Feeling

“Kyuhyun-ah!! Palli iroena!!”

Palli ireona!!

Kyuhyun mengusap kedua sisi matanya. Membuka kelopak matanya secara perlahan. Suara itu batinnya. Tiba-tiba jantungnya berdetak tidak karuan menyadari suara cempreng yang membangunkannya itu.

“Saehee!!”

BRAK!!
Seluruh tubuhnya terjelembab di samping spring bad. Ia terjatuh setelah menyadari seorang gadis berada di kamarnya.

“Kim Saehee! Siapa yang membawamu ke sini huh? Masuk sembarangan saja.” Sahut Kyuhyun kesal, jantungnya makin berdetak kencang melihat Saehee tertawa karena tingkahnya.

Sambil mendecakkan lidahnya, ia kembali tidur. Senyumnya merekah lebar dan tidur adalah hal tepat untuk menyembunyikan senyum lebarnya itu.

“Ya!! Kyuhyun-ah!! Ireona!!” Seru Saehee sambil mendorong-dorong bahu Kyuhyun.

“Jangan ganggu aku Saehee!!” Pekik Kyuhyun. Ia kemudian terduduk, matanya menatap sosok Saehee dengan kesal.

“Kyuhyun-ah, aku tahu kau tersenyum. Kedua sisi bibirmu bergerak hahaha…” tawa Saehee senang lalu mengacak-acak rambut Kyuhyun gemas.

Kyuhyun tersenyum, “sana! Kau mengganggu tidurku saja.”

Saehee membulatkan matanya setelah melihat Kyuhyun kembali tertidur. Dengan sigap ia menarik tangan Kyuhyun, “ireona! Kita jalan…”

@@@@

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya melihat sarapan paginya yang penuh dengan sesuatu yang berwarna hijau. Sayur. Saehee benar-benar pintar menggoda ibunya.

“Aku akan muntah…” ujar Kyuhyun sambil mendorong mangkuk nasinya.

Saehee membulatkan matanya, “yaa! Makan saja cepat! Kalau mau muntah, muntah saja lagipula aku tidak jijik.”

“Kau ini wanita atau monster sih? Aku tidak suka sayur.” Kata Kyuhyun kesal.

“Aku tahu, lalu kenapa?” Tanya Saehee dibuahi tatapan membunuh dari Kyuhyun. “Aku tidak suka! Dan aku tidak mau makan sayur!”

“Bukannya kau tidak suka pilih-pilih makanan?” Tanya Saehee lagi, gadis itu mulai menguasai permainan. Ia benar-benar suka menjahili Kyuhyun untuk memakan sayur.

“Kecuali sayur.” Jawab Kyuhyun singkat lalu merebut mangkuk nasi Saehee. Ia tersenyum licik dan menghabiskan sisa nasi dan bulgogi Saehee dengan tangkas.

Saehee menggeram, “ajjhuma, Kyuhyun merebut sarapanku.”

Kyuhyun tertawa, ia mendorong mangkuk nasinya ke depan Saehee, “kau suka sayur kan? Selamat makan!”

Saehee merangut. “Sial!”

@@@@

“Kau mau ke mana?” Tanya Kyuhyun bercampur dengan suara radio di mobilnya.

Saehee tersenyum tipis, “aku ingin ke sungai Han, sudah lama aku tidak ke sana.”

Mwo? Kau ingin bunuh diri?” Kyuhyun tertawa. “Bodoh, aku masih menyayangi jiwaku.” Sahut Saehee sambil merangut.

“Iya, aku hanya bercanda.” Ujar Kyuhyun lalu terdiam.

Pikiran Kyuhyun membeku, ia sadar sudah 3 tahun ia berpisah dengan Saehee yang memutuskan untuk meneruskan pendidikan di Singapura. Sudah 3 tahun pula hatinya membeku dan terasa kosong tanpa kehadiran gadis itu.

Kyuhyun tahu, ia mencintai Saehee. Mencintai gadis itu sebagai wanita bukan sebagai sahabat atau teman yang sering diumbar orang. Kyuhyun tahu, tapi tak pernah ingin mengatakannya kepada Saehee.

Sesampainya di sungai Han Saehee dan Kyuhyun hanya dapat duduk di bangku yang menghadap sungai Han. Keduanya terdiam cukup lama, entah apa yang ada di otak mereka masing-masing.

“Kyu…”

“Sae…”

Mworago?” Tanya Saehee sambil tersenyum tipis. Ia meninju lengan Kyuhyun pelan lalu menunggu pria itu berbicara.

“Kenapa kau diam saja? Tidakkah kau ingin menceritakan tentang pengalamanmu di Singapura?”

“Memangnya kau ingin mendengarnya?” Tanya Saehee, Kyuhyun mengangguk, ia lalu melipat kedua kakinya di atas kursi dan berbalik menatap Saehee.

“Berceritalah…” sahutnya. Kedua bola mata Saehee berputar, ia kemudian mulai menceritakan hidupnya di Singapura, “… di sana menyenangkan,”

“Kau tetap ingin tinggal di sana? Mencari kerja di sana?” Tanya Kyuhyun kemudian. Saehee mengangguk.

