Menembus Awan

image

Setiap manusia pasti pernah bermimpi, begitu juga denganku. Saat masih di dunia angan-angan itu, semuanya terasa jelas -seperti benar-benar terjadi padahal itu hanya sebuah bunga tidur. Dan ketika terbangun, mimpi itu terkesan samar. Tak jelaslah pokoknya. Samar-samar itulah yang mengingatkanku pada awan.

Pagi itu, saat matahari belum menampakkan seluruh sinarnya di ranah Sulawesi aku dan keluarga telah bersiap, membawa tas ransel berat, tas koper juga dua dos berukuran sedang berisi oleh-oleh khas Kalimantan berdiri di teras rumah menunggu sebuah mobil Escudo keluaran 2003 yang dikendarai Kak Nila untuk mengangkut barang juga kami menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Kurang lebih sudah hampir 2 minggu lebih aku menikmati hari tanpa istirahat yang cukup untuk menikmati liburan semester yang panjang di Makassar juga Samarinda. Walau tak memiliki istirahat yang cukup, yang mengakibatkan timbulnya beberapa penyakit pada tubuh, aku tetap bersemangat seakan di depan sana ada kesibukan panjang yang menunggu tanpa ingin memberikan keleluasaan untuk bergerak banyak seperti waktu liburan.

Ya, hal itu memang benar. Ingat lagi tentang post sebelumnya yang menceritakan sedikit kegelisahan mempersiapkan UAN yang kan menghampiriku tahun depan. Maka dari itu, liburan kali ini benar-benar berbeda. Full. Tiada hari tanpa bergerumul di dalam AC mobil maupun AC alam angkutan umum. Semuanya terasa nikmat, ya, aku menikmatinya.

Sekitar pukul 10 lewat, akhirnya aku duduk di samping jendela kecil berbentuk segiempat yang setiap sisinya membundar. Wings Air, itulah maskapai penerbangan yang setiap harinya melakukan pendaratan di tanah Buton, selain itu, ada pula Merpati. Hanya dua maskapai itu memang, karena bandara Baubau memiliki landasan yang tak cukup besar untuk menampung pesawat seperti Sriwijaya Air atau Garuda Indonesia.

Suara pramugari berkumandang lewat loudspeaker, mengatakan bahwa pesawat akan take off menuju Kota Baubau. Kedua bibirku pun bergerak mengucapkan Basmalah lalu disambung dengan lantunan dzikir. Ini bukan pertama kalinya aku naik pesawat, tapi tetap saja aku merasa gugup karena mengingat kondisi cuaca Baubau yang masih dingin-dinginnya diguyur oleh gerimis. Seharian matahari tak terlihat, ujar Mas Joko sopir bapak ketika kami sampai di Baubau.

Kembali ke atas pesawat. Seperti biasa, saat pemandangan tanah Sulawesi Selatan terlihat seperti miniatur kecil permainan lego aku mengambil kamera dan memotret dari atas. Lumayan, setidaknya ada yang bisa ku ceritakan di blog bila mood ku sedang baik. Cantik sekali, bahkan aku pun mengerti mengapa Indonesia disebut sebagai Negara Agraris juga Maritim.

image

Lama pesawat terbang rendah, memperlihatkan lekukan gunung ural yang cantik. Seringnya, aku menebak nama tempat yang sempat aku lihat dari dalam pesawat. Camba, Sengkang, Soppeng bahkan pabrik semen Bosowa pun ku sebut. Tapi, aku sendiri tidak tahu apa tebakanku benar atau sama sekali salah. Yang terpenting, ada hal yang ku nikmati selama perjalanan.

Ketika pesawat mulai terbang tinggi, menembus awan kecil hingga berada di atas awan, lagi-lagi aku harus berdecak kagum. Seperti kata beberapa novel romance yang ku baca, awan itu seperti permen kapas, berwarna putih menggumpal yang sepertinya ingin dimakan saja. Tapi aku berbeda, bagiku awan itu seperti kumpulan kapas empuk yang ingin ku jadikan tempat tidur. Ya, sepertinya aku sedang ngantuk hehe.

