Gadis Kamera

Gadis itu mengalungkan kameranya kembali setelah melilit gantungannya pada tangan kanan yang terbiasa menenteng berat kamera Canon 550D ketika lehernya terasa kram. Kamera itu tidak pernah jauh darinya, selalu berada di dekatnya, entah dengan tas kecilnya atau telanjang tanpa penutup lensa yang harusnya merupakan benda terpenting agar permukaan lensa tidak terkena debu yang berterbangan bebas di udara. Kakinya yang hanya dilapisi celana kemeja selutut terkena imbas ombak ketika berjalan mendekat ke tepian, rompi merah kotak-kotaknya tampak kontras dengan warna langit saat ini.

Sekali lagi, untuk kesekian kalinya Bimo meliriknya penasaran. Ini sudah ketiga kalinya dalam minggu ini dia melihat gadis itu. Si gadis kamera, dia menyebutnya begitu melihat sikap si gadis yang tak pernah lepas dari kamera. Ke mana pun, saat mereka bertemu. Bahkan untuk ketiga kalinya saat dia mengunjungi Pantai Nirwana yang terletak di tepian Pulau Buton. Seharusnya tidak aneh, mengingat Buton memiliki wilayah yang tak begitu luas dengan hutan lindung di setiap penjuru. Bahkan di tengah kota pun terdapat hutan—walau kapasitasnya tak begitu besar.

“Pantai Nirwana, bagi rakyat Buton terlebih masyarakat Kota Baubau merupakan tempat wajib yang haruus dikunjungi setiap minggu. Mereka biasanya membawa keluarga besar hanya untuk sekedar berpiknik sekaligus berenang di tepian pantai. Lucunya, mereka memiliki menu andalan.”

“Hah? Menu andalan?” Bimo bertanya retoris alih-alih melirik si gadis kamera yang tengah berjongkok di tepian pantai untuk mengambil gambar beberapa karang juga pasir yang telah bercampur batuan kerikil berwarna-warni. Dia menahan tawa, gadis itu kini terlihat seperti anak kecil berumur 5 tahun.

“Kasuami, ikan bakar dan sambal cobek.” Kata sang Guide yang dikenal Bimo sejak beberapa tahun silam lewat Facebook saat dia sibuk mencari tempat liburan asyik bertemakan Pantai di internet.

Awalnya Bimo mengsearch tempat wisata Indonesia lewat internet dan mendapati nama Bali, Lombok atau Raja Ampat sebagai pencarian teratas. Dia merasa bosan dengan  ketiga tempat itu—sebagaimana pekerjaannya hanya bolak-balik tempat wisata yang sama hanya untuk mendapatkan beberapa foto dan cerita traveling untuk majalah perusahaan penerbangan ternama di Indonesia. Bimo memiliki kapasitas kebosanan yang luar biasa dan dia berinisiatif mencari tempat wisata baru yang juga jarang diketahui khalayak umum. Pada akhirnya, pencariannya pun berbuah, mendapati sebuah blog mengenai Buton.

La Radio. Sepintas nama guide itu seperti nama Radio, tetapi tidak. Itu nama sang pemilik blog yang akhirnya menjadi teman surel Bimo dengan ceritanya mengenai perkembangan juga sejarah Pulau Buton ketika dia mensurelnya terlebih dahulu. Bimo tertarik dengan Buton, dengan sejarahnya yang panjang sebagai penguasa beberapa wilayah di Sulawesi juga kekerabatannya dengan kerajaan Majapahit. Apalagi Buton memiliki tempat wisata yang masih natural, jarang dikunjungi wisatawan asing maupun domestik.

“Apa enak?” Bimo mendelik, mengingat hari pertamanya tiba di Buton ketika Radi—nama panggilan yang lebih disukai Bimo—mengajaknya makan siang di pinggir jalan dengan menu Kasuami plus ikan bakar sambal cobek. Rasanya jangan ditanya, bagi pemilik lidah Jawa tentu Bimo merasa makanan itu kurang rasa, yang ada hanya pedas yang membakar mulut hingga lambung.

“Tentu saja, kamu hanya perlu menikmatinya Bimo.” Kata Radi menahan tawa. Ini bukan pertama kalinya dia mendapatkan kesan buruk mengenai makanan khas kampung halamannya, tetapi melihat reaksi para wisatawan seperti Bimo tentu membuat perutnya terkocok geli.

