Love Story [Fanfiction]

Judul : Love Story
Tag : Lee Sungmin, Choi Yeon Ji and other cast
Genre : Romance
Rating : PG-15
Length : One Shoot

Kedua bibirku terangkat, aku tersenyum sembari menatap lollipop cokelat
yang berada di atas mejaku disertai sebuah note kecil bertuliskan “Study
Hard Ne!!” aku tidak tahu pasti siapa yang memberikannya untukku. Saat ini,
lollipop dan notenya menjadi salah satu faktor penyemangatku untuk ke
sekolah.

Sebuah tangan menepuk bahuku pelan, ku tolehkan kepalaku. Aku mendapati
seorang siswa berwajah manis tersenyum tipis padaku, “Ada apa?” tanyaku.

“…Titipkan ini untuk musuh terbesarmu.”  Ujarnya memberikanku sebuah kotak
kecil berwarna merah muda.

Sebelum aku bertanya lebih lanjut tentang ‘musuh terbesarku’ siswa itu
telah beranjak pergi dari kelasku. Aku mengejarnya sembari
memanggil-manggilnya. Tapi, sayang aku tidak bisa menyamakan langkahku
dengannya lagipula bunyi bel memperingatkanku untuk kembali ke kelas.

Di kelas aku hanya bisa memandang kotak itu dengan bingung. Aku tidak
pernah mengenal siswa itu, melihatnya pun baru hari ini. Seragamnya masih
sama seperti murid-murid lainnya, tidak ada yang berbeda dari siswa itu.
Yang pasti aku satu sekolah dengannya.

“Milik siapa?” tanya salah seorang temanku sembari menunjuk kotak kecil itu.

Aku mengedikkan bahuku, “Entahlah, ada siswa yang menitipkannya padaku. Ia
menyuruhku untuk memberikannya pada musuh terbesarku.”

“Siapa musuh terbesarmu?” tanyanya skeptic.

“Aku tidak pernah memusuhi seseorang. Aku tidak punya musuh terbesar.
Menurutmu siapa?” tanyaku.

“Em, musuh terbesar? Rasanya kata-kata itu tidak asing di telingaku,”
ujarnya lalu kembali memperhatikan guru Matematika yang sedang mengajar di
depan kelas.

Pemikiranku tidak sepenuhnya memperhatikan pelajaran, kepalaku selalu
berusaha untuk memikirkan siapa musuh terbesar yang pria itu tujukan. Aku
benar-benar tidak mempunyai seorang musuh, walau ada, itu tidak pantas
disebut sebagai musuh terbesar.

Bunyi bel mengangetkanku yang ternyata asyik mengkhayal daripada
mendengarkan celoteh guru tentang rumus integral dan sebagainya. Siapa
musuh terbesarku? Pertanyaan itu memenuhi sel-sel tubuhku.

Aku berjalan dengan gontai, melirik setiap kelas-kelas yang ku lewati
dengan wajah datar. Siswa itu, aku tengah mencarinya, memeriksa setiap
kelas yang ku lewati. Berharap siswa itu tiba-tiba muncul di depanku
sembari berkata bahwa ia salah orang.

Mataku tertutup dengan rapat, mencoba untuk menghirup napas dengan tenang.
Mengelilingi lantai dua cukup melelahkah. Mataku juga ikut lelah karena
harus melirik setiap kelas. Siswa itu belum ku temukan hingga saat ini.

Bunyi bel pelajaran setelah istirahat memaksaku untuk menghentikan
kegiatanku itu, sayang sekali, aku tidak menemukan kelas siswa itu. siapa
yang bisa menjelaskan, siapa musuh terbesarku?

Kelas filsafat yang dibawakan oleh seorang guru dari Arab berhasil
menarikku dari kumpulan pertanyaan besar dan memusingkan itu. Kelas
filsafat hanya berjalan sekitar ½ jam setiap harinya.

“Pak, siapa musuh terbesarku?” tanyaku ketika beliau sedang sibuk dengan
buku-buku filsafatnya.

Guru itu mengarahkan tatapannya padaku, ia tersenyum tipis kemudian
berbalik bertanya pada setiap murid di kelas, “Siapa musuh terbesar kalian?”

Beberapa teman-temanku menjawab nama-nama siswa yang aku kenal, ada juga
yang menjawab nama Negara seperti Amerika Serikat atau Jepang. Aku sendiri
diam, tidak tahu siapa musuh terbesarku.

“Jawaban yang benar adalah diri kita sendiri.” sahut beliau menimbulkan
berbagai macam bunyi ‘o’.

Aku mulai mengingat hal itu. Kenyataan tentang musuh besar itu sudah aku
lupakan. Musuh terbesarku adalah diriku sendiri. Lantas pemikiranku
langsung menuju ke kotak kecil yang dititip oleh siswa itu. Apa benar yang
dimaksud oleh musuh terbesarku adalah diriku sendiri?

