Diary [Girl’s side]

    *Dedicated to my lovely Diary*

(Important: You can imagine that the girl is you and the boy is your bias)

Kedua mataku tertutup, menikmati jam-jam bebas dari tugas sekolah yang makin hari makin menggila.

“Hey, jangan tertidur,” Penjaga perpustakaan menghampiriku, ia tersenyum melihat tingkahku yang tak pernah absen untuk tidur di perpustakaan.

“Bantu ibu untuk merapikan buku-buku yah,” pinta beliau.

Mau tidak mau aku harus membantunya. Bagaimana pun juga penjaga perpustakaan adalah salah satu guru. Aku harus tetap menghormatinya.

@@@

Ku rasakan aliran darah di sekujur tubuhku berhenti. Wajahku memucat, demi apapun itu! Aku meninggalkan diary-ku di atas meja perpustakaan. Ya Tuhan!

“Ya, kalau kau melihatnya tolong kembalikan padaku yah,” pintaku pada Jooming salah satu temanku lewat sambungan telepon.

“Eum, terima kasih banyak.” Tutupku lalu melemparkan handphoneku secara brutal di atas kasur.

Frustasi. Aku takut bila diary-ku jatuh di tangan orang yang salah. Bisa saja aku dielu-elukan di sekolah karena menulis beberapa privasi pentingku. Ah~ tapi sepertinya peluang hal itu terjadi hanya sedikit.

Diary-ku full dengan bahasa Inggris dan faktanya tidak semua orang Korea mengetahuinya. Bahkan membaca abjad saja masih sulit.

Setelah membereskan buku fisika di meja belajar, aku langsung bergegas keluar kamar, ibu telah memanggilku untuk makan malam beberapa menit sebelumnya.

“Makan yang banyak,” sahut ayah, beliau menambahkan kimchi di mangkuk makanku hampir melebihi nasi.

“Ayah, sedikit saja, aku tidak suka.” Elakku sambil menyendokkan kimchi ke mangkuk ayah.

Ibu tertawa melihat tingkahku bersama ayah, selalu saja menertawai kami saat makan malam. Aku tidak terlalu suka dengan kimchi, makanan pedas, asin atau apalah rasa yang tercampur satu terasa aneh di lidahku.

“Besok, ayah dan ibu ke Jepang. Seperti biasa kau bersama nenek di rumah.” Kata ayah membuat nafsu makanku berkurang.

“Bisnis lagi?”

Ayah mengangguk, ku lirik ibu yang menatapku khawatir. “Eung, tidak apa-apa.” Kataku kemudian.

“Nanti ayah kirimkan satu paket pepero.” Ujar ayah membuatku tersenyum kecil.

Pepero pun tidak dapat menggantikan kedudukan mereka.

@@@

Ku lirik jam tanganku, jarum pendeknya menunjukkan angka sembilan. Sudah satu jam seharusnya pelajaran fisika berjalan tapi Shin songsaengnim tidak datang juga.

Oppa!!”

Beberapa temanku berteriak dari jendela kelas, mereka memperhatikan seorang siswa yang sedang bermain bola. Aku tahu siapa yang mereka teriakkan, siswa yang mereka pikir sangat tampan.

Menurutku siswa itu tidak lebih seperti siswa kebanyakan. Style-nya saja yang berbeda dan terlihat keren dan hal itulah yang membuat para siswi berteriak menghabiskan suara mereka.

“Mari kita tonton pertandingan sepak bola!” Ajak Jooming. Ku kedipkan salah satu mataku, “Nggak tertarik.”

“Ya! Kau ini tidak pintar berbohong. Ayolah…” Pintanya.

“Eum, bukan begitu Jooming-ah, ada beberapa hal yang harus ku ambil di perpustakaan. Ada banyak buku baru pemberian para alumni,”

Jooming menghembuskan nafasnya, “Baiklah.” Ujarnya lalu meninggalkanku yang menatap para siswa yang bermain bola lewat jendela.

Bukankah itu sangat menyenangkan?

@@@

Jooming mendecakkan lidahnya melihat buku-buku self-improvementku yang rencananya akan ku sumbangkan di perpustakaan.

“Bukumu tidak akan laku.” Sindirnya, aku tersenyum kecil, “Sekecil apapun yang ku berikan pasti akan berguna.”

“Yaya… Kau memang terbaik!” Sahut Jooming sembari mengangkat kedua ibu jarinya.

“Ya, aku ke perpustakaan dulu Jooming-ah!” Pamitku lalu keluar kelas.

“Ah,”

Aku merintih saat pantatku mengenai lantai, seorang siswa menabrakku hingga buku-buku tebalku berjatuhan memenuhi koridor sekolah.

“Maaf!!” Pekiknya lalu kembali berlari. Dasar tidak sopan!

Seorang siswa lainnya menghampiriku. Aku menatapnya sekilas lalu mengambil buku-buku yang berhamburan. Ekor mataku meliriknya, ia mengambil beberapa bukuku dan mengaturnya.

Aku terkejut ketika bukuku yang lain sudah berada di tangan siswa yang menabrakku. Ia memberikan bukuku, “Maaf…” pintanya.

Lidahku kelu, ku tatap siswa itu sekilas lalu berjalan menghampiri siswa yang membantuku tadi, “Terima kasih,”

Siswa itu tersenyum, “Lain kali berhati-hatilah.” Ujarnya aku mengangguk patuh dan kembali berjalan menuju perpustakaan.

