Kenangan Imlek

image

Berbeda dengan Banjarmasin dan Makassar. Perayaan Imlek di Kota Baubau, lebih tepat lagi di Pulau Buton tidak terlalu terasa. Malah, aku tidak meihat sedikit pun pernak-pernik Imlek tersebar di setiap penjuru kota. Mungkin ada, tetapi tidak sempat untuk mengimbangi tempat tersebut karena terlalu sibuk mengurus tugas, juga latihan soal yang tidak pernah terjamah selama satu bulan. Kadang, Imlek membuatku teringat akan baju a la meme atau cici yang berwarna kemerahan dengan aksen kancing Chinese yang khas. Baju gamis yang panjang, bermotif naga atau bunga—entah bunga jenis apa—merah yang cantik. Baju Cheongsam.

Dulu, ketika masih tinggal di Banjarmasin dan Makassar, mama dan bapak sering membelikanku baju Cheongsam. Kemudian, saat libur tiba aku akan dibawa jalan ke Mall atau hanya menunggu rombongan Barongsai yang lewat di dekat rumah dan mengejar kawanan tersebut untuk meminta Angpao. Meskipun bukan dari kalangan etnis Tionghoa, wajah keluargaku termasuk golongan oriental. Mata kami sipit, berkulit putih dengan ukuran kaki yang lumayan kecil. Setelah ditelisik lebih jauh, ya, kami memiliki hubungan erat dengan orang Asia Timur. Datuk laki-laki dari Mama adalah seorang Pria Jepang yang menikahi gadis kampung asal Banjarmasin. Sedangkan, dari bapak diturunkan keturunan Cina. Hubungan yang sebenarnya dekat, tapi budaya kami lebih ke-Indonesia-an. Sudah mengikuti budaya Banjarmasin.

Jadi, jelas… aku adalah orang Banjarmasin yang nomaden dan besarnya di beberapa tempat di Indonesia.

Kembali bercerita mengenai Imlek. Kala Imlek adalah waktu yang selalu ku tunggu karena aku sangat senang mendapatkan baju baru dan memamerkannya di depan teman-temn yang ‘kan berdecak kagum. “Wihh… kayak orang Cina asli!!”

Ketika kecil aku memang selalu disamakan seperti anak Tionghoa, meski kulitku terlalu eksotik akibat terlalu lama bermain di bawah teriknya panas matahari. Saat SMP, aku disebut sebagai anak Korea, karena wajahku yang kurang-lebih katanya mirip sama orang Korea. Hingga SMA, aku disebut sebagai anak Korea kembali. Teringat akan memori saat pertama kali datang ke Kota Baubau dan mengikuti MOS. Rambutku pendek, seperti aktor Korea kebanyakan karena terlalu freak Kpop. Cerita darti teman mengatakan bahwa mereka pernah melihatku berjalan di koridor sekolah dan mengira aku adalah siswa, hingga akhirnya mereka melihat seragam rok biru yang ku kenakan. They were speechless. Aku adalah siswi.

Yah, masih banyak lagi cerita lucu mengenai hal yang sama. Karena sering disebut sebagai orang Asia Timur, aku pun makin tertarik dengan kebudayaan mereka. Bukan berarti melupakan budaya sendiri, ya. Dalam artian, itulah mengapa aku suka waktu Imlek. Aku suka melihat warna merah bertebaran di penjuru kota, warna angpao atau bahkan warna duit :p

Rasanya oriental. Hal yang jarang ku dapatkan saat ini, sekaligus hal yang ku rindu. Membuatku ingin mampir ke Kuil. Ingin melihat apa yang dilakukan orang saat Imlek tiba. Menonton rombongan barongsai, mengikuti arak-arakan imlek yang menampilkan dewa-dewi, atau mencoba makanan khas imlek seperti lontong Cap Go Meh gitu. (Sun cake nggak, masuk ya?)

Ah… Sadar atau nggak budaya Indonesia ini benar-benar unik. Etnisnya banyak. Perayaan uniknya pun apalagi. Sebab itu, aku ingin sekali berkeliling Indonesia, ingin melihat budaya apa saja yang tersimpan pada setiap daerah. Terlebih saat perayaan Cap Go Meh tiba. Apakah ada pasar malam di Kampung Cina Makassar minggu ini?

2 thoughts on “Kenangan Imlek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s