Simple Love Story

Holla~ i just send this ff to superjuniorff2010.wordpress.com. Maybe it’ll publish in the middle of April.

Silahkan dibaca duluan :p

Seorang gadis berambut panjang dan berwarna blonde itu meninggalkan café sembari mengeluarkan suara desahan yang berat. Ia kecewa, kecewa akan beberapa hal yang baru saja menimpanya saat itu juga.
Ada 3 hal yang mengecewakan. Pertama, ia baru saja putus dengan pacarnya. Kedua, sahabatnya berpacaran dengan -mantan pacarnya dan yang ketiga -mantan pacarnya dan sahabatnya berselingkuh di belakangnya. Apa yang ia rasakan saat ini? Bohong bila ia tidak sakit hati.

Desiran angin di musim gugur menerbangkan beberapa helai rambut blondenya itu. Menyisir setiap lekukan wajahnya yang basah terkena air mata yang terus berjatuhan disertai suara sesenggukan. Ia suka dengan musim gugur, tapi sayangnya musim gugur tahun ini adalah musim gugur yang paling menyedihkan baginya. Apakah ia akan membenci musim gugur? Ia ragu untuk menjawabnya.

“Xiao Min, kau baik-baik saja?”

Gadis itu menggerakkan jari-jarinya di wajahnya, menghapus air mata yang membasahinya. Lalu, ia mendongakkan kepalanya menatap pemilik suara yang memanggilnya Xiao Min, yang berarti Min kecil.

“Kyuhyun? Aku, em… baik.” Jawab Min dengan suara yang sedikit kaku.

Pria yang bernama Kyuhyun itu tersenyum tipis kepada gaids itu lalu duduk di sebelahnya dengan wajah yang menampakkan suara aneh. Pria itu memang agak aneh. Tidak jarang pria itu berprilaku sedikit menyimpang dari ambang normal.

“Xiao Min. Kau tidak bisa berbohong kawan kecilku,” ucap Kyuhyun dengan mata yang terarah pada psp hitam yang kini ia genggam erat pada kedua tangan besarnya.

Min mendengus, “starcraft adalah jiwamu bukan? Kau benar-benar gila.”

Kyuhyun tersenyum menampakkan smirk andalannya masih dengan mata yang terarah pada layar psp hitamnya itu, “jangan mencoba untuk mengubah topik,” tegurnya.

Rambut blonde Min kembali terhembus oleh angin, memaksanya untuk mengikat rambutnya itu. Ia tidak berbicara setelah Kyuhyun -teman kecilnya itu- menegurnya untuk tidak mengubah topik pembicaraan awal. Cho Kyuhyun tidak punya sangkut-paut apapun dengan masalahnya.

“Kyuhyun-ah. Aku pamit, aku ingin pulang. Bye~” pamit Min yang telah berdiri di depan Kyuhyun.

Ia kemudian berjalan menjauhi Kyuhyun yang masih sibuk memainkan starcraft lewat psp hitamnya. Min tidak berbalik untuk sekedar melihatnya atau berharap Kyuhyun menahannya dan mengajaknya untuk pulang bersama. Itu tidak mungkin, semua orang tahu Kyuhyun sangat mencintai game melebihi siapapun, tak terkecuali dirinya yang notabene adalah sahabatnya.

Tiba-tiba Min terdiam. Kakinya terasa sulit untuk melangkah, tangan kananya ditahan oleh sebuah tangan besar yang Min yakini milik Kyuhyun. Siapa lagi kalau bukan Kyuhyun, batinnya berbicara.

“Ceritakan padaku sahabatku!” Ucap Kyuhyun disertai deretan gigi putih yang rapi milik Kyuhyun sendiri. Jantung Min berdetak tidak karuan, ia tidak ingin meceritakan masalahnya pada siapapun bahkan seorang Kyuhyun. Ini masalahnya, bukan masalah Kyuhyun.

@@@@

“…Aku sudah bertekad untuk menghapus bayang-bayangnya dari kepalaku Kyuhyun-ah. Itu mestinya adalah hal yang paling mudah, mengingat pria di dunia ini sangat banyak, bukan hanya dia. Aku bukan satu-satunya wanita yang merasakan sakit hati karena masalah seperti ini.” Kata Min panjang lebar pada Kyuhyun yang duduk diam dengan tangan yang terlipat di depan dada dan mata yang mengarah tajam ke setiap penjuru taman.

Kyuhyun, ia menganggukkan kepalanya, “kau pantas menjadi seorang psikolog,” racaunya yang kemudian membuatnya mendapatkan tatapan sinis Min.

