Diary [Boy’s side]

    *Dedicated to my lovely Diary*

(Important: You can imagine that the girl is you and the boy is your bias)

Jari-jariku menelusuri setiap detail tulisan bertinta merah yang kini menghiasi indra penglihatanku. Lekuk goresan tulisannya terasa di kulitku, orang yang menulisnya pasti terlalu menekan pulpen bertinta merahnya.

Perlahan aku membaca deretan kata yang tersusun rapi di atas kertas berwarna cream itu, “…I don’t want to be his fan, I just like his eyes. Just it? Yeah~ the girls are so crazy to screaming his name like he is the most popular angel in the earth…”

Aku tertawa kecil. Bolehkah aku menduga bahwa pemilik diary ini adalah salah satu pengagum tatapan senduku? Tidak ge-er hanya, memang, aku memiliki banyak fans di sekolah dan mereka menyukai mataku.

Suara alarmku berbunyi, ku ambil jam weker biruku itu lalu mematikan bunyi alarm yang mengganggu gendang telinga. Perhatianku kembali tersedot oleh diary bersampul cokelat yang ku temukan di perpustakaan sekolah.

“I’ll get you!”

@@@

Ku rogoh saku celanaku lalu menekan tombol on pada mp3 kesayanganku. Headseat yang telah ku pasang mulai mengeluarkan alunan musik elektro kesukaanku.

“Yaa!!”

Aku tersentak melihat salah seorang temanku menghampiriku dengan wajah polosnya. Tatapan datarku menyorotinya karena telah mengganggu kesibukanku kini.

“Aku melihat Kim Gyu Na sedang berenang, ia terlihat…”

Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya aku telah melayangkan sebuah jitakan keras di kepalanya. Ia meringis, “Yaa!! Apa benar kau tidak ingin mendengarnya?”

“Tidak! Dasar otak ikan!!” Umpatku membuatnya kesal.

“Kau yang otak ikan!!” Ia balas mengumpatku sembari berlari mengejarku yang baru kabur dari perhelatan perang dunia ketiga.

“Otak ikan!!!!” Pekiknya.

Aku terus berlari mengindahkan teriakannya yang cukup mengganggu koridor sekolah.

“Aaaa!! Hahaha kejar aku bodoh!” Teriakku pada ikan tengil itu.

“Ah,”

Seorang siswi merintih kesakitan saat aku -dengan tidak sengaja menabraknya hingga terjatuh di lantai. Beberapa buku yang kulihat bergenre self-improvement miliknya berhamburan di koridor.

“Maaf!!” Pekikku pada siswi itu dan kembali berlari dari siswa yang telah menjadi fans Kim Gyu Na selama 3 tahun ini. Siswa yang sedikit bodoh menurutku.

Langkahku terhenti saat menyadari si ikan tengil itu tidak lagi berteriak. Benar saja, ia sudah tidak mengejarku, malah aku terlihat seperti orang bodoh karena berlari sendirian di koridor.

Ku lihat ikan tengil sedang membantu siswi yang ku tabrak untuk memungut buku-buku bergenre aneh itu.

Ia melirikku tajam sembari menggerakkan alisnya, memberiku kode untuk ikut membantu. Dengan sedikit terpaksa aku membantu siswi itu, ada sekitar 6 buku yang ia miliki dan semuanya berhalaman tebal.

“Maaf…” Pintaku pada siswi itu setelah membantunya.

Siswi itu tidak menjawab, ia menatapku sekilas lalu beranjak dari depanku.

“Terima kasih,” ucapnya pada ikan tengil membuatku merasa keki.

Ikan tengil tertawa sambil merangkulku, “Wanita seperti siswi itu adalah tipe yang sangat jujur. Ia tahu yang mana yang baik.”

“Siswi itu buta karena tidak menyadari ketampananku.” Selaku.

“Yaa! Kau lihat genre bukunya? Ia bukan tipe yang tergila-gila dengan pria tampan. Kau saja yang terlalu sombong.” Sindirnya membuatku merangut. Hariku jadi buruk karena si ikan tengil.

@@@

“…drawing and learning. It both have special relation. I’ll do have the same relation with someone in the future.”

Mataku terasa panas, menyadari banyaknya waktu yang telah kuhabiskan untuk membaca diary tebal itu. Waktu menunjukkan pukul 1 malam dan aku masih penasaran dengan hal-hal yang bersangkutan tentang si penulis diary.

