Wa Ambe

image

Mungkin ini sudah kesekian kalinya jantung ini berdegup kencang. Degup yang berbeda dari degup jantung biasa. Siapa sangka? Degup jantung pun bisa terasa berbeda walau tidak ada penjelasan yang jelas untuk membedakannya. Harusnya semua sama, tapi sayang degup ini berbeda. Degup ini jelas berbeda. Ya, berbeda. Rasanya tidak ingin meledak, tetapi membuat paru-paru ini dipenuhi oleh ribuan kupu-kupu yang tengah sesak berebut untuk terbang.

Apa betul ada kupu-kupu di dalam paru-paru ini? Atau mungkin di dalam rongga dada?

Lawak. Jelas semuanya merupakan penjelasan dari beberapa buku romance yang pernah ku dengar. Garis bawahi, dengar. Sebagai pria, aku tidak mungkin membaca novel romance remaja, kan? Jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya kupu-kupu bersemayam di dalam tubuh ini. Yang terasa jelas hanya degupan yang lebih berbeda. Hanya itu. Selebihnya dada ini terasa sesak.

Sepintas rasanya ingin mati saja. Rasa sesak juga degup yang bersamaan ini membuat mood-ku naik turun karena tidak ada jawaban pasti akan fenomena ini. Tetapi, yang membuatku selalu ingin bertahan ialah apabila rasa berbunga-bunga timbul secara tiba-tiba, seperti rudal tanah yang terinjak secara tidak sengaja. Rasanya meyenangkan. Seperti sedang menaiki komedi putar dan tiba-tiba roda besar itu terhenti tepat saat aku berada di puncaknya. Mual, menegangkan dan menyenangkan.

Meski sedang tidak menaiki komedi putar. Kali ini yang membuatku merasakan sensasi luar biasa selain mual adalah sosok gadis yang tengah terduduk di pinggiran pantai. Sebuah Pantai di Tenggara Sulawesi bernama Nirwana yang memang terasa seperti surga atau nirvana. Pasir putih dan ombak meyakinkanku bahwa gadis di sana terlihat seperti tokoh Ariel si Little Mermaid dengan rambut hitam gelap yang panjang. Sosoknya terlihat begitu mencolok di bawah teriknya mentari pagi.

Aku tidak salah lagi. Gadis itu memang nyata, setelah sekian kali ku menemuinya secara tidak sengaja di beberapa tempat wisata kota ini. Dan aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Setelah berhasil menyusun prakata untuk memperkenalkan diri, aku segera berdiri dan duduk menghampirinya. Dari dekat gadis ini terlihat lebih bersinar. Kulit putihnya sesuai dengan rambut hitam sepunggungnya, benar-benar Ariel tanpa ekor ikan dan rambut merah.

“Selama…”

“Selamat pagi.” Ia mendahuluiku untuk mengucap salam dan memandangiku dengan sangat intens. Cepat-cepat ku atur raut wajah yang cengengesan ini. Ia benar-benar sangat cantik.

“Apakah kamu seorang Ariel? Maksudku, Ariel the little mermaid yang sedang menunggu pangeran untuk dinikahi dan kemudian merubahmu menjadi manusia seutuhnya.” Kataku berbasa-basi yang mungkin akan terdengar garing. Tapi aku tidak peduli. Hanya cara ini yang terpikirkan oleh benakku.

Namun mengejutkan, ia tertawa kencang. Rambut hitam ikalnya bergoyang mengikuti semilir angin dan pandanganku jelas terkunci pada kedua bibirnya yang berwarna merah muda. Bagaimana rasanya? Tidak, maksudku senyumnya membuatnya makin bersinar.

“Kalau saya menjawab ya, kamu pasti akan sangat terkejut. Tetapi benar, saya seperti Ariel. Hanya saja nama saya Wa Ambe.” Jawabnya segera membuatku tertawa hambar. Jelas, joke-nya tidak lucu atau mungkin karena selera humorku yang terlalu tinggi?

“Begitukah? Kalau begitu, bagaimana caramu bisa berada di daratan?”

Wa Ambe, yang lebih nyaman ku panggil Ambe tersenyum lirih. Senyumannya tiba-tiba membuat deburan ombak di sepanjang pantai ini terlihat lebih tenang. Ombak seakan tahu apa maksud senyum lirih Ambe yang tidak ku pahami. Berharap ia menjawab candaanku dengan candaan yang memudarkan senyum lirihnya, Ambe malah menegakkan tubuh. Ia berdiri sembari menatap lautan yang terpampang luas di hadapan kami.

“Saya harus kembali.” Sahutnya ditengah terpaan angin yang kencang.