Kepalaku kembali tidak berkonsentrasi atas pelajaran. Lagi-lagi pertanyaan
itu membuatku tenggelam, aku sudah tidak memperhatikan Mr. Arabian itu,
walau aku tahu pelajaran filsafat tidak terlalu membosankan dibanding
pelajaran sejarah.

Kakiku berlari dengan kencang, aku melihat siswa itu sedang berjalan
bersama seorang siswa lainnya. Waktu telah menunjukkan pukul 5 sore, waktu
yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh siswa tidak terkecuali diriku.

“Hei!” panggilku sembari menepuk bahunya.

Siswa itu dan beberapa teman-temannya berhenti berjalan. Ia menatapku
sembari tersenyum manis padaku.

“Eh, kami duluan. Kalian bicara saja!” kata teman-temannya kemudian berlalu
di depanku. Aku tidak menanggapi mereka karena yang aku tuju hanya siswa
itu.

“Ada apa?” tanyanya. Aku menyodorkannya kotak itu padanya, ia mengerjapkan
matanya beberapa kali sembari menatap kotak itu tidak percaya.

“Siapa yang kau maksud dengan musuh terbesarku?” tanyaku.

Ia menggaruk kepalanya yang mungkin tidak terlalu gatal, “Kau harus
mencarinya sendiri.”

“Aku sudah mencarinya! Aku sudah tahu, tapi itu tidak mungkin. Tolonglah
jangan bermain-main denganku.” Pintaku. Ia tersenyum, lalu berjalan
meninggalkanku yang masih belum mendapatkan jawaban jelas.

Aku mengejarnya, menyamakan langkahku dengannya. Berjalan menjauhi gedung
sekolah yang mulai sepi. Bus yang selalu ku tumpangi sudah tak terlihat,
aku tidak menyesal karena aku masih bisa mengandalkan transportasi lain
untuk menuju rumahku.

“Tolong, jelaskan!” Pintaku. Untuk kedua kalinya aku menyodorkan kotak
merah muda itu padanya. Ia tidak menyentuh kotak itu.

Ia menghentikan jalannya, tangannya bergerak mengambol sesuatu di dalam
kantong bajunya, “Ini untukmu.”

Mataku sukses membulat, ia menyodorkanku sebuah lollipop cokelat yang
bungkusnya tidak asing di mataku. Batinku mulai menerka-nerka maksudnya.
Lantas aku menerima lollipopnya, “Kau?”

Kepalanya bergerak, ia mengangguk lalu kembali berjalan. Lidahku tercekat,
aku masih berjalan dengannya. Kali ini aku tidak bisa mengeluarkan satu
patah kata pun, anggukan kepalanya membuatku tidak berkutik.

“Kau sudah mengerti?” tanyanya kemudian. Wajahnya menatap lurus ke depan.
Aku meliriknya sebentar lalu sibuk mengemut lollipop pemberiannya.

“Ya… dan terima kasih.”

Ia menghentikan langkah kakinya, ia melirikku sekilas lalu mengalihkan
pandangannya ke arah lain. Tangannya bergerak menggaruk kepalanya dan
beberapa kali ia memijit pelipisnya. Wajah manisnya berubah menjadi wajah
manly.

“Hari minggu, kau punya waktu kosong? Kita pergi nonton, mau?” tanyanya.

“Hari minggu?”

“Iya, ada?” tanyanya penuh harap.

Ku tundukkan kepalaku, lalu mengadahkan kepalaku meliriknya sekilas.
Melihat dari gayanya ia anak yang baik dan menghormati wanita. Aku bisa
membaca arah matanya yang tidak terlalu berani untuk menatapku. Dia pria
yang baik bukan?

“Hm… baiklah.” Jawabku. Ia tersenyum, lalu berjalan.

“Aku akan mengantarmu pulang…” ujarnya lalu terdiam.

Ku anggukkan kepalaku patuh. Batinku mulai berkecamuk, berdiskusi mengenai
siswa di sebelahku ini. Si Lollipop dan Note Man yang selalu membuatku
termotivasi untuk belajar dengan baik.

Ini seperti mimpi di siang hari!

@@@

Aku berjalan pelan, menyamakan setiap langkah kakinya yang berjalan dengan
pelan. Mr. Lollipop yang tidak ku ketahui namanya ini terus menundukkan
kepalanya, rambut hitamnya terlihat mengkilat di bawah lampu-lampu mall.

Saat itu aku terlalu shock sehingga tidak melihat name tag yang ada di baju
seragamnya. Aku akui, aku menyesal karena tidak melihatnya. Aku bingung
ingin memanggilnya apa, Mr. Lollipop tentu hanya sebutannya di dalam
benakku, tidak mungkin aku memanggilnya dengan sebutan itu.

“Kau, jangan terlalu kaku denganku.” Ujarnya saat kami sedang makan di
salah satu restoran cepat saji. Aku meliriknya sembari tersenyum kaku,
“Hmm…”

“Oh yah, apa kau menyukai lollipop yang ku berikan?” tanyanya. Aku tahu ia
melirikku, ia tidak berani menatap mataku, aku hargai itu.

