The Way of Love

image

Jaeyeon terdiam. Di hadapannya seorang pria berambut blonde juga ikut terdiam, matanya terpusat pada cappuccino yang terhidang di atas mejanya. Mata yang penuh kebohongan dan keegoisan, pikir Jaeyeon sembari tersenyum miris.

Uri… geumanhae.”

Runtutan kata singkat itu akhirnya keluar dari mulut Jaeyeon. Kata-kata yang membuat tubuh Jaeyeon bergetar, membuat jantungnya terus berdetak abnormal karena persasaan yang campur aduk.


Sakitkah? Bohong bila Jaeyeon tidak sakit hati dengan semua keegoisan pria blonde yang ada di depannya. Jaeyeon tidak menyesal, tidak sama sekali terbesit dipikirannya untruk menyesali dua kata yang baru dikeluarkannya itu secara susah payah.

Geurae, geuman…” sahut pria blonde itu sembari menyesap cappuccinonya.

Nafas Jaeyeon berhembus gusar, ia tersenyum kecut mendengar sahutan simpel pria itu. Kedua tangannya terkepal, menahan rasa sesak di dadanya. Sesak sekali…

“Eung… Eunhyuk oppa, jalga. Aku harap kau baik-baik saja. Aku pamit duluan.” Pamit Jaeyeon kemudian. Ia benar-benar tak tahan.

Jaeyeon terkesiap, pria blonde bernama Eunhyuk itu menggengam tangannya, menahannya yang baru saja akan berlalu dari hadapan pria itu. “Ada apa?” Tanya Jaeyeon dengan senyum tipis di wajahnya.

“Ketika aku ingin kembali, maukah kau menerimaku lagi Yeon-ah?”

@@@@@

Tangan Jaeyeon bergerak, mencoret-coret sebuah kertas di atas mejanya dengan enggan. “Jaeyeon pabo pabo pabo!” Makinya tanpa ampun pada dirinya sendiri.

Ia lalu mengacak rambutnya frustasi, menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya. Ia menangis, terisak kecil karena merasa bodoh menghadapi seluruh masalahnya. Mengapa semuanya begitu sulit?

“Kau kenapa Yeon-ah?”

Jaeyeon mengangkat wajahnya, seorang gadis berambut sebahu telah berdiri di hadapannya, menghalangi sebuah televisi yang masih menampilkan acara musik di salah satu channel ternama.

Webtoon-ku tidak diterima lagi oleh editor mata kunang-kunang itu.” Jaeyeon melongos, ia merasa ingin membunuh wanita bermata kunang-kunang yang menjadi editornya itu bila ia punya keberanian yang sangat besar.

Mengapa ada manusia yang dilahirkan begitu keras? Editor mata kunang-kunang itu selalu saja berpikir webtoon yang digambarnya sangat pasaran, jelek dan mempunyai cerita yang tidak beraturan. Pasalnya Jaeyeon sudah membuat 5 skrip pengenalan dan semuanya ditolak oleh editor itu.

“Jangan salahkan orang! Huh kau ini,” sahut gadis itu sembari mengacak-acak rambut Jaeyeon dengan lembut.

“Han Chaewon! Aku belum mandi dan jangan mengacak-acak rambutku!” Pekik Jaeyeon sambil merapikan rambut panjangnya yang teracak-acak oleh Chaewon.

Han Chaewon tergelak, “Yaak! Bagaimana Eunhyuk tidak memutuskanmu, kau selalu saja marah-marah tak jelas. Pantas saja.”

Mata Jaeyeon terbelalak. Ia melempar sebuah spidol yang sayangnya tak mengenai kepala Chaewon. Gadis yang menjadi objek pelemparannya itu hanya tersenyum mengejek, memeletkan lidahnya dengan gemas pada sikap Jaeyeon.

“Ralat! Aku yang memutuskannya bukan dia!”

“Tapi dia yang lebih dulu menjauhimu!” Sahut Chaewon membuat Jaeyeon terdiam. Tidak ada gunanya ia beradu mulut dengan gadis itu, gadis evil yang tak pernah ingin mengalah dan dikalahkan.

