu.

“Aku mengantuk sekali, jebal, hanya sementara.” Bisik Siwon. Silla tidak berkutik, ia tidak tahu harus berkata apa, tapi ia benar-benar tidak bisa mengelak permintaan Siwon, mendengar suara Siwon yang melemah membuatnya luluh.

Siwon sendiri terkejut dengan apa yang ia lakukan barusan, nalarnya yang melakukan itu semua, lagipula ia benar-benar lelah setelah seharian mengunjungi beberapa brand di Hyundai dan mengecek barang jualan mereka dengan teliti.

“Siwon-ah… kau lelah?” tanya Silla. Siwon tidak menjawabnya, matanya tertutup rapat, ia menikmati saat-saat keberuntungannya itu. Ia bahkan ingin tidur di bahu Silla, mengisi vitaminnya kembali.

Akhirnya Silla hanya bisa bersandar di kursi panjang itu, membiarkan Siwon beristirahat di bahunya. Ia jadi kasihan dengan kondisi Siwon yang sepertinya melemah untuk beberapa hari, ia mengerti itu. Sama halnya dengan ayahnya, kesibukan adalah kegiatan harian beliau.

 

@@@

 

Siwon menatap Silla dengan tenang, ia tersenyum menggoda gadis vitaminnya itu, “Geuraeyo? Kau tidak mau ke Jeju?”

“Andwaeyo! Ini musim dingin. Untuk apa ke Jeju, lebih baik aku ke Paris menikmati akhir tahun nanti.” Tolak Silla mentah-mentah. Siwon mendecakkan lidahnya, “Ke Paris? Aku pikir kau orang yang tidak suka keramaian.”

Silla mengedikkan bahunya. Ditatapnya pria yang memakai baju putih itu intens, Neolji benar. Siwon sangat tampan, garis ketampanannya hampir mencapai garis sempurna. Tiba-tiba Siwon menarik tangan Silla, menggenggamnya dengan hangat.

“Ke Jeju, jebal.” Pinta Siwon.

Jantung Silla berdesir, tubuhnya menjadi kaku karena perlakuan Siwon barusan. Siwon mengelus kulit putihnya itu lembut seakan memaksanya untuk mengatakan Ya untuk ajakan pria itu.

“Mollayo Siwon-ssi, aku belum berpikir soal itu.” aku Silla membuat Siwon mengerucutkan bibirnya, “Geundae, apalagi yang bisa memaksamu untuk ke sana huh?”

“Tidak ada yang bisa memaksaku. Bahkan orang tuaku sekali pun.” Ujar Silla membuat Siwon menatapnya kesal.

“Aish! Baiklah, aku akan membicarakannya dengan eomma dan aboji.” Sahut Silla sedikit ketus.

Entah mengapa ia jadi lumer ketika melihat wajah Siwon yang menatapnya kesal. Dirinya seakan tidak ingin membuat Siwon kesal, bahkan melihat wajah cemberut Siwon saja sudah membuatnya merubah pikiran. Setelah kejadian di taman belakang rumahnya –yang mengakibatkan kedua keluarga mereka makin mempererat hubungan, ia dan Siwon seakan sulit terpisahkan. Itu opini Neolji dan diamini oleh seonbae kesayangannya.

Mau tidak mau Silla harus mengakui hal itu. Tidak ada perjodohan! Karena memang itu nyatanya, kedua orang tuanya hanya mengira bahwa dirinya dan Siwon sedang menjalani sebuah hubungan serius dan kejadian-kejadian pemaksaan sering diterimanya dari keluarga Siwon. Bahkan ajakan ke Jeju di akhir tahun ini.

Tuhan, perjelas kemauanmu!

 

@@@

 

Jeju Island, 31 Desember 2012

 

Siwon mengelus punggung Silla dengan lembut, ia tidak pernah berpikir bahwa komitmen yang ia pegang sejak awal membawanya ke takdir yang begitu mengesankan. Silla berada di dekatnya! Sangat dekat! bahkan ucapan-ucapan Eunhyuk yang menyindirnya sudah terbang dibawa oleh angin.

Payung transparan yang digenggam Siwon terasa menghangatkan udara di malam pergantian tahun itu, butiran-butiran salju berjatuhan membuat pandangan Silla maupun Siwon dipenuhi oleh padang putih yang indah. Dari atas puncak itu, mereka bisa melihat pulau Jeju yang terkepul salju seperti sebuah selimut berwarna putih bersih yang terhempas di atas tanah.

“Aku sudah bilang, Jeju bukan pilihan bagus.” Gerutu Silla. Siwon mengelus tengkuknya, lalu mengacak rambut Silla dengan lembut, “Tapi, nyatanya kau pergi juga kan?”