Aku mengangguk, ku angkat kepalaku menatapnya. Tak lupa ku perlihatkan eye
smileku padanya. Entahlah, mungkin hanya itu yang bisa membuat obrolan kami
tidak begitu kaku. Jujur saja, aku tidak suka dengan suasana yang sangat
canggung seperti saat ini.

Ia tertawa pelan, “Aku Lee Sungmin, kelas 2.A.”

Ku kerjapkan mataku beberapa kali. Lee Sungmin! Aku sering mendengar nama
itu dari teman-temanku. Mereka selalu membicarakan hal-hal baru tentangnya,
atau lebih sering disebut gossip. Mulai saat itu aku mengerti seorang Lee
Sungmin adalah seorang idol –dan aku tidak pernah melihat siswa bernama Lee
Sungmin sebelum aku tahu nama Mr. Lollipop ini.

“Oh, Lee Sungmin! B-boy dance?” tanyaku terkesan berbasa-basi.

Mr. Lollipop itu mengangguk, memperlihatkan wajah manisnya padaku. Sepintas
aku tidak berkutik. “Hat Dance,” sahutnya.

Aku mengangguk mengerti. Tidak sia-sia aku browsing tentang dance di
internet. Setidaknya aku tidak mati kutu bila saja ia berbicara mengenai
dance –dan sepertinya ia bukan tipe pria yang suka membicarakan hobinya di
depan wanita. Aku tahu itu, aku bisa membaca sifat seseorang.

“Aku…”

“Choi Yeon Ji. 1 C!” tebaknya. Aku tersenyum kecil, “Omong-omong, terima
kasih atas lollipop dan note yang sunbei berikan padaku.”

Ia tersenyum lebar, “Tidak perlu berterima kasih. Kau sudah seperti
vitaminku, harusnya aku yang berterima kasih.”

Vitaminnya? Aku terdiam, ku hirup hot cappuccino yang ia belikan untukku.
Menyesapnya dengan pelan, melewati kerongkonganku dan memberikan rasa lega
di dalam tubuhku. Sunbei ini terlalu to the point, ia selalu membuatku tak
berkutik dengan kata-katanya yang selalu menyindir.

“Sepertinya film kita akan diputar beberapa menit lagi.” sahutnya padaku.

Aku berdiri di sampingnya, berjalan bersama menuju bioskop yang ada di
lantai tiga. Langkah kakiknya selalu membuatku terkesan, ia selalu
menungguku, menyamakan langkahnya denganku. Membiarkanku bersikap santai di
depannya.

Sunbei, sebenarnya aku butuh penjelasan darimu.” Kataku pelan, ia bergumam.

“Aku akan menjelaskan di perjalanan pulang nanti.” Ujarnya terdengar manis
di telingaku. Perkataannya itu bahkan melebihi rasa manis lollipop yang
selalu ia berikan padaku.

Sepanjang film itu diputar aku tidak bisa berkonsentrasi penuh untuk
menontonnya, aku tidak bisa berkonsentrasi karena Lee Sungmin yang tidak
jarang memperhatikanku, arah matanya tidak mengarah pada layar lebar
melainkan mengarah padaku. Beberapa kali aku menemukannya tersenyum sendiri
melihatku dan ketika ia tahu aku melihatnya, arah matanya menuju pada layar
lebar kembali.

“Penjelasan mengenai apa?” tanyanya padaku.

Saat ini kami tengah berjalan menuju rumahku. Jarak rumahku tidak terlalu
jauh dari pemberhentian bus di jalan utama. Aku sedikit terkejut ketika ia
mengetahui arah rumahku saat ia mengantarku pulang dari sekolah.

Dia mengetahui apapun tentangku. Itulah yang bisa ku tebak saat ini.

“Semuanya.” Jawabku singkat. Ia bergumam, lalu tertawa kecil.

“Penjelasanku singkat Yeon Ji-ya. Aku suka padamu sejak pertama kali
melihatmu. Itu saja,” katanya.

Aku terperangah, “Apa yang membuatmu suka padaku? Dan apa yang kau inginkan
dariku saat ini?”

“Banyak hal yang membuatku suka padamu. Aku tidak menginginkan apa-apa
darimu. Mengenalmu sudah membuat hatiku bergejolak senang.”

Bibirku terkatup rapat. Tidak ada lagi yang bisa ku keluarkan dari mulutku,
lidahku tercekat mendengar kata-katanya yang membuat jantungku berdetak
tidak normal. Aku tersentuh dengan pengakuannya dan kejujurannya. Dia pria
yang baik.

“Apa kau tidak menyukainya?” tanyanya pelan.

Ku gelengkan kepalaku, mataku menatap jalan setapak yang akan kami lewati.
Aku mulai mengerti mengapa mata ini terasa enggan melihat seseorang yang
kita kagumi saat orang itu berada di dekat kita. Jantung ini bisa meledak!

“Terima kasih sunbei, aku hargai itu.” kataku pelan. Aku mendengar suara
tawanya yang terdengar khas di telingaku.

