Milky’s Bonus Trip

Milky menyipitkan matanya, bola matanya bergerak mengikuti gerak-gerik seorang pria di balik jendela kamarnya.

“Mampus!” Pekiknya sambil menarik horden putih hingga menutupi jendelanya.

Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas spring bednya, matanya terpejam, senyumnya merekah seakan ia baru saja memenangkan lotre.

Baru tiga hari ia tinggal di rumah bibinya yang bekerja di Korea. Selama itu pula dirinya hampir gila saking senangnya melihat pria sipit setiap harinya. Baginya, pria Asia Timur adalah segalanya. Sipit, putih dan tampan.

Ia benar-benar tidak akan pernah menyesali tindakannya yang nekat berangkat ke Korea sendiri dalam rangka menjalani liburan sekolahnya selama beberapa minggu ke depan. Tidak bila ia berhasil mendapatkan seorang pria Korea.

“Apa dia melihatku? Ish~ mengapa ada manusia semanis itu?” Racaunya geregetan.

“Siapa yang kau lihat huh?”

Milky membuka matanya, mendapati bibinya yang telah berdiri di samping tempat tidurnya. Kemudian Milky tertawa, “Siapa sih cowok tampan di rumah sebelah?”

“Halah dari kemarin kamu tuh cowok tampan melulu. Bibi udah bosan liat mata sipit,”

“Itu kan bibi, aku mah nggak pernah bosan.” Sela Milky, bibinya tertawa.

“Mau kenalan?” Tanya bibi menggodanya.

Milky terduduk di atas tempat tidurnya, matanya membulat, “Gimana? Bagaimana?”

“Antar kue beras buat mereka deh yah, kue berasnya ada di atas meja makan.”

Imo! Gomaptaaaa!!” teriak Milky lalu berlari keluar kamar meninggalkan bibinya yang tertawa geli melihat keponakannya yang makin tidak waras itu.

@@@

“Sabar sabar…” Gumam Milky sembari menghela nafasnya pelan. Di tangannya ada sepiring kue beras buatan bibinya, kue beras yang bahkan belum pernah ia coba.

Jari telunjuknya baru saja akan memencet bel sebelum seorang pria muncul di balik pintu kayu rumah tetangga bibinya itu.

“Siapa?” Tanya pria itu dengan Bahasa Korea yang lancar. Tiba-tiba lidah Milky terasa kelu, ia tidak begitu lancar berbahasa Korea.

“Eh, neighbor, err… naeui imo,” jawabnya kaku dengan jari telunjuk mengarah ke rumah bibinya.

“Eng, mworagoyo?

Milky menghela nafasnya, “I’m your neighbor, can you speak english please? I really do not understand to speak hangeul.”

Pria itu menyipitkan matanya, menggaruk kepalanya bingung mendapati seorang gadis berkulit eksotik berbahasa inggris di depannya.

“Sorry sorry, I speak english don’t know.” Ujarnya terbata-bata.

Milky menahan tawanya, lalu menyodorkan kue beras ke arah pria itu, “Naeui imo ga… eum, forget it! I live in there,”

“Ohh! Matta, yeopchip!” pekik pria itu.

Milky menggaruk kepalanya tidak mengerti ucapan pria itu, benar-benar menyebalkan baginya karena pria itu tidak mengerti Bahasa Inggris. Pendekatannya sudah berada di tahap akhir, maksudnya berakhir.

“Eum, I’m back. Bye!” Pamitnya lalu kembali ke rumah bibinya.

Imo!! Aku nggak ngerti ah, jadi males ngobrol ama orang Korea.” Sahutnya sembari duduk di sebelah bibinya yang sedang memotong beberapa apel.

Milky mengembat beberapa apel dengan wajah tertekuk. Bibinya terkekeh, “Mau belajar Bahasa Korea?”

“Pengen sih, tapi masa’ sih mereka nggak bisa Bahasa Inggris?”

“Haa~ abjad mereka kan berbeda. Susahlah buat mereka,” kata bibinya sambil mengunyah apel.

“Cish~ gitu aja kok sulit.” Sindir Milky yang kemudian mendapat jitakan dari bibinya, “Kayak kamu nggak sulit aja belajar hangeul,”

“Kan bukan bahasa umum,”

“Nah, mereka juga pikir gitu!” Sela bibinya, mau tidak mau Milky harus mengakui hal itu, orang-orang hanya akan terpaku pada satu bahasa dan yang lainnya hanya sebuah selingan.

