Pacaran dengan Tanaman

Sejak perubahan mata pelajaran Muatan Lokal menjadi Biologi Pertanian, pengetahuan saya mengenai tanaman berkembang pesat meskipun masih seperti biasa, saya bosan dengan pelajaran MIPA. Ketika pelajaran yang sering disebut dengan bioper ini tertulis dalam jadwal harian, saya merasa sangat lemas, sempat kesal dengan peraturan sekolah itu.

“Pelajaran yang membosankan akan bertambah!!”
Bagaimana pun juga bioper adalah pelajaran MIPA dan berbicara tentang proses ini itu dalam tanaman membuat saya terus menguap ketika pelajaran dimulai. Cukup sedih ketika mulok terganti, mengingat saya sangat suka dengan cerita sejarah Kesultanan Buton dan berbagai hal berbau budaya dan adat istiadat suatu daerah.

Namun hal itu berubah ketika terjadi pergantian semester. Memang masih membosankan karena harus bercengkrama dengan siklus-siklus fotosintesis dan para molekulnya, tetapi ada yang lebih menyenangkan ketika kelas saya diberi tugas untuk menanam. Dan yang paling tertantang kali ini adalah jenis tanaman yang kelas saya tanam adalah strawberry.

Hei! Ini Buton! Apa bisa strawberry tumbuh dengan baik?

Pemikiran itu menjelajar di sekeliling kelas, tak terkecuali saya sendiri. Bahkan hanya saya yang tak mempunyai teman kelompok setelah Hikmah pindah ke Wanci (Wakatobi) dan menyisakan 19 manusia di kelas, mengakibatkan setiap pembagian kelompok harus ada yang berkorban untuk menjadi seorang individu.

Awalnya cukup sulit, namun saya langsung bertindak dengan ikut menitip tanaman muda strawberry yang katanya dibeli cukup jauh dari pusat Kota Baubau. Alhamdulillah, saya mendapat jatah 2 tanaman strawberry yang terlihat rimbun. Akhirnya dengan langkah tanggap saya pun memindahkan tanaman saya itu ke dalam polibek.

Hari-hari saya pun mulai dihiasi oleh tanaman. Setiap pagi saya pun apel, menyiram air, mengelus dedaunannya serta berbicara dengan mereka. Sebenarnya, tujuan saya menanam bukan untuk mendapatkan nilai tetapi saya ingin membuktikan bahwa tangan saya bukan tangan besi yang tak bisa merawat tanaman.

image

Dua pacar saya

Ketika masih di sekolah dasar, saya pernah mendapat tugas yang sama. Namun, tanaman saya mati dan orang-orang mengatakan bahwa tangan saya terlalu keras untuk merawat tumbuhan. Kali ini saya akan buktikan bahwa tangan saya tidaklah sekeras yang orang pikirkan.

Alhamdulillah. Setelah beberapa minggu saya rawat, tanaman saya makin rimbun bahkan bakal buah strawberry saya pun muncul. Padahal mengingat suhu Kota Baubau yang sangat panas, jarang kemungkinan buah strawberry bisa tumbuh dengan baik. Benar-benar senang melihat perubahan yang sangat signifikan itu.

image

Bakal buah strawberry

Selain itu, mungkin karena nasihat dari Ibu Sarah, guru agama yang bercerita tentang tanah yang subur. Beliau mengatakan bahwa orang yang sering bersyukur akan dikeilingi oleh tanah yang subur, membuatnya selalu bergelimpah dengan kecukupan. Sejak itu saya sering bersyukur, tapi bukan karena menginginkan tanah yang subur. Syukur saya ikhlas kok hehehe…

Yah, saya harap… pacar saya -tanaman strawberry- bisa tumbuh dengan baik dan bertahan dengan pengaruh sinar matahari yang terik di daerah ini. Semoga buah strawberrynya bisa dinikmati bersama. Apalagi wa Dian yang katanya belum merasakan buah strawberry, Insya Allah saya akan membagi hasilnya dengan rata.๐Ÿ™‚

*Wa: sebutan untuk kata ‘dia perempuan’ di Buton. seperti She dalam bahasa Inggris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s