“Tidak, Terima kasih Yeon Ji-ya. Aku harap kau senang mengenalku,”

Aku tersenyum, wajahku mengarah padanya –tidak menatapnya. Aku senang
dengan apa yang ia utarakan hari ini. Semuanya berjalan begitu saja, hati
ini bergejolak walaupun ia tidak menginginkan apapun dariku. Sudah jelas
bagiku, dia benar-benar pria yang hebat.

@@@

Lee Sungmin tersenyum tipis, matanya mengarah padaku. Aku membalas senyuman
tipisnya itu lalu kembali berkutat mengerjakan tugas sejarah yang diberikan
oleh guruku beberapa menit yang lalu. Perpustakaan sedang ramai, beberapa
siswa sibuk membaca novel fiksi yang baru saja disumbang oleh salah seorang
alumni.

Aku sedikit terkejut ketika ia menghampiriku, duduk di sampingku dan
berkutat dengan sebuah buku bertuliskan Ame. Aku meliriknya, ia begitu
cekatan membaca buku itu, di sebelahnya ada sebuah kertas dan pulpen tinta.
Beberapa kali aku bisa mendengar ia mengoreskan tinta pulpennya di atas
kertas itu.

“Ame, the day when the rain comes.

The day when I see you…”

-Sungmin Lee-

Senyumku mengembang sempurna mendapati sebuah kertas yang telah dipotong
kecil dari tangan Sungmin. Aku menolehkan wajahku padanya, tapi ia malah
asyik membaca buku itu dan mengoreskan puplennya di atas kertas.

Ku gelengkan kepalaku pelan, tugas sejarah ini harus selesai sekarang juga,
aku tidak suka menunda waktu dan pergi ke perpustakaan. Tugas sejarah harus
selesai sehingga bisa membuatku bernapas lega.

“I’ll never ask you to be my girlfriend.

I like you, it just a simple word isn’t it?”

-Sungmin Lee-

Untuk kedua kalinya aku merasa terbang, kata-kata Sungmin membuat jantungku
berdetak tidak karuan, perasaanku menjadi sulit untuk dijelaskan dengan
kata-kata. Rasa kagumku akan dirinya mulai bertambah.

Ku masukkan potongan-potongan kertas itu ke dalam kantung seragamku. Akan
ku tempel di buku diaryku sebagai kenang-kenangan masa sekolahku. Lee
Sungmin pasti sunbei terbaik! Aku pasti akan terus mengingatnya.

“…When the time come.

You’ll be mine right?

Please say yes to make it sure…”

-Sungmin Lee-

Aku memegang kertas itu. Tubuhku merasakan getaran aneh ketika membaca
kalimat-kalimat berbahasa inggris itu. Syukur saja aku sudah bisa membaca
abjad, kalau tidak aku tidak tahu harus bagaimana untuk mengartikan
kata-kata dari seorang Lee Sungmin.

“…Our Destiny will answer it…”

-Yeon Ji Choi-

Tulisku di belakang kertas itu lalu memasukkannya ke dalam kantung
seragamku. Entah mengapa rasa takut menyelimutiku tiba-tiba, aku takut bila
takdir itu berkata tidak, aku takut bila hari perpisahan datang. Bila ia
memang takdirku, dekatkanlah. Bila tidak, jauhkanlah.

“I’ll force the destiny to say YES!”

-Sungmin Lee-

Sekilas aku tersenyum, aku berharap hal yang sama dengannya.

“Study Hard Yeon Ji-ya!!”

-Sungmin Lee-

Itu kertas terakhirnya sebelum meninggalkan perpustakaan. Meninggalkanku
yang masih berkutat dengan buku tebal bergambar wajah pemimpin Nazi di
Rusia. Sungmin, ia pria yang pengertian, memberikan sepenuh hakku untuk
belajar.

@@@

Matanya melirikku, senyumnya terkesan kaku. Aku tidak suka melihat auranya
yang seperti itu. Kedua bibirnya tertutup rapat, ia tidak menunjukkan
gelagat kesedihannya di depanku. Aku tahu ia sedih walau ia pria yang
paling pintar menyembunyikan kesedihannya.

“Tunggu aku Yeon Ji-ya.” ujarnya.

“Tapi bila kau tidak sanggup, aku tentu merelakanmu kepada siapa saja. Pria
yang kau pilih pasti lebih baik dariku. Aku percaya itu.” sambungnya.

Aku terdiam, ku tundukkan kepalaku, mataku menatap sepatu kets yang kami
gunakan. Sepatu yang sama, ia sengaja membelinya dan beralasan untuk tampil
lebih serasi. Serasi dalam artian sunbei dan hobae. Kami tidak pernah
terikat sebagai sepasang kekasih.

“Aku tidak bisa menjamin keduanya. Takdir yang akan menjawabnya, bila
memang jodoh kita pasti akan bertemu.” Kataku sok tegar.