“Tidak, aku lebih suka Parende daripada Kasuami.” Sungut Bimo, lagi-lagi melirikkan matanya menuju tepian pantai melihat si gadis telah beranjak menyusuri tepian yang lain.

Parende. Dalam kamus Bimo, kuliner ikan berkuah kuning itu terasa lebih enak dan segar dibandingkan kuliner ikan di daerah lain. Tidak untuk Kasuami atau Tuli-tuli yang berbahan dasar ubi yang dimakan dengan sambal cobek dan ikan bakar, Bimo lebih suka ikan kuah Parende lengkap dengan 5 cabai rawit sebagai penambah nafsu makan. “Besok kamu bisa ajak saya makan Parende di warung Mama Eli lagi, kan?”

Radi mengangguk santai. Warung Mama Eli sudah menjadi warung Parende terenak seantereo Kota Baubua, sudah banyak wisatawan yang ketagihan dengan penganan yang dibuat Mama Eli sebagai pemilik warung, juga masyarakat Kota Baubau sendiri. “Sudah menjadi jadwal saya membawa kamu makan di warung Mama Eli.” Katanya.

“Kenapa? Kamu mau buat saya bosan atau gimana sih Radi?” tukas Bimo dengan delikan matanya, sempurna memfokuskan perhatian pada wajah hitam eksotik milik Radi, bukan pada gadis kamera yang telah hilang di tepi ujung Pantai Nirwana yang dihiasi gunung karang yang terkena erosi.

“Ya…, supaya kamu nggak ngirim email dengan kalimat ‘aku kangen Parende’ sih Bim.” Kelakar Radi yang garing abis.

Tetapi Bimo tertawa kecil. Kali ini matanya sukses melirik ke ujung pantai, melihat ombak yang terombang-ambing membuang diri. Laut sedang surut, pantai makin terlihat cantik dengan hamparan pasir yang lebih luas dan basah menyamai lumpur. Pemandangan pun terlihat lebih cantik di balik lensa kamera maupun mata, view Pantai Nirwana saat surut bahkan melebihi cantiknya Pantai Dewata. Masih asri, benar-benar pantai dalam arti sebenarnya.

“Kamu boleh jalan Bim, kita masih punya 15 menit sebelum lanjut ke Pantai Lakeba buat makan malam.”

Setelah itu Bimo mengalungkan kameranya. Olympus mini yang jauh lebih ringan dengan fitur yang tak jauh berbeda seperti DSLR biasa. Sudah hampir 4 tahun dia bekerja sebagai Travel Writer, sudah lelah pula dia memegang kamera DSLR terlebih dengan segala peralatan yang terlalu memberatkan bagpacknya, tentu saja Olympus sudah menjadi tinjauan aman pengganti DSLR. Ringan dan lengkap.

Bunyi kamera berbunyi, senada dengan pergerakan jari telunjuk kanan Bimo yang memencet tombol shutter sedangkan tangan yang lain menggerakkan tele untuk mencari fokus dan zoom terbaik.

Nirwana surga fotografi. Tidak salah Bimo melihat si gadis kamera tidak henti-hentinya bermain cahaya—memotret apapun—dengan segala objek yang terlihat menarik. Sayang beribu sayang, waktu memaksanya untuk bergerak cepat mendapatkan landscape indah dari Pantai Nirwana untuk deadlinenya bulan depan. Sunset seperempat dengan cahaya oranye terlukis di langit, objek mahal untuk tempat wisata berbeda. Dia tidak bisa memotret hal lain seperti si gadis kamera dan berharap suatu saat nanti akan bertandang kembali ke Nirwana sekaligus memuskan hasratnya sebagai fotografer amatir.

“Bim! Ayo! Kalau kemaleman Pantai Lakeba bakal nggak menarik lagi!” Radi bersorak memanggilnya dari bale-bale yang tersusun rapi di sepanjang pantai Nirwana. Kata Radi, bale-bale itu sudah dibagi untuk masing-masing keluarga warga asli Pantai Nirwana, harganya pun rata. Dua puluh ribu rupiah untuk satu bale.

