Cold Girl

Jinni merenung, entah sudah berapa kali ia mendesah, mengeluarkan gas karbondioksida melalui mulutnya lalu menghirupnya lagi lewat dua lubang kecil di hidungnya. Frustasi, benarkah seperti itu?

Tidak. Gadis bernama lengkap Choi Jin Rin itu hanya merasa gundah, entah mengapa ia begitu gamang memikirkan kelanjutan hidupnya di masa depan. Akankah dia bahagia atau tidak. Bohong bila ia tidak pernah menghayal melihat masa depannya.

Yoboseoyo, ne… aku berada di taman. Eng, chankamman.”

Setelah memutus panggilan dari handphonenya, ia kemudian beranjak meninggalkan taman kampusnya itu dengan tampang kusut. Mood yang buruk di siang hari benar-benar membuatnya panas.
“Nayang-ah, waeyo?” Tanya gadis itu sembari menepuk bahu Lee Nayang, sahabatnya.

Lee Nayang berjingkrak, ia membalikkan tubuhnya lalu mencubit kedua pipi Jinni yang chubby. “Orenmaniyeyo, aku sungguh merindukanmu!!” Pekik gadis itu girang.

Jinni mendecak, “baru dua hari, gadis penjelajah.”

“Hahaha… tapi menurutku itu sangat lama sayang. Eh, bagaimana? Kau sudah memikirkan kado yang tepat untuk kekasihmu itu?” Runtutan pertanyaan yang ditanyakan Nayang membuat Jinni terdiam.

Bagaimana ia bisa lupa tanggal ulang tahun kekasihnya sendiri? Sungguh ironis pria yang menyayanginya itu. Jinni tidak berbohong, ia memang menyayangi kekasihnya itu tapi tidak sampai cinta mati. Dan itu juga yang membuatnya menjadi cuek terhadap pacarnya sendiri.

“Aku lupa… tanggal berapa ini?”

Nayang menepuk jidatnya pelan, ia mendecakkan lidahnya sembari melirik Jinni tajam. “Neo jinjja nappeun yeoja.” Rutuk gadis itu.

“Ah geurae, dua hari lagi. Entahlah, aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Sepertinya aku sudah tidak pantas bersamanya, bukankah akan lebih baiknya hal ini berhenti sampai di sini?” Tanya Jinni.

Lagi-lagi ia membuat Nayang membelalakkan mata. Nayang tahu Jinni gadis yang cuek, tapi baru kali ini Jinni bersikap dingin mengenai hubungannya dengan salah satu senior mereka di kampus.

“Jinni-ya, ada masalah? Kau melihatnya selingkuh atau kalian bertengkar? Malhae, biar aku hajar dia!” Sahut Nayang bersemangat sembari meninju-ninju udara menggunakan kedua tangannya.

Jinni tertawa hambar, “aniya, yang kau perlu hajar adalah diriku. Aku yang tidak layak menjadi kekasihnya. Akh~ sudahlah, aku sedang tidak enak badan. Aku ngelantur terlalu banyak.”

“Jinni-ya!! Comeback to your real life!! You are Jinni who always have many positive think in your mind.” Racau Nayang sembari menggoyang-goyangkan bahu Jinni dengan erat.

Mianhae… akhir-akhir ini aku sangat stress memikirkan masa depanku Nayang-ah. Ppalli, apa kau tak sadar bahwa kita sudah menghalangi orang banyak di tengah jalan ini?”

Nayang menepuk jidatnya lalu menarik pergelangan tangan kanan Jinni dengan erat membawanya ke tempat yang paling aman, tempat yang paling nyaman agar Jinni dapat berpikir lebih baik.

@@@@

Geumanhae Jinni-ya, kau terlalu tertekan dengan ucapan teman-temanmu. Siapa mereka? Biar aku beri pelajaran. Enak saja mengataimu anak dosen yang tidak punya keahlian! Kau pelukis Jinni-ya, pelukis yang telah arang melintang di dunia seni-”

“Arang melintang apanya? Itu dirimu.” Sahut Jinni memotong ucapan Nayang yang begitu menggebu-gebu.

Nayang tersenyum kecil, “lupakan saja kata-kata tak berguna mereka. Jinni-ya, kau mau membeli apa untuknya? Dua hari lagi!! Setidaknya kau harus punya inisiatif untuk membelikannya sebuah kado istimewa.”

