Naya and Jae (Cerpen)

Naya Ariati menggerakkan cup moccanya dengan pelan, matanya bergerak memperhatikan seorang gadis berambut panjang yang terlihat sangat mirip dengannya di sebuah toko baju yang berada tak jauh dari posisinya kini.

Ia mungkin tidak pernah tahu bila Jae Ri adalah kembarannya kalau saja Inhyo eonni tidak mengikuti acara piknik budaya yang dihelat pemerintah kota daerahnya di Indonesia. Ingatan itu sangat berbekas di pikiran Naya.

Kala itu Inhyo eonni langsung memeluknya dan terisak sembari membisikkan nama Jae Ri di telinganya. Saat itu ia sangat bingung dengan sikap aneh Inhyo eonni yang baru ditemuinya. Dan fuallah~ ia jadi tahu beberapa rahasia keluarga Jung tentang Jae Ri.
Jung Jae Ri. Kembarannya itu lebih dahulu keluar dari perut ibunya. Namun, pihak rumah sakit tempat ibunya bersalin sangat licik. Ia menyembunyikan kelahiran Jae Ri dan menjualnya pada seorang pria yang lalu membawanya ke Korea dan menjualnya pada Mr. Jung, ayah angkat Jae Ri saat ini.

Ia mendengar pengakuan itu dari Mr. Jung sendiri dan beliau menyuruh Naya untuk tidak membocorkannya pada Jae Ri. Bodohnya, Naya mengiyakan hal tersebut dan berpikir bahwa Jae Ri akan baik-baik saja. Namun, hal itu salah besar setelah mendapat teror dari Jae Ri yang selalu menyalahkan kedua orang tua kandungnya.

Khajja mallang-ah!” Sahut Jae Ri dingin, menyadarkan Naya akan lamunannya itu.

Naya tersenyum simpul, “Let’s Go Jae Ri-ya!!”

Suara decak lidah Jae Ri membuah hati Naya mencelos. Lagi-lagi, pikirnya tidak senang. Ia tahu saat ini Jae Ri membencinya, dan merasa tidak adil dengan apa yang Naya dapatkan. Bagaimana bisa ia harus hidup dengan orang tua angkatnya sedangkan Naya, gadis itu nyaman bersama orang tua kandung mereka di Indonesia.

“Yaa! Do you know the meaning of Mallang?” Tanya Jae Ri kemudian. Naya yang awalnya berjalan di belakang Jae Ri memberanikan diri untuk menyamakan langkahnya.

“Yes, i know.” Jawab Naya singkat membuat Jae Ri memberhentikan langkahnya tiba-tiba.

“Are you stupid? Then, why did you always silent when i call you like that?! So weird! Or do you wanna make people think that i’m a bad temper girl?” Rentetan kata itu keluar kasar dari mulut Jae Ri membuat Naya terdiam.

“See?! Huh! I know that you have a bad thing to my family!” Kata Jae Ri lalu melangkah menjauhi Naya yang masih terdiam.

Naya menghela nafasnya pelan lalu mengikuti langkah Jae Ri yang mulai menjauh. Ia tidak tahu harus berkata apa dan memang, gadis itu memiliki rencana khusus untuk menarik Jae Ri kembali ke keluarganya di Indonesia. Apa rencana itu sangat buruk? Mungkin bagi Jae Ri iya.

Lama kelamaan sosok Jae Ri menghilang dari pandangan Naya. Langkah Naya terhenti dan menyisir setiap sudut mall itu dengan rasa khawatir yang sangat besar. Apakah Jae Ri meninggalkannya? Setega itukah?
“Jae Ri-ya!!” Teriaknya kemudian.

Beberapa orang menatapnya sekilas lalu kembali berjalan tanpa rasa iba. “Jae Ri-ya!!” Pekik Naya dengan wajah yang penuh peluh. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa udara di sekitarnya terasa sesak dan membuatnya berkeringat walau cuaca Seoul cukup dingin untuk kulit tropisnya.

“Jae Ri…” gumam Naya lalu berjalan mencari tempat informasi. Kepalanya pening karena bingung dengan keadaan mall yang super besar.

Kenapa ia begitu tega? Batinnya terus bertanya. Ia menggeleng, Jae mungkin membencinya tapi tidak akan melakukan hal bodoh seperti meninggalkannya di mall yang bahkan tidak ia ketahui namanya.

“Pardon me? I’m looking for my sister… em,”

Ucapan Naya terhenti saat melihat air wajah resepsionis ber-eyeliner di depannya. Naya menghela nafas, “Annyeong haseyonae eonni ga…eum turn it on!” Sahutnya sembari mengambil microphone di depan sang resepsionis.