Menatap hasil potretnya lewat layar LCD, Bimo tersenyum puas. Dia berjalan mendekati Radi yang tengah bersiap-siap dengan topi sport Adidas putihnya, pria itu tampak bersemangat menstater motor ninja hijaunya setelah membayar sewa bale. Bimo sangat beruntung mengenal Radi yang begitu murah hati ingin menjadi guide sekaligus membayar akomodasi wisatanya selama di Buton. Sudah hujan uang, hujan durian pula. Sungguh pepatah yang menyenangkan.

“Eh, ini kameranya siapa ya?”

Dahi Bimo mengernyit. Telinganya begitu peka sehingga dia bisa mendengar jelas racauan seorang Ibu dengan sapu lidi pada tangan kanannya memandang kamera tanpa penutup lensa bertengger di sisi bale sebelahnya. Refleks Bimo mendekati Ibu itu, meniti kamera dengan otak yang mulai menerka siapa pemilik kamera yang sebenarnya.

Canon 550D.

“Ayo Bim!” Tak jauh darinya Radi menyahut, suara knalpot motornya berbunyi seperti alarm yang menyuruh Bimo untuk segera beranjak dari posisinya menuju jok belakang motor jantannya.

“Iya tunggu!” Bimo balas menyahut, dia kemudian meraih kamera itu tanpa ba-bi-bu, “Bu, saya tahu pemiliknya, biar saya kembalikan.”

Si Ibu linglung dan hanya mampu menjawab ‘Ya’ sehingga tidak meragukan langkah Bimo menjauhi Pantai. Di atas motor Bimo menyampirkan kamera itu, dia mengeratkan tali pada tubuhnya yang ramping dan merapal doa agar dapat menemui sang pemilik kamera. Sang gadis kamera yang telah mencuri perhatiannya selama 3 hari berturut-turut.

 

_______

 

Bimo terduduk di atas badcover putih berbordir benang emas bertuliskan Hote Callista dengan tenang. Pada kedua tangannya tergenggam sebuah kamera DSLR, kamera yang dimiliki oleh si gadis kamera yang tertinggal di salah satu bale di Pantai Nirwana. Bukan bermaksud tidak sopan atau mencuri kamera itu, Bimo hanya ingin mengembalikannya sekaligus melihat-lihat hasil potret yang selama ini menyerang alam bawah sadarnya. Dia penasaran. Sering dia mencuri pandang, melihat si gadis memotret hal yang tidak ada menariknya sama sekali. Entah itu sampah atau gumpalan jaring yang terdampar di sisi pantai Nirwana.

Sejujurnya Bimo tahu bahwa fotografi tidak terbatas pada fauna-flora atau human-landscape, tetapi untuk fotografer muda gadis itu menarik perhatiannya dengan detail yang dia lakukan. Memotret benda mati yang tidak menarik di mata orang yang kemudian menjadi hal menarik begitu diolah lensa. Tidak banyak yang tahu perihal kemampuan itu, tetapi si gadis membuatnya tercengang.

Hasil kemampuannya bermain cahaya tidak boleh diragukan begitu saja. Bimo melihat begitu banyak potretan gadis itu yang bila diolah lebih intensif oleh photoshop—menambah kontras atau BW—dapat menjadi lebih cantik dari aslinya. Apalagi dengan makna yang tersirat dari foto-fotonya. Jelas, gadis kamera itu memiliki bakat dan Bimo merasa iri dengan kemampuannya.

“Semoga kita bertemu besok, adik kecil.” Bisik Bimo saat melihat gambar sosok gadis dengan penjepit rambut berbentuk Bunga Kamboja tersemat pada kedua sisi rambut sebahunya.

Cantik. Sekali lagi Bimo tercengang. Bukan karena kemampuan si gadis, tetapi senyum yang tiba-tiba memacu aliran darahnya. Sadar tidak sadar hatinya merapal kalimat yang hampir sama, “Semoga kita bertemu besok, gadis kecil.”