Sungguh disayangkan. Apakah ini mengenai cerita Cinderella yang harus kembali saat pukul 12 malam? Bahkan jam tangan digitalku menunjukkan pukul 8 pagi. Lawakan dari mana lagi seorang putri duyung juga berkontribusi menjadi Cinderella? Oke, aku meracau tidak jelas akibat kecewa melihat sikap Ambe yang seakan tak ingin berteman denganku.

“Tunggu! Nama saya Ramon!!” Aku memekik begitu melihatnya berjalan menuju pantai. Hei, jangan bilang kalau dia ingin bunuh diri!

Ambe tidak peduli dengan pekikanku. Ia berjalan pelan menembus ombak yang masih bergerak tenang, refleks aku berlari dan segera menarik tangannya takut bila ia benar-benar ingin bunuh diri. “Kamu mau ke mana? Jangan melakukan hal bodoh!”

Tanganku ditepisnya. Ambe tersenyum lirih, kali ini menghentikan langkahnya. “Tidak Ramon. Saya harus kembali. Tetua laut telah memanggil saya untuk meninggalkan dunia kamu, Ramon. Di sini tidak aman lagi untuk saya.”

“Jangan bercanda! Saya tidak percaya dengan Ariel atau tetua laut yang kamu bicarakan. Jelas semua itu hanya dongeng. Jangan membuat dongeng sebagai alasan untuk bunuh diri! Kamu gila?”

“Tidak. Saya memang seperti Ariel. Saya ingin berubah menjadi manusia dan berniat mencari pemuda yang berhati murni untuk dinikahi. Tetapi, pemuda seperti itu tidak ada lagi di dunia ini. Selain itu, sudah banyak kerusakan yang manusia buat dan saya tidak bisa membiarkan mereka melakukannya. Saya harus kembali, saya harus menjaga laut seperti halnya tugas para duyung.”

“GILA!!”

Cukuplah. Aku tidak mau banyak berbicara dengan orang gila yang sayangnya cantik seperti gadis di depanku ini. Ambe gila dan aku tidak mau menjadi bahan tertawaan orang-orang mengenai seorang pemuda yang tertarik dengan orang gila yang ingin bunuh diri. Mau dikemanakan wajahku ini? Aku tidak mau wajah ini terpampang di beberapa situs online atau media massa apabila berita ini terhembus sangat kencang.

“Maaf Ramon! Saya tidak akan kembali dan tolong jagalah bumi agar keseimbangan tetap terjaga.”

PERSETAN!

Tanpa berpikir dua kali. Aku berjalan menjauhinya. Tidak peduli gadis itu mau bunuh diri atau tidak, yang jelas aku tidak akan berbicara dengan orang semacam Ambe yang merasa dirinya manusia setengah ikan. Tetapi, entah seruan dari mana. Aku berbalik untuk memastikan keberadaan Ambe dan mengejutkan, di depan sana hanya ada lautan luas dengan deburan ombak tanpa sosok Ambe. Ke mana gadis cantik itu? Batinku ragu bila Ambe benar-benar bunuh diri.

Tidak ada tanda-tanda manusia yang sedang bunuh diri dan keadaan pantai yang sepi tetap seperti itu. Tidak ada teriakan atau gelembung gas di lautan. Ambe menghilang. Jelas menghilang karena lautan terlihat sangat tenang. Ombak kembali bergejolak setelah angin saling bersahutan meniupkan kekuatannya. Tidak mungkin.

Apakah aku hanya bermimpi?

Apakah Ambe hanya rekaan batinku yang merindukan sosok wanita?

Atau memang benar, Ambe adalah sosok manusia setengah ikan yang kecewa akan sikap manusia di bumi?

Tuhan… Engkau ke manakan Wa Ambe yang telah merenggut hatiku ini?

END

Note:

Ini apa? Jelas ini cerpen hehehe. Di tengah-tengah persiapan UN aku disuruh untuk rehat menulis sejenak, tetapi aku tidak bisa membohongi hati untuk menghentikan kebiasaan yang telah ku sebut sebagai passion. Tanganku gatal, otakku meriang penuh cerita dan hatiku terus meresah.

Semoga cerita pendek ini bisa membuatku tenang dan aku dapat belajar dengan sangat lancar. By the way, mengenai Wa Ambe dan Ramon. Ini cerita pertamaku mengenai fiksi Indonesia yang bersangkutan dengan budaya walaupun tidak ada cerita rakyat mengenai Wa Ambe di Buton. Jelas, ini hanya rekaan dengan amanat yang aku kira sudah terpampang nyata.

Save our earth. Akhir-akhir ini aku resah melihat kerusakan bumi, bahkan langit Buton kala Subuh sempat terlihat mencekam. Entah karena apa jelasnya, tapi aku rasa tidak jauh dari perbuatan manusia. Hem… okelah. Sampai di sini dulu ya~~ ke depannya tunggu sampai UN atau UAS selesai deh! Chaw!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s