Lima

Ody menghentakkan kakinya dengan tenang di atas lantai marmer bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Matanya mengarah luas keluar jendela besar yang berada di ruang tunggu. Ada beberapa pesawat yang ia lihat tengah terparkir di landasan. Headphone berwarna merah muda mencolok tertempel di kedua telinganya. Style gadis itu benar-benar aneh tapi mengagumkan.

Ia menggunakan jaket tebal sneakers berwarna biru, celana jeans berwarna lapuk dan sepatu sneaker putih. Gayanya terlihat ribet tapi cukup keren untuk ukuran seorang wanita remaja.
Beberapa kali ia mengecek handphone nokia express music-nya yang tidak juga menunjukkan kehidupan. Sudah lama ia tahu kejadian yang ia alami hari ini akan terjadi. Berangkat ke sebuah tempat entah-berantah yang belum pernah ia pijaki sebelumnya.

Ia ingat, beberapa bulan sebelum ujian akhir sekolah ayahnya memperlihatkan sebuah peta lewat android map tabnya, peta yang memperlihatkan denah tempat kerja ayahnya di kota yang bernama Baubau.

Wajahnya tampak bersemangat kala itu, secara tidak sadar ia sendiri yang berdoa agar dengan segera melihat suasana kota itu. Namun, setelah melihat air wajah sahabatnya setelah berpisah ia pun merasa tidak rela dan ingin memutar waktu kembali.

Penyesalan selalu datang diakhir. Ia ingat kata mutiara itu, dan kini ia pun merasakannya. Sengkang, kota yang telah ia tempati selama 3 tahun itu telah banyak memberikannya kesan manis, sekaligus sebuah hadiah persahabatan yang ia yakini takkan tergerus oleh waktu maupun tempat.

Kabupaten Wajo, tepatnya Kota Sengkang yang berada di provinsi Sulawesi Selatan adalah kota ke-4 yang menjadi kisah menarik hidupnya. Ody tidak pernah menyesal menjadi anak nomaden yang kerjanya terus beradaptasi, ia malah bersyukur karena mendapatkan banyak teman dan juga pengalaman menarik selama hidupnya.

“Ayo berangkat!”

Ody tergelak, wajah ayahnya yang mulai memunculkan kerutan itu menatapnya dengan senyum tipis yang terkembang, beliau menenteng sebuah jas hitam katun pada tangan kirinya.

“Sekarang?” Tanya Ody sembari melepaskan headphonenya. Ayahnya mengangguk, “Makanya jangan putar musiknya dengan volume keras. Cepat!”

“Ah, ayo ayo!!” Pekik Ody lalu menarik koper mininya. Ia dan ayahnya berjalan cukup cepat, menaiki sebuah eskalator lalu masuk ke dalam subway diikuti oleh beberapa penumpang lainnya.

Jantung Ody berdetak cukup kencang. Ada rasa takut yang menelusup di dadanya. Akankah hari-harinya di Kota bernama Baubau itu akan lebih baik?

@@@@@

Entah sudah berapa menit Ody menghabiskan waktunya melihat pemandangan cantik di lewat jendela pesawat. Ia bahkan sempat menerka-nerka nama gunung yang ia lihat. Di sebelahnya, ayahnya tengah mengobrol dengan seorang pria beretnis Tionghoa.

Pria itu terdengar sangat cerewet menceritakan liburannya yang akan ia lewati di daerah Sulawesi Tenggara. “Waduh! Saya nggak tahu ini, mau cari apa di Kendari. Kalau Bali saya sudah bosan juga.” Jelasnya membuat Ody mendesis dalam hatinya.

Pantas mungkin untuk pria kaya sepertinya. Lalu Ody berpikir, ia pernah mencari tempat menarik yang sempat ia browsing di internet mengenai Sulawesi Tenggara.

“Wakatobi!” Sahutnya membuat pria itu terdiam sesaat.

“Apa itu? Pantai itu yah? Aduh, saya bosan deh.” Ujar pria itu membuat Ody mengatupkan bibirnya. Ia tidak tahu lagi mau berkata apa pada pria itu.

Mata Ody kembali menelusuri pemandangan yang memperlihatkan daratan hijau nan cantik. Pikirannya kembali bernostalgia menikmati perjalanannya ke Sengkang menggunakan mobil avanza hitam. Mobil hitam itu membelah hutan Camba yang bertebing curam, melewati berbagai pemandangan cantik sawah dan kebun semangka di sebuah desa kecil. Akankah ia mendapatkannya di Kota Baubau?

“Nah, sudah mau sampai.” Sahut ayahnya. Ody pun membelalakkan matanya saat melihat dataran cokelat yang tandus diluar jendela.

“Itu Kendari?” Tanya Ody hati-hati. Ayahnya mengangguk, “sudah dibilang, Kendari itu tandus, gersang.”