 

_______

Landasan pacu terlihat jelas dari pandangan Bimo. Di luar sana, di luar kaca biru yang membatasi ruang tunggu dengan landasan pacu terpampang, mengingatkannya akan waktu yang semakin menipis untuk memapaki langkah di Pulau Buton. Di lehernya bukan lagi tergantung oleh kamera Olympus, tetapi Canon 550D yang kehilangan pemiliknya atau yang lebih tepat lagi si pemilik kehilangan Canon 550D-nya. Untuk beberapa waktu yang lama Bimo merasa linglung, Radi yang telah diberitahukannya soal gadis kamera pun tidak banyak membantu kecuali menerima kamera itu dan berniat mencari si pemilik walau harus memutari Pulau Buton sebanyak 10 kali.

“Sudahlah Bim, Buton ini kecil.” Kata Radi berusaha menghibur.

Bimo menatap mata itu, mata ragu milik Radi yang pasti merasa kesal karena telah disusahkan oleh sikapnya yang telah mengambil kamera si gadis tanpa berpikir banyak. “Maaf ya Radi, saya benar-benar nggak kepikiran bila saya tidak akan bertemu dengannya lagi.”

Radi menganggu, “tidak apa-apa, mungkin gadis kamera itu tidak ingin keluar rumah karena tidak ada kamera itu di dekatnya. Dia tidak bisa memotret apa yang dilihatnya dan memilih untuk berdiam di rumah seraya menghikhlaskan kepergian kameranya.”

“Ya… harusnya saya menitipnya kepada sang Ibu.” Sesal Bimo kembali menatap kamera di tangannya itu. Bila waktu tidak memaksanya untuk bergerak cepat mungkin Bimo akan merelakan waktunya untuk mencari tempat tinggal si gadis dan mengembalikan kamera yang telah tertinggal.

“Tidak. Kamu sudah melakukan hal yang terbaik Bim. Berdoa saja agar saya bisa menemuinya sepulang mengantarmu.”

“Ya, selalu saya rapalkan. Benar saja pepatah yang mengatakan bahwa menyimpan barang yang bukan milik akan membuat diri kita nelangsa. Kamera ini bukan milik saya dan saya nelangsa karena tidak tahu apa-apa mengenainya. Hanya berani melakukan tanpa berpikir, beitulah saya.” Kata Bimo membuat Radi menepuk pundaknya pelan, “Percaya pada saya, saya akan mengucapkan maafmu kepadanya bila saya menemuinya kelak.”

“Terima kasih Radi.”

Bimo segera mengeluarkan kaitan kamera dari lehernya, kini saatnya dia untuk beranjak. Di depan sana, di landasan pacu terparikir badan pesawat yang ramping dan panjang seperti Paus. Pesawat komersial satu-satunya yang melakukan penerbangan Baubau-Makassar selama dua waktu. Pukul 6 pagi dan 12 siang setiap harinya.

Begitu kamera berada di tangan Radi, pintu bandara telah terbuka lebar. Di Buton atau lebih tepat lagi Kota Baubau, bandaranya tidak memiliki bus pengantar dan para penumpang hanya perlu berjalan selama 3 menit menuju pesawat yang terparkir rapi di landasan. Letak pesawat dan gedung bandara memang tidak terlalu jauh, landasannya pun. Di sekitar bandara suasananya masih asri. Banyak pohon dan perkebunan jagung milik masyarakat tertanam di sekitarnya.

“Terima kasih atas traktirannya Radi, saya sangat berterimakasih dengan apa yang telah kamu berikan dan saya tidak akan sungkan membawa kamu bejalan ke kampung saya lain kali.” Pamit Bimo.

“Saya tunggu.” Balas Radi kemudian menjulurkan tangan kanannya kepada Bimo. Segera Bimo meraihnya dan keduanya bersalaman bak sepasang kolega yang telah fix menentukan keputusan rapat antar dua perusahaan.

Saat Bimo berjalan ke landasan pacu, bayang-bayang gadis kamera bermain di otaknya. Dia tidak bisa melupakan gadis itu dan tetap terjeruji oleh perasaan aneh yang menggelayuti pemikirannya. Takut, kecewa, dan ketidakpuasan memenuhinya. Dia ingin bertemu dengan gadis kamera, menyerahkan kamera dengan tangannya sendiri sembari memohon maaf—juga nasihat—kepada gadis itu.