Chaewon kemudian terkekeh, “Aku dengar, ada tetangga baru di depan apartemen kita… pria dengan tubuh pendek namun memiliki paras imut dengan sikap keibuan. Kau embat saja dia!”

Jaeyeon menganga, “Aish jinjja! Aku tak tertarik, yaa! Ini sudah hampir siang dan kau belum pergi kuliah?”

Mata Chaewon terbelalak, ia melirik jam dinding yang berada di atas televisi lalu berlari dengan kalang kabut menuju pintu keluar. “Aku pergi!”

“Tck… dasar gadis aneh.” Gumam Jaeyeon sembari memutar bola matanya. Air matanya telah kering, dan kini ia hanya bisa melihat kertas yang dicoretnya dengan malas.

“Inspirasiku ke mana?”

@@@@@

“Ketika aku ingin kembali, maukah kau menerimaku lagi Yeon-ah?”

Kilasan kejadian beberapa hari lalu bermain di kepala Jaeyeon, ia tidak mengerti dengan pertanyaan Eunhyuk yang belum sempat ia jawab itu. Kala itu hatinya benar-benar sakit hingga lebih memilih untuk menarik diri dari Eunhyuk dan beranjak meninggalkan pria blonde itu di café favorit mereka.

Ia sebenarnya mengerti, tapi tak pernah ingin tahu atau mendengarnya dari mulut Eunhyuk. Jaeyeon terlalu sakit untuk memikirkannya. Kali ini, hal yang membuat kepalanya pening bertambah. Webtoonnya masih belum diterima oleh editor mata kunang-kunang.

“Melamun lagi?”

Jaeyeon terkesiap. Han Chaewon, dimanapun ia berada gadis itu selalu saja mengetahuinya. Senyum Jaeyeon tersungging di wajahnya, “Bagaimana kuliahmu nona? Apa kau tidak terlambat?”

“Terlambat apanya?! Aku lupa kalau hari ini dosenku tidak hadir.” Jawaban Chaewon membuat Jaeyeon tertawa.

“Kau… bagaimana? Bertemu dengan Eunhyuk sunbei kah?” Jaeyeon terdiam, matanya menatap lurus ke arah rerumputan yang dipijaknya.

Aniya, aku tidak melihatnya. Eo, ayolah Wonnie! Aku sudah lapar.” Jawabnya sembari tersenyum tipis. Ditariknya lengan Chaewon dan membawa gadis itu berlalu dari taman belakang kampus mereka.

Bohong. Tadi pagi Jaeyeon bertemu dengan Eunhyuk dan mendapati pria itu tengah berjalan mesra dengan seorang gadis yang tak dikenalnya. Jaeyeon tahu, ia tahu bila selama ini Eunhyuk telah menghianatinya dan ia tak bisa melakukan apa-apa selain menunggu hatinya agar siap mengucapkan kata pisah. Dan sekarang, ia sudah siap. Siap dengan segala hal yang akan dirasakannya paska memutuskan hubungan dengan Eunhyuk.

“Yaa! Yeon-ah… apa kau sudah bertemu dengan tetangga baru kita?” Tanya Chaewon dengan mulut yang penuh dengan bibimbap kimchi.

Nafas Jaeyeon terhembus, matanya menatap makanan di depannya dengan enggan. Ia muak dengan pertanyaan Chaewon yang sudah didapatinya berulang kali. “Belum dan hentikan pertanyaanmu itu!”

“Aku yakin dia tipemu, dan kau bisa melupakan monyet blonde itu dengan baik.” Ujar Chaewon sembari memasukkan kimchi ke dalam mulutnya.

“Ya, bila aku benar-benar bisa melupakan pertanyaan Eunhyuk oppa yang aneh itu.”

“Mungkin ini sulit, tapi aku yakin kau bisa berpaling darinya.”

@@@@@

Annyeong haseyo! Aku Kim Ryeowook, tetangga baru… bolehkah aku bertamu?”