Ody mengangguk-anggukkan kepalanya patuh. Berbagai pertanyaan mulai memenuhi benaknya. Tandus? Apa itu artinya suhu Kota Kendari cukup tinggi? Oh tidak! Ia tidak suka sengatan matahari.

@@@@@

“Kaya ini nah Kendari. Tanduslah, tapi nikmati haja…” tawa seorang pria yang rambutnya telah ditumbuhi uban.

Om Bahri, pria itu adalah kawan ayahnya, sekaligus tetangga ayahnya di sebuah Kampung di Kalimantan Selatan. Pria itu menggunakan aksen Banjar yang sangat kental yang membuat Ody menahan tawanya karena saking rindunya dengan aksen itu.

Mata Ody bak penjelajah, ia menatap jalanan tandus dengan tatapan intimidasi sekaligus suara decakannya yang merasa payah dengan keadaan kota itu. Bukan ingin menjelek-jelekkan, ia hanya tidak mengerti dengan pemerintah yang seakan acuh untuk memperindah tempat itu.

Akhirnya setelah setengah jam ia bergelut dengan hawa panas di dalam mobil, ia dan ayahnya pun sampai di sebuah hotel. Hotel yang berada di bangunan tua itu berwarna abu-abu, ornamen-ornamen yang terlihat menghitam makin menguatkan argumen bahwa hotel itu sudah berdiri puluhan tahun.

Wajah Ody sumringah, akhirnya ia dapat beristirahat dari perjalanan barunya.

@@@@@

“Mie Aceh!” Seru Ody semangat sembari mengangkat buku menu ke udara.

Ayahnya tersenyum, “saya pesan mie Aceh dan mie kuah. Minumnya es teh dan kopi.” Ujar beliau pada seorang pria berkulit hitam manis.

Pria itu lalu mengangguk, mencatat pesanan kemudian berlalu ke dalam dapur transparan yang berada tak jauh dari tempat Ody dan ayahnya.

“Besok sore kita berangkat ke Baubau naik kapal cepat, jadi persiapkan barang-barangmu yah Dy,” ujar ayahnya membuat Ody menganggukkan kepalanya.

Matanya tidak beralih menatap gantungan handphone bergambar anggota Super Junior pada nokia express music-nya. Ia ingat akan titik utama rasa senangnya untuk segera pindah ke Kota Baubau. Korea Selatan!

Kebetulan di Kota Baubau ada sebuah suku yang menggunakan hangeul atau abjad Korea sebagai metode penulisan tradisional mereka. Dan seperti yang ia baca dalam sebuah artikel, mahasiswa Korea Selatan setiap tahunnya akan mengunjungi Kota itu hanya untuk melihat perkembangan penggunaan hangeul di suku tersebut. Angan-angannya akan tercapai untuk bertemu dengan orang Korea. Yah, angan-angan Ody yang sangat menggemari budaya Negeri Ginseng itu.

Ody melamun, ia harap artikel itu benar dan akan membuatnya betah untuk tinggal di sana. Lamunan Ody terhenti saat bau cabe menyeruak di hidungnya. “Mi Aceh!!” Pekiknya senang lalu menyantap Mie berwarna kemerahan itu dengan hati-hati.

@@@@@

“Mie Acehnya nggak kuhabisin… pedes banget! Lain kali Kak Ori ke sini yah, ntar kita makan Mie Aceh!” Seru Ody semangat pada ganggang handphone ayahnya.

“Ya iya… jadi kamu di mana sekarang?” Tanya Ori, kakak Ody yang sekarang menetap di Makassar untuk menempuh kuliahnya.

“Di pelabuhan, tunggu kapal cepat mau ke Baubau. Yuhuuu~~” jawab Ody semangat membuat ayahnya, serta seorang paman yang diketahui Ody sebagai partner kerja ayahnya terkikik geli melihat tingkah childishnya.

“Semangat banget sih! Woy! Mana Ayah?”

“Emang! Nih ayah,” ujar Ody sembari memberi handphone pada ayahnya. Ody sudah tidak memperhatikan pembicaraan itu dan lebih memilih menghabiskan waktunya untuk melihat-lihat keadaan pelabuhan mini itu.

Mata Ody berkedip beberapa kali setelah melihat seorang pria berbaju rombeng. Pada kedua tangan pria itu terdapat beberapa majalah yang membuat hati Ody berdegup tidak karuan.

“Mas!” Sahut Ody membuat pria itu melangkah mendekatinya dengan senyum pasta gigi berharap jualannya akan dibeli oleh Ody.

“Yah, mau yang mana dek? Ini nih berita baru, ada tabloid ini itu.”

“Ini! Aku mau yang ini. Dua belas ribu kan?” Tanya Ody sembari mengambil salah satu majalah yang pada wallpapernya memperlihatkan beberapa pria sedang berpose menggunakan pancoat kucing.

Pria itu mengangguk lalu menerima uang tunai yang diberikan Ody. “Makasih…” sahut Ody acuh lalu tenggelam ke dalam dunianya.