@@@

Milky menatap pria di hadapannya dengan intens. Walaupun ia merasa senang dengan ajakan ‘date’ pria sipit itu, diam-diam ia menggerutu sebal dengan tingkah pria itu yang hanya dapat terdiam kaku di depannya.

“Err… How old are you?” Tanya pria itu kemudian.

“16 how about you Lee Hyuk Jae-ssi?”

Lee Hyuk Jae, pria itu mengatupkan bibirnya, “I’m 26. Call me Oppa ok?”

Milky menggaruk kepalanya. Bahkan ia tidak tahu bahwa pria bernama Lee Hyuk Jae itu adalah seorang paman yang umurnya sangat berbeda jauh dengannya.

“Really? Don’t be kidding eo? 26 years old?” Pekik Milky membuat Lee Hyuk Jae menggaruk kepalanya, “I’m really sure Milki-ssi, call me oppa, arachi?”

Akhirnya Milky menganggukkan kepalanya berat, dihirupnya cairan pekat hot mocca-nya dengan pelan.

“Milki-ssi, ottokhaeyo?” tanya Lee Hyuk Jae tiba-tiba.

“Eh, ottokhae? Why?” Tanya Milky balik. Mata bulatnya mengamati mimik wajah pria yang berbeda 10 tahun dengannya itu datar.

“No… No, nothing. It will be ok right, if you walking with me?”

Milky menghela nafasnya pelan, mungkin bisa jadi tidak baik bila ia tahu umur pria itu lebih awal, namun beras telah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi.

“Ok oppa. It’s ok.” Sahutnya kembali berpura-pura sibuk dengan cheese cakenya.

Meskipun ia sebal mendapati Lee Hyuk Jae adalah seorang pria dewasa, ia tetap mengapresiasikan kemauan Lee Hyuk Jae dalam mempelajari bahasa Inggris demi dapat berbicara dengannya.

Oppa,” panggil Milky. Lee Hyuk Jae mengalihkan tatapannya ke arah Milky.

“Bring me to Namsan and Hangang river, then we will back, ne?”

Lee Hyuk Jae menganggukkan kepalanya, senyum gusinya merekah indah ketika melihat mata bulat Milky bersinar menatapnya.

@@@

Lee Hyuk Jae mengamati tingkah Milky yang berubah lebih dewasa dari umurnya ketika memegang kamera besar DSLR merek ternama. Pembicaraan gadis itu berubah serius dan lebih berbobot ketika ia bertanya-tanya mengenai fotografi.

“Tanpa berbicara, mereka dapat bercerita.” Ungkap Milky sembari memperlihatkan potret Hangang river yang diselimuti warna jingga yang indah.

Lee Hyuk Jae hanya dapat menganggukkan kepalanya karena ia memang tidak pernah tertarik dengan fotografi, walau seperti itu, ia tetap mengakui keindahan seni hasil jepretan Milky.

“Astaga! Sudah petang!” Pekik Milky memakai bahasa Indonesia. Lee Hyuk Jae mengelus tengkuknya, walau ia tidak mengerti apa yang dikatakan Milky ia tahu maksud gadis itu.

“Wanna go home now?”

Milky menganggukkan kepalanya, “Khajja!” Ia menarik pergelangan tangan Lee Hyuk Jae menuju mobil audi hitam yang terparkir tidak jauh dari posisi mereka.

Lee Hyuk Jae tersenyum mengikuti langkah kecil Milky. Entah mengapa ia merasa senang dengan tingkah Milky yang sulit ia tebak.

@@@

“Apa!? 26 tahun?” Pekik bibi Milky dengan mata yang membulat.

Milky mengerucutkan bibirnya, matanya menangkap titik berbahaya di wajah bibinya.

“Lain kali jangan pergi sama dia yah Mil, tua gitu kok, bahaya ah… Bibi takut ada apa-apa dengan kamu.”

“Nggak kok, kayaknya dia baik. Lagipula paman itu tinggal sama orang tuanya di sebelah.” Elaknya kemudian.

Bibinya mendesis, “Yang penting bibi nggak ngebolehin kamu lagi nge-date sama dia. Bisa bahaya kan, kalau tiba-tiba dia ngajak kamu ke apartemennya.”

Milky memuncratkan susu cokelatnya ketika mendengar penuturan bibinya itu, “Nggak ah, bibi jangan sembarangan.”

“Asal tahu aja yah, nggak semua yang kamu lihat itu benar loh. Jaga diri Milky, nggak semua orang Korea itu baik.” Nasihat bibinya. Milky mengangguk, ia memang harus mendengar nasihat bibinya itu.

@@@

Lee Hyuk Jae memegang pergelangan tangan Milky dengan erat, keduanya berlari dari kejaran beberapa orang yang memegang kamera besar.