Molla, aku memang tahu banyak tentang dirinya. Tapi aku rasa, aku terlalu cuek sebagai kekasihnya. Lebih baik…”

Yaa!! Kau selalu saja seperti itu. Aku tahu dia pria yang bagaimana, dia tahu konsekuensinya menjadi kekasihmu. Kau memang gadis cuek berhati dingin pada covernya tapi kenyataannya kau juga adalah tipe gadis manis.”

Jinni mendesah, ia merebahkan dirinya di atas sofa kecil yang berada di aparte Nayang. Sofa yang masih terlihat baru karena jarang digunakan. Entah mengapa ia harus mengakui kata-kata Nayang barusan. Walau seperti itu, ia tidak pernah tidak memikirkan kekasihnya dalam sehari.

“Nayang-ah, sekarang temani aku ke toko baju.” Ucap Jinni pelan. Ia menggeliat pelan lalu menutup matanya perlahan.

Nayang menjentikkan jarinya semangat, “khajja khajja!!!”

@@@@

“Dia suka pakai jas tidak? Baju kaos? Atau yang lainnya?” Tanya Nayang semangat sembari memilah-milah baju yang tergantung di sebuah toko baju ternama.

Jinni menggaruk kepalanya bingung. Kekasihnya mempunyai selera yang apa adanya tapi untuk mencari hadiah istimewa seperti ini terasa sangat sulit. Ia tidak menjawab pertanyaan Nayang lalu keluar dari toko itu dengan hati yang gundah.

“Jinni-ya! Wae?” Tanya Nayang kemudian. Ia menepuk-nepuk bahu Jinni dengan lembut seakan ingin mentransferkan kekuatannya pada gadis itu.

“Aku tidak tahu, aku tidak tahu ingin memberikannya apa, aku tidak pernah tahu tentang dirinya.” Ujar Jinni sembari menggeram kecewa.

Lagi-lagi Nayang menepuk bahu Jinni lembut, gadis itu selalu menyiksa dirinya dengan berbagai tuntutan yang ia buat sendiri. Tuntutan yang seakan orang lain lontarkan untuknya. Nayang mengerti dan ia selalu ingin mengusir sifat menyusahkan itu.

Tto, lagi-lagi kau menyalahkan dirimu sendiri. Lupakanlah, bagaimana kalau kau membuat kue atau membuatkannya sup rumput laut?”

Aniya aniya, aku tidak mau menghacurkan dapurku walau aku tahu memasak keduanya. Aku ingin mencari baju musim semi saja kalau begitu,” ujar Jinni lalu memasuki sebuah toko. Nayang tertawa, sikap Jinni masih sama seperti yang ia temui dua hari yang lalu.

@@@@

“Kyuhyun-ssi…”

Jinni menutup mulutnya, matanya membulat melihat sosok di depannya. Cho Kyuhyun, kekasih yang telah membuatnya kalang kabut untuk mempersiapkan hadiah istimewa untuk dua hari yang akan datang.

Kyuhyun tersenyum, ia lalu mengacak-acak rambut gadis itu dengan lembut, “mwonde? Apa yang kau lakukan di sini? Mencarikanku hadiah?”

Nayang mendecakkan lidahnya, lalu keluar dari toko itu dengan hati yang senang. Wajah Jinni yang bersemu merah membuatnya ingin tertawa. Benar saja, Kyuhyun telah menaklukan hati dingin seorang Choi Jin Rin.

“Kau pikir apa lagi eo? Ngapain kau ke sini? Tidak kuliah huh?” Tanya Jinni dengan suara yang penuh penekanan.

“Kyuhyun-ah!! Ppali, kau mau baju yang mana?”

Jinni mengerutkan dahinya, lehernya tertarik ke atas untuk melihat orang yang telah memanggil nama kekasihnya itu dengan manja. Kyuhyun menggaruk kepalanya, “Qyane ingin membelikanku hadiah jadi aku terpaksa ikut dengannya.”

“Ya sudah, aku ingin jalan-jalan lagi bersama Nayang. Dia baru datang dari Jersey, sudah lama aku tidak menghabiskan waktuku dengannya. Aku pergi dulu…”

Oppa, aku akan menuntutmu lagi bila kau memanggilku dengan embel-embel ssi.” Kecam Kyuhyun.

Bola mata Jinni berputar, “terserahlah.” Sahutnya cuek lalu bergegas keluar. Ia kecewa! Kecewa melihat Kyuhyun berjalan bersama wanita itu. Ia mengerti hubungan dua manusia itu, tapi seringnya ia cemburu melihat Qyane yang selalu bersikap manja di depan Kyuhyun. Bahkan dirinya sendiri jarang bersikap seperti itu.