@@@

“Sudah dapat berita tentang diary-mu?” Tanya Jooming sembari memasukkan sekumpulan kimchi ke dalam mulutnya.

Aku bergedik melihatnya seperti itu. “Tidak.” Jawabku singkat sambil meneguk susu cokelat.

Jooming menganggukkan kepalanya, “Jadi, kau membiarkannya saja? Merelakannya?”

Nafasku terhembus berat, “Entahlah Jooming-ah, mungkin saja si penjaga sekolah membuangnya.”

“Tidak mungkin! Diarymu masih bagus, mau dibuang bagaimana?”

“Mungkin saja…” Sahutku.

Jooming mengerucutkan bibirnya, sumpitnya menunjuk ke suatu arah, ku palingkan kepalaku mengikuti arah sumpitnya.

“Ada apa?” Tanyaku.

“Dia sering memperhatikanmu akhir-akhir ini. Well, kau beruntung! Dia kan idola setiap wanita.” Jelasnya.

Ku sipitkan mataku, di konter aku melihat siswa yang telah menabrakku, siswa yang selalu menjadi bahan gosip para siswi.

“Mungkin saja ia memperhatikan orang lain.” Ucapku.

Jooming menghela nafasnya, “Kau selalu tidak peka!”

“Aku tidak perlu menjadi peka soal pria.” Jooming tertawa, “Yaa! Kena karma tahu rasa kau!”

Ku kedikkan bahuku cuek. Ekor mataku melihat siswa itu. Benar kata Jooming, ia memperhatikanku. Siswa aneh.

@@@

    I beg your Diary, wait me in the gate!

Mataku membulat membaca rangkaian kata yang tertulis di sebuah note yang tertempel pada lokerku.

Ku ambil note itu lalu masuk ke dalam kelas karena bel masuk yang telah berbunyi sejak beberapa detik lalu.

Selama pelajaran aku menjadi tidak fokus, mataku terus menatap note itu, berusaha menebak pemilik tulisan itu. Nihil, aku tidak pernah memperhatikan tulisan orang.

Ketika bel pulang berbunyi aku langsung berlari dari kelas meninggalkan Jooming yang terheran-heran melihat sikapku. Aku butuh diary-ku, selain itu aku juga penasaran dengan orang yang terkesan ‘sok’ misterius itu.

Mataku melihat jam tangan. Sudah 2 menit aku duduk di batu dekat trotoar tapi orang yang katanya akan membawakan diaryku belum memperlihatkan batang hidungnya.

“Yaa!”

Aku tersentak mendapati sebuah teriakan yang tidak asing di telingaku. Refleks mataku membulat ketika melihat siswa yang selalu Jooming elu-elukan berdiri di hadapanku. Siswa yang telah menabrakku tempo hari.

Ku hembuskan nafasku pelan dan berusaha untuk bersikap seadanya di depan siswa itu.

“Mana diarynya?” Tanyaku to the point. Ia tersenyum kecil, memberikan lekukan khas pada bibirnya, “Setidaknya kau dapat bertingkah lebih ramah padaku.”

Kedua alisku bertautan setelah mendengar perkataannya. Ku layangkan tatapan skeptis padanya, “Maksudmu?”

“Aku sudah membaca semuanya, kau tak perlu bersikap dingin padaku. Aku tahu, kau membenciku karena bersikap sombong dengan ketampananku serta para fangirl yang terlalu menggilaiku.” Jelasnya.

Ku gigir bibir bawahku sembari menatap trotoar. Ternyata ia pintar membaca abjad, dan sepertinya diaryku telah jatuh di tangan yang salah.

“Em… Mana diaryku?” Tanyaku sambil mengadahkan tangan.

Ia tersenyum kecil lalu menarik tanganku, memaksaku untuk mengikutinya berjalan di sepanjang trotoar. Beberapa mata memperhatikannya, membuatku sedikit takut akan kehidupanku selanjutnya. Akankah aku baik-baik saja?

“Yaa!!” Pekikku kemudian. Tanganku bergerak berusaha melepas genggamannya. Tapi, sekuat apapun ku gerakkan, tangannya terasa makin erat.

“Diarymu ada di rumahku, jadi kita perlu mengambilnya terlebih dahulu.”
“Apa!?” Teriakku tidak terima.

Ia menghentikan langkahnya lalu berbalik melihatku, “Kau mau mengambilnya kan?”

Tentu aku ingin mengambilnya, diary itu sangat penting dalam menguasai emosiku. Hanya di sanalah tempatku berkeluh kesah. Lalu ku anggukkan kepalaku, “Iya, tapi tidak perlu memegang tanganku seperti ini.” Sindirku sambil melirik tangan kami.

“Mengapa tidak?” Tanyanya sembari mendekatkan wajahnya ke arahku. Mataku membulat sedikit terkejut dengan tingkahnya, ku tarik nafasku pelan lalu menatapnya seperti biasa.

Ia membasahi bibirnya lalu kembali berjalan, ku tatap punggungnya kesal. Walau kesal aku tetap tidak bisa menampik bahwa aku pernah tertarik dengannya. Bukan karena ketampanan style-nya tapi karena matanya.

Langkahku bergerak menyamakan langkahnya yang terkesan melambat. Tiba-tiba tangan kirinya bergerak mengusap puncak kepalaku dengan lembut, “Let me know you.” Katanya membuatku tertegun.

“Let me be your real Diary.”

END

3 thoughts on “Diary [Girl’s side]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s