Silla mengerucutkan bibirnya, Siwon benar. Pada akhirnya ia ikut ke Jeju, menemani Siwon yang mengadakan meeting dengan perusahaan-perusahaan terkenal di Korea. Silla sendiri tidak tahu arah pemikiran orang tuanya yang dengan mudahnya memperbolehkan Siwon membawanya ke Jeju. Hal ini sama saja seperti perjodohan batin Silla.

“Kau kedinginan?” tanya Siwon tenang. Silla menganggukkan kepalanya sembari mengeratkan mantel hitamnya serta syal abu-abu milik Siwon yang baru beberapa menit terpasang di lehernya.

Tiba-tiba Siwon menggenggam tangannya, lalu memasukkan tangan kanannya ke dalam kantung mantel milik pria tampan itu. Siwon mengelus lembut tangannya, membuatnya sedikit kikuk. Ia malu menatap wajah Siwon, ia juga yakin, wajahnya pasti sudah berubah warna seperti buah tomat.

“Ottokhaeyo?” tanya Siwon. Silla mengangguk pelan, “Mendingan.” Jawabnya singkat.

Ekor mata Siwon melirik Silla yang terdiam, ia kemudian menarik Silla untuk ikut berjalan memasuki hotel tempat mereka menginap, “Terlalu dingin, kau bisa sakit.” Ujar Siwon perhatian.

“Andwaeyo! Malam tahun baru harus dinikmati, aku tidak ingin sendirian di kamar.” Tolak Silla. Siwon menyeret Silla paksa, “Palliwa, aku tidak ingin kau sakit.”

“Andwaeyo!” pekik Silla. Dengan sedikit tenaga yang dimilikinya ia menarik Siwon untuk kembali berdiri di dekat palang yang membatasi jurang dengan jalanan hotel itu.

Siwon mendecakkan lidahnya, mau tidak mau ia harus menuruti kemauan gadis itu. Dielusnya tangan Silla yang ada di kantong mantelnya dengan lembut, ia ingin menghangatkan gadis itu. Ia tentu tidak mau gadis vitaminnya itu sakit karena terlalu lama merasakan dinginnya udara Jeju.

“Silla-ya.” panggil Siwon.

“Eo?”

“Ayo masuk, ini sudah sangat dingin.” ujar Siwon. Silla melemparkan pandangan sinis ke arah Siwon, “Kalau begitu, kau saja yang masuk. Aku tidak mau membiarkan momen ini terlewati begitu saja.” gerutunya.

“Silla-ya, aku tidak ingin kau sakit!” kata Siwon tegas. Silla menghembuskan napasnya, “Aku hargai itu Siwon-ssi, tapi aku tidak ingin masuk ke kamar dan menyendiri seperti orang bodoh. Lebih baik aku sakit daripada aku tidak mendapatkan hal yang menarik.”

“Aku akan menemanimu!” kata Siwon mantap.

“Mwoya! Jangan sembarangan.”

Siwon terkekeh geli, ia bisa melihat wajah Silla yang berubah seperti tomat, “Khajja, aku akan menemanimu jadi kau tidak sendiri.”

Silla meliriknya kesal, ia menarik tangannya dari genggaman Siwon lalu mengambil payung transparan dari tangan Siwon yang satunya, “Kau masuk saja, biarkan aku di sini.”

“Silla-ya, percaya padaku. Tidak ada kembang api! Badai salju akan datang, ppali! Kau harus masuk.” Kata Siwon sembari menarik lengan Silla. Ia baru saja mengingat ramalan cuaca yang ia tonton di televisi tadi siang.

Pada akhirnya Silla menuruti perkataan Siwon, mendengar badai salju membuatnya bergidik ngeri. Ia tidak sempat melihat ramalan cuaca hari ini dan terus memaksa Siwon untuk menemaninya ke luar hotel menunggu pesta kembang api.

“Silla-ya,” panggil Siwon, tangannya menggenggam erat tangan Silla seakan tidak ingin melepas genggaman itu walau hanya sedetik. Silla bergumam, sebentar lagi mereka akan sampai di depan kamar masing-masing.

“Aku sudah membicarakannya dengan kedua orang tuamu serta orang tuaku. Awal tahun nanti kita akan menikah.” Kata Siwon membuat Silla menghentikan langkahnya, “Menikah?”

Pikiran Silla melayang, ia bergumam mengulang perkataan Siwon dan menelaahnya dengan baik. Menikah? Kata sakral itu terlalu cepat menghampirinya. Apalagi yang dipikirkan Siwon? Ia tahu kalau Siwon menyukainya, Leeteuk telah memberitahukan semuanya walau ia tidak langsung percaya. Ia akan percaya bila Siwon mengakui perasaannya secara nyata.

Siwon mengangguk, “Maaf tidak pernah memberitahukanmu.”

