Love Is Wind

Love is wind. Can’t see it but can feel it.

Juyeon mengerjapkan kedua matanya saat kilatan-kilatan lampu mengarah padanya. Ia tidak pernah berpikir bahwa hidupnya akan menjadi seperti ini dalam waktu kurang lebih 3 menit.
Tiga menit yang lalu ia masih bisa bernafas dengan tenang, masih dapat melihat langit malam yang gelap, masih bisa merasakan dinginnya suhu di musim dingin. Namun, tiga menit kemudian dunianya terasa runtuh. Keringat dinginnya keluar tanpa dikomando walau angin terus bertiup dengan kencang.

Lee Donghae Super Junior Berkencan!

Beberapa wartawan berkumpul di depannya, memantulkan kilatan-kilatan cahaya dari camera besar yang mereka bawa. Di sampingnya, seorang pria dengan scraft biru menggenggam tangan kanannya dengan erat. Ada apa gerangan? Ia bertanya-tanya walau mengerti apa yang telah terjadi dalam waktu sesingkat itu.

Jwesonghaeyo…” pria itu menundukkan kepalanya lalu membawa Juyeon menembus kerumunan wartawan yang menghalangi jalan mereka.

Juyeon terdiam, ia mengikuti arah jalan pria itu ke dalam basement parkir. Ia tidak berani bertanya, walau hatinya terus berkecamuk dengan tanda tanya.

Mianhae Juyeon-ah.” Ucap pria itu dengan suara parau. Juyeon tahu apa yang ada dipikiran pria itu sekarang, ia menggumam, “eo, aku mengerti Donghae-ssi.”

Donghae, pria itu terkesiap. Ia berbalik, menatap manik mata Juyeon yang bersinar di bawah temaram lampu basement. “Apa yang kau mengerti?” Tanyanya pelan.

“Ini… ketidaksengajaan. Aku mengerti, kau tidak perlu takut. Aku bisa menjaga diriku. Uljimayo,” jawab Juyeon sembari tersenyum kecil.

“Juyeon-ah, apa lagi yang ada di otakmu eo? Kau tidak mengkhawatirkan dirimu sendiri? Wae?” Tanya Donghae khawatir. Ia mengeratkan genggamannya pada tangan kanan gadis itu.

Desahan nafas Juyeon keluar dari mulutnya, ia menatap Donghae dengan mata sipitnya yang indah seakan ingin memberi tahu kepada pria itu bahwa perasaannya telah berkecamuk dengan segala kekhawatiran yang ditimbulkan keduanya kini.

“Aku akan pergi. Lagipula gosip seperti ini hanya akan bertahan dalam kurun waktu seminggu, setelah itu aku akan kembali ke Seoul.” Jelasnya lalu menarik tangannya dari genggaman Donghae. Ini jelas salah, Donghae seharusnya tidak menggenggam tangannya ketika keluar dari kerumunan wartawan tadi.

Kajima…” sahut Donghae.

“Juyeon-ah, aku tidak mau kau meninggalkanku.”

@@@@

Cinta itu seperti angin. Benarkah? Pertanyaan itu memenuhi otak Juyeon dalam seminggu ini. Kini ia tengah berdiam diri di sebuah aparte di Mokpo, meninggalkan rutinitasnya sebagai fotografer di Seoul karena kejadian ‘kencannya’ dengan Donghae.

Tentu saja ia tidak berkencan. Donghae hanyalah seorang teman dan kala itu secara tidak sengaja bertemu di salah satu mall besar di Seoul. Mereka lalu berjalan bersama tanpa ada unsur kencan. Tetapi kejadian itu cepat dicium oleh wartawan, dan akhirnya gosip yang tidak benar muncul di antara keduanya.

Cinta. Juyeon mulai memikirkannya setelah Donghae mencurahkan isi hatinya di basement parkir. Ia ingat kata-kata Donghae yang menyatakan bahwa pria itu menyukainya, mencintainya. Ia tidak pernah tahu bahwa pria bermata sendu itu mempunyai perasaan terhadapnya.

“Aku tidak punya alasan. Aku menyukaimu… hatiku merasakannya walau kau tidak melihatnya. Aku menyukaimu Juyeon-ah,”

Definisi angin. Tidak dapat dilihat tapi dapat dirasakan. Itulah yang Donghae rasakan terhadap dirinya. Tetapi, apapun yang Donghae katakan padanya ia tetap tidak percaya. Mereka baru berteman beberapa bulan yang lalu, dan apakah hal itu masih rasional?

Hajima,” ia mendesah berat. Matanya menatap ke luar jendela dari aparte minimalisnya. Desiran ombak dan salju memenuhi penglihatannya.