Jaeyeon melongos, suara Kim Ryeowook terdengar sangat jelas lewat intercom di apartemennya. Akhirnya Jaeyeon membuka pintu apartemennya dengan lebar mendapati seorang pria berwajah tirus di hadapannya.

Annyeong haseyo,” sapa pria itu sopan sambil membungkukkan badannya.

Annyeong Ryeowook-ssi. Silahkan…”

Jwesonghaeyo, aku hanya ingin memberikan ini, anggap saja sebagai perkenalan pertama. Oh yah, namamu siapa?” Tanya Ryeowook membuat Jaeyeon tersenyum kecil.

“Ah, jeongmal kamsahamnida, aku Jung Jaeyeon, senang berkenalan denganmu Ryeowook-ssi.”

Ryeowook tersenyum, “Ah geurae… aku harus bertamu pada tetangga yang lain. Bangapseumnida!”

Sontak Jaeyeon mengangguk, ia kemudian masuk ke dalam apartemennya setelah melihat pria bertubuh mungil -tapi masih lebih tinggi darinya- itu berlalu dari hadapannya. Benar-benar pria yang aneh, pikirnya sesaat.

“Wuaahh!! Kimbap!!” Jaeyeon berseru melihat deretan nasi gulung yang hampir terlihat seperti sushi di dalam tupperware milik Ryeowook.

Dengan hati-hati Jaeyeon mengambil sepotong Kimbap dan memasukannya ke dalam mulut. “Ommo… jinjja masshita! Enak sekali!”

Ige mwoya?” Jaeyeon menatap Chaewon sekilas lalu melahap kimbap buatan Ryeowook untuk kedua kalinya.

“Kimbap? Siapa yang membuatnya? Kau membelinya? Jaeyeon-ah! Jawab aku!!”

Jari Jaeyeon menunjuk ke arah pintu apartemen, ia tak bisa menjawab dengan mulut yang penuh dengan kimbap. Kimbap buatan Ryeowook benar-benar enak, yeah dalam keadaannya yang sangat lapar.

“Kim Ryeowook?” Tanya Chaewon yang akhirnya membuat Jaeyeon mengangguk.

“Kyaaahh!! Semoga kalian berjodoh!” Seru Chaewon sembari melahap sepotong kimbap. Mata Jaeyeon terbelalak, “Sikkeuro! Diam dan makanlah dengan baik!!”

@@@@@

“Kembalilah padaku Yeon-ah… jebal.”

Nafas Jaeyeon tercekat, matanya menatap Eunhyuk dengan nanar. Pria itu menundukkan kepalanya, memfokuskan tatapannya pada lantai marmer gedung apartemen.

“Kembalilah padaku,” sahut Eunhyuk lagi sembari menggenggam kedua tangan Jaeyeon erat seakan tak ingin melepas gadis itu dari sisinya.

Wae?” Gumam Jaeyeon, suaranya terdengar parau saat mengumamkan kata tanya itu.

“Aku tak tahan, aku tak terbiasa tanpamu, aku menginginkanmu… Jaeyeon-ah…” nafas Eunhyuk tersenggal.

Jaeyeon melepas genggamannya dan mundur beberapa langkah dari hadapan Eunhyuk. “Aku… tak bisa.”

“Aku tak bisa, aku…”

Eunhyuk melangkah mendekatinya, menarik Jaeyeon ke dalam pelukannya, “Wae? Kenapa? Berilah aku jawaban pasti Yeon-ah… jebal.”

Dengan sigap Jaeyeon melepas dirinya dari Eunhyuk dan menatap nanar pria itu. Sudah terlambat, pikir Jaeyeon. Ia sudah melihat semunya dan lelah bersikap tak tahu akan kelakuan Eunhyuk yang seakan mempermainkannya. “Uri… geumanhae. Aku tak bisa, hanya itu.”

Wae?” Tanya Eunhyuk lagi, pria itu menghembuskan nafasnya dengan sangat berat. “Aku akan melakukan apapun demi dirimu Yeon-ah.”