“Ani, ani, maksudku mengapa hal itu bisa terjadi? Kita-”

“Apa? Kau ingin mengelak bahwa kita tidak punya hubungan apapun?” tanya Siwon to the point. Silla mengangguk, ditatapnya mata Siwon dengan ragu, “Apa benar pilihanmu saat ini? Kau belum terlalu mengetahui diriku, begitu pun diriku padamu.”

Kepala Siwon bergerak ke kanan dan ke kiri. Ia mendekatkan kepalanya ke hadapan Silla dan menatap ke dalam mata gadis itu, “Kau lihat mata ini? Apa mereka berbohong?”

Silla menggeleng, senyum belum juga muncul dari wajah gadis itu, “Aku hanya takut bahwa kau hanya ingin mempermainiku. Aku pikir kau hanya menganggapku sebagai adik atau mungkin sahabatmu.”

“Anirago, sejak awal aku sudah berkomitmen untuk menjadikanmu sebagai pasangan hidupku. Jadi, Would you marry me?” tanya Siwon sembari menggenggam kedua tangan Silla dengan hangat. Matanya menatap Silla bahagia. Takdir tidak membawanya ke arah lain.

Hati Silla mencelos begitu saja, jantungnya hampir meledak seperti bom bila ia tidak merubah suasana yang paling dihindarinya itu. Suasana seperti itu malah membuat bulu kuduknya meremang, jantungnya berdetak secara tidak normal dan makin mempertegas perasaannya terhadap Siwon. Silla akui, ia menyukai pria berhidung mancung bernama Siwon itu.

 “Tidak romantis sama sekali.” Gerutu Silla. Ia menarik tangannya dari genggaman Siwon, “Khajja, aku sudah ngantuk.”

Mata Siwon terbelalak. Ia menarik lengan Silla hingga gadis itu berhenti melangkah.

“Apa yang kau katakan?” tanya Siwon. Silla menyunggingkan senyuman tipisnya, “Apa yang aku katakan?”

“Ya!!” pekik Siwon.

“Mwoya? khajja.” Tawa Silla sembari menarik lengan Siwon yang kekar itu.

“Chankam…” ujar Siwon, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Silla, membuat gadis itu memundurkan langkahnya. Silla terdiam, sedangkan Siwon tersenyum tipis padanya. Dengan lembut, Siwon mencium kening Silla. Mata Silla tertutup, senyumnya merekah ketika Siwon mencium keningnya.

“Tuan!! Tu-”

Siwon maupun Silla menatap Woonji dengan wajah yang memerah. Siwon memijit pelipisnya sembari menatap asistennya itu sinis, “Mworagoyo?”

“A…Anirago, jwesonghamnida Tuan, Jwesonghamnida Agassi. Maaf mengganggu kalian, sebaiknya aku pergi dulu.” pamit Woonji kemudian berlari sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia benar-benar salah situasi, seharusnya ia tidak mengganggu kesibukan dua sejoli itu.

“Ah, matta! Aku sudah mengantuk. Siwon-ssi, jaljayo.” Kata Silla sembari berjalan menuju kamarnya yang jaraknya tinggal beberapa langkah lagi.

Seolah terlihat tidak kaku Silla berjalan dengan santai, lebih tepatnya mencoba santai walau raut salah tingkahnya terlihat jelas di wajahnya. Bagaimana pun juga, ia butuh udara segar untuk menetralkan detak jantungnya yang makin abnormal.

“Eo? Chankam…” kata Siwon, ia menarik Silla ke dalam pelukannya dan secara singkat ia mencium kening gadis itu untuk kedua kalinya, “Jaljayo Nyonya Choi.” Bisiknya lembut lalu berjalan memasuki kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Silla.

Dalam hatinya Siwon bersorak bahagia, akhirnya Silla berada di pelukannya. Penantian bodohnya selama ini terjawab sudah, walau ia ingat bagaimana sulitnya menjadi penguntit dan menahan amarahnya bila melihat seorang pria yang mencoba untuk berdekatan dengan Silla. Memang, selama ini ia cukup bodoh karena hanya bisa memendam rasanya.

Tapi, saat ini ia bisa tersenyum lebar. Silla berada di dekatnya dan akan selalu berada di dekatnya selamanya. Kisah bahagia ini, terima kasih Tuhan!!

 

END

 

I really hate that my blog fill up of my fanfiction story. But, what shall i do? I just want to prove that this is mine~~ No plagiat!

2 thoughts on “It’s The Way

    • Sebenarnya, too much reason dear kk~
      Pertama, alur cerita ini agak kecepatan (banyak yang ter-skip).
      Kedua, sudah ada sequel ttg Leeteuk, tapi filenya terhambat oleh laptop yg rusak.

      T_T huhuhu~ semoga aja sequelnya bisa lanjut yoo~ thanks for read😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s