‘Cause I’m believe You

Arang menerawang. Endapan ingatan itu membawanya terbang, mengingat kejadian yang menimpanya seminggu lalu. Hari itu, hari dimana jantungnya berdetak kencang, dan hari mana ia tak bisa menahan euforia bahagianya.

@@@@@

“Arang… bukankah nama itu sangat menakutkan?”

Wajah Arang terdongak ke atas, matanya membulat, sedetik kemudian suara tubrukan pada lantai marmer café Aquilla pun berbunyi. “K…kau?”

Seorang pria mendecakkan lidahnya, seolah meremehkan sikap Arang yang terlalu paranoid ketika jarak mereka hanya sebatas beberapa centi.
Ia menjulurkan tangan kanannya pada gadis itu. Arang menolak, ia mengindahkan tangan pria itu lalu berdiri dengan tegap, menghalau rasa aneh yang berdesir di tubuhnya. Ia memperbaiki rambutnya yang sempat terhambur dan menepuk-nepuk celemeknya dengan kasar.

“A… apa yang anda, eum ingin anda pesan?” Tanya Arang kemudian.

Pria itu tersenyum tipis, lalu kembali mendudukkan dirinya pada sebuah kursi kayu yang nyaman. “Mocca atau Cappuccino?”

“Apa yang anda suka?” Tanya Arang sebal.

Ia menepuk-nepuk note kecil pada paha kanannya, merasa tidak sabar dengan kelakuan pria berwajah tampan di hadapannya itu.

“Park Arang! Apa yang kau suka?” Pria itu balik bertanya.

Aku tidak suka kopi. Sahut Arang di dalam hati. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan sikap pria di hadapannya itu. Pria yang ia pikir telah ditelan bumi sejak beberapa bulan terakhir.

“Ah~ aku tidak pernah lupa bila kau sangat membenci rasa pahit! Jadi, menurutmu apa yang harus ku pesan? Arang-ssi?”

Kesabaran Arang hampir habis bila ia tidak ingat dengan pekerjaannya sebagai pelayan di café Aquilla. Bila ia berani menyemprot pria itu, maka… tamatlah riwayatnya.

“Pesan saja semuanya, jadi aku bisa mendapatkan bonus yang lumayan untuk gajiku di bulan ini.” Jawab Arang santai tapi tetap tajam.

Pria itu tertawa renyah, memperlihatkan gigi putih porselennya pada Arang yang sama sekali tidak tertarik dengan tawa renyahnya. “I’ll never do that if i won’t lose you once again.”

Arang menjulurkan notenya pada pria itu, mengindahkan kata-kata gombal berbahasa Inggris yang tentu ia ketahui maksudnya dengan jelas. “Then, tell me what do you want!”

“Aku ingin memesanmu, ikuti aku dan jangan memberontak!” Sahut pria itu lalu membawa Arang dengan paksa keluar dari café Aquilla.

“Apa yang kau lakukan? Aku akan-”

Tubuh Arang menegang, pria itu memeluknya dengan erat di depan pintu café membuat seluruh mata tertuju pada keduanya. Arang mendorong tubuh pria itu, berusaha keluar dari tubuh bidang pria itu, juga menahan malu yang menjelajar di tubuhnya.

“Maafkan aku… Aku tidak akan meninggalkanmu lagi Arang,” ujar pria itu membuat lidah Arang tercekat, ia hampir saja memuntahkan seluruh isi hatinya sebelum kata-kata itu keluar.

“Maafkan aku…”

“Tan Hangeng…” desis Arang membuat pria itu berdehem.

“Lepaskan aku sekarang juga.”

Hangeng tertawa lalu menariknya menjauh dari café Aquilla walau beribu mata masih menatap dua manusia itu ingin tahu. Arang tidak menolak, tetapi langkahnya malas-malasan mengikuti langkah Hangeng yang sangat besar.

“Aku…”

“Kau bodoh atau sudah tidak waras?”

Pertanyaan Arang terdengar sangat lantang dan tajam ketika Hangeng baru mengajaknya duduk di sebuah ayunan taman bermain yang tak jauh dari Café Aquilla. Pria yang awalnya menjadikan Arang sebagai tawanan malah merasa sedang ditawan oleh gadis itu. Tapi itu lebih baik, daripada keduanya harus terdiam bisu karena kesalahannya.

“Seharusnya kau tidak perlu kembali lagi ke sini! Tidak perlu lagi mengacaukan hidup yang sudah susah payah ku atur tanpa kehadiranmu! Seharusnya kau…”

“Aku minta maaf… bila aku bisa melakukannya aku tidak akan menemuimu lagi. Tapi, seperti yang kau lihat. Aku tidak bisa!” Sahut Hangeng membuat Arang terdiam.