Tiba-tiba Ody tersentak. Ayahnya telah berdiri di hadapannya sedang menenteng jas katun dan tas pakaiannya, “Ayo!”

Lantas kata itu membuat Ody kalang kabut. Ia lalu menarik koper berpita merah mudanya dan berjalan meninggalkan ruang tunggu pelabuhan untuk menaiki sebuah kapal cepat yang kini terlihat ‘Wah’ di matanya.

Beberapa kali Ody berdecak kagum melihat kapal itu dari dekat. Biasanya ia lebih sering melihat kapal feri atau klotok ketika masih tinggal di Banjarmasin. Kini, ia melihat kapal dengan model yang sangat modern yang kerjanya membelah lautan. Seperti jaket biru yang ia kenakan, kapal itu juga memiliki merek dengan nama Cantika.

“Kimchii!!” Pekik Ody dengan dua jari terangkat ke udara. Ayah sedang memotretnya dengan latar belakang kapal itu.

Ody tidak malu atau merasa aneh dengan tatapan intimidasi beberapa orang padanya. Toh, ini memang pertama kalinya ia melihat kapal bermodel seperti itu. Yang penting, perjalanannya kini akan berakhir dengan indah di sebuah pulau bernama Buton.

“Ayo Dy!” Sahut ayahnya membuat Ody tersadar. Yup, hidupnya harus lebih menyenangkan kali ini!

@@@@@

Bibir Ody terkatup, badannya masih gemetar setelah bergulat dengan ketakutannya di atas kapal itu. Perjalanan pertamanya ini sungguh beradrenalin! Kebetulan ombak sedang tidak bersahabat, membuatnya terus berdzikir di dalam hati sekaligus meneriakkan kata Mama ketika ia merasa oleng di atas kapal.

Namun kini, pikirannya lebih baik setelah melihat sebuah daratan yang sangat ramai dari jendela di sampingnya. Kapal cepat itu akan berlabuh, berlabuh di sebuah Kota yang akan ditinggalinya untuk beberapa tahun. Lumayan, menurut Ody dengan isi kepala yang mulai menerka kejadian yang akan dialaminya di depan sana.

Tak lama beberapa pemuda masuk dan mulai menjual jasanya sebagai buruh, itu tandanya mereka sudah sampai di Kota itu. Jantung Ody makin berdetak tidak karuan setelah ayahnya mengajaknya keluar. Ia menenteng tas laptop bergambar doraemonnya dengan ragu, kopernya kini telah diangkat oleh seorang buruh, membuatnya lebih leluasa untuk bergerak.

Di saat-saat akan mencapai pintu keluar, Ody sedikit terkejut mendapat sambutan beberapa orang yang tak dikenalnya. Mereka tersenyum penuh sembari menundukkan kepalanya pada Ody.

“Mereka pikir kamu orang asing.” Sahut teman ayahnya membuat Ody meringis.

Memang sih, bila dilihat dari wajah, kulit dan gayanya. Ody lebih terlihat sebagai turis daripada orang Indonesia yang sedang pindahan. Mata Ody yang sipit dan kulitnya yang putih pucat sering membuat orang salah sangka terhadap dirinya. Dan -entah sudah berapa kali ia pernah mengerjai orang dengan bersikap layaknya seperti turis.

“Ayo cepat naik!”

Ody terperangah, seorang pria menarik tangannya untuk memijak daratan di hadapannya. Hup! Dan fuallah~ kini ia telah menginjak daratan Buton.

Ia kemudian melangkah, mengikuti arah buruh yang tengah membawa koper dan tas pakaian ayahnya. Matanya tertutup untuk beberapa saat menikmati aroma pelabuhan yang khas, bau air garam yang tercium amis pada hidungnya. Walau amis, sensasi kesan pertama Ody akan Kota yang ia pijaki kini terasa sangat manis.

Nafasnya terhembus, masih ada saja orang-orang yang melihatnya seperti turis, namun ia tak memikirkan hal itu. Kepalanya mengadah ke atas melihat langit senja yang menghiasi penglihatannya. Ia tersenyum, lalu bergumam,”This place will make me succes by my own way! Semangat!!

END

P.s

Tralalala~~ ini adalah kisah nyata saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Sulawesi Tenggara. Gumaman saya juga nyata serta anggapan orang yang pertama kali melihat saya di Kota Baubau ini.

Bahkan, ada beberapa anak sd yang menyapa saya menggunakan bahasa Inggris. Dan lebih mengejutkan lagi adalah ketika teman-teman bapak saya mengira saya adalah seorang berkebangsaan Korea yang sedang mengurus kewarganegaraan di Kantor beliau kk~ (eh jadi cerita :p)

Ah senangnya! Akhirnya saya bisa membuat cerita ini walau harus ditunda beberapa hari sebelumnya. ^^ Thanks for reading!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s