TING TONG!

Juyeon berdiri, melangkahkan kakinya ke arah pintu. Matanya mengintip keluar apartenya. Seorang pria bertopi dan berscraft hitam berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantung mantel. Juyeon menyentuh dadanya yang tiba-tiba bergerumuh tidak karuan.

Itu Lee Donghae! Pekiknya dalam hati. Siapa lagi dengan style pakaian seperti itu? Pikirnya. Ia tentu ingat bagaimana style pria itu. Sebagai fotografer ia tentu sering memperhatikan model-modelnya. Walau bukan seorang pengamat fashion ia tetap harus tahu gaya fashion yang sesuai seorang model potretannya.

TING TONG!

Juyeon terkesiap, dengan pelan ia membuka pintunya hingga menimbulkan celah kecil di antara dua ruangan berbeda itu. Donghae, pria bertopi hitam itu mendekatkan wajahnya pada celah itu membuat Juyeon harus menahan nafasnya karena jarak yang begitu dekat dengan keduanya.

“Juyeon!” Sahut Donghae sembari tersenyum lebar.

Nugu?” Tanya Juyeon pura-pura tidak tahu. Ia menyipitkan matanya, menatap wajah pria itu dengan tajam.

Hajima, kau tahu siapa aku!” Jawab Donghae sebal lalu mendorong pintu aparte hingga terbuka lebar.

Tanpa dikomando, pria itu masuk ke dalam aparte minimalis itu lalu menutup pintu aparte dengan rapat. “Ahhh… dinginnya.” Gumam Donghae sembari menggosok-gosok telapak tangannya.

“Dari mana kau tahu aku ada di sini eo?” Tanya Juyeon keki sambil berjalan menuju dapur yang tersambung dengan ruang tamu.

Android map. Kedua handphone kita terhubung oleh aplikasi itu. Tidak sia-sia aku memasukkan dirimu ke dalam daftar lokasi.” Jawab Donghae girang.

Juyeon menepuk dahinya kesal. Bodoh! Rutuknya. Bagaimana bisa ia melupakan kenyataan itu! Seharusnya ia tahu apa yang dilakukan Donghae ketika meminjam handphonenya beberapa waktu yang lalu.

“Apa yang membawamu kemari?” Tanya Juyeon sembari menyodorkan susu cokelat panas yang ia buat tadi kepada Donghae.

Donghae menerimanya lalu menyesapnya dengan pelan, “dirimu.” Jawabnya singkat.

“Bagaimana perkembangan Super Junior?” Tanya Juyeon mengindahkan jawaban Donghae yang mengarah padanya.

Mata sendu Donghae membinar, ia menatap Juyeon dengan senyum tipis di wajahnya, “Kembalilah, Seoul sudah aman.”

Juyeon menahan nafasnya, tatapan Donghae tepat ke arah matanya. Mata sendu itu penuh dengan kerinduan. Apa Donghae benar menyukainya? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di kepalanya. “Andwae, Seoul masih belum aman. Kembalilah sebelum wartawan menemukanmu di sini.”

Hembusan nafas Donghae terdengar berat, ia mengalihkan tatapannya ke arah cup susu panasnya. “Aku menyukaimu Juyeon-ah, backstreet seperti Shindong hyung. Aku tahu lama-kelamaan pasti fans terbiasa dengan hal itu.”

Mata Juyeon terbelalak, “Kau mengatakan hal itu seakan aku menyukaimu juga. Aku belum mengatakan apa-apa tentang perasaanku padamu.” Ujarnya tajam. Donghae mendesah, “Cinta itu seperti angin. Kau tidak melihatnya tapi aku merasakannya.”

“Kau merasakan apa? Aku bahkan tidak pernah memperlakukanmu dengan spesial. Donghae-ssi, hajima. Kau modelku, aku fotografermu. Kita hanya partner kerja.”

Donghae mengelak, ia menatap mata Juyeon dalam, “Matamu menyukaiku.”

“Aku pergi seperti apa katamu. Ingat, aku menunggu kesadaranmu. Aku menunggu kejujuranmu terhadap perasaanmu padaku. Aku lebih peka daripada dirimu Juyeon-ah. Sehausnya kau bisa lebih jujur pada dirimu sendiri.” Jelas Donghae lalu melangkah keluar aparte tanpa senyum lebar yang selalu ia perlihatkan pada Juyeon.

Juyeon mengacak rambutnya frustasi. Kenapa Donghae jadi marah padanya?

@@@@

“Donghae-ssi! Pertajam sisi manlymu jangan tatap kamera dengan mata seperti itu!”