Seakan mengerti dengan sikap Naya. Sang resepsionis menekan tombol on pada radio yang tersambung pada loudspeaker. Naya berdehem, “Jung Jae Ri! I’m here!! In the information room, 4th floor!! I’m waiting you!”

Naya menyudahi pembicaraannya dan memberikan micropohone itu kepada sang resepsionis setelah mengucapkan kamsahamnida pada wanita itu. Kini, ia hanya perlu menunggu Jae Ri. Ya, Jae Ri tidak mungkin meninggalkannya.

@@@@@

Jae Ri mendesis saat namanya disebut oleh Naya dengan sangat keras pada loudspeaker setiap mall. Rasanya ia ingin mencekik gadis itu atau menguburnya hidup-hidup, hingga ia dapat bernapas lebih baik tanpa harus tahu bahwa dirinya mempunyai kembaran absurd dari Indonesia bernama Naya Ariati.

Nafasnya terhela, menghilangkan seluruh pikiran buruknya untuk membunuh Naya. Langkahnya tidak berhenti, ia terus berjalan memasuki basement parkir. Naya? Entahlah, ia hanya ingin memberi pelajaran pada gadis itu. Lagipula dirinya tahu bahwa Naya adalah gadis pemberani yang bisa pulang sendiri. Bukankah Naya suka traveling? Hal ini pasti sudah menjadi hal biasa bagi diri kembarannya itu.

Ahjjussi! Oso palli khaja!” Sahut Jae Ri pada sopir ayahnya dengan tegas, menyuruh pria berkepala botak itu untuk cepat meninggalkan basement parkir.

Paman itu berdehem, “Naya-ssi odigayo?”

Jae Ri terdiam, tiba-tiba tubuhnya bergetar setelah mendengar pertanyaan sopirnya tentang keberadaan Naya. “Naya… Dia sudah pulang duluan.”

“Eo, geurae,” sahut beliau lalu menginjak pedal gas dan membawa mobil melaju dari mall besar itu. Kedua tangan Jae Ri terkepal, tiba-tiba perasaannya tidak nyaman. Ia butuh istirahat! Ya, dia memang butuh istirahat dengan tidak melihat Naya dalam waktu yang lama.

@@@@@

Naya merapatkan mantelnya, diliriknya jam putih yang bertengger manis pada lengan kirinya. Sudah 2 jam, tapi batang hidung Jae Ri belum juga muncul di hadapannya. Dan sudah selama itu pula ia mondar-mandir di depan meja informasi.

Perasaannya sangat buruk. Berbagai pikiran negatif merasuki otaknya, namun Naya tetap kukuh. Jae Ri tidak akan pernah tega melakukan hal sejahat itu padanya. Yeah, walau selama 2 jam ini ia terlihat seperti orang stres di depan meja informasi. Oh ya, dia memang tengah stres memikirkan Jae Ri.

Agasshi… bla bla bla.”

Alis Naya terangkat. Ia tidak mengerti dengan ucapan resepsionis itu. Dengan sigap Naya pun meninggalkan meja informasi, menuruni eskalator menuju lantai dasar. Sepertinya Jae Ri benar-benar telah melupakannya.

Naya merentangkan tangannya ke udara, merasakan dinginnya angin malam yang berhembus di luar mall. Ia lalu terduduk di sebuah halte bus. Bodoh, rutuknya berulang kali. Ia bahkan tidak tahu arah rumahnya bila menaiki busway. Taksi? Dia tidak punya banyak uang untuk membayarnya. Sayangnya Naya tak ingin merepotkan keluarga saudari kembarnya untuk membayar tagihan taksi. Tidak! Tidak akan.

“Sudah 3 jam,” gumam Naya kesal lalu memeluk lututnya di bangku halte. Tangannya terasa sangat dingin, bibirnya kering dan seluruh tubuhnya membeku. Udara Seoul sangat mencekam di kala senja.

Butiran air mata Naya meleleh dari pelupuk matanya. Entah mengapa ia merindukan keluarganya di Indonesia. Ia merasa lelah untuk menghabiskan liburan semesternya di Seoul, sementara Jae Ri masih menganggapnya seorang musuh. Waktu liburannya pun makin menipis, sisa 3 hari lagi untuk menaklukan hati dingin seorang Jung Jae Ri.

Sepintas Jae Ri sangat mirip dengan ayah mereka di Indonesia. Keduanya sangat dingin disaat membenci sesuatu yang telah menyakitkan hati mereka. Dan Jae Ri membencinya, fakta yang tak megejutkan namun mengikis hati. Naya teralu beruntung di mata Jae Ri, beruntung mendapatkan kasih sayang orang tua kandung mereka.