“Nayang-ah, khajja, aku tidak jadi membelikannya hadiah. Dia sudah punya banyak hadiah nantinya.” Kata Jinni sembari berjalan mendahului Nayang yang sedang memainkan tabletnya di suatu sisi mall.

Mwohae? Kyuhyun kenapa? Dia selingkuh?” Tanya Nayang sambil cekikikan.

“Tidak, dia sudah punya kekasih yang baru, yang lebih manja dan segalanya. Cha! Aku tidak mau menghabiskan uangku untuk pria seperti itu.”

Bulu kuduk Nayang meremang. Kata-kata Jinni begitu dingin dan menusuk. Kyuhyun! Seharusnya pria itu sudah dihajarnya sedari tadi. Menghajarnya dalam artian memberi nasihat. Di dalam hatinya ia terus mengumpat, menyalahkan seorang Cho Kyuhyun yang sangat bodoh.

Malhaebwa, mungkin aku bisa melabraknya lain kali.” Pinta Nayang sembari menyeruput hot moccanya.

Jinni menaikkan kedua bahunya, “molla, aku malas memperdebatkan hal yang tidak pasti. Sepertinya pemikiranku tadi siang sudah bulat, aku akan memutuskannya dan berakhir.”

Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Kata-kata yang hampir saja melumpuhkan setengah syaraf otaknya. Hatinya kacau setelah melihat wajah tak tahu malu Kyuhyun. Dari awal sudah tahu konsikuen untuk menerima pria itu sebagai kekasihnya. Kyuhyun pasti bosan padanya, sudah jelas terbaca di jidatnya. Choi Jin Rin adalah gadis yang membosankan. Sungguh fakta yang menyebalkan.

“Jinni-ya… wae? Andwae, mungkin dia hanya,”

“Hanya ingin mencoba berpacaran dengan gadis yang membosankan. Heuf~ geumanhae Nayang-ah, jangan memperburuk keadaan dengan statementmu.” Kata Jinni tajam.

Nayang terdiam. Ini titik klimaks diri Jinni yang ia benci. Ia tidak suka melihat Jinni yang kalem berubah menjadi Jinni yang suka bersilat lidah. Dan seharian ini Jinni telah mencapai titik klimaks itu. Titik yang ingin ia tendang jauh-jauh dari diri sahabatnya itu.

@@@@

Nayang menarik rambut seorang pria dengan pelan, “Cho Kyuhyun-ssi,”

“Nayang-ah!! Orenmaniyeyo! Apa kau ingin membawakan oleh-oleh untukku?” Tanya Kyuhyun girang. Nayang mengangkat kepalan tangan kanannya di udara, “mau ini eo?”

“Aish mian, aku ingin bicara padamu sunbae.” Pinta Nayang dengan menekankan kata sunbae pada Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum masam, “cepat bicaralah, ada apa dengan Jinni?”

“Dia marah padamu mengenai pertemuan kita kemarin. Dia berencana untuk mengakhiri semuanya, apa kau tidak keberatan? Apa yang sebenarnya telah kau rencanakan huh? Aku sudah pernah mengancammu untuk tidak mendekatinya dan sekarang… kau mendapatkannya tapi,”

“Jinni ingin memutuskanku? Atas dasar apa?” Tanya Kyuhyun serius.

“Dia cemburu padamu sunbei, seharusnya kau sadar itu.” Jawab Nayang keki. Rasa kesalnya benar-benar ingin ia tumpahkan melalui pukulan dahsyat tangan kanannya.

“Jinni cemburu? Yes! Aku berhasil!” Pekik Kyuhyun girang. Nayang membulatkan matanya, “mwohae? Kau senang? Yaa!!”

“Yaa!! Jinni cemburu padaku, berarti ia sayang padaku!! Kau tidak tahu betapa sulitnya aku membuatnya cemburu? Nayang-ah, tahanlah dia untuk tidak memutuskanku! Ikuti rencanaku, ara?”

Andwae, aku baru tahu kau ini keterlaluan juga. Yaa! Kau yang akan berulang tahun tapi mengapa kau yang ingin memberi Jinni kejutan? Kau ini, berapa umurmu sih.” Gerutu Nayang. Ia mendecakkan lidahnya sembari menatap tajam Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum, “aku melakukannya agar ia tidak terlalu kaku lagi di depanku. Kau tahu Nayang, aku sangat menyukainya tapi gadis itu selalu menolak perasaannya terhadapku walau kami telah mempunyai status hubungan yang pasti.”