Sekitar setengah jam pada akhirnya aku terlelap. Lelap ayam, karena aku masih bisa mendengar bisikan tetangga yang entah, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Di sampingku, Nanda terlelap, kasihan dia, sekitar 3 hari ia terus merasakan sakit perut sehingga liburannya sedikit terganggu sehingga menimbulkan kekhawatiran mendalam pada mama juga bapak. Maklum, Nanda anak paling bungsu yang artinya kini ia berstatus yang paling kecil dalam silsilah saudara kandung.

Setelah lelap ayam, aku benar-benar bangun diikuti dengan suara pramugari yang menyatakan Kota Baubau sudah berada di depan mata. Lantas aku menengok ke arah jendela, isinya putih dan biru. Belum ada tanda-tanda gugus pulau, hanya laut biru pekat yang tersebar dalam area pandangan mata. Namun, yang lebih mendominasi adalah awan. Benar, cuaca Baubau sedang tidak cerah.

Aku merasa isi perutku sedikit terguncang ketika pesawat bergerak turun secara perlahan. Beberapa benturan terus terjadi karena pesawat tengah menembus ribuan uap air yang membentuk awan. Tentu saja aku merasa was-was dan tak pernah berhenti berdzikir. Tak lama, pesawat pun kembali normal, pemandanganku yang semulanya terlihat putih, seperti samar-samar mimpi mulai berganti dengan pemandangan laut. Bila diteliti lebih lagi, kita dapat melihat desiran ombak dalam bentuk mini, cantik.

Pemandangan kilang minyak pertamina Buton pun mulai terlihat, di pesisir selanjutnya pantai berpasir putih tersebar diikuti oleh warna hijau muda cantik sebagai warna air laut yang tak terlalu dalam. Warna hijau itu juga muncul akibat Koral, anemon, juga beberapa mikroorganisme yang hidup di laut. Ya, kali ini pelajaran Biologi memang sangat berguna. Aku yakin, siapa pun yang melihat juga tak akan berhenti berdecak kagum.

Pukul 11 lewat, perjalananku menembus awan pun selesai, berganti menjadi perjalanan darat menuju rumah yang teretak di kawasan Pelabuhan Murhum Baubau diikuti dengan obrolan kecil mengenai kondisi Baubau selama 2 minggu yang lalu. Ujar Mas Joko, mahasiswa terus berdemo menolak BLSM sehingga plat merah susah untuk bergerak bebas di Kota. Ya, mendengar itu aku sedikit merasa sarkatik, coba saja para mahasiswa itu diberikan liburan sementara untuk menembus awan, mungkin mereka bisa lebih nyaman untuk berpikir luas. Hehehe…

Bonus Pic, dari langit tuh…

image

Β 

image

Β 

image

4 thoughts on “Menembus Awan

  1. Wahh… keren!!
    Sayang banget kita nggak bertemu..😦
    Aku juga sempat melakukan penerbangan liburan ini, tujuan Yogya.. tapi astaga aku nggak berhenti berdzikir.. aku juga selalu cemas tiap terbang.. Hehehehe…

    Eh, ada satu hal yang menggelitik…
    Nama adek kamu Nanda?? Ahh… kok nama aku ada yang sama ya?? *nangis di pojokan*

    Foto-fotomu keren loh… aku paling suka dengan foto awan yang berbatasan dengan langit itu dan juga foto pemandangan antara tanah SulSel dan lautnya… keren!πŸ˜€

    As usual, I cannot give you a comment… However, I love your sentence.. Kekekeke..πŸ˜€

    • Hehe.. makasih ya udah baca. Iya, padahal ngarep pengen ketemu T_T

      Nandaaa, dia cowok loh :p haha… namaku juga banyak samanya..

      Iya, aku suka motret. Tapi itu masih belum seberapa, nanti usaha lagi lebih dan lebih!πŸ˜€

      Big Thanks Nandaaa *hug

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s