“Hai! Sekolah Baru!” [The Series of Lima]

Ody merapikan rambut super pendeknya sembari bergumam menyanyikan sebuah lagu dari boyband asal Korea, 2PM. Tangannya bergerak, menepuk-nepuk rompi kebanggaannya waktu SMP, rompi yang memiliki banyak cerita dan kenangan indah semasa itu. Kemudian ia bersandar pada kaca jendela ruang kerja ayahnya sembari mendesah pelan. Bagaimana ekspresi kakak kelas baruku nanti?

Pikirannya runyam, sejak bangun pagi jantungnya terus berdetak abnormal. Ia memang tidak sakit, tapi rasa gugupnya tengah menguap hingga ke ubun-ubun kepalanya. Ody tahu bahwa kegugupannya kini juga dirasakan oleh anak-anak seumurannya di Kota Baubau yang telah dipijakinya sejak seminggu lalu.

Ia baru saja akan mendaftar di sebuah sekolah, yang katanya cukup maju dan terkenal di Kota itu. Sebuah sekolah yang menjadi arena favorit anak-anak seumurannya. Entah arena seperti apa yang orang-orang bicarakan padanya. Yang terpenting, hari ini ia benar-benar gugup.

“Ayo Na!”


Suara lantang kakaknya, Ori, menggelegar di setiap sudut ruangan kerja ayahnya itu. Ori telah datang, ya, baru beberapa hari kakaknya itu menginjakkan kaki di Pulau Buton bersama ibu mereka. Memulai tour kecil mereka, mengelilingi Kota Baubau, berwitsata kuliner, dan bahkan mengantar Ody ke calon sekolahnya.

Ody menatap kakaknya jengah, seakan ingin mentransferkan rasa gugup yang dimilikinya kepada Ori. “Takut…” gumamnya.

Ori menjitak kepala adiknya dengan pelan, mendesis lalu tertawa dengan kencang. “Apa? Takut? Cemen dong.” Sindirnya membuat Ody mengerucutkan bibirnya sebal.

“Ayo ah!!” Seru Ori sembari menarik lengan Ody keluar dari ruangan itu, membawanya menuruni tangga kantor ayah mereka dan memasuki sebuah mobil avanza silver.

Di dalam mobil, ibunya sudah duduk dengan manis. Di depan setir ada Mas Joko yang kini bekerja sebagai supir ayah mereka, siap mengantar Ody mendaftar di sekolah barunya. Dada Ody berdegup kencang, rasanya ia ingin meneriaki Mas Joko, dan meminta pria paruh baya itu untuk mengantar mereka pulang.

“Sekarang bu?”

Kepala Mas Joko menyembul dari kursi setir, Ody mengangguk, begitu juga dengan Ori dan ibunya. “Iya mas.” Jawab ibunya singkat.

Tak perlu menunggu jarum jam berdentang ke angka 12, mobil itu pun melaju, membelah jalan raya, membawa Ody ke sebuah tempat penuh harap dan cemas. Sekolah baru? Tahun baru? Bagaimana hidupku nanti?

@@@@@

Kaki Ody bergetar, ia tak bisa berhenti melangkah melewati pintu gerbang yang penuh aura suram itu. Bukan aura suram penuh arwah yang sering ia tonton di televisi. Aura suram kali ini lebih mengerikan lagi, aura yang membuat jantungnya berdegup kencang saking takutnya melewati tempat laknat itu.

Ori menyenggol bahu adiknya sembari tersenyum menggoda, “pilih-pilih… kakak kelas yang cakep.” Bisiknya membuat Ody tersenyum getir.

Ada banyak siswa-siswi beralmamater hitam pekat berdiri di sekelilingnya, membuat asupan oksigennya menipis saking gugupnya. Ya, mereka adalah kakak kelas atau lebih tepatnya anak osis yang akan membantunya mendaftar, atau bahkan yang akan membantunya membuang rasa malunya nanti.

“Mau mendaftar yah?”

Ody memberhentikan langkahnya ketika suara penuh percaya diri itu merujuk ke arahnya. Ibunya mengangguk lalu berbincang-bincang dengan siswi beralmamater itu dengan asyik. Ody tak mendengar, ia merasa tuli karena sibuk berargumen di kepalanya.

“Ayo dek!”

“Ah?”

Ia terperangah saat siswi itu menariknya, menjauhi ibu dan kakaknya yang tengah tersenyum mengejek padanya. Ody mendesis, ia tahu, kini ia terlalu kekanak-kanakan dengan mengharapkan bantuan ibu dan Ori untuk mendaftar di sekolah itu.

