Awareness

Mengapa orang itu bahagia? Mengapa hidupnya terlihat sangat menyenangkan?
Dapatkah saya mendapatkan hidup sepertinya?

Terlalu banyak kata sesal di otak saya kini. Tidak lagi mempermasalahkan sebuah quote yang berbunyi, “Don’t be regret.” Just feel that today i have to be regret! Menyesal! Orang-orang melarang dirinya sendiri untuk menyesal, tapi tidakkah ia tahu? Menyesal itu sebenarnya baik sebagai peringatan dini dari sebuah permasalahan diri.
Saya sering merasa kesal, iri dan menyesal bila melihat teman-teman lama saya kini terlihat sangat bahagia dan -seperti- telah mencapai suatu hal yang memang ia inginkan sejak dulu. Saya? Ada beberapa hal yang tercapai tapi hanya segelintir dan membuat saya selalu merasa iri pada orang lain.

Tapi, bukankah iri adalah hal umum?

Salahkan saya merasa iri? Jawabannya tidak. Lagi-lagi saya sadar, suatu hal yang dikatakan orang tidak benar terlihat cukup benar di otak saya. Bagaimana pun juga, keirian saya memiliki fungsi yang baik dalam memacu pompa semangat untuk meraih suatu hal yang lebih dari orang lain.

Namun, terkadang saya jatuh bila pompa itu tak lagi mempunyai ‘seorang’ pemompa. Seorang pemompa yang saya maksud adalah orang-orang yang mampu menyadarkan saya dan menasehati saya untuk melihat jelas apa yang saya inginkan dan apa yang akan saya hadapi di depan sana.

Pernah saya berkata, “Bersikap sok bijak di depan orang lebih mudah daripada bersikap sok bijak pada diri sendiri.”

Sikap saya yang seperti itulah yang membuat saya lupa akan masalah sendiri. Percaya atau tidak, itulah kenyataannya. Biasanya orang dapat mengetahui sendiri masalah apa yang ia hadapi, namun saya tidak. Leletnya, orang lainlah yang memberitahukan saya.

Sungguh miris dan aneh. Memang enak menasehati orang lain daripada diri sendiri. Seperti kata bapak saya, “There’s a big wall in your succes way… lose your frighten and be brave to control your way!!”

Saya punya masalah besar dalam menghadapi kehidupan ini. Masalahnya adalah ketakutan dan waktu. Saya tipe gadis yang penakut akan beberapa hal -penting- dan selalu merasa waktulah yang datangnya tidak tepat. Mungkin, teman-teman tidak tahu apa yang saya takuti, terlepas tingkah saya yang ‘enak-enak’ saja. Tapi, yah… saya hanyalah manusia biasa yang juga punya ketakutan akut.

Mungkin, terlepas dari penyadaran ini saya akan berusaha untuk melepaskan big wall itu dan akan mencari lebih banyak pengalaman bersosialisasi di dunia nyata seperti kata mas senior yang sudah saya anggap sebagai brother saya tadi malam. (Makasih nasihatnya mas!)

Yah… terkadang kita selalu mengingat masa lalu dan merasa tak perlu bangkit hari ini karena menurut kita, waktu sedang tidak tepat. Tapi, apa salahnya kita menyelewengkan waktu dan berusaha segera?

Semangat!

P.s

Terima kasih banyak para penasihat yang saya sayangi. Bapak, mama, kakak sapiku dan 2 big brother tanpa sebutan nama :p
Saya tidak pernah menyadari masalah saya sendiri tanpa nasihat kalian. Salam sayang!! :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s