Isakan Naya terdengar mendayu, ia tak punya kekuatan untuk mengeluarkan seluruh isakannya. Suhu yang dingin telah membekukan tubuhnya, ia benar-benar pusing.

“Na…”

Eonni… maaf…” sahut Naya saat menyadari sosok Jae Ri di hadapannya. Sosok cantik itu sangat jelas sebelum akhirnya Naya tak sadarkan diri.

@@@@@

Tangan Jae Ri terkepal kuat, matanya menatap tajam Inhyo eonni yang menceritakan kronologis penjualnnya ketika bayi. Miris, dan kini ia sudak menyalahkan orang tua kandungnya serta membenci Naya yang baginya pura-pura tak mengetahui keberadaannya selama 16 tahun.

“Ayah membelimu… karena ia menyukaimu. Ayah dan ibu ingin memilikimu sebagai adikku. Dan kami menyayangimu Jae-ya.” Inhyo terdiam. Ia lalu memeluk Jae yang terdiam kaku di atas kasur.

“Kenapa kalian baru memberitahukanku sekarang huh? Wae?” Tanya Jae dengan isakan kecilnya. Inhyo terdiam.

“Aku sudah terlanjur membenci Naya dan kedua orang tuaku! Aku pikir mereka yang menjualku! Tapi…”

Inhyo menarik Jae Ri ke dalam pelukannya. Ia tahu Jae Ri pasti membenci kembarannya dan orang tua kandungnya. Sangat terlihat jelas dari kelakuan Jae Ri yang acuh pada Naya.

Hal itu membuat Jae Ri makin terisak, ia membenamkan kepalanya di pundak Inhyo. Ada rasa takut yang menelusup di dadanya. Naya, gadis itu pasti sangat sakit hati dengan semua tingkahnya, dan Jae Ri benci dengan tingkah sabar Naya yang menurutnya keterlaluan.

“Naya-ssi odigayo? Aku tidak melihatnya sejak kedatanganmu dari mall.” Ujar Inhyo sembari memegang kedua pundak Jae Ri, menatap adik angkatnya itu dengan senyuman tipis di wajahnya.

“NAYA!!” Pekik Jae Ri kemudian berlari keluar kamar.

Sudah 3 jam berlalu, tapi gadis itu belum juga kembali ke rumah. Jae Ri mendecak, Naya tidak seberani yang ia pikirkan. Dengan sigap ia mencegat sebuah taksi dan meminta mengantarnya ke mall yang ia singgahi bersama Naya.

Air matanya mengalir dari pelupuk matanya. Mengapa aku terlalu egois? Pikirnya sembari memaki diri sendiri. Baginya, makian itu belum seberapa dengan tingkahya yang meninggalkan Naya di mall. Seharusnya ia tahu kalau Naya tidak membawa uang sepeser pun untuk menaiki sebuah bus atau taksi. Lagipula, jarak rumahnya dan mall terbilang cukup jauh.

Jae Ri sudah tidak mementingkan dirinya sendiri. Di kepalanya sudah terbayang sosok Naya yang berjalan tidak tentu arah di kawasan mall. Naya terlalu bodoh!

“Na…” suara Jae Ri tercekat melihat Naya yang membenamkan wajahnya di kedua lututnya. Ia baru saja turun dari sebuah taksi setelah melihat gadis itu duduk diam di halte bus.

Eonni… maaf…” suara Naya yang bergetar membuat Jae Ri kembali terisak.

Ia langsung mendekap Naya setelah sadar bahwa Naya telah pingsan. Gadis itu mengalami Hipotermia, dan Jae Ri memang bodoh karena bertingkah egois pada kembarannya itu.

“Naya! Naya!!” panggil Jae Ri sembari mengguncang-guncang tubuh Naya.

Air matanya mengalir, ia benar-benar bodoh! Ribuan makian ia jatuhkan pada dirinya sendiri. “Naya…. mianhae.” Isaknya.

Ireona! Naya… mianhae..”

@@@@@

Naya membuka matanya dengan berat. Seberkas cahaya langsung menyambutnya. Dengan sigap ia terduduk dan mendapati dirinya di sebuah rumah sakit. Ia memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pening, lalu kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur.

Ia berusaha mengingat kejadian terakhir sebelum ia berada di rumah sakit. Bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis, pasti Jae Ri yang membawanya ke rumah sakit ketika ia pingsan karena kedinginan. Feelingnya tak pernah salah, Jae Ri tidak akan tega meninggalkannya di mall itu.

“Hei!”

Mata Naya bergerak, ia melirik seorang gadis dengan seragam sekolah lengkap tengah berdiri tak jauh dari hadapannya. “Jae Ri-ya…” panggilnya dengan suara serak.