“Pak guru! Ada lagi nih,” seru siswi itu lalu membawa Ody masuk ke sebuah kelas yang full dengan manusia berwajah polos, manusia yang seumuran dengannya.

Ody kemudian terduduk di sebuah kursi, tergencet dengan dua gadis berjilbab yang menatapnya dengan takjub. “Namamu siapa?” Koor kedua gadis itu tiba-tiba.

“Cloudya,” jawab Ody singkat, tersenyum jengah dengan tatapan ke papan tulis. Di depannya seorang siswa berkoar-koar tentang cara pendaftaran online, bahkan kini ia tengah memegang sebuah brosur, tahap-tahap mendaftar.

“Wah, dari Sulawesi Selatan?”

Kepala Ody bergerak ke atas dan ke bawah, ia merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan kedua gadis itu, pertanyaan operan dari beberapa orang di kelas itu. Matanya masih fokus memperhatikan siswa beralmamter di depannya.

“Jadi, sebentar kita akan foto supaya setelah mendaftar nanti, foto kita sudah langsung terpasang di kartu pendaftaran. Nah, kartu pendaftarannya langsung diprint dan dibawa ketika MOS dimulai. Mengerti dek?”

“Hm…” gumam Ody kecil, matanya lalu bergerak, memandang setiap sudut kelas itu dengan santai.

“Kamu ngerti kan dek?” Ody terkesiap, siswa beralmamater itu sudah berada di dekatnya, memandangnya dengan kedua alis terangkat. “Ya, iya…” jawabnya jengah.

“Nah, ayo berfoto! skhu-nya dibawa ke guru yah. Dimulai dari sudut sana.” Koar siswa itu sembari berjalan ke samping kelas, jari telunjuknya menunjuk seorang siswi yang terduduk di sudut kelas paling depan.

“Kamu dari mana dek? Makassar?”

Pertanyaan itu kembali menyerangnya dan kali ini dua orang siswa beralmamater yang mendatanginya. Ody mengangguk, “dari Sengkang, Sulawesi Selatan.” Jawabnya singkat.

“Wah wah… keren rambutnya dek.” Komentar salah seorang siswi membuat Ody tersenyum bangga.

“Eh, kamu ngerti kan?” Tanyanya sembari menunjuk brosur yang ia pegang. Ody mengangguk, “iya, jadi, bagusnya mendaftar untuk rsbi atau reguler aja kak?”

“Begini dek, kalau nilai akhir kamu di atas 7 lebih baik kamu mendaftar untuk rsbi, supaya kalau misalnya kamu nggak lolos rsbi, kamu bisa masuk di kelas unggulan. Nah, kalau reguler hati-hati aja terdepak di kelas paling bawah,” Jelas siswi berambut ikal itu sesekali bergumam. Ody mengangguk mengerti, “oh, makasih kak.”

“Em, kamu masuk rsbi kan? Masuk aja yah, bagus kok.” Ujar siswi itu lagi membuat Ody terdiam, detik berikutnya ia mengangguk ragu.

“Kamu masuk aja, bagus kok. Bisa belajar lebih dalam lagi.”

Ody terkesiap. Belajar lebih dalam. Ia punya janji dengan kedua sahabatnya di Sengkang. Janji serius untuk belajar lebih baik ketika mereka duduk di bangku sekolah menengah atas. Ia kemudian tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya senang.

Pikirannya melayang, ia ingin bersikap lebih baik dan lebih profesional kali ini. Tidak main-main seperti kala SMP, di mana dirinya terlalu freak dengan Kpop dan menjadikannya seorang fangirl frontal yang tak pernah memikirkan pelajaran. Ia ingin serius, itulah janjinya dulu.

Senyum Ody melebar untuk sesaat. Hatinya membuncah senang. Ya, belajar. Belajar. Belajar.

END

P.s

Akhirnya selesai selama setengah jam (lumayan… lumayan). Walau harus menunda selama berminggu-minggu untuk memulai membuat cerpen series Lima kk~

Ceritanya hanya melompat pada kejadian-kejadian penting, tidak menceritakan bagaimana sulitnya tinggal di sebuah hotel selama 2 hari tanpa Bapak yang harus pergi ke Kendari dan bagaimana senangnya bertemu dengan seorang ibu pemilik rumah makan yang selalu memberikan porsi super besar kala itu. Aahhh, rindunya🙂

Semoga suka, selanjutnya… entahlah. Kapan-kapan mungkin? Hahaha! Thanks for reading🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s