Shit! umpat Arang di dalam hati. Ia tidak pernah habis pikir dengan isi kepala Hangeng. Pria itu bersikap seenaknya, setelah meninggalkannya tanpa kabar ia kemudian muncul, meminta maaf pada gadis itu dan apa lagi? Meminta gadis itu kembali ke dalam pelukannya?

“Kau ke mana saja?” Tanya Arang setelah menormalkan detak jantungnya. Ia mencoba untuk bersabar, dan mendengar alasan pria keturunan China itu, walau sebenarnya ia sudah tahu dan hanya berniat untuk memastikannya.

“Aku ke China Arang, aku meneruskan perusahaan Ayahku yang sebelumnya mengalami krisis. Maaf karena langsung pergi dan tidak memberitahukanmu.” Jawab Hangeng sembari bernapas lega.

Arang mendesah, “kenapa tidak menghubungiku? Kenapa kau langsung pergi dan tak pernah memberiku kabar barang hanya sekali. Kau benar-benar membuatku hampir mati! Aku pikir kau sudah mati ditawan tentara Korea atau dibunuh oleh bos mafia. Kau selalu saja membuatku seperti ini! Dan seharusnya kau tidak mengulanginya lagi kan?”

Hangeng tertawa renyah, ia lalu berjongkok di depan Arang yang menatapnya frustasi walau mata gadis itu berbinar. Binar-binar kerinduan yang selalu membuat darahnya berdesir. “Aku memang salah. Aku bodoh yah?”

“Tidak! Kau tidak bodoh, hanya idiot!” Ucap Arang kasar sembari membuang pandangannya ke arah lain.

Jantung Arang terpacu sangat kencang, melihat Hangng dengan jarak yang cukup dekat itu membuat nafasnya tercegat. Harum parfum manly Hangeng memenuhi paru-parunya. Harum yang dirindukannya sejak beberapa bulan terakhir.

“Iya, aku idiot… jadi apa kau memaafkanku nona Arang?” Tanya Hangeng sembari menyisipkan rambut Arang ke telinga.

Gadis itu mendesah, detik berikutnya ia mengangguk dan menatap Hangeng tajam. “Kau sudah tahu jawabannya kan? Aku harap kau mau menjelaskan semuanya pada Mr. Choi sebelum aku dipecatnya!”

Tanpa memperdulikan pria itu, Arang berjalan meninggalkannya dengan perasaan yang membuncah senang. Ia tidak pernah berpikir untuk menolak pria itu, walau dulu ia sempat berpikir bahwa Hangeng telah menjadi abu dan disemayamkan di rumah orang tuanya di China.

Kelakuan Hangeng memang terlalu idiot untuk pergi ke China tanpa mengabarinya sekalipun. Membuat hidupnya seperti punduk yang merindukan bulan. Ia hampir menangisi seluruh harinya demi seorang Tan Hangeng sebelum ia bertemu dengan Kim Heechul.

Pria yang mengaku sebagai sahabat Hangeng itu hanya memberitahukannya bahwa Hangeng masih hidup dan memintanya untuk tidak menangisi pria China itu. Arang sempat merasa sangsi, Heechul menjelaskan secara blak-blakan tentang sifat Hangeng yang teledor dan katanya terlalu idiot.

Dan pada akhirnya ia tahu, dibalik ketampanan wajah oriental serta tubuh bidangnya Tan Hangeng memang tak memiliki otak yang sempurna. Ia terlalu kelabakan mendengar perusahaan ayahnya yang krisis lalu segera bertindak tanpa memberinya kabar.

“Keluarkan Park Arang dari Café ini! Dia akan bekerja denganku tuan Choi.” Seloroh Hangeng saat pria itu ditarik Arang ke ruang manager café Aquilla.

Arang membulatkan matanya. Sebelum gadis itu berbicara, Hangeng telah lebih dulu mengucapkan kata-kata sensitif di depan bos gadisnya itu. “Dia akan bekerja menjadi milikku selamanya… jadi saya meminta anda untuk mengeluarkannya sekarang juga.”

“Han…”

“Apa anda keberatan tuan Siwon Choi?” Tanya Hangeng lagi memotong desisan Arang.

Pria yang merasa namanya disebut lalu tertawa renyah. “Hyung, aku tidak bisa melarangmu… ia hartamu. Ambillah.”

Mata Arang hampir keluar dari tempatnya. Ia tidak tahu bahwa seorang Choi Siwon mengenal Tan Hangeng, bahkan memanggil kekasihnya itu dengan sebutan hyung.