“Tidak, kau tidak bisa oppa. Hajima, berhentilah dan jauhi diriku selamanya.” Kata Jaeyeon, dadanya terasa sangat sesak. Entah dari mana ia mendapat keberanian untuk berkata seperti itu.

“Aku hanya akan membuatmu tambah runyam.” Bohong Jaeyeon membuat Eunhyuk menggigit bibir bawahnya gusar.

“Pergilah sebelum emosiku naik. Kau pasti bisa hidup tanpaku, ya kau bisa oppa.” Ujarnya membuat tubuh Eunhyuk bergetar.

“Apa hanya itu alasanmu Yeon-ah? Baiklah aku akan menurutinya… ingat, aku melakukannya demi dirimu.” Jelas Eunhyuk setelah terdiam cukup lama.

Jaeyeon mengangguk walau dari dalam hatinya yang paling dalam ia ingin Eunhyuk menyadari kesalahannya dan berjanji tidak akan melakukan hal-hal brengsek yang seperti biasa ia lakukan. Namun Jaeyeon tahu, ia belum siap mempercayai pria itu.

“Aku akan menurutimu, hiduplah dengan baik Yeon-ah,” ujar Eunhyuk sembari mengacak-acak rambut Jaeyeon dengan lembut lalu meninggalkan gadis itu di koridor apartemen.

Kau sendirilah yang melepasnya. Kau bodoh bodoh bodoh! Bagaimana bisa kau hidup tanpanya? Jaeyeon, kau bodoh!

Air mata Jaeyeon mengalir dari pelupuk matanya, ia terisak menyadari kebodohannya yang tak ingin menjelaskan semuanya pada Eunhyuk dan lebih memilih untuk mendengar pengakuan dari pria itu sendiri. Bodoh! Eunhyuk mungkin saja tak tahu bila dirinya selalu memergokinya berkencan dengan wanita lain. Jaeyeon! Kau benar-benar bodoh!

@@@@@

“Jaeyeon-ssiireona! Bangunlah! Jaeyeon-ssi.”

Kelopak mata Jaeyeon terbuka, ia menyipitkan matanya, memfokuskan penglihatannya kini. “Eo, Ryeowook-ssi.”

“Kau sakit? Sejak tadi kau tertidur di sini. Sepertinya kau demam, ke mana Han Chaewon? Ah! Sepertinya dia belum pulang.”

Jaeyeon menghela nafasnya berat. Pria yang baru dikenalnya itu sangat cerewet, mengoceh seperti eomma-nya yang tinggal di Busan. “Terima kasih sudah membangunkanku, aku tidak apa-apa.”

Jinjjayo? Betulkah? Apa kau mau aku bantu? Wajahmu pucat sekali Jaeyeon-ssi.” Rentetan pertanyaan itu keluar dari mulut Ryeowook tanpa henti.

“Ya, aku baik-baik saja…” gumam Jaeyeon sembari berdiri dari duduknya, kepalanya cukup pening, mungkin karena terlalu lama tertidur di koridor gedung apartemennya.

Langkahnya terseok membuat Ryeowook memegang kedua bahunya erat, “Biar aku membantumu berjalan.” Mohonnya membuat Jaeyeon terdiam. Ia tahu, ia tak bisa menolak lagi.

Setelah memencet kombinasi password, ia pun masuk ke dalam apartemennya ditemani oleh Ryeowook di sampingnya. Jaeyeon melirik jam dinding, sudah sangat tengah malam dan Chaewon pasti masih terlelap di kamarnya.

“Terima kasih banyak Ryeowook-ssi.” Ucapnya sembari duduk di sofa. Ryeowook bergumam, ia berjalan ke arah dapur dan mengambil segelas air untuk Jaeyeon.

“Minumlah, apa kau ingin makan bubur? Atau…”

“Ini sudah sangat malam. Pulanglah, aku akan beristirahat.” Tolaknya halus membuat Ryeowook tersenyum tipis, “Eo, geurae… minumlah.”