“Donghae-ssi! Fokuslah!!”

Beberapa kali Juyeon harus menggertak modelnya itu dengan kesal. Donghae selalu melakukan kesalahan dalam pemotretannya kini. Setelah beberapa minggu lalu Juyeon akhirnya memutuskan untuk kembali ke Seoul, melaksanakan kewajibannya sebagai seorang fotografer khusus SM Entertainment.

Juyeon dapat melihat wajah Donghae yang kesal. Mata Donghae seperti tokoh komik antagonis walau Juyeon tahu pria itu lebih ingin menangis daripada marah. Ia lalu mendesah, “Break 10 menit!”

“Kau punya masalah? Sedari tadi Donghae melakukan yang terbaik tapi kau terus menegurnya. Kenapa?” Tanya seorang penata lampu.

Mata Juyeon melebar, “Geuraeyo? Apa kau tidak salah lihat? Ia tidak merasa nyaman dengan pakaiannya, wajahnya tidak fokus.”

Penata lampu itu mendesah, “Aku pikir ia telah melakukan yang terbaik. Jangan terlalu banyak pikiran Juyeon-ssi.” Ujarnya lalu meninggalkan Juyeon yang kini asyik beragumen dengan dirinya sendiri.

Benarkah itu? Pikirnya. Ia lalu mengambil laptopnya dan melihat beberapa foto yang telah ia ambil sebelumnya. Masih sama, Donghae memperlihatkan wajahnya yang merasa tidak nyaman dengan pakaian yang ia pakai. Ia mendengus, penata lampu itu yang salah lihat bukan dirinya.

Ia melirik jam tangan yang melingkar di lengan kirinya. Sudah 5 menit waktu berlalu. Tatapannya mengedar ke seluruh studio. Beberapa coordi masih sibuk dengan wardrobe.

Coordi eonni!” Panggilnya pada seorang coordi. Coordi itu menghampirinya, “waeyo?”

“Tidak ada pakaian yang lain? Donghae sepertinya tidak nyaman.” Tanya Juyeon. Coordi itu menggeleng, “hanya satu stel Juyeon-ah.”

Juyeon mengangguk paham, diliriknya Donghae yang tengah mengetuk-ngetuk cup hot moccanya dengan risau. “Donghae-ssi, hanya sekali ini… paksakan kenyamananmu!” Pekiknya.

Donghae meliriknya, ia tidak tersenyum malah menatap Juyeon datar. Juyeon mendengus, pandangannya beralih pada laptop. Di dalam hatinya, ia terus merutuk tingkah Donghae yang beberapa minggu ini makin mengesalkan. Bukannya bersikap manis di depannya, pria itu malah bersikap seperti peran antagonis dalam anime-anime Jepang.

Semangat saja Juyeon-ah! Inilah tantanganmu sebagai fotografet orang-orang sombong.

@@@@

Chankkamman…”

Donghae menahan lengan Juyeon, mengenggamnya dengan erat. Juyeon menatap Donghae datar walau jantungnya mulai berdetak tidak jelas. Entah mengapa ia merasa aneh dengan seluruh perlakuan Donghae padanya.

“Temani aku sebentar saja, aku tidak bisa mengajak Eunhyuk karena ia harus mengurus para trainee. Dan selain dia, hanya kamu yang bisa menemaniku. Jebal.”

Juyeon mendesah, “Mengapa harus aku?”

“Ikuti saja apa mauku ok? Khajja!” Kata Donghae lalu menarik gadis itu menuju basement parkiran.

“Kita ke mana?” Tanya Juyeon setelah memasang seat beltnya. Ia merutuki Donghae yang masih tidak pede dengan kemampuan menyetirnya. Alhasil, Juyeonlah yang harus menyetir.

“Sunghai Han. Pakaianmu tebal kan? Aku tidak mau kau kedinginan di sana karena aku tidak membawa jaket tebal.” Oceh Donghae membuat Juyeon terperangah.

“Jangan banyak mengoceh, aku tidak bisa lama-lama di sana. Jadi, jangan buang waktuku dengan ocehanmu itu.” Sindir Juyeon lalu menginjak gas.

Sepanjang jalan Donghae tidak banyak berbicara, matanya menyapu bersih jalanan Seoul yang sepi di malam hari. Tidak terlalu sepi sebenarnya tapi cuaca terasa sangat mencekam di malam musim dingin itu.

Tak butuh waktu lama, mereka sampai di sungai Han yang airnya mulai membeku karena suhu yang makin menurun. Donghae menarik Juyeon untuk duduk di sebuah bangku, mereka terdiam cukup lama.