Ia menganggukkan kepalanya, tangannya mengacak-acak puncak kepalaku dengan
lembut, “Takdir tidak pernah berubah dari perencanaan-Nya.”

Kemudian ia berdiri tepat di depanku, ku tadahkan kepalaku, melihatnya yang
berdiri tegap. Ia menjulurkan tangan kanannya padaku, kemudian menarikku
untuk berjalan bersama. Hanya sepintas, ia lalu melepas tangannya dan
berjalan dengan sedikit kaku di sebelahku.

“Aku akan kembali dari Jepang. Secepat aku bisa!” katanya dengan semangat.

Aku tertawa pelan, mengiyakan tekadnya itu.

Mengingat Jepang berarti mengingat Lee Sungmin. Pria itu, Mr. lollipop itu,
ia akan belajar di Jepang. Menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh lalu
meneruskan perusahaan ayahnya di Korea. Aku yakin, ia pasti akan tinggal
lama di Jepang lalu kembali ke Korea dalam keadaan sibuk.

Aku tidak akan pernah berharap! Tidak akan mencoba untuk berharap
menunggunya datang kepadaku. Biarkan takdir yang menjawabnya nanti, jodoh
itu urusan Tuhan. Aku hanya perlu menjalani hidupku sebagaimana adanya.

@@@

A Few Years Later

Aku mengacak rambutku frustasi, lalu ku buka kacamata yang bertengger di
atas hidungku. Beberapa kali aku menekan tombol-tombol huruf di keyboard
lalu menekan tombol backspace setelahnya. Pekerjaan itu berlangsung
berulang kali. Kepalaku sedang blank. Deadline novelku memang masih lama,
tapi aku tidak suka menunda pekerjaan.

Bunyi windows yang dinon-aktifkan memaksaku untuk berbaring di atas kasur.
Memejamkan mataku rapat-rapat, mencoba untuk mengrefreshkan kepalaku yang
terasa error untuk beberapa saat.

Pekerjaan sebagai novelis itu tidak buruk. Hanya perlu tekad yang kuat
untuk membuatnya nyaman. Semua akan berlangsung begitu saja dengan beberapa
paksaan –menjengkelkan- dari editor yang terkadang bersifat seenaknya.

Para editor itu benar-benar ingin membunuhku dengan berbagai permintaan
anehnya untuk membuat jalan cerita yang lebih kompleks. Aku tidak suka yang
terlalu kompleks. Sederhana! Simple! Itu lebih baik. Tidak seperti
sinetron-sinetron dari Indonesia yang terlalu banyak rintangan.

Suara langkahku terdengar begitu nyaman daripada suara tanganku yang
mengetik. Aku berjalan di tengah kawasan Myeondong yang tidak terlalu
padat. Tentu, waktu menunjukkan pukul 10 pagi, orang-orang lebih sibuk
bekerja daripada berjalan-jalan, yang terlihat pun kebanyakan turis asing.

Ku usapkan pelipisku dengan sebuah es melon. Aku tidak tertarik untuk
meminum es, aku hanya ingin membuat kepalaku nyaman dengan dikompres oleh
es. Setengah hari di depan laptop tentu membuat kepalaku seperti terpecah
belah.

“Aduh!!”

Aku terperangah mendapati seorang pria yang tengah memijit pelipisnya, aku
tersenyum kaku lalu menundukkan kepalaku beberapa kali sembari mengucapkan
jwesonghamnida padanya. Aku tahu salahku, aku berjalan terlalu lambat di
tengah kerumunan orang.

Pria itu menganggukkan kepalanya pelan lalu berjalan kembali. Sepintas aku
menjadi malu dengan kesalahanku itu. Tanganku pun kembali sibuk memijit
pelipisku, rasa pusing sudah mulai berkurang.

Tiba-tiba aku merasakan seorang pria menarik lenganku dengan paksa,
“YAAK!!” jeritku sembari meronta. Es melonku terjatuh entah di mana,
sepertinya hari ini hari sial untukku.

Pria yang menarik lenganku itu tidak menggubris jeritanku walau beberapa
orang menatapnya curiga. “Sudahlah nona! Diamlah, anda harus pulang!!”

“Nona? Siapa yang kau maksud dengan nona? Pulang ke mana? Aku punya rumah
sendiri. Kau siapa!!” pertanyaan melayang padanya bertubi-tubi.

“Jangan membohongi kami nona!” kata pria itu tegas lalu mendorongku masuk
di sebuah mobil berwarna putih mewah.

Di dalam mobil itu aku terdiam, mataku menatap sekitar 4 pria yang berada
di sekelilingku. 2 orang di bangku depan dan 2 orang masing-masing di
sebelahku. Ku pijit pelipisku, “Kalian salah orang! Namaku Choi Yeon Ji
bukan nona kalian.”

Empat pria itu terdiam, tidak menggubrisku. Aku mendecakkan lidah.

“Kalau kalian tidak percaya aku akan menelpon editorku. Aku ini seorang
penulis!”