Jaeyeon menerima air dari Ryeowook dan meneguknya hingga tandas. Pria itu lalu mengambil gelas Jaeyeon dan menaruhnya di westafel dapur. “Aku pulang, beristirahatlah dengan baik Jaeyeon-ssi. Jaljayo, selamat tidur.”

Kedua sisi bibir Jaeyeon terangkat, ia menatap Ryeowook yang telah hilang dibalik pintu apartemennya kemudian menghela nafas dengan gusar. Kini ia harus beristirahat, melupakan kejadian tadi untuk selamanya, mengubur perasaannya agar tidak membuat luka yang semakin besar di hatinya.

@@@@@

“Mengapa kau tidak membuat webtoon bertema zaman Joseon? Akhir-akhir ini banyak drama yang bertema seperti itu.”

“Eh… zaman Joseon? Aniyo aniyo, aku sepertinya lebih tertarik dengan cerita romance remaja Korea bertema sekolah seni. Menyanyi, ber…”

“Yaa! Kau yang benar saja! Kau ingin mengimitasi drama Dream High? Buatlah cerita yang baru dan menarik. Sayang sekali, kemampuanmu sangat bagus tapi inspirasimu jelek.” Kata editor Jaeyeon tajam, memotong khayalan Jaeyeon mengenai webtoonnya.

Nafas Jaeyeon terhela, ia menatap editornya dengan pandangan memohon, “Maafkan aku, aku akan membuat cerita yang lebih menarik lagi. Aku janji, minggu depan.” Janjinya sembari menangkupkan kedua tangannya.

Editor mata kunang-kunang itu mendecakkan lidahnya, “Iya minggu depan. Aku mempertahankanmu karena kemampuanmu, tapi bila minggu depan kau gagal lagi, maka aku tidak segan untuk mencari penggantimu.”

Jaeyeon tersenyum lebar lalu membungkukkan badannya dengan sopan di depan editornya. “Kamsahamnida editor-nim aku akan bekerja keras! Tunggu aku minggu depan!!”

@@@@@

Webtoon webtoon webtoon

Jari Jaeyeon bergerak dengan luwes di atas touchpad komputernya, matanya sibuk menelisir gambaran yang ia buat dari layar. Di kepalanya sekarang hanya penuh dengan deadline webtoonnya. Dan dia tidak ingin mengingat hal lain karena harus berkonsentrasi demi masa depannya kelak. Ya, masa depan.

Jaeyeon mendesis, ia masih belum mempunyai inspirasi mengenai tema webtoonya itu. Pada layar komputernya, Jaeyeon menggambar berbagai jenis kue favoritnya. Choux, Rainbow cake, cupcake bahkan Kue beras pun tergambar sangat menggugah selera. Gadis itu tahu bahwa kini lambungnya terus melukai diri sendiri akibat terus bekerja tanpa ada asupan makanan yang masuk ke dalamnya. Ia lapar.

Annyeong!!”

Mwo!?” Jaeyeon terkesiap, sosok tetangga yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu telah berdiri di depan pintu apartemennya.

“Ba…bagaimana bisa?” Tanya Jaeyeon lalu menghampiri Ryeowook dengan wajah menuntut.

Ryeowook menyilangkan kedua tangannya dia depan dada. “Jwesonghaeyo… di hari itu, aku melihat kombinasi passwordmu dan maaf, aku langsung masuk karena aku sudah memencet bel kalian berulang kali. Aku pikir, ada baiknya aku mengecek kondisi kalian…”

“Tapi itu tidak sopan!” Pekik Jaeyeon membuat Ryeowook tersenyum tiga jari. Ia membungkukkan badannya di hadapan Jaeyeon dengan sangat dalam. Jaeyeon benar, ia tidak sopan.

Mianhaeyo, maaf aku sungguh tak bermaksud jahat. Aku hanya ingin mengecek kondisimu, siapa tahu kau di dalam tanpa Chaewon dan kau masih demam. Jadi aku berinisiatif untuk masuk saja.” Jelas Ryeowook susah payah, ia lalu menghela nafasnya dan menatap Jaeyeon dengan penuh maaf.

