Painter’s Heart

Seoul, 12 November 2013

Kanvas putih itu ternoda. Sebuah kuas menari-nari di atasnya, memberikan campuran warna cantik yang membuat setiap orang melihatnya merasa tenang.

Tinggal sedikit lagi. Gumam pelukis itu dengan senyum yang terkembang sempurna. Matanya yang bulat sedikit menyipit ketika menangkap sebuah kesalahan kecil yang ia lakukan pada lukisannya.

Hembusan nafasnya yang berat terkesan menampakkan kekecewaannya, Glow In The Dark-nya sedikit terusik oleh warna kuning menyala di dasar kanvasnya.

Kuning. Pelukis itu tertawa kecil ketika otaknya memutar memori manis hidupnya.

@@@

Seoul, 2009

Sae Bom menangkupkan tangannya, menutupi mulutnya yang berkomat-kamit berdoa agar lukisannya menjadi salah satu pemenang ajang populer di universitasnya.

“…Juara harapan pertama, Sunflower! Kim Sae Bom!!”

Sorakan-sorakan suka cita menyertai Sae Bom yang berjalan ke atas panggung. Walau hatinya sedikit kecewa karena hanya mendapatkan gelar juara harapan dalam lomba lukis pada tahun ini.

“…Aku sudah bilang, warna kuning itu tidak memberikan peruntungan yang baik.”

Seorang pria bertubuh jangkung menyindir Sae Bom yang sibuk membersihkan ruang seni rupa setelah menghadiri penyerahan hadiah oleh ajang perlombaan lukis itu.

Tubuh Sae Bom menegang, ditatapnya wajah pria jangkung itu dengan gugup, “Mianhada Kyuhyun-ssi. Aku tidak mendengar nasihatmu dengan baik.”

Pria bernama Kyuhyun itu mencibir, ia lalu duduk di salah satu kursi sembari memperhatikan Sae Bom,

“Bukan urusanku. Lagipula, aku bukan mahasiswa seni rupa.” Sahutnya.

Sae Bom tidak balas menyahut, ia sibuk membereskan deretan kaleng-kaleng cat air yang terdapat di sudut ruangan. Entah beberapa kali ia terkena tumpahan cat air yang dibiarkan terbuka oleh mahasiswa seni rupa.

“Kemana anak-anak buahmu?” Tanya Kyuhyun mencoba untuk menghilangkan keheningan yang tercipta.

“Mereka bukan anak buahku.” Jawab Sae Bom singkat.

“Tapi kau ketua…”

“Hanya peruntungan kecil.” Potong Sae Bom. Ia kemudian duduk di kursi, tepat di sebelah Kyuhyun sembari menggosok-gosok tangannya yang penuh dengan cat warna.

Kyuhyun mendecakkan lidahnya, matanya menyorot kedua telapak tangan Sae Bom yang kotor. “Pakailah, lalu cuci dengan bersih dan kembalikan padaku.” Ujarnya, memberikan sebuah sapu tangan berwarna kuning menyala pada Sae Bom.

“Uh? Em…Gomapta sunbei.”

Sunbei…”

“Eh, Kyuhyun-ssi! Mian, aku melupakannya.” Pekik Sae Bom.

Kyuhyun tertawa kecil. Ia menertawai Sae Bom yang tingkahnya sedikit lugu, menyahut apapun yang ada di benaknya ketika merasa bingung.

Gerom, aku duluan. Ada rahersal bersama noonaku.” Pamit Kyuhyun, Sae Bom mengangguk, “Eo, Ne.”

@@@

Sae Bom menundukkan kepalanya, dihadapannya berdiri seorang pria jangkung yang ia telah kenal lebih dari 2 tahun. Cho Kyuhyun.

“Aku akan dijodohkan.” Ucap Sae Bom lurus-lurus.

Entah mengapa ia ingin membicarakan hal ini bersama Kyuhyun. Membicarakan mengenai perjodohannya bersama seorang anak pengusaha bermarga Choi.

Kyuhyun menghembuskan nafasnya, lalu tersenyum pada Sae Bom, “Lalu, kau menerimanya?”

Sae Bom terdiam, lidahnya tercekat, “Terserah.”

“Terserah?”

“Aku hanya berkata terserah.” Jawabnya.

“Lalu… Mengapa?” Tanya Kyuhyun. Sae Bom menggigit bibir bawahnya, “A…Aniyo. Geromyeon, aku pamit Kyuhyun-ssi.” Pamitnya lalu meninggalkan Kyuhyun yang terdiam menatap langkah kakinya yang menjauh.

Bodoh. Rutuknya pada dirinya sendiri. Sudah salah dari awal, mengapa ia harus membicarakan hal yang tidak penting itu pada Kyuhyun? Mengapa hatinya bersikeras untuk memberitahukan perjodohannya kepada Kyuhyun! Dirinya pasti sudah gila!

Derap langkahnya memudar. Ditariknya nafasnya dengan kuat, mengisi pundi-pundi udaranya yang tengah miskin oksigen. Setelah merasa nyaman ia pun masuk ke dalam ruangan seni rupa, ruangan yang telah menjadi temannya semenjak mendapatkan sebutan sebagai mahasiswa baru.