“We…Why?” Tanya Milky terengah-engah.

“I’ll explain you later.” Jawab Lee Hyuk Jae yang juga terengah-engah.

Mata pria itu was-was mencari tempat persembunyian dari para wartawan yang menangkap kesibukannya bersama gadis dibawah umur. Ia tidak dapat mengelak lagi, dirinya seorang artis, -bukan dia anggota boyband ternama Super Junior dan seharusnya Milky tahu hal itu.

“Why?” Tanya Lee Hyuk Jae sembari duduk di kursi sebuah taman. Milky tergagu, “I don’t know the members are. Mianhae oppa, I really don’t know about Super Junior.”

“How could it be?” Tanyanya lagi.

“My life, no, I mean… I live in the little village. So close, it’s really difficult to update anything.” Jawab Milky jujur.

“But, your english?”

“There is a school, international school and we should study more and it’s difficult to browsing. I had no time,” akunya lagi. Lee Hyuk Jae terkesiap, ia bahkan tidak tahu bila sekolah seperti itu ada di dunia.

“So then, korean artist, k-pop…”

“I just know Bi Rain.” Potong Milky membuat Lee Hyuk Jae terperangah.

Milky menundukkan kepalanya, dihirupnya oksigen dengan kuat, “Sorry oppa, if I know from the first I’ll never accept your urge.”

Lee Hyuk Jae menaruh jari telunjuknya tepat di depan bibir Milky, ia lalu mengacak rambut Milky dengan gemas.

“I’m happy with you,” ujarnya sembari mengelus pipi Milky lembut.

Milky terkesiap, ia memundurkan posisi duduknya. Nasihat bibinya bermain di atas kepalanya, …jaga diri Milky.

“Trust me, you’ll be ok!” Bisik Lee Hyuk Jae.

“Can we back now?” Tanya Milky kemudian, wajahnya memucat karena perlakuan pria itu barusan.

Lee Hyuk Jae menggigit bibir bawahnya ragu, “Khajja!”

@@@

Milky menyingkap selimutnya hingga ke kepala, bibinya yang melihat kondisi Milky tergagu, ia melipat tangannya di dada menatap Milky yang tertutupi selimut.

“Jadi, kamu nggak tahu si Lee Hyuk Jae itu anggota Super Junior?” Tanya bibinya.

Milky menghela nafas, ia menyembulkan kepalanya dari balik selimut, “Aku takut bi,”

“Sama fansnya?”

Kepala Milky bergerak ke kanan dan ke kiri. Ia lalu duduk di atas tempat tidurnya menatap bibinya cemas.

“Kayaknya dia suka sama aku. Dia pernah pegang pipi aku bi.” Aku Milky.

Mata bibinya membulat, “Lalu?”

“Cuma itu doang sih, makanya aku takut. Nggak mau lagi keluar sama dia, sms-nya aja aku nggak balas.”

Bibinya tertawa. Ia mengacak-acak puncak kepala Milky gemas. Tingkah keponakannya itu sangat jujur, membuat siapapun yang mengenalnya pasti akan menyukainya walau dalam kurun waktu yang cepat.

“Kalau dia dateng ke sini gimana dong?”

Milky mengangkat kedua bahunya, “Bilang aja aku dah balik ke Indonesia.”

“Bohong ah, bibi nggak mau. Kenapa nggak bilang aja kalau kamu nggak suka sama dia?” Tanya bibinya.

Bibir Milky terkatup, ia menatap bibinya cengengesan, “Aku nggak bilang kalau aku nggak suka dia yah bi. Soalnya dia cakep sih.”

“Hush, siapa suruh masih mau pergi jalan sama om-om gitu. Malu ah, sama om-om.” Goda bibinya.

Imo~” panggil Milky membuat bibinya terkekeh pelan.

Kemudian Milky meraih handphonenya yang tergeletak di atas meja.

“Jawab saja!” Sahut bibinya menyadari handphone Milky yang berbunyi tanda seseorang sedang menelpon.

“Nggak ah. Milky takut.” Ucapnya lalu mengembalikan handphonenya ke atas meja setelah menonaktifkannya.

Bibinya menghela nafas, ia menatap Milky lalu mengelus pipi keponakannya itu lembut. “Makanya, lain kali jangan sampai kejadian kayak gini terulang.”

“Hm…” Gumam Milky dengan senyum tipisnya.

@@@

“Bibi jaga diri yah. Kalau aku dah sampai ntar ditelpon.” Kata Milky sembari memeluk erat bibinya itu.

