[Cerpen Special Jasti Rahayu] Cerita Awal Mengenalnya

Sengkang, Agustus 2008

“Bahasa Inggrisnya debu apa?”

“Dust.”

“Bahasa Inggrisnya banci?”

“Eh… Nggak tahu deh. Jas mau ke kantin?” Tanyaku pada siswi yang baru ku kenal beberapa hari terakhir.

Ia mengangguk lalu mengambil uangnya di dalam tas. Aku menunggunya dengan santai. “Ayo!” Ajaknya menyambar tangan kananku.

“Jasti…” Panggilku padanya yang sedang sibuk memilih snack di kantin mini sekolahku.

“Eum?” Ia berbalik, di tangannya sudah penuh oleh berbagai jenis makanan kecil.

“Bahasa bugisnya kerbau tedong yah?” Tanyaku, ia lalu tertawa.

Setelah membayar kepada om penjaga kantin ia lalu menarik tanganku keluar dari kantin mini itu. Sepanjang jalan ia terus tertawa, membuatku agak sebal dengan tingkahnya.

“Siapa yang beritahu kamu?” Tanyanya setelah berhasil menghentikan tawanya.

“Umairah.” Jawabku singkat. Kepalanya bergerak ke bawah dan ke atas, “Kalau monyet tahu nggak? Aku kasih tahu yah, ntar ada yang ngejahilin kamu.”

Ku anggukkan kepalaku tidak sabar menunggu ucapannya selanjutnya. “Ceba!”

Lantas aku tertawa, ia ikut tertawa sembari meminum pop ice dari gelas plastik berukuran jumbo. “Ceba…” Ucapku membuatnya makin tertawa terpingkal-pingkal.

Jasti Rahayu, salah satu teman baruku yang menyenangkan. Ia orang yang baik dan selalu ingin tahu tentang Bahasa Inggris, pelajaran favoritku.

@@@

“Sebentar ngehapal irriguler verb yah?” Tanya Jasti. Aku mengangguk, “Gimana? Bahasa Inggris itu seru kan?”

Ia mengangguk, mengangkat kedua ibu jarinya, “Mantap!”

“Otakmu cepat mengerti Jas… Bagus!” Sahutku membuatnya tersenyum malu-malu.

Tiba-tiba beberapa siswa datang, mereka terengah-engah seperti tengah dikejar setan. Lalu mereka berteriak, “Ulangan Bahasa Inggris!!!”

Mataku membulat, lalu ku anggukkan kepalaku. Baguslah, aku masih belum terlalu hapal irriguler verb. Ekor mataku melirik Jasti yang menyiapkan seluruh buku dan kamusnya, dia benar-benar anak yang rajin.

Tak berapa lama guru Bahasa Inggris yang terkenal dengan tangan midasnya datang. Beberapa siswa makin ribut, sedangkan aku terlihat santai dan hanya terdiam di kursi. Entahlah, feelingku mengatakan aku tidak perlu belajar.

“Ulangan yah,” sahut Mr. Mara Rusli -guru bahasa inggrisku.

Lalu beliau memberikan kami kertas ulangan. Mataku membulat, pikiranku langsung blank melihat soal-soal yang bahkan belum ku pahami dengan jelas.

Ekor mataku kembali melirik Jasti. Ia tersenyum senang melihat kertas soalnya. Aku jadi kesal.

@@@

Sudah beberapa hari terakhir aku tidak berbicara dengan Jasti. Setelah melihat nilai sempurnanya dalam ulangan bahasa inggris aku jadi malas untuk belajar bahasa inggris bersamanya.

Ku baringkan kepalaku di atas meja, pikiranku kembali melayang saat kami dites bersama-sama untuk masuk ke kelas bilingual. Sayangnya kami berdua tidak lolos.

“Nabila,”

Kepalaku terangkat, ku lirik Jasti sedang tersenyum kecil di sebelahku. Di tangannya ada sebuah kertas hvs, lalu ia menyodorkannya padaku.

“Latihan yuk!” Ajaknya.

Ku lirik kertas hvs itu dengan enggan. Irriguler verb. Lantas aku berdiri dari dudukku lalu keluar kelas mencuekinya. Kekesalanku sulit untuk dilumpuhkan.