“Just for today!” Sahut Jaeyeon sembari menunjuk Ryeowook dengan jari telunjuknya, matanya terpicing, menatap pria cerewet itu dengan tajam.

Ryeowook membungkukkan badannya lagi, “Maaf… aku sungguh minta maaf.”

Perkataan penuh penyesalan itu membuat Jaeyeon mendesah, lalu mengacak pinggangnya dengan angkuh di hadapan Ryeowook. “Jadi, kau ingin apa sekarang? Aku tak punya banyak waktu untuk menggosip atau mengobrol padamu. Aku sangat sibuk.” Ujar Jaeyeon tajam.

Pria di hadapannya itu menggulung senyum, kedua matanya memicing melihat gambar kue yang digambar Jaeyeon di layar komputernya. “Aku seorang pattisier, pembuat kue di salah satu hotel di kawasan Itaewon, gambarmu bagus… maukah kau mencoba kue-kueku?”

Dengan sigap Jaeyeon mengangguk, sadar dengan kelakuannya ia pun menggeleng, “Sogokan macam apa itu!” Gumamnya membuat Ryeowook terkekeh.

“Apa yang kau tertawakan eo?” Tanya Jaeyeon keki, Ryeowook menggeleng, menutup mulut dengan punggung lengannya. “Khajja! Melihatmu membuat seleraku jadi baik, sebelum ini berubah kau harus menurutiku! Ayo!!”

Mata Jaeyeon terbelalak, Ryeowook menyeretnya keluar dari apartemen dan mempersilahkannya masuk ke dalam apartemen pria itu. Jaeyeon terkesiap, pria itu, sangat rapi bahkan melebihi dirinya dan Chaewon yang notabene adalah wanita.

“Kau duduk saja, aku akan membuatkan kue untukmu. Mungkin agak lama, jadi kau bisa mengambil buah-buahan atau cemilan di dapurku. Lalu…”

“Kenapa kau sangat cerewet?”

Ryeowook terdiam setelah pernyataan itu keluar dari mulut Jaeyeon. Ia menggaruk tengkuknya, cukup malu dengan pertanyaan umum itu.

Ani ani… aku tak bermaksud. Maksudku, yeah… aku akan mengambilnya bila lapar. Memasaklah, aku… emm.. lapar.” Ujar Jaeyeon kaku, ia khawatir melihat perubahan wajah Ryeowook akibat pertanyaannya.

Jaeyeon sadar, semenjak ia memutuskan hubungan dengan Eunhyuk, sikap no easy going-nya kembali. Ia bukan lagi gadis ramah dan lembut. Kali ini ia termasuk gadis tempramen bermulut tajam. Aku harus santai! Yeah~ Eunhyuk oppa bukan satu-satunya.

@@@@@

Chaewon tersenyum puas, matanya mengkilat bagai elang yang tengah menyerang mangsanya, kedua tangannya mengacak pinggang dengan penuh rasa percaya diri. “Akhirnya Jaeyeonku kembali!”

“Kembali apanya? Sepertinya biasa saja.” Sahut Jaeyeon keki sembari menyesap cappuccino instannya.

Kaki Chaewon yang jenjang melangkah mendekati Jaeyeon yang kembali sibuk dengan touchpad. “Inspirasimu kembali, lihatlah… mendengar kisah webtoonmu saja aku merasa cukup tertarik.”

Jaeyeon terkekeh, “Kisah Pattisier dari Negeri dongeng memang jarang yah, aku akan membuatnya sebagus mungkin.”

“Ya, tentu… Kau adalah gadis di dunia nyata, Pattisier itu adalah Ryeowook dan aku akan menjadi penyihir yang membuat sang pattisier ke dunia nyata. Wuah~ itu sangat bagus!” Oceh Chaewon sembari menari ala balerina di samping Jaeyeon.