“Em… Jaga diri baik-baik. Sekolah dengan baik, salam buat keluarga yah,” titah bibinya lalu mengacak puncak kepala Milky gemas.

Imo!!! Saranghaeyo!!” Pekik Milky lalu memasuki pintu keberangkatan.

Beberapa orang sukses meliriknya, tapi dasar Milky. Ia mencuekkan semuanya dan berjalan dengan santai menuju ruang tunggu. Masih ada setengah jam sebelum keberangkatannya ke Indonesia.

Milky mengaitkan earphone di telinganya, ditekannya tombol on pada mp4-nya lalu mendengarkan beberapa lagu Korea yang didapat dari bibinya.

Beberapa lagu didominasi oleh penyanyi solo dan yang lainnya adalah lagu yang dibawakan Super Junior. Ingatan Milky kembali terbayang-bayang sosok Lee Hyuk Jae atau Eunhyuk yang telah mewarnai hari-harinya di Korea. Akankah pria itu baik-baik saja?

Setelah kejadian itu Lee Hyuk Jae selalu berusaha menghubunginya, tapi Milky sendiri mengindahkannya dengan alasan takut.

Takut. Bukan takut karena perbedaan umur atau status Lee Hyuk Jae sebagai artis. Milky lebih memikirkan ke sisi jarak. Bukan hanya itu, hal yang paling ia takuti adalah bila perasaannya kini hanya perasaan semu.

Bisa saja ia salah sangka dengan semua perlakuan Lee Hyuk Jae yang begitu spesial di matanya. Bagaimapun juga, Milky seorang wanita. Dan setiap wanita memiliki perasaan yang sangat peka.

“Hot Mocca.”

Milky menolehkan kepalanya ke arah seorang pria yang duduk tepat di sebelahnya setelah mendapati segelas Hot Mocca tersodor di depan wajahnya.

Oppa!” Pekik Milky, ia mengedipkan matanya beberapa kali mencoba memfokuskan penglihatannya pada sosok Lee Hyuk Jae yang menutupi separuh wajahnya dengan masker kuning.

Lee Hyuk Jae terkekeh pelan, “What? Ng… Your mocca.”

Milky mengambil hot mocca itu lalu menyesapnya dengan pelan, “What are you doing here?”

“Following you,” jawab Lee Hyuk Jae. Milky menyikut lengan pria itu pelan, “Yaa! Oppa… What are you doing uh?”

“Wanna visit your country.”

“Really?” Mata Milky membulat, ia menatap Lee Hyuk Jae tidak percaya.

“Payback me, be my guide arasseo?”

Milky terkekeh, “I won’t. Back to your home! I’ll go soon.”

“Can you tell me the reason that you never answering my call? Or just reply my message?” Tanya Lee Hyuk Jae kemudian.

Jari telunjuk Milky menepuk cup moccanya dengan pelan, bola matanya mengarah luas pada lintasan pesawat di luar kaca besar di bandara Incheon itu.

“Nope. I don’t have any reason. Why? It’s a problem for you oppa?” Tanya Milky balik. Ia lalu menyesap hot moccanya, mengisi kerongkongannya yang terasa kering untuk beberapa saat.

“Yes, of course.” Jawab Lee Hyuk Jae singkat. “Why?” Tanya Milky cepat.

Lee Hyuk Jae menghela nafasanya berat, ditatapnya gadis itu dengan intens.

“I can’t tell you now. Too young.” Jawabnya membuat Milky mengalihkan tatapan ke arahnya.

“I should know that, but It’ll be ok I’ll never ask you about that.” Tukasnya bijaksana.

Untuk beberapa saat mereka saling bertatapan. Kali ini mereka mengindahkan semua faktor keraguan mengenai perasaan yang telah terlanjur tumbuh di hati masing-masing. Senyum Milky yang tulus dan tatapan mata Lee Hyuk Jae telah menjelaskan semuanya.

“Heeh~ I’m serious! Be my guide!! Payback me huh?” Sahut Lee Hyuk Jae sambil mengacak-acak rambut Milky gemas. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan yang terlalu serius itu.

Oppa!” Sahut Milky manja dengan senyum terkembang manis seperti permen kapas di musim panas.

Perjalanan Milky benar-benar tidak sia-sia. Pada akhirnya ia mendapat bonus manis yang tidak akan pernah ia lupakan selamanya. Bonus manis itu, Lee Hyuk Jae.

END

Heuf~ this is really hard. It reminded me about to be sasaeng of 슈퍼주니어 (˘o˘)

2 thoughts on “Milky’s Bonus Trip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s