“Kau bosan padanya?” Tebak Nayang. Kyuhyun mengangguk, “ada kalanya seorang pria akan bosan. Jinni, gadis itu kadang membuatku bosan tapi ia lebih sering membuatku penasaran. Ia gadis yang,”

“Misterius.” Koor keduanya. Nayang tersenyum mengejek, “geurae, ternyata kau sudah tahu. Aku tidak akan ikut rencanamu tapi aku akan menahannya untuk tidak memutuskanmu. Kyuhyun-ssi, thanks for understand her.”

“Jangan keluarkan bahasa asingmu, aku tidak mengerti.” Sindir Kyuhyun membuat Nayang mendesis, “lupakan sajalah.”

@@@@

3 February 2013

Jinni memaikan kuasnya di atas kanvas putihnya, di sampingnya Nayang terduduk sembari memainkan handphone gadis itu untuk mewanti-wanti pemutusan hubungan oleh Jinni lewat telepon atau pesan singkat.

“Nayang-ah, bila kau lelah kau bisa pulang duluan.” Sahut Jinni perhatian. Ia sendiri sudah lelah melihat wajah Nayang yang tidak pernah lelah menguap. Gadis itu, pasti sibuk dengan dunia blognya sejak malam tebak Jinni di dalam hatinya.

Andwae, besok lusa aku akan ke pedalaman Indonesia dan akan tinggal di sana untuk 1 bulan. Prioritasku hari ini adalah menghabiskan waktu bersamamu.” Tolak Nayang.

“Satu bulan? Pedalaman Indonesia? Kau tahan dengan sengatan matahari di sana?” Tanya Jinni skeptik.

Nayang mengangguk mantap, “warna kulitku akan lebih eksotik lalu aku akan mencari pria manis berkulit eksotik juga. Tidak seperti pacarmu yang kulitnya seperti Edward Cullen, apa dia seorang vampire?” Tanyanya pada Jinni.

Mwohae, kau aneh saja.” Jawab Jinni menahan tawanya. Pria eksotik, tipe pria Nayang memang aneh. Gadis itu lebih suka yang aneh dan tidak suka menjadi seorang yang ordinary. Lee Nayang memang gadis yang unik.

“Jinni-ya, kau tidak mengucapkan selamat untuknya?” Tanya Nayang setelah jeda yang begitu lama karena Jinni yang sibuk memaikan kuasnya.

Molla, lihatlah kotak di sebelahmu itu.” Ucap Jinni singkat lalu kembali sibuk mencampurkan warna cat airnya.

Harmonica? Kau membelikannya harmonika?” Tanya Nayang, pupilnya membesar melihat sebuah harmonika elegan di dalam kotak sedang milik Jinni.

“Dia suka musik,” jawab Jinni sembari berdehem, “aku tidak tahu mau bagaimana sekarang, ia bahkan tidak pernah menghubungiku semenjak kejadian di mall.”

Jinjja?” Tanya Nayang berpura-pura kaget. Jinni mengangguk, “bila kami benar-benar berakhir, harmonika itu untukmu saja Nayang-ah. Gwencanhaikayo?”

Andwae, kau harus berusaha untuk memberikan hadiahmu padanya. Lagipula aku tidak tahu bermain harmonika.” Gerutu Nayang membuat Jinni mengangguk pasrah.

Geurae, nanti aku simpan saja.”  Sungutnya. Nayang memutar bola matanya, ia kesal dengan sikap pasrah Jinni. Rasanya baru kemarin gadis itu memberinya semangat, namun kali ini Jinni benar-benar kembali menjadi gadis yang penuh dengan aura gelap.

“Choi Jin Rin!!”

Jinni dan Nayang terkejut, tatapan kedua gadis itu menuju pintu masuk. Kyuhyun dengan nafas yang terengah-engah membawa sebuah kotak kecil di tangannya. Nayang menarik napasnya perlahan, “Jinni-ya, aku keluar dulu.” Pamitnya lalu berjalan menuju pintu keluar.

Good luck boy.” Bisik Nayang pada Kyuhyun lalu cepat-cepat menutup pintu ruang seni. Di sepanjang koridor Nayang tidak dapat menaha tawanya. Sungguh hal yang paling ia tunggu selama hidupnya. Jinni pasti mendapatkan seorang kekasih yang sesuai dengan kriterianya! Itu dia, Cho Kyuhyun!