Lagi-lagi tidak digubris. Aku merasa jengkel dengan tingkah keempat pria
ini. Sebagai bodyguard, mereka seharusnya mengetahui wajah nona mereka
dengan jelas, tidak seperti ini. Salah orang.

Tidak lama mobil itu berhenti. Keempat pria itu membawaku ke dalam sebuah
gedung besar bertuliskan Lee corp. yang berada di kawasan utama kota Seoul.
Aku berjalan dengan santai, aku akan baik-baik saja. Keempat pria ini akan
dimarahi oleh tuan besar pemilik perusahaan karena salah orang. Cerita yang
membosankan, aku sering membaca novel yang seperti ini.

“Masuklah nona.” Ucap salah satu dari pria itu.

Ia membukakan sebuah pintu di sebuah ruangan yang lebih besar daripada
ruangan lain, menyuruhku untuk memasukinya. Aku menuruti apa yang ia
perintahkan, wajahku masih terlihat datar, aku tidak ingin membuat kepalaku
lebih pusing karena masalah kecil ini.

Aku melihat seorang pria berjas putih yang tengah duduk di sebuah kursi
besar ketika baru menginjakkan kakiku ke dalam ruangan besar ini. Aku tidak
terlalu memperhatikan pria itu dan lebih memperhatikan keempat pria yang
membawaku tadi, keempat pria itu berwajah tegang.

“Choi Yeon Ji?”

Aku terperangah, suara itu terdengar tidak asing lagi di telingaku. Mataku
melirik pemilik suara yang ternyata pria berjas putih itu. Aku menatapnya
intens, menerka-nerka siapa pria itu.

“Ini aku!! Lee Sungmin!!” pekiknya. Tangannya bergerak menunjuk salah
seorang pria yang membawaku tadi, menyuruhnya untuk keluar dari ruangannya.
Dengan sigap keempat pria itu keluar dari ruangannya.

Lee Sungmin? Pria yang mengaku bernama Lee Sungmin itu berjalan
mendekatiku. Ku sipitkan mataku agar bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Aku lupa dengan kenyataan bahwa mataku tidak normal lagi. Mataku mins dan
sialnya aku lupa membawa kacamataku.

Senyum tipisku terbentuk sempurna di wajahku, “Senang bertemu denganmu lagi
sunbei.”

Pria itu memang benar adalah seorang Lee Sungmin. Aku tidak bisa berbohong,
wajahnya sudah terlihat jelas di mataku. Senyumnya juga mengembang di
wajahnya, senyuman yang tidak berbeda, selalu sama sejak sekolah dulu.

“Bagaimana kabarmu?” tanyanya.

“Seperti ini saja. Sekarang mataku mins, makanya tadi aku tidak bisa
melihatmu dengan jelas.” Jawabku jujur. Ia menganggukkan kepalanya, lalu
menyuruhku untuk duduk di sebuah sofa yang tidak terlalu jauh dari kursi
besarnya itu.

“Bagaimana denganmu?” tanyaku sekedar berbasa-basi. “Selalu seperti ini.”
jawabnya singkat, ia duduk di sebelahku. Tingkahnya terkesan canggung, sama
sepertiku.

“Maafkan keempat pria itu. Aku menyuruh mereka untuk menjemput adik
sepupuku, tapi mereka malah salah orang dan memaksamu untuk datang ke sini.
Maaf,”

Ku anggukkan kepalaku, “Yah, tidak masalah. Aku sudah tahu itu.”

Kami terdiam, entah mengapa kejadian-kejadian masa lalu yang sebenarnya
sudah hilang menyeruak kembali. Beberapa memori masa sekolah bersamanya
terputar di ingatanku, flashback-flashback itu menggangguku.

Tiba-tiba bunyi ketukan pintu mengagetkan kami, seorang wanita yang memakai
rok mini masuk sembari membawa nampan. Dua cup cappuccino yang dibawa
wanita itu terhidangkan di atas meja di hadapanku. Aku meliriknya tidak
berselera.

Cappuccino bukan obatku saat ini. Meminumnya membuat kepalaku makin sakit.

Sungmin tersenyum tipis, ia menundukkan kepalanya, menatap cappuccino itu
dengan kosong, “Kapan kau kembali dari Jepang?” tanyaku berusaha mencairkan
suasana yang rasanya tidak begitu baik.

“Sekitar 3 tahun yang lalu.” Jawabnya pelan.

“Oh, berarti kau tinggal di Jepang selama 5 tahun ya? Itu waktu yang cukup
lama.”

Ia menganggukkan kepalanya, “Kau bekerja sebagai apa saat ini?” tanyanya.

“Penulis biasa.” Jawabku tertawa kecil, ia ikut tertawa, “Itu bagus!”

“Yeah, sepintas itu bagus. Tapi kepala ini terasa pusing bila terus
dipaksa.” Ia makin tertawa mendengar pernyataanku itu. Ini baik, setidaknya
suasana tidak begitu canggung lagi.