“Umurmu kini 22 tahun. Kau sudah berada di dalam fase remaja tua. Kau tahu yang mana yang buruk dan baik-”

“Kau ini tidak pantas untuk menjadi teman curhat.” Min menyelanya.

“Setidaknya kau sudah mulai berpikir dewasa bukan?” Tanya Kyuhyun merasa keki.

Mau tidak mau, Min mengangguk patuh, “Kyuhyun-ah. Aku ingin memakan lollipop. Bisakah kau membelikannya untukku?” Pintanya.

Kyuhyun mendelik, “daripada membeli lollipop aku lebih senang mendengarkan suara tangisanmu.” Tolaknya.

Min mendesah. Kyuhyun tahu kebiasannya. Baginya lollipop adalah pembuang rasa sedihnya, lollipop memberinya semangat dan kekuatan ketika batinnya tengah terserang berbagai masalah. Entah itu masalah dari dalam maupun masalah yang ada di luar.

“Kalau begitu, aku akan pulang.” Ucapnya tanpa semangat.

Semenjak kejadian di café tadi, Min berubah menjadi amat sangat pendiam. Berbeda dengan kepribadian normalnya yang selalu ceria dan cerewet. Bad mood itu bagaikan sifat misterius yang jarang keluar.

“Bila kau tidak mengeluarkan kesedihanmu, maka di dalam hidupmu kau akan terus merasa tidak nyaman dan sulit untuk merasa bahagia. Menangislah,” suruh Kyuhyun.

Min terdiam, ia menghirup oksigen dengan perlahan. Mengisi setiap ruang yang kosong di paru-parunya. Ia butuh oksigen untuk menahan emosinya. Ia butuh oksigen untuk membuat air matanya tertahan dan tidak jadi keluar.

Pelan-pelan, akhirnya Min mulai menangis kembali. Tangisannya sangat pelan, disambut dengan suara sesenggukan. Min menangis, ia kecewa akan dirinya sendiri yang bodohnya telah menangisi seorang pria -brengsek.

Kyuhyun diam, matanya melirik menatap Min yang tertunduk lemas di sampingnya. Ia tidak bisa berbuat banyak kecuali menunggu gadis itu berhenti menangis. Jujur saja, ia bukan pria yang mudah mengerti perasaan seorang wanita, ia hanya seorang pria yang keras kepala dan sangat mencintai game.

@@@@

“Xiao Min. Ikutlah denganku, aku punya dua tiket drama musikal!” Ajak Kyuhyun sembari menunjukkan dua tiket drama musikal di hadapan Min.

Min tersenyum kecil, “yeah! Dengan senang hati!” Teriaknya semangat.

Kejadian yang telah mengecewakannya itu telah berlalu. Sudah sekitar 2 minggu ia telah melupakan pria -brengsek- yang telah menghancurkan persahabatannya dengan seorang gadis cantik bernama Han Silla.

Ini juga karena ada bantuan dari seorang Cho Kyuhyun yang anehnya menyuruhnya untuk terus mengingatnya agar bisa melupakan pria itu. Memang mudah untuk terus mengingat Kyuhyun yang hampir ia lihat setiap harinya. Tak jarang ia juga bosan melihat Kyuhyun.

Sore itu akhirnya Min dan Kyuhyun mendatangi sebuah auditorium tempat drama musikal itu dimainkan. Tidak ada hal yang aneh di antara kedua manusia itu. Hanya saja, Min mempunyai perasaan aneh. Jantungnya terus berdetak tidak karuan semenjak melihat Kyuhyun memakai sebuah kemeja rapi berwarna biru tua. Dia terlihat sangat tampan hari ini.

“Kau sudah sadar bahwa aku tampan?”

Pertanyaan itu terlintas begitu saja di telinga Min. Senyum tipis mengembang di wajahnya, ia mengangkat kedua bahunya cuek dan -kembali- berpura-pura sibuk menonton drama musikal itu dengan khidmat.

Tawa kecil Kyuhyun membuat Min sedikit salah tingkah. Entah karena suara ketawa Kyuhyun yang aneh ataukah ada sesuatu yang lain. Yang pasti hari ini Min merasa berbeda dengan kehadiran Kyuhyun yang sepatutnya sudah menemaninya pada sehari-hari sebelumnya.

@@@@

“Shin Min Bi, aku menyukaimu.”

Pupil Min membesar dua kali lipat setelah mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Kyuhyun. Ia tidak percaya dengan apa yang sahabatnya itu utarakan barusan. Ini tidak mungkin batinnya.

Min tertawa pelan, “Kyuhyun-ah, candaanmu keterlaluan.”