Sebuah patung tanah liat yang berbentuk hati menarik perhatiannya. Patung tanah liat itu berada di atas meja tepat di depan jendela yang memperlihatkan kondisi pekarangan universitasnya.

Dengan apik ia pun mulai melancarkan aksinya, mencampur beberapa warna dasar dan menggoreskannya pada permukaan patung itu. Hanya ini yang ia bisa perbuat untuk meredam emosinya yang terlalu menggebu-gebu, melukis bukan pelariannya… Melainkan ibu peri yang selalu hadir menghiburnya.

@@@

“Sapu tangan…”

Dua kata itu membuat Sae Bom bergerak sigap ke kamarnya setelah menyuruh Kyuhyun duduk di sofa ruang tamunya.

Diraihnya sapu tangan kuning milik Kyuhyun yang tergeletak di atas mejanya. Pikirannya sudah tak bisa bekerja dengan baik hatinya pun sedikit bergetar melihat sosok yang rasanya sudah lama ia tidak lihat.

Bagaimana tidak? Sudah 1 minggu lebih ia menghindari Kyuhyun bahkan ia juga menghindari orang tuanya ketika mereka berbicara mengenai perjodohannya bersama anak pengusaha terkenal itu. Semuanya butuh waktu, itulah alasannya.

“Em… Mian, aku benar-benar melupakannya.” Ringis Sae Bom sembari memberikan sapu tangan kuning itu kepada Kyuhyun.

“Aku benar-benar marah.” Ucap Kyuhyun. Sae Bom mengernyit, “Ne? Mm…mi…”

“Sudah ku bilang! Warna kuning adalah warna kesialanmu, mengapa kau menyimpannya begitu lama di rumahmu?”

Kening Sae Bom mengernyit, “Ne?”

“Tolak perjodohanmu, biarkan aku bersamamu selamanya.” Kata Kyuhyun tegas, ia menatap Sae Bom lurus tanpa ekspresi.

Sae Bom tersenyum tipis, benar saja! Semuanya membutuhkan waktu. Dengan yakin Sae Bom menyahut, “Ne.”

Di dalam hati kecilnya, Sae Bom bersorak. Ia tidak bisa menjelaskan perasaannya kali ini. Awalnya ia hanya sebatas kagum akan Cho Kyuhyun, lalu semakin berjalannya waktu, rasa itu muncul menggerogoti hatinya yang hampa.

Mian… Aku terlalu takut untuk mengatakannya padamu. Menyembunyikan perasaanku ini cukup sulit, aku hampir saja terlambat.” Racau Kyuhyun dengan senyum tipisnya.

Sae Bom menggembungkan pipinya, “Terima kasih, terima kasih telah menjadi warna di dalam hidupku.” Ucapnya pelan.

Aniya, Terima kasih telah menjadi oksigenku selama ini. Kim Sae Bom.”

@@@

Seoul, 12 November 2012

Mwoyeyo?”

Sebuah suara bass mengagetkannya yang sedang melamunkan hal-hal menarik mengenai kisah cintanya.

“Sae Bom-ah, neo gwencanha?” Tanya pria itu. Sae Bom mengangguk, “Eng, gwencanha.”

“Glow…”

“Hancur oleh warna kuning.” Rutuk Sae Bom. Pria itu tersenyum kecil, ia mengacak-acak puncak kepala Sae Bom dengan lembut lalu memegang kedua bahu Sae Bom erat.

“Tidakkah kau tahu? Warna kuning itu adalah salah satu warna keberuntunganku.”

Sae Bom mendongakkan kepalanya, mendapati wajah pria yang telah menemani hidupnya selama beberapa tahun itu tengah memandang lurus lukisannya.

Wae?” Tanya Sae Bom.

“Mungkin saja aku akan membiarkanmu menikah dengan Mr. Choi itu, karena tidak mempunyai alasan lain selain warna kuning yang membuatmu sial.”

Mwo? Maksudmu?”

“Eo? Kau belum mengerti? Ketika aku memarahimu karena menyimpan sapu tangan berwarna kuningku di rumahmu dalam jangka waktu yang lama, apa kau tahu maksudnya?”

Kepala Sae Bom bergerak ke kanan dan ke kiri.

Jinjja? Neo molla?” Tanya pria itu memastikan. Sae Bom mengangguk, “Ne, na mollayo.”

“Aish… Tidak penting.” Geram pria itu kemudian berjalan meninggalkan Sae Bom di taman pekarangan rumah mereka.

“Kyuhyun oppa!! Malhaebwa!” pekik Sae Bom mengejarnya.

Kyuhyun mendelik, “Seharusnya kau tahu maksudku.”

Na molla, Malhaebwa.” Pinta Sae Bom manja.

Kyuhyun tersenyum tipis ia mengedikkan bahunya lalu berjalan memasuki rumah.

“Yakk! Oppa!!”

END

Note:

Yes, I did it Umma. But really sorry this story not perfect like what you want (T___T) not talked much ’bout painting as your request. Then, so sorry that I use ‘yellow’ not ‘blue’.

I made it by wordpress application on smartphone. So then, it wasn’t neat. Please forgive me ne? :’)

16 November 2012. 23:23

4 thoughts on “Painter’s Heart

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s