“Oh yah, kau bilang kepala ini terasa pusing bila terus dipaksa?” tanyanya
sembari menunjuk kepalanya. Aku mengangguk.

“Lalu apakah hati ini akan sakit bila terus dipaksa untuk menyukai
seseorang?” tanyanya membuatku terdiam. Mengapa harus bertanya seperti itu?
rasanya aku ingin menghakiminya karena bertanya yang aneh-aneh.

“Entahlah, aku tidak pernah merasakannya jadi aku tidak tahu.” Jawabku
cuek. Ia berdehem,

“Bila aku memaksa hatimu bagaimana?” tanyanya.

Mataku menatapnya skeptic, seperti yang selalu ku duga. Matanya hanya
berani melirikku, tidak pernah menatapku. Ia selalu menghormati wanita,
siapapun wanita itu. Ia selalu menjadi pria yang baik.

“Kau mengada-ada saja. Oh yah, ini sudah jam 12 siang. Aku harus pulang,
sepertinya editorku akan datang mengecek tulisanku.”

Ia menolehkan wajahnya padaku, “Aku akan mengantarmu pulang.”

“Eh? Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri sunbei. Lagipula kau pasti
sibuk,” aku mencoba tertawa walau tertawaanku terkesan hambar.

Aku berdiri lalu membungkukkan badanku di depannya, “Senang bertemu
denganmu lagi sunbei. Aku permisi.”

Sebelum aku benar-benar beranjak, ia memegang lenganku, ia melihat wajahku
dengan lembut. Aku rasa ini pertama kalinya ia menatapku secara
terang-terangan, “Aku akan mengantarmu.”

Lidahku tercekat, badanku tidak berkutik ketika ia menatapku seperti itu,
ia mengamit lenganku dan membawaku keluar ruangannya. Aku bisa melihat
beberapa karyawannya melihatku dengan bingung. Beberapa di antaranya
bergumam, bertanya-tanya siapa diriku.

“Rumahmu di mana?” tanyanya.

“Masih yang dulu. Apa kau ingat?”

Ia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum lebar. Aku terduduk di
sampingnya, menatap jalanan di luar kaca mobilnya. Aku tidak tahu ingin
berkata apa, jantungku mulai berdetak tidak karuan dan aku tidak menyukai
perasaan aneh ini.

Ku gunakan kacamataku, membuatkan sebuah teh hijau untuk Sungmin yang kini
duduk manis di ruang tamu. Kedua orang tuaku sudah tidak tinggal di Seoul,
mereka memutuskan untuk kembali ke kampung, menata kehidupan dengan
sejahtera di sana.

“Ini enak! Seperti di Jepang,” komentarnya saat teh itu memasuki
kerongkongannya. Aku tersenyum tipis.

“Kau tidak sibuk yah?”

“Sedikit, tapi ini kan jam makan siang.” Aku mengangguk, ia benar.

“Aku lapar, apa kau mempunyai makanan?” tanyanya kemudian.

Aku mengangguk lemas, seketika kepalaku terasa pening. Lee Sungmin, aku
menyesal bertemu denganmu! Bila saja waktu bisa diulang, aku tentu tidak
akan keluar rumah hari ini. Melihatnya membuat hati ini tidak tenang, entah
bagaimana rasanya.

Ia mencuci tangannya di westafel, lalu duduk di hadapanku dan memakan bibimbap
kimchi buatanku. Ia memakannya dengan lahap, berbeda denganku yang mencoba
untuk tenang ketika ia memperhatikanku makan. Kebiasaan lamanya tidak
pernah hilang.

Setelah makan ia duduk di depan televisi, menggonta-ganti channel televisi
seenaknya. Aku duduk diam di sampingnya. Editorku sepertinya tidak jadi
datang, dan rasanya aku ingin memaksa editorku untuk datang ke rumahku,
mengusir Lee Sungmin.

“Apa yang kau inginkan?” tanyaku kemudian.

Ia terdiam, lalu menolehkan wajahnya untuk melihatku. Aku membuang mukaku
darinya, tidak ingin melihat dirinya. Aku memang tidak pernah sakit hati
dengan prilakunya, hanya saja aku tidak suka mendengarnya menguak cerita
lama.

“Aku tidak menginginkan apa-apa darimu.” Jawabnya singkat. Ia duduk
berhadapan denganku, tidak memaksaku untuk melihatnya, ia terdiam sembari
menatapku.

Ku perbaiki kacamata yang sempat melorot, “Lalu apa yang kau lakukan saat
ini?”

“Meyakinkanmu bahwa aku tidak pernah lupa perkataanku.”

Aku terdiam. Aku tidak ingat pasti dengan perkataannya, tapi aku tahu
intinya.

“Tidak ada yang perlu diyakinkan lagi kan sunbei? Ini sudah 5 tahun!
Lagipula saat itu kita masih remaja, ucapan kita masih dibawah emosional.”

“Ketika itu aku tidak mengatakannya berdasarkan emosiku. Tapi logikaku.”