Kyuhyun menggeleng, ia menatap Min dengan serius. Ia hanya berani menatap Min, bahkan untuk memegang tangannya pun ia merasa takut. Ia takut bila tangannya bergetar saking gugupnya.

“Kyuhyun-ah~” pinta Min berusaha membuat Kyuhyun untuk tidak bercanda.

Kyuhyun benar-benar tidak bercanda. Ia serius dengan pernyataan yang keluar dari mulutnya saat ini. Saking seriusnya ia bahkan tidak tidur untuk beberapa hari hanya untuk merangkai kata dan memikirkan keputusannya itu.

Min menunduk, matanya mengamati rumput-rumput taman yang berwarna kehijauan pada musim semi. Ia takut melihat wajah Kyuhyun yang kala itu terlalu serius. Ia takut dan bingung. Semua perasaan bercampur aduk di otaknya. Apakah ia akan menerima sahabatnya sendiri? Akankah persahabatannya baik-baik saja? Pertanyaan itu terus memenuhi kepala Min.

“Kyuhyun-ah. Aku tidak ingin berpacaran,” ucap Min kemudian.

Wajah Kyuhyun yang awalnya tegang berangsur-angsur mulai kembali normal. Ia tersenyum kecil mendengarkan ucapan Min barusan.

“Kau sahabatku. Aku takut bila ada hal buruk yang menimpa kita nanti akan membuat persahabatan kita putus. Bukannya aku tidak menyukaimu. Aku menyukaimu, menyayangimu melebihi siapa pun. Tapi, sulit untuk-”

“Tidak perlu ada kata pacaran.” Sela Kyuhyun mantap.

Min menoleh, melirik Kyuhyun yang masih menatapnya. Kali ini wajahnya masih menampakkan keseriusan. Kyuhyun berubah menjadi orang yang tegas, ia sudah dewasa. Sudah harusnya ia bisa mengambil keputusan yang tepat.

“Aku menyukaimu, kau menyukaiku. Kita impas,” ucapnya lagi.

Akhirnya Min mengangguk mantap. Ia berani menatap Kyuhyun yang tersenyum penuh arti padanya, “Kyuhyun-ah.” Panggil Min.

Kyuhyun mengangkat salah satu alisnya, “ng…?”

“Apa hubungan yang cocok untuk kita saat ini?” Tanya Min polos.

“Sahabat yang terikat benang merah.”

“Benang merah?”

Min menatap Kyuhyun dengan pupil yang membesar, ia menunggu Kyuhyun untuk menjelaskan apa yang ia maksudkan dengan benang merah. Bukannya benang merah berarti tali persaudaraan? Apakah Kyuhyun hanya akan menganggapnya sebagai saudara, bukannya sebagai orang yang spesial di hatinya?

“Benang merah. Itu tali jodoh antara kau dan diriku. Jadi, aku bertekad kaulau jodohku. Tunggu saja sampai aku menyelesaikan kuliahku, aku akan segera mengumpulkan uang yang banyak.” Jelas Kyuhyun yang akhirnya membuat Min bernapas lega.

Benang merah, batin Min senang.

Tangan Kyuhyun bergerak menelusuri setiap helai rambut blonde Min. Ia mengelus rambutnya dengan lembut. Ini sudah diluar batas normal kelakuannya. Biasanya ia tidak bisa melakukan hal itu. Tangannya sedikit bergetar. Ia benar-benar gugup.

Min tersenyum lembut mendapat perlakuan Kyuhyun hari itu. Ia tidak bisa berbohong, semenjak kejadian pada musim gugur tahun lalu ia sudah merasakan hal yang aneh akan perasaannya terhadap sahabatnya, Cho Kyuhyun. Kyuhyun berbeda dari pria lain, bahkan pria -brengsek itu. Jauh berbeda.

Awalnya ia memang tidak yakin akan perasaannya. Bahkan, ia merasa ingin pergi jauh dari hadapan Kyuhyun untuk beberapa saat karena takut perasaannya tidak akan terbalas. Ternyata perkiraannya salah besar, Kyuhyun jauh lebih menyukainya.

Setidaknya kekecewaan tahun lalu terbayar dengan apa yang ia dapatkan sekarang. Kegagalan tahun lalu bukanlah apa-apa baginya. Sekarang ia bisa bernapas lega karena mendapatkan seorang pria yang mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi.

Min percaya akan benang merah yang mengikat dirinya dengan seorang Cho Kyuhyun. Benang merah itu sangat kuat dan tidak bisa terputus. Kapanpun dan apapun itu. Yang jelas ia yakin dengan pilihannya saat ini. Cho Kyuhyun.

END

2 thoughts on “Simple Love Story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s