“Kau… aneh.” Ucap Jaeyeon membuat Chaewon terkekeh. “Aku memang aneh, tetapi aku akan menjadi cupid di antara kalian berdua.”

“Yaa!” Seru Jaeyeon sembari melempar spidol ke arah Chaewon. Dengan sigap Chaewon menghindar, “Cupid tidak akan bisa dihindari Yeon-ah!”

@@@@@

Angin musim semi berhembus lembut mengenai permukaan kulit Jaeyeon. Gadis itu terduduk di rerumputan taman belakang kampusnya sembari menutup matanya dengan nyaman. Sudah 3 hari ini ia mengalami insomnia, menghabiskan waktunya di depan komputer untuk menyelesaikan skrip awal webtoonnya.

Ia tidak merasa lelah, melainkan pompa semangat di dalam tubuhnya terus bekerja tanpa henti walau tak ada seorang pemompa yang berarti. Jaeyeon benar-benar menikmati awal musim semi tahun ini.

“Yeon-ah…”

Jaeyeon terkesiap, ia terlonjak karena mendapati Eunhyuk tersenyum lebar di hadapannya. “Ada apa?” Tanya Jaeyeon dingin.

“Tidak ada apa-apa… aku hanya merindukanmu. Kau tahu? Tidak melihatmu dalam sehari membuat dadaku sesak, mianhae, aku tidak bisa menjauhimu.” Jawab Eunhyuk santai membuat Jaeyeon menggigit bibir bawahnya khawatir.

Jujur saja, Jaeyeon merasakan hal yang sama. Ia merindukan pria itu, merindukan sikap abnormalnya, merindukan harum parfumnya, semunya… Jaeyeon merindukan seorang Eunhyuk yang entahlah, dia brengsek.

“Jangan bohongi hatimu, kau tak perlu mengkhawatirkanku oppa. Aku tidak apa-apa, kau boleh bersama gadis lain di hadapanku. Aku tidak serapuh yang kau pikirkan.” Ujar Jaeyeon sembari menarik nafas dengan kuat.

Eunhyuk menggertakkan gigirnya, “Sejak… kapan kau seperti ini Yeon-ah? Kau… berubah.”

“Sejak aku sadar bahwa cinta itu bukan segalanya. awalnya aku terlalu mencintaimu, dan hanya bisa terdiam ketika memergokimu kencan dengan wanita lain. Namun, hati ini tak dapat berbohong… dan memutuskan untuk tidak mencintaimu lagi.” Jelas Jaeyeon sembari tersenyum kecut.

Matanya melirik Eunhyuk yang terdiam, menundukkan kepalanya dalam. “Memang sulit, tapi aku akan selalu berusaha menghapus bayang cintamu. Aku bukan gadis kecilmu lagi oppa. Hidup ini berkembang, aku juga berkembang dan tidak selamanya aku menjadi gadis bodoh yang terlalu percaya akan cinta.”

“Aku harap kau hidup dengan baik. Jangan mempermainkan banyak wanita sebelum kau terkena imbasnya. Kau ingat karma? Berhati-hatilah. Heuf~ maafkan aku karena berbicara terlalu banyak dan menasehatimu dengan perkataan tajamku. Jalga.”

Jaeyeon menyudahi pembicaraannya lalu menepuk bahu Eunhyuk dengan pelan. Ia kemudian berjalan menjauhi pria berambut blonde itu. Jaeyeon tahu, Eunhyuk juga harus berubah dengan kebiasaan buruknya itu. Pria itu harus mencari gadis yang tepat, yang bisa menghentikan kebiasaan berkencannya.

Sebutir air mata mengalir dari pelupuk mata Jaeyeon, ia menghapusnya cepat lalu tersenyum simpul sembari menatap langit musim semi yang cerah. Sungguh hari yang indah!

@@@@@

Ryeowook menatap gadis di hadapannya dengan intens. Matanya bergerak memperhatikan gerak-gerik gadis itu dengan seksama.

Wae? Apa ada yang aneh denganku?” Tanya Jaeyeon tajam membuat Ryeowook salah tingkah.