Kata-katanya seperti boomerang yang tidak bisa ku kembalikan. Aku mulai
kehabisan kata-kata, berbicara dengannya selalu membuat hatiku bergejolak
aneh. Perasaan ini pasti hanya perasaan biasa kan?

“Kau butuh penjelasanku? Aku menyukaimu. Itu saja. Perasaanku tidak pernah
berubah.” ujarnya.

“Kau menginginkan bukti?” tanyanya. Ku beranikan diriku untuk menatapnya,
melihat manik matanya yang terlihat begitu serius.

Aku menggeleng, “Tidak perlu bukti. Tapi, aku memang masih belum
mempercayaimu sunbei.”

Ia menutup matanya, lalu melihatku dengan tatapan mata khasnya. Aku
membuang mukaku, menatap televisi tanpa minat. Tiba-tiba ia mematikan
televisi, membuatku melayangkan tatapan sinisku padanya.

“Kenapa kau begitu kekanak-kanakan?” tanyanya lantas membuatku terkejut.

“Bukannya sunbei yang kekanak-kanakan?” tanyaku balik. Ia tersenyum tipis,

“Sekarang kau begitu emosian, apa karena diriku?”

Aku terdiam. Ku tutup mataku berusaha untuk mencerna kata-katanya, mencari
kesalahan yang ada diriku. Sepertinya ia benar, aku terlalu temperamental
saat ini. Ku buka mataku, lalu mengangguk.

“Maaf, hari ini aku terlalu pusing.”

Ia bersandar di sofa lalu tertawa renyah. Matanya menatapku lembut, “Mata
ini sudah berani menatapmu. Itu berarti kau sudah tidak bisa pergi
menghindariku. Saat mata pria berani menatap mata seorang gadis itu artinya
gadis itu akan menjadi miliknya.”

Refleks mataku membulat, “Kau gila!”

“Ya, aku sudah gila karena harus bersabar mencarimu selama 8 tahun
belakangan ini. Aku bersyukur karena para bodyguard kolot itu salah orang.
Akhirnya aku bertemu denganmu, dan kali ini aku harus memenuhi salah satu
takdirku.”

Aku mendecakkan lidahku, “Kolot.”

“Pulanglah. Waktu makan siang sudah habis. Kau ini pemilik perusahaan tapi
lebih senang bermalas-malasan!!” tegurku. Ia tertawa lagi, matanya
menatapku. Ia tidak ber-aegyo tapi entah mengapa ia masih saja terlihat
polos di mataku.

“Aku tidak akan kembali sebelum kau berkata Ya.”

“Ya? untuk?” tanyaku seakan tidak mengerti.

“Ya untuk segalanya.” Pintanya.

Ku angkat kedua bahuku cuek, menarik tangan kanannya untuk berdiri dari
sofa. Ia berdiri, lalu mengusap puncak kepalaku lembut, “Aku sudah
membicarakannya pada orang tuaku. Semenjak pulang dari Jepang. Kau harus
bersiap untuk segalanya.” Katanya pelan.

Aku tidak mengangguk, wajahku masih bersikap sewajarnya. Aku pernah berkata
bahwa aku tidak akan pernah berharap padanya, itu memang benar. Aku hanya
akan menunggu sebuah bukti. Entah ucapannya tadi benar atau tidak.

“Aku akan ke sini bersama orang tuaku segera!! Bye Yeon Ji-ya~” teriaknya
kemudian keluar dari rumahku. Dari dalam rumah aku mendengar suara mobilnya
yang telah melaju.

Aku tersentak kaget mendapati seorang wanita berambut panjang memasuki
rumahku. Wajah wanita itu terlihat mencoba untuk menggodaku, “Itu yang
namanya Lee Sungmin?” introgasinya.

“Entahlah.” Jawabku acuh.

Kemudian ia tertawa, “Ia memintaku untuk memberikanmu liburan selama satu
minggu. Apa kalian akan menikah?” tanyanya.

Eonni-ya. Pernyataan para lelaki itu jangan terlalu dianggap serius.”
Elakku.

Editorku itu malah menertawaiku seakan aku adalah badut di sebuah acara
televisi. Berpakaian kolot lalu ditertawai oleh semua orang.

“Tidak semuanya.”

Aku mendesah, ku tarik napasku panjang lalu menhembuskannya dengan segera.
Lee Sungmin telah membuat hariku terasa gila! Aku tidak pernah merasakan
hal ini setelah kepergiannya ke Jepang. Mulai saat itu pula aku tidak
terlalu mempercayai kata-kata romantis yang menggelitik perut.

“Ini apa?” tanya eonni editor sembari memberiku sepotong kertas.

Aku membaca kertas itu pelan-pelan. Mencerna kata-katayang tertera dengan
serius,

    “And The time comes…

    We Meet again, finishing the story to be Happy Ending.

    Would you marry me?”

    -Sungmin Lee-

END

Terima kasih untuk Yeon Yi eonni yang semoga tidak pernah melupakanku
(Sorry for using ur name here). Once more, I publish it cause I want to indicate this as mine!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s