Wae irae? Apa tujuanmu ke sini Donghae-ssi?” Tanya Juyeon kemudian. Ia melirik Donghae yang sedang tersenyum menatap sungai Han.

“Juyeon-ah mian, aku tidak sengaja bersikap dingin padamu. Aku sebenarnya marah karena kau tidak pernah jujur atas perasaanmu sendiri.” Ujar Donghae membuat Juyeon terdiam.

“Cho Juyeon. Sampai kapan kau bisa bertahan bila terus seperti itu? Apa kau tidak takut kehilangan diriku?” Tanya Donghae, ia melirik Juyeon yang wajahnya menegang.

“Kau, hatimu dan jiwamu selalu mengesampingkan soal ini. Tapi, apa kau sadar? Kau telah melukai orang-orang yang sudah menaruh harapan besar terhadap perasaanmu?” Lanjutnya.

“Berhentilah Donghae-ssi. Aku tidak suka arah pembicaraan ini. Lagipula aku tidak mempermasalahkan tingkah konyolmu itu padaku.” Kata Juyeon tajam.

Donghae menatap Juyeon dengan mata sendunya, “Jujurlah padaku Juyeon-ah. Katakan bahwa kau menyukaiku, setelah itu aku jamin aku tidak akan mengganggumu.”

“Donghae-ssi! Hajimarayo! Kenapa kau terlalu mengurusiku eo?” Tanya Juyeon menekankan seluruh kata-kata yang dikeluarkannya.

“Aku menyukaimu, menaruh seluruh perhatianku padamu dan aku ingin kau jujur pada dirimu sendiri. Kau sudah terlalu kacau dengan pola hidup workaholic mu Juyeon-ah.” Jawab Donghae tenang.

Ia lalu berdiri dari duduknya, menarik kedua lengan gadis itu untuk ikut berdiri. “Khajja, aku sudah puas. Apa kau kedinginan?”
Sentuhan lembut Donghae pada kedua lengen Juyeon mengerat. Ia lalu menarik gadis itu menuju mobil dan membukakan pintu kemudi untuknya.

“Sampai kapanpun kau tidak bisa lari dari takdir, dan aku akan terus berusaha mengejar takdir itu.” Kata Donghae pada Juyeon.

@@@@

“Aku pulang!!” Pekik Donghae sembari memeluk tubuh Juyeon dengan erat. Juyeon membelalakkan matanya, ia terkejut mendapat surprise hug dari Donghae yang baru saja menginjakkan kaki di apartenya.

Juyeon tidak bereaksi apa-apa, ia menunggu Donghae yang masih saja melingkarkan tangannya di leher gadis itu seakan mereka adalah sahabat kecil yang baru saja bertemu untuk sekian lamanya.

“Kau merindukanku kan? Iya kan? Uwah~ udara Taiwan sama dinginnya dengan Korea.” Oceh Donghae sambil melompat-lompat girang.

Ia lalu menggenggam kedua bahu Juyeon dengan erat, menatap mata gadis itu untuk beberapa detik. “Matamu mengatakan hal yang sama, kau merindukanku Juyeon-ah.”

Juyeon mendengus, apa benar itu? Jantungnya memang selalu berdetak kencang bila Donghae berada di dekatnya namun menurutnya hal itu masih belum menunjukkan sesuatu yang lebih.

Keduanya lalu terduduk di depan televisi yang menayangkan sebuah acara komedi. Donghae tidak berhenti tertawa karena gag concert itu, membuat Juyeon sebal padanya.

“Cinta tidak dapat dilihat tapi dapat dirasakan dan cinta dapat pergi pada waktu-waktu tertentu.” Gumam Juyeon membuat Donghae mengalihkan perhatiannya kepada gadis itu.

“Dan aku akan pergi bila aku benar-benar menyerah.” Sahut Donghae. Juyeon melirik Donghae sinis, “berarti kau payah.”

“Apa ini berarti kau telah mengakui bahwa kau menyukaiku?” Tanya Donghae kemudian.

Juyeon terperangah, “Bukan begitu! Hanya saja… hanya saja kau pria payah yang dengan mudahnya menyerah atas apa yang ingin kau capai.”

Senyum Donghae tampak sumringah, “Secara tidak sengaja kau menyuruhku untuk terus meraih cintamu.” Ujarnya membuat Juyeon menggumam sinis.

Geundae, wanita Taiwan seperti apa? Aku penasaran,” Tanya Juyeon mengalihkan arah pembicaraan.

Tawa Donghae pecah, “Kau penasaran karena kau menonton acara kami di youtube kan? Juyeon-ah, aku hampir berhasil!”