Jae Ri menatapnya tajam lalu menyentil dahi Naya dengan pelan. “Are you stupid huh? Why didn’t you call me? You have a phone rite? Tsk! Jinjja pabo neo.”

Senyuman Naya mengembang, “Because i believe that you will come to pick up me.”

“Heh~ whatever.” Decak Jae Ri sembari tersenyum manis. Mungkin ini pertama kalinya ia tersenyum di depan Naya. Ia lalu menyentuh dahi Naya, merasakan hawa tubuh Naya yang semalam terkena hipotermia.

“Yaa! What do you feel? Are you ok?” Tanyanya perhatian. Naya mengangguk, “I’m ok dear.”

Naya melepas tangan Jae Ri dari dahinya dan mengenggamnya erat. Kali ini ia tidak ingin kehilangan Jae Ri, ia juga ingin Jae Ri bertemu dengan kedua orang tua mereka di Indonesia.

“Let’s promise Jae Ri-ya…” sahut Naya lemah. Jae Ri melirik Naya tajam, “promise?”

“Yeah… you should never leave me alone and i’ll always in your side.” Jawab Naya membuat Jae Ri terdiam. Ketakutannya kembali muncul, ia bingung harus memilih siapa. Tetap tinggal bersama keluarga angkatnya atau kembali bersama keluarga kandungnya.

“I can’t.” Sahut Jae Ri sembari menarik tangannya dari genggaman Naya.

“Gotta go, see you later Naya. Stay healthy!!” Pekiknya lalu keluar dari kamar perawatan Naya.

Ia terduduk di sebuah kursi panjang di dekat kamar Naya. Pikirannya kembali kacau. Di saat hubungannya dengan Naya membaik ia harus dihadapkan dengan masalah baru yang ternyata lebih kompleks. Nafasnya terhembus dengan berat, sulit.

“I do not ask you to choose… i just wanna you keep in my side but it doesn’t mean that you have to back to Indonesia. Nevermind Jae Ri-ya.”

Jae Ri tersentak. Naya telah berdiri di sampingnya, gadis itu lalu mengacak-acak rambutnya dengan lembut. “But, you have to visit our family in holiday. Ok?”

Senyuman simpul Jae Ri menghiasi pandangan Naya. Jae Ri mengangguk lalu berdiri dan memeluknya dengan erat. “Mian…” bisik Jae Ri tepat di telinga Naya.

“I’m sorry too…” ucap Naya membuat Jae Ri mengangguk, “Nope, you don’t have any mistake my twin. Aku sayang kamu.”

Naya melepas pelukan mereka dan menatap Jae Ri intens. Kembarannya itu baru saja mengucapkan kata-kata berbahasa Indonesia dengan yeah~ tidak terlalu lancar.

“Aku sayang kamu Naya!” Pekik Jae Ri lalu menarik Naya ke dalam pelukannya.

“Aku juga sayang kamu eonni.” Bisik Naya sembari membalas pelukan kembarannya itu dengan erat. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan melupakan Jae Ri. Tidak, bahkan bila ia harus terkena Amnesia sekalipun.

END

P.s

Alhamdulillah, akhirnya jadi juga walau banyak kata-kata yang kurang pas atau jalan ceritanya yang kurang menggugah perasaan. Maklum, masih belajar membuat cerpen yang ngena di hati para pembaca๐Ÿ˜‰

Inspirasi saya berasal dari dua novel karya orina (Orizuka dan Lia) dan Riz Amelina yang bercerita tentang kisah kembaran. Serta pikiran liar saya yang menginginkan seorang kembaran hehehe…

Semoga dengan ini saya makin terbiasa membuat cerpen. Karena saya sudah memutuskan untuk merubah haluan. Bukan berarti saya akan berhenti menulis fanfic, tapi mungkin saya akan lebih banyak menulis cerpen.

Terima kasih sudah membaca. Kritik dan saran sangat dibutuhkan. Jeongmal Kamsahamnida~~

5 thoughts on “Naya and Jae (Cerpen)

  1. Wahhh.. ini bagus banget!!!

    Aku suka…๐Ÿ˜€
    Sempat teringat dengan novel Oppa and I, tapi jelas beda!! Hehehehehe,,

    Aku juga sedang coba buat cerpen… Entah jadinya kapan. Kekekeke…
    Kekurangannya mungkin ………………………..

    Pendek,๐Ÿ™‚
    Aku masih mau baca..๐Ÿ˜€

  2. xinnu, bagus cerpennya, walaupun ga ngerti semua kata-kata koreanya, tadi cuma nebak-nebak, ini artinya kayaknya ini, ooo ini mungkin ini,
    oya mudah-mudahan anaknya nanti kembar๐Ÿ™‚ hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s