Bahasa Inggris adalah pelajaran favoritku. Dan aku tidak suka melihat orang lain lebih pintar daripada diriku soal pelajaran ini.

@@@

“Na, kamu cuma dijadiin batu loncatan sama Jasti yah?” Tanya salah seorang teman kelasku.

Aku menggeleng, “Nggaklah.”

“Tapi, dari awal dia selalu deketin kamu kalau soal Bahasa Inggris. Trus kalau pelajaran lain malah nyeleweng.” Jelasnya, membuatku melirik Jasti yang sibuk mengerjakan tugas bahasa Indonesia bersama teman kelompoknya.

Seharusnya aku bersama dengan kelompok itu. Tapi, mereka malah mengeluarkanku karena kepenuhan anggota. Kesal tentu ada, malah aku ingin membenci mereka.

“Tau ah, malas.” Sahutku kembali sibuk mengerjakan tugas. Makin dihasut aku bisa makin menjadi, lebih baik diam dan tetap mendengarkan.

Setelah pelajaran Bahasa Indonesia selesai, aku langsung bergegas kembali ke tempat dudukku yang bersebelahan dengan Jasti. Baru beberapa detik aku mendudukkan pantatku di atas kursi aku sudah mendengar obrolan yang menyebalkan.

“Eh, seperti anak SD yah. Marahnya hahahaa… Anak-anak banget deh.”

Lantas ku gigit bibir bawahku menahan air mata yang mulai terkumpul di pelupuk mataku. Bahkan hingga SMP aku selalu di bully. Beginilah jadi anak nomaden yang sulit beradabtasi.

“Sssttt… Nggak boleh gitu ah.” Kata beberapa siswi. Aku terdiam, detik berikutnya aku telah merasakan air mataku jatuh hingga membasahi pipi. Aku salah apa sih?

@@@

Aku diam, memandang seluruh kelas dengan kosong, tidak ada perasaan suka ataupun benci. Semua tempat sama saja, akan selalu terasa menyebalkan di awal kepindahanku.

VII Utama. Kelas kebanggaan katanya, tapi malah membuatku terpuruk sejak kepindahanku.

Sebuah tangan menyambar pergelangan tanganku. “Ayo Na, maafan sama Jasti!”

Mataku terpaku pada seorang gadis berambut geriting sebahu. Walau rambutnya seperti itu, ia tetap saja terlihat cantik.

“Nggak ah Lilia, aku nggak mau.” Elakku. Tapi Lilia tidak bergeming, ia tetap menarik tanganku ke arah Jasti.

Aku pasrah saja. Mau diterima atau tidak itu urusan mereka.

“Maaf… Maaf jasti,” kataku sembari menyodorkan tangan kanan. Di sebelahku, Lilia tersenyum penuh arti.

Jasti menahan tawanya ketika melihat wajahku yang sok cuek, “Iyalah! Dari dulu aku udah maafin kok. Maafin aku juga yah,” katanya dengan nada riang seperti biasa.

Kedua sisi bibirku terangkat, “Maaf, aku agak labil.” Sahutku. Lilia tertawa selepas itu Jasti ikut tertawa.

“Iya, aku ngerti kok kenapa kamu seperti itu.” Ujar Jasti.

“Sama-sama belajar Bahasa Inggris yah,” katanya kemudian. Aku mengangguk, “Lilia juga tuh, dia pintar bahasa inggris.”

Lilia memeletkan lidahnya, “Misi pertama berhasil Nab, jadi partner aku yah buat ngatasin sikap cuek anak-anak di kelas.”

Aku mengangguk, sedangkan Jasti terdiam, “Aku belajar ajah.”

“Iya, iya, anak pinter selalu belajar.” Goda Lilia membuat Jasti dan aku tertawa.

Beberapa siswa lain melihat kami dengan aneh, tatapan mereka begitu menyebalkan. Meski begitu aku, Jasti dan Lilia tidak peduli.

Apa mereka bertiga akan menjadi sahabatku? Semoga, aku harap.

@@@

Sengkang, Januari 2009

Jasti mengapit lenganku, ia tersenyum kecut ketika menyadari perubahan wajahku. Di sebelahnya ada Khadijah yang menahan tawa karena perubahan wajahku ini.

“Maaf yah soal lomba story telling.” Kata Jasti membuatku terperangah.