Ani ani… makan lagi, aku sangat suka melihat orang memakan hasil karyaku.” Jawabnya sembari menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan gadis itu.

Jaeyeon tersenyum lebar, “Akhir-akhir ini aku mengalami insomnia karena menyelesaikan webtoonku, jadi aku tak punya banyak waktu untuk memasak. Terima kasih banyak Ryeowook-ssi.”

Mata Ryeowook terpana, untuk pertama kalinya gadis itu bertingkah ramah dan berbicara panjang lebar dengannya. Ia kemudian tersenyum, tangannya bergerak mengacak-acak rambut Jaeyeon dengan lembut, “Bila kau lapar, datang saja ke sini. Aku akan menuruti apa maumu.”

Jaeyeon mengangguk, menyembunyikan wajahnya yang memerah akibat perlakuan Ryeowook barusan. Bagaimanapun juga Ryeowook adalah pria, dan hal yang dilakukan pria itu selalu membuat wajahnya memerah.

“Yaa! Jangan ganggu aku makan!!”

“Iya, iya, maaf.” Sahut Ryeowook sembari mendengus. Ia kemudian melanjutkan kegiatannya untuk menonton gerak-gerik gadis itu. Entah mengapa ia merasa tertarik dengan berbagai sikap Jaeyeon.

“Apakah kau percaya dengan cinta pada pandangan pertama?”

Mata Jaeyeon terbelalak, “Diamlah, aku sedang makan!” Sahutnya membuat Ryeowook menggaruk tengkuknya, “Maaf… maaf.”

Geudae, aku merasa tertarik padamu Jaeyeon-ssi.” Kata Ryeowook setelah jeda yang cukup lama. Jaeyeon menelan makanannya dengan hati-hati.

“Jangan jawab sekarang!! Aku tahu bagaimana perasaanmu! Aku tidak akan memaksamu!! Biarkan aku berusaha untuk menarik hatimu! Mianhaeyo Jaeyeon-ssi!”

“Cerewet, kau malah membuatku ilfeel.” Sahut Jaeyeon sembari mendengus. Ia lalu berdiri dan beranjak dari hadapan Ryeowook.

“Lakukanlah sebisamu Ryeowook-ssi. Hatiku terlalu dingin, semoga kau bisa menaklukannya.” Seru Jaeyeon lalu menutup pintu apartemen Ryeowook dengan keras.

Di depan pintu itu Jaeyeon memberhentikan langkahnya, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pabo pabo kau Jaeyeon!!!  Kata-kata yang dikeluarkannya tadi sangat refleks. Dan tidak mungkin bila ia memperbolehkan Ryeowook untuk berusaha menarik hatinya. Bukankah ia baru saja mengalami hari yang pahit setelah putus dengan Eunhyuk?

“Jaeyeon-ssi! Aku akan berusaha!!”

Lantas Jaeyeon mempercepat langkahnya setelah mendapati Ryeowook yang berseru di belakangnya. Ia tersenyum kecil, bila Ryeowook dapat menaklukan hatinya, tidak ada salahnya untuk menerimanya bukan?

Cinta tak butuh pemaksaan kok! Itu akan datang sendirinya, seperti hujan di musim kemarau yang sangat panjang.

END

P.s

AKU BELUM PUAS!

Seharusnya aku bisa menambahkan banyak kegiatan di antara Ryeowook dan Jaeyeon. Tapi, setelah dipikir-pikir ceritanya akan menjadi sangat membosankan bila aku menambahkannya :p

Fanic ini memiliki banyak kisah mengenai perasaan sakit setelah putus dengan mantan. Masih belum ngena sih T_T padahal pengen bikin orang nyesek bacanya.

Semoga saja suka walau memiliki banyak kekurangan. Jangan lupa kritik dan sarannya (kalau perlu saran untuk membuat sebuah cerita ‘ngena’ di perasaan para pembaca :p)

Editan fotonya juga masih pemula :3 semoga suka!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s