Di dalam ruang seni Jinni dan Kyuhyun masih tertahan di tempatnya. Keduanya tidak saling berbicara, hanya saling memandang satu sama lain dengan wajah penuh kebingungan.

Mian,” sahut Kyuhyun kemudian, ia berjalan perlahan mendekati Jinni yang terduduk di bangku favoritnya di sebelah jendela. Lukisan yang Jinni buat terhenti untuk sementara.

“Untuk?” Tanya Jinni menggantung. Ia sebenarnya tahu alasan Kyuhyun meminta maaf padanya tapi berdiam diri juga bukan respon yang bagus untuk Kyuhyun.

“Kejadian di mall tempo hari. Aku tahu kau cemburu, maafkan aku yah.” Jawab Kyuhyun cepat-cepat.

“Eo, saengil chukkae deurimnida Kyuhyun-ssi,”

Geumanhae, aku tidak suka mendengarmu memanggilku dengan embel-embel seperti itu. Geumanhae Jinni-ya, cukup sekali ini saja memanggilku seperti itu arachi?” Ujar Kyuhyun panjang lebar. Jinni menggulum senyumnya, “ini hadiahmu, mungkin tidak spesial seperti hadiah dari eonni itu.”

“Aku sudah bilang maaf bukan? Jangan kau ungkit-ungkit lagi eo?” Kecam Kyuhyun sembari mengambil tempat di sebelah Jinni. Di tangannya telah tergenggam hadiah Jinni untuknya.

“Harmonika, gomawo Jinni-ya.” Sahutnya sembari mengelus puncak kepala gadis itu. Jinni mengangkat kedua bahunya, mencoba mempertahankan tubuhnya yang terasa bergetar hebat akibat sentuhan Kyuhyun.

“Ini untukmu,” ujar Kyuhyun sembari membuka kotak kecil yang ia genggam sedari tadi. Sebuah kalung berwarna perak tergenggam di telapak tangan Kyuhyun.

“Aku tidak berulang tahun hari ini.” Kata Jinni sembari menggulum senyumnya. Kyuhyun mencibir, “cepat singkirkan rambutmu, kalung ini, jangan sampai hilang, ara?”

Cepat-cepat Jinni menyibakkan rambut panjangnya, lalu Kyuhyun memakaikannya kalung itu dengan lembut. Senyum keduanya merekah. Kyuhyun lalu mencium kening Jinni singkat, “aku tidak keberatan bila kau bersikap cuek dan dingin padaku. Asal kau selalu membuatku penasaran, aku tidak akan pernah merasa bosan tentangmu.”

“Eo, tapi aku keberatan bila kau terlalu dekat dengan wanita lain. Mian, aku tidak dapat bersikap manja,” kata Jinni sembari memainkan kuasnya di atas cat air.

Kyuhyun tertawa, inilah yang membuatnya dapat bertahan dengan gadis unik itu. Choi Jin Rin adalah gadis yang tidak suka memperlihatkan perasaannya pada orang lain, sikapnya itulah yang terkadang membuatnya penasaran. Jinni terlalu menarik menurutnya.

Jinni tersenyum kecil, ia menendang kaki Kyuhyun dengan pelan. “Ini hadiah keduaku,” ucapnya sembari menunjuk lukisannya kepada Kyuhyun.

“Itu… aku?”

Jinni mengangguk, “awalnya ingin menyelesaikannya dengan wajah yang full, tapi setengah juga bagus menurutku. Bagaimana menurutmu oppa?”

“Menurutku aku tetap tampan dari sisi apapun.” Kyuhyun tertawa sedangkan Jinni hanya memutar kedua bola matanya, “oppa…”

Naneun…”

Saranghamnida…” ucap Kyuhyun memotong kata Jinni , ia lalu tersenyum lebar pada gadisnya itu.

Gomawo nae sarang…”

END

P.s:

kyaa~~ maybe you want to ask me why i do have so much fanfic about Kyuhyun than the others?

My bestfriend is a Kyu’s fangirl and i decide to make some fanfic for her. Dozou, bit upset, cause i don’t really know about Kyuhyun manners in front of a women (who he loved). Then Happy Birthday for Cho Kyuhyun (3 February 2013).

생길 축하해요!! 우리 막내 에필 초 규현. 사랑하는 우리 막내!!! ♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s