“Lupakanlah. Aku tidak penasaran.” Sahut Juyeon malas.

Di dalam benaknya Juyeon berusaha mengkontrol kata-katanya. Ia tidak tahu mengapa otak dan hatinya berhasil menyimpulkan pertanyaan-pertanyaan bodoh itu. Apa Donghae benar? Apa ia mulai membuka hatinya untuk seorang Donghae?

“Kau memikirkan apa?” Tanya Donghae sembari menatapnya penasaran. Acara komedi yang ia tonton tentu teralihkan atas sikap Juyeon.

“Tidak ada.” Sahut Juyeon sembari mengangkat kedua lengannya ke udara. Ia menguap lebar dan menidurkan kepalanya pada lengan sofa.

Jelas-jelas ia tengah beragumen dengan dirinya sendiri. Mengatakan ya atau tidak pada perasaannya yang terasa tidak jelas itu. Ia suka dengan Donghae tapi dalam batasan apa?

“Juyeon-ah, baru kali ini aku bertemu dengan gadis yang selalu mengesampingkan perasaannya. Biasanya seorang gadis selalu menuntut dan menuruti perasaannya. Tapi kau tidak, kau terlalu tabu atas perasaan.” Kata Donghae kemudian.

“Dan kau adalah pria yang sangat tahu tentang perasaan. Benar-benar hebat.” Sindir Juyeon. Donghae tertawa kecil, “bila aku bersikap ceroboh maka aku akan kehilangan. Jadi lebih baik aku harus mengerti perasaanku sendiri.”

Juyeon terkesiap. Donghae benar.

@@@@

Juyeon memeluk seorang pria dari belakang. Ia menyandarkan kepalanya di punggung besar pria itu seakan disitulah ia bertumpu.

“Maaf telah menunggu lama. Sekarang, kau tahu jawabanku bukan?” Tanya Juyeon dengan senyum lebar menghiasi bibirnya.

Salju mulai menipis, beberapa tumbuhan mulai tumbuh untuk menyambut musim semi. Sudah 1 bulan lamanya Juyeon berusaha membuka hatinya akan satu sosok pemaksa. Namun, ia juga tetap bersyukur, karena paksaan itu ia pun sadar akan sifat dinginnya terhadap perasaan.

“Cho Juyeon! Aku menang dan kau kalah secara terhormat. Terima kasih telah membuka hatimu.” Ujar Donghae kaku. Ia berbalik, menggenggam kedua tangan Juyeon dengan erat.

“Kau payah. Kaku sekali!” Geram Juyeon sembari menggembungkan pipinya.

Donghae tertawa, jarang sekali ia mlihat gadis itu bersikap manis seperti itu. “Geurae, aku mencintaimu Juyeon-ah. Dan maaf, aku akan membuatmu merana untuk hari-hari ke depannya.”

Juyeon mendesis, “Aku mencintaimu tapi bukan berarti ingin menjadi pacarmu. Lagipula aku belum mencintaimu sepenuh hati. Jangan terlalu pede!”

“Yaa!”

“Cinta itu seperti angin. Tak dapat dilihat tapi dapat dirasakan, dapat pergi pada waktu-waktu tertentu dan bukan berarti kita memilikinya.” Ujar Juyeon sambil menyunggingkan senyumannya.

“Aku tidak mau jadi pacarmu, tapi aku akan menunggumu untuk menjadi seolmate ku. Lagipula, aku tidak suka backstreet, aku tidak mau merana atas sikap fansmu.” Lanjutnya membuat Donghae mengerucutkan bibirnya.

“Sudahlah, yang penting kau milikku.” Sahutnya lalu merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.

Love is wind. But actually Love is everything that we can imagine it as something we thinking about.

P.s:

A few days ago i asked ma friend on Kakaostory about love. And one of their argument was, Love is wind, we can’t see it but we can feel it. Then, her argument gave me an imagination to make a fanfic like this.

Sorry, i’m still studying to make a good story (plot and the climax). Thanks for reading ^^

4 thoughts on “Love Is Wind

  1. aku suka pendiskripsian cinta di ff ini,,
    love is wind. but actually love is everytìng that we can imagine it as something we thinking about,,

    di ff ini cinta donghae gak langsung terbalas, itu cerita cinta yg normal, karena cinta ga mungkin akan selalu langsung terbalas, aku suka,.:o

    • Terima kasih banyak sudah baca ^^

      Iya, temenku yang ngasih quote-quote itu. Jadi inspirasi buat ff seperti ini hehe. Once more, Gamsahamnida~~ (_ _)😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s