Telapak tanganku bergerak membuka lembar-lembar selanjutnya. Aku tidak membacanya dan lebih ingin mencari clue tentang si penulis yang mungkin saja dapat ku temui dengan mudah di sekolah.

“Great!” Pekikku senang mendapati sebuah clue di lembar akhir diary itu.
Senyumku melebar mendapati nama lengkap si pemilik diary. Cukup mudah bagiku untuk mencari data siswa, aku mempunyai banyak teman di bagian kesiswaan.

“Huh~ and I’ll know who you are.”

@@@

“Ini data siswi yang kau cari,” kata siswa bertubuh mungil sambil menyodorkanku sebuah map hitam.

Aku menerimanya, lalu membuka map itu pelan. Ku lihat data-data pemilik diary itu sekilas. “Eh!” Mataku terpaku melihat fotonya, siswi yang pernah ku tabrak adalah siswi pemilik diary cokelat!

“Ia pendiri klub Bahasa Inggris,” sahut temanku itu. Kepalaku bergerak ke atas dan ke bawah, “Thanks for helping!” Ujarku lalu memberinya kembali map hitam itu.

“Kau mau ke mana?” Teriaknya padaku yang keluar dari kelas.

“Be a spy!!”

@@@

    I beg your Diary, wait me in the gate!

Ku tulis rangkaian kata berbahasa Inggris itu dengan mudah walau aku tahu kemampuan bahasa Inggrisku tidak sefasih siswi itu.

Sebelum bel masuk berbunyi, aku menempelkan note kecil itu di lokernya lalu berlari seperti orang aneh menuju kelasku. Entahlah, aku merasa sedikit senang.

Sejak pelajaran di mulai aku terus memperhatikan jam tanganku, melirik waktu yang terasa berjalan lama. Aku sudah tidak sabar melihat wajahnya ketika bertemu denganku, idolanya.

Ketika bunyi bel pulang berkumandang aku langsung bergegas, mengindahkan panggilan si ikan tengil yang mengajakku pulang bersama.

“Yaa!” Panggilku pada si pemilik diary yang sedang duduk di batu besar di dekat trotoar.

Matanya membulat dalam sekejap ketika melihatku berdiri di hadapannya. Ia menghembuskan nafasnya pelan dan kembali memberikan tatapan normalnya padaku.

“Mana diarynya?” Tanyanya to the point. Aku tersenyum kecil, “Setidaknya kau dapat bertingkah lebih ramah padaku.”

Kedua alisnya bertautan setelah mendengar perkataanku. Ia menatapku skeptis, “Maksudmu?”

“Aku sudah membaca semuanya, kau tak perlu bersikap dingin padaku. Aku tahu, kau membenciku karena bersikap sombong dengan ketampananku serta para fangirl yang terlalu menggilaiku.” Jelasku. Ia menggingit bibir bawahnya, tatapannya beralih ke trotoar.

“Em… Mana diaryku?” Tanyanya sambil mengadahkan tangan.

Aku tersenyum kecil lalu menarik tangannya, mengikuti berjalan di sepanjang trotoar, aku tidak peduli dengan beberapa mata yang melihatku. Semuanya akan baik-baik saja.

“Yaa!!” Pekiknya. Tangannya memberontak membuatku makin mengeratkan peganganku.

“Diarymu ada di rumahku, jadi kita perlu mengambilnya terlebih dahulu.”
“Apa!?”

Ku hentikan langkahku lalu berbalik melihatnya, “Kau mau mengambilnya kan?”

Ia menganggukkan kepalanya, “Iya, tapi tidak perlu memegang tanganku seperti ini.” Sindirnya.

“Mengapa tidak?” Tanyaku sembari mendekatkan wajahku ke arahnya. Ia terdiam, awalnya pupilnya membesar kemudian tatapannya kembali seperti biasa. Ia memang pintar menguasai dirinya.

Ku basahi bibirku lalu kembali berjalan, ekor mataku meliriknya yang menatapku kesal, tatapan manis yang membuat perhatianku tersedot dalam beberapa hari terakhir. She’s different. Hanya alasan simpel saja yang membuatku kukuh untuk memperlakukannya seperti saat ini.

Tangan kiriku bergerak mengusap puncak kepalanya dengan lembut, “Let me know you.” Kataku akhirnya membuatnya tertegun.

“Let me be your real Diary.”

END

3 thoughts on “Diary [Boy’s side]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s