“Kaa…”

“Ia telah menitipkanmu padaku, sekarang pemiliknya sudah ada, Park Arang… kau resmi keluar dari café ini.” Perintah Choi Siwon sukses membuat Arang menganga.

“Dan… jangan lupa untuk mengundangku ke acara kalian. Good luck for the proposal hyung.” Sahutnya sembari berhigh five pada Hangeng.

Hangeng lalu menatap Arang lembut, menarik tangannya dan membawanya keluar dari ruangan Choi Siwon setelah sebelumnya mengedipkan matanya pada pria itu. Ia mengelus-elus permukaan kulit Arang, menumpahkan kerinduannya yang sudah hampir melukai seluruh hatinya.

“Kita mau ke mana lagi?”

Akhirnya Arang berani mengeluarkan suaranya setelah masih menyaring kata-kata Hangeng di ruangan seorang Choi Siwon. Darahnya masih berdesir, masih sangat malu untuk mengakui sikap Hangeng yang bahkan belum melamarnya secara langsung.

Hangeng menginjak gas mobil pinjaman dari Heechul sembari terkekeh, suara Arang yang bergetar sangat menggelitik perutnya. Ia tahu, gadis itu masih shock dengan pengakuan Siwon di café Aquilla dan soal lamarannya…

“Aku akan ke rumah keluargamu di Busan. Bukankah aku belum melamarmu?”

Mata Arang melebar, ia lalu mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. Aku bermimpi? Tangan kanannya bergerak mencubit pipinya sendiri.

“Kau tidak bermimpi karena aku benar-benar di sini. Park Arang, setelah ini kau tidak akan perlu khawatir. Kau akan selalu bersamaku, aku tak akan meninggalkanmu lagi. Are You Promise?

Arang mengangguk, matanya bergerak memperhatikan Hangeng yang sibuk melihat jalanan di depannya. “Aku berjanji…”

@@@@@

“Arang!”

Teriakan itu membuat Arang tersadar dari lamunannya. Matanya menyipit, mendapati seorang pria bertuxedo telah berdiri di sampingnya. Arang menghembuskan nafasnya pelan. “Ayah…”

“Cepatlah! Pasangan pria telah menunggumu di depan altar!”

Cepat-cepat Arang berdiri dari duduknya, ia melangkah mendekati ayahnya lalu mencium pipi ayahnya dengan lembut. “Arang sayang Ayah.”

Ayahnya tersenyum, menahan perasaan sesak di dadanya ketika mendengar ucapannya itu. “Ayolah, dia pasti sudah tidak sabar!” Sahut Ayahnya.

Arang terkekeh lalu mengamit lengan ayahnya dengan erat. Walau juga merasa berat, ia tetap harus melakukannya. Ia yakin, Tan Hangeng adalah orang yang tepat untuk hatinya. Orang yang kini berdiri di depan altar, senantiasa menunggunya dengan senyuman gugup.

“Berbahagialah anakku.” Bisik Ayahnya lalu melepas Arang bersama Hangeng.

Nafas Arang berhembus teratur, matanya menatap kedua bola mata Hangeng dengan lembut. Senyumannya tak pernah pudar, Arang tahu, pilihannya tidak akan salah. Ia tahu bagaimana meyakinkan hatinya ketika Hangeng menghilang tanpa kabar, ia tahu karena ia yakin.

Dan bukankah cinta itu akan selalu bertahan bila ada keyakinan yang mendasarinya? Seperti itulah pikiran Arang. Ia percaya pada Hangeng, ia mencintai pria itu dan akhirnya, kini ia telah membuktikannya dengan mengucapkan, “aku bersedia.”

END

P.s

Selesai dalam beberapa jam di tengah-tengah buku Fisika dan chatingan absurd bersama teman-teman roleplayer. Actually, i’m so busy with all the freakin’ task… tapi imajinasi bagus ini tak bisa dibiarkan🙂

Yah, fanfic… padahal pengen cerpen. Tapi otak saya belum jalan untuk cerpen selanjutnya. Maybe next time ;3

Fanficnya belum sempurna, saya masih belajar membuat suatu karya yang enak dibaca /cielah/. Tapi semoga ada perkembangan yang baik🙂

Thanks for reading!!

3 thoughts on “‘Cause I’m believe You

  1. Ahhh… sepertti biasa, aku suka banget dengan ff mu chingu-ah…😀

    Singkat, padat, jelas, feel dapat, bahasa enak dibaca.. Pokoknya keren dahhh… Ahh.. aku jadi iri..😦🙂

    • Terima kasih nandaaa🙂

      Alhamdulillah ada perkembangan. Hayoo…iri itu pertanda kita harus bekerja lebih! Semangat Nanda… sebagai pemula ceritamu lumayan banget loh😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s