“Kenapa maaf?” Tanyaku berpura-pura terlihat biasanya. Tapi, hasilnya sama saja, aku tidak dapat memendam wajah kesalku.

“Kamu kan mau banget ikut lomba itu. Maaf yah Na, aku nggak maksud rebut tempatmu.” Ujarnya. Ku gigit bibir bawahku menahan rasa kesal bercampur sedihku.

“Nggaklah. Kan penilaiannya udah clop. Bukan kita yang nilai, ada banyak guru tadi. Lagipula aku masih nggak pede, suaraku terus bergetar.” Elakku membuatnya tersenyum manis.

“Nah, betul tuh Jas!” Sahut Khadijah, ku kerucutkan bibirku, mengiyakan sahutannya.

“Menang yah Jas! Kalau nggak kita sekelas bakal marah!” Kecamku pada Jasti.

Ia mengangkat kedua ibu jarinya, “Sip, yang penting doanya.”

Kepalaku bergerak ke atas dan ke bawah. Walau merasa iri aku tetap selalu akan mensupportnya dalam berbagai keadaan. Jasti memang lebih cocok mendapatkan hal-hal itu, ia anak yang rajin tidak sepertiku yang terlalu malas dan gegabah.

Aku jadi ingat Lilia. Dialah yang membuat hubunganku dan Jasti membaik, walau makin membaik karena sosok Khadijah, siswi yang bergabung dengan anak kelas Utama semenjak rolling nilai di kelas satu semester genap.

Well, selain itu berbulan-bulan mengenal Jasti, rasa kagumku padanya makin tumbuh. Semangatnya dalam belajar membuatku tertular walau hanya secuil.

Semoga ia selalu menjadi anak yang penuh semangat, anak yang tak pernah mengubur mimpinya untuk menjadi yang terbaik di segala hal.

END

P.s

Lagi-lagi cerpenku tak mengedepankan masalah. Toh memang aku juga tidak dapat memendam masalah hingga berlarut-larut. Yap, that’s true kalau ada beberapa scene yang nyata kejadiannya.

Cerpen ini spesial untuk Jasti Rahayu. Salah satu partner Bahasa Inggrisku ketika masih menginjak bangku SMP, yang selalu membuatku kagum akan sikap-sikapnya. Kau salah satu orang yang membuatku tidak putus asa untuk mencoba santai menghadapi masalah pelajaran di sekolah, kawan.

Semoga kamu Lulus dengan nilai terbaik dan masuk Universitas yang kamu inginkan. Doaku selalu menyertaimu!! Jasti Rahayu.

2 thoughts on “[Cerpen Special Jasti Rahayu] Cerita Awal Mengenalnya

  1. Well, amien!! Betul.. smoga eonni *ngelirik Jasti* diterima di Universitas yang diinginkan.. Hahahaha..πŸ˜€

    Oh iya, tau nggak?? *ngelirik ke kiri ke kanan*
    aku ingat waktu eonni ngebaca cerpenmu, dia tertawa-tertawa sendiri.. Hahahaha, aku sendiri kaget ngeliatnya..πŸ˜€

    Wah, kamu juga kagum ya ama eonni?? Aku juga sangat kagum…. di balik tindakannya yang sangat “bebas” seperti tidak ada beban, ia mampu bersikap dewasa dan aku sangat senang dan bangga jadi dongsaengnya.. Ahh.. jadi rindu deh ama eonni..πŸ˜€

    Well… walau waktu SMP kita smua terpisah karena perbedaan kelas, akhirnya kita menjadi dekat.πŸ™‚

    Andai saja, waktu SMP kita jadi dekat ya?? Wah.. pasti seru tuhh..πŸ˜€ Soalnya aku juga suka banget dengan bhs.inggris..πŸ˜€

    Ngakak pas baca kalimat ” Tak berapa lama guru Bahasa Inggris yang terkenal dengan tangan midasnya datang.” Hahahahhahaa.. Mr.Mara Rusli pasti kaget kalau dia tahu kamu nulis “yang terkenal dengan tangan midasnya”.

    Ahh.. mianhae aku baru sempat koment disini dan visite blogmu, I am so sorry.. Okay?πŸ˜‰

    Oh iya, ijin mengobrak abrik blog mu lagi, oke?πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s