Little Tour to Pasir Panjang

Anak-anak berkulit eksotik itu berlari menjajaki pasir putih nan indah, saya termanggu. Enak sekali jadi anak kecil. Nafas saya terhembus, lalu saya hirup lagi udara bersih beraroma garam itu dengan teratur.

Beberapa menit yang lalu saya masih terduduk di atas sebuah kapal motor yang lumayan kecil dari Pelabuhan Batu. Ombak besar berduyun-duyun menabrak kapal itu, membuat beberapa orang berteriak. Walau takut saya masih bersikap tenang. Benar-benar jarang mendapatkan suasana itu. Adrenalin saya terpacu.

image

Pasir Panjang. Bagi orang Buton tempat itu sudah sering mereka dengar, tapi tak banyak yang sudah ke sana. Terletak di pulau kecil bernama Wara, di sisi pulau Buton. Hati saya berdegup kencang, tak sabar melihat pemandangan baru.

image

Setelah turun di pelabuhan feri Wara, saya menunggu rombongan yang membawa mobil. Pasir Panjang memang terletak cukup jauh dari pelabuhan utama Wara, maka dari itu rombongan dibagi menjadi dua. Yang ingin menikmati ombak barat dan yang membawa mobil dari Baubau.

Sinar matahari cukup terik, kondisi handphone pun harus saya jaga agar tetap stay on di Pasir Panjang nanti. Tak beberapa lama kemudian rombongan feri pun sampai. Saya langsung mengambil good position di mobil, duduk di dekat jendela, siap mengawasi pemandangan yang katanya belum tersentuh itu.

Dan Wah, saya tidak henti-hentinya berdecak kagum melihat padang luas dan bukit teletubies di sekitar jalan beraspal itu. Sayangnya, saya tidak bisa mendapatkan titik fokus yang bagus untuk memotret bukit teletubies, jalanan memang beraspal tapi kondisinya sangat rusak sehingga menyulitkan saya untuk melakukannya dari dalam mobil.

Sekitar sejam atau atau dua jam akhirnya rombongan sampai di sebuah pesisir pantai yang lumayan cantik walau matahari bersinar sangat terik. Saya turun dari mobil dan berdecak sebal karena panasnya yang menyengat kulit.

Mata saya lalu terbelalak melihat banyak sampah yang tergeletak di pesisir pantai. Pasir Panjang memang belum tersentuh, tapi sampah dari laut benar-benar banyak dan tak terurus. Saya tidak bisa mendapatkan landscape yang baik.

image

Karena merasa bosan akhirnya saya lebih banyak memusatkan perhatian pada anak-anak berkulit gosong. Anak-anak yang masih polos walau kelakuannya agak menjengkelkan. Kulit mereka tak terlalu eksotik, tapi benar-benar hitam dan membuat saya terkagum.

Walau angin Barat adalah salah satu momok menakutkan di Baubau tapi para anak-anak itu masih saja lepas berenang di laut, menerjang ombak raksasa dengan nyaman. Beberapa kapal nelayan juga ikut menerjang ombak walau tidak berani sampai ke tengah laut.

Tujuan saya ke Pasir Panjang hanyalah sebuah piknik bersama, menunggu makanan terhidang lalu mencomot seluruh makanan sembari menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa lengket di kulit. Saya menghabiskan waktu yang banyak untuk menikmati udara bersih di sana.

Letak Pasir Panjang benar-benar indah. Bila kita berdiri menghadap laut, di belakang kita ada tanah lapang yang sangat luas. Tanah lapang yang biasanya hanya saya lihat di televisi, tanah lapang yang tidak terjamah karena merupakan tanah adat. Anak-anak berlari di sana membuat saya juga ikut terbawa suasana.

image

Cuaca memang tidak terlalu bagus. Setelah terik, hujan pun sempat mengguyur tanah Pasir Panjang. Tak cukup lama dan hanya sebatas hujan lewat.

Setelah memuaskan keinginan perut dengan memakan-makanan utama. Saya dikejutkan dengan puluhan kepiting kecil, bercangkang merah dari salah satu mobil. Kepiting pun di rebus menggunakan kompor alam, yaitu kayu bakar. Fuallah~ tak berapa lama kepiting pun matang. Rasanya manis tanpa penyedap rasa, masih sangat segar.

image

Setelah menikmati kepiting, akhirnya saya dan rombongan harus kembali ke Baubau. Dan perjalanan pun terasa lebih cepat dari sebelumnya.

Kali ini seluruh rombongan tergabung menjadi satu, kondisi ombak tidak memungkinkan lagi untuk menaiki kapal motor. Setelah beberapa menit mengurus tiket, akhirnya mobil-mobil pun terparkir manis disebuah kapal feri.

Saya pun memutuskan untuk ke dek kapal. Menikmati ayunan ombak yang masih kukuh menerjang kapal feri. Benar-benar musim barat yang menakutkan. Weekend kala itu harus saya lepas dengan berat. Pemandangan mentari sore pun sangat indah dari dek kapal, lautan luas terpampang jelas dengan sisi-sisi Kota Baubau yang ramai. Liburan yang cukup menyenangkan.

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s