“Kenapa tidak tinggal di sini?” Tanya Kyuhyun lagi. Saehee menghela nafas, “aku sudah terlalu terbiasa dengan kehidupan di sana, jalanan di sana lebih ku hafap daripada jalan-jalan di Seoul.”

“Kau bodoh sekali sih.” Umpat Kyuhyun, ia melipat kedua tangannya di dada, matanya menatap Saehee kesal. “Kau bukan orang Seoul yah? Hanya karena alasan bodoh itu kau tidak ingin tetap tinggal di sini? Kau jahat!”

“Aku akan kembali jika kontrak kerjaku telah habis. Aku akan mencari uang dengan banyak hahaha…”

“Tertawalah kalau begitu. Kau menyebalkan.” Desah Kyuhyun sambil berdiri. Ia melangkah mendekati sungai Han lalu melempar kerikil-kerikil kecil ke sungai.

Saehee mengerucutkan bibirnya, ia tahu Kyuhyun kecewa dengannya. Kecewa dengen keputusan yang telah ia rencanakan sejak 3 tahun yang lalu.

“Kyuhyun-ah…” panggil Saehee, ia melangkah mendekati Kyuhyun lalu dengan sigap menggenggam tangan Kyuhyun yang dingin.

Kyuhyun terperangah, tapi dengan tenang ia balas menggenggam tangan Saehee. Hangat, ini pertama kalinya untuk 3 tahun lamanya ia menyentuh Saehee.

“Kau memaafkanku kan?” Tanya Saehee pelan. “Marah kenapa?” Tanya Kyuhyun cuek.

“Kyuhyun-ah…” panggil Saehee manja. Kyuhyun berdehem, ia kecewa dengan keputusan Saehee. Bukan karena alasan Saehee tentang Seoul, tapi karena Saehee yang tidak mengingatnya, mengingatnya sebagai alasan agar gadis itu tetap tinggal di Seoul.

Berharap. Sejak rasa itu tumbuh, Kyuhyun benar-benar selalu berharap akan perasaan Saehee terhadapnya. Ia ingin Saehee sadar akan sosoknya, sadar bahwa Kyuhyun adalah pria yang tepat untuknya. Tapi, mungkinkah Saehee menyadarinya?

“Saehee-ya… kembalilah ke Seoul,” Ujar Kyuhyun pelan. Saehee menatap Kyuhyun, ia terdiam, kali ini Kyuhyun bersikap serius.

“Tinggallah di sini untukku.” Lanjut Kyuhyun lalu terdiam. Genggaman tangan Saehee mengendur, ia terkejut dengan pernyataan Kyuhyun barusan.

“Apa maksudmu?”

Lengan kanan Kyuhyun menarik Saehee ke dalam pelukannya. Ia terdiam, kali ini Saehee harus tahu semuanya. Semua hal yang ia rasakan terhadap gadis itu.

“Kyuhyun…”

Jeongmal saranghaeyo Saehee-ya. Kajima, tetaplah di sini dan jangan siksa aku untuk selamanya.” Bisik Kyuhyun, ia makin mengeratkan pelukannya seakan tidak ingin melepaskan gadis itu dari sisinya.

Tubuh Saehee membeku, ia terdiam. Rasa hangat yang menjelajar di dalam tubuhnya tidak mampu menyadarkannya ke dunia nyata. Apa aku bermimpi?

Saehee tidak tahu bila Kyuhyun mempunyai rasa yang sama terhadapnya. Semua rencana yang telah ia susun sejak 3 tahun yang lalu, rencana untuk tinggal di Singapura dan bekerja di sana. Semuanya karena Kyuhyun. Perasaannya terhadap pria itu membuatnya takut untuk tinggal di Seoul. Ia takut rasa itu semakin besar dan menimbulkan lubang yang besar di hatinya.

Lama ia berpikir, kehangatan dari tubuh Kyuhyun membuatnya tersadar. Ia berada di dunia nyata, seluruh pengakuan Kyuhyun benar-benar nyata.

“Kyuhyun-ah…” panggilnya kemudian.

Mwohae? Kau tidak percaya?” Tanya Kyuhyun dengan suara bergetar. “Tidak! Tidak!” Ucap Saehee, “aku percaya tapi… pengap.”

Kyuhyun melepas pelukannya, ia mengelus tengkuknya malu. Saehee melakukan hal yang sama. “Gerom… kau tetap di sini kan?” Tanya Kyuhyun pelan.

Saehee terdiam, senyumnya merekah, “Kyuhyun-ah… aku tidak tahu kalau kau menyukaiku. Sejak kapan?”

“Yaa… aku tidak ingin mengatakannya. Yang terpenting aku mencintaimu. Jadi, kau tetap tinggal di sini kan?”

“Memangnya aku mencintaimu?” Tanya Saehee berpura-pura ragu. Wajah Kyuhyun memucat, ia terdiam sembari menatap sungai Han.

Saehee tertawa pelan, ia menggenggam tangan Kyuhyun hangat, “aku akan tetap tinggal di sini, untukmu.”

Kyuhyun tersenyum lebar, ia mengacak-acak rambut Saehee lembut. “Aku senang mendengarnya.”

END

P.s:

I’m back. Again, this fanfic just for fun. Not too good but enough to spread out my mind to writing. It has been a long time i do not writing again. Have fun!😀

6 thoughts on “Feeling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s