Dan seperti sebuah takdir yang telah tercatat di buku catatan Tuhan. Bimo melihat sosok gadis tengah mengangkat koper dengan susah payah menuju pesawat. Sepintas wajahnya mirip dengan si gadis kamera yang telah meracuni kepalanya sejak beberapa hari lalu, membuat lidahnya bergerak membantu otaknya mengintruksikan sebuah perlakuan refleks. “Kamu! Kamu!” teriaknya seraya mendekati sang gadis.

“S-Saya?” Si gadis berhenti melangkah, masih banyak orang yang berada di belakang mereka sehingga Bimo tidak takut tertinggal pesawat nantinya.

“Iya, kamu!” Sorak Bimo penuh semangat, tetapi semangatnya luluh begitu melihat mata si gadis terhalang oleh kacamata baca alih-alih menyembunyikan bengkak yang terbentuk di pelupuknya. Dalam jarak yang tak begitu jauh seperti ini tentu Bimo bisa melihat bengkak itu, jejak merah pada sisi putih bola matanya pun tak terhapus.

“Kamu kehilangan kamera, ya?”

“Kok tahu?”

Benar. Bimo tersenyum tipis, “Tunggu sebentar, saya masuk ke dalam dulu.”

Si gadis tampak bingung, tetapi tetap melakukan apa yang dipinta Bimo walau petugas bandara telah menyuruhnya untuk segera masuk. Sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, masih ada beberapa menit sebelum pesawat diberangkatkan tetapi petugas bandara terlalu cerewet dan tak ingin penumpang berada di areal landasan dalam kurun waktu yang lama.

Dari kejauhan gadis itu bisa melihat Bimo berlari tertatih-tatih dengan tas ransel yang telihat berat. Pria itu membawa sebuah kamera pada kedua tangannya, saat sosok itu mendekat si gadis bisa mengenali kamera yang digenggamnya. Canon 550D. kamera DSLR pertamanya sebagai hadiah ulang tahun ke-16 dari sang ayah.

“Bagaimana bisa?” si Gadis bertanya retoris sembari menerima kamera dari tangan Bimo. Dia ingin mengecek kameranya, tetapi untuk kesekian kalinya sang petugas bandara menyahut sehingga keduanya kembali berjalan menuju pesawat dengan obrolan singkat penuh tanda tanya.

“Maaf, saya menemukannya di bale dan berniat mengembalikannya padamu. Tetapi sampai hari terakhir saya di Buton, saya tetap tidak menemukanmu.”

Si gadis tersenyum kecil, dia ingin berkata sesuatu tetapi dirinya disibukkan oleh tangga pesawat dan koper berat yang ditentengnya. Dengan tanggap Bimo meraih koper gadis itu dan menyerahkannya kepada pramugari yang berjaga di ekor pesawat. “Terima kasih.” Kata si gadis dengan senyum merekah.

“Sama-sama, anggap saja sebagai sebuah permintaan maaf telah membuatmu sedih selama ini.” Kata Bimo hati-hati, dia tahu mata bengkak milik gadis itu disebabkan oleh hilangnya sang kamera.

“Tidak apa-apa, saya juga yang salah sudah teledor. Malah saya berterima kasih sekali, setidaknya ini tidak hilang ke mana-mana, tidak ke tangan yang salah.” Jelas si gadis membuat hati Bimo meletup-letup bahagia. Bahkan di atas pesawat pun percakapan mereka terasa intens, walau penumpang lain terganggu oleh keduanya yang sengaja memperlambat langkah.

“Sekali lagi terima kasih.” Kata si gadis terhenti di deret kursi bagian H 3-4 sedangkan Bimo kembali melanjutkan langkah dengan senyum lebar yang khusus diberikannya kepada gadis itu.

Ingin rasanya Bimo duduk di sebelah si gadis kamera—yang belum sempat ditahu namanya, yang belum ditahu apa statusnya—dan bercerita banyak mengenai hari setelah kehilangan kamera. Dia ingin memberi gadis itu semangat juga pertanyaan-pertanyaan mengenai fotografi yang digeluti gadis itu lewat foto-fotonya di kamera. Tetapi takdir tidak membawanya ke sana, seakan takdir ingin mengujinya untuk berusaha lebih mendapatkan apa yang ingin diketahuinya.

Begitu pesawat mulai berjalan, Bimo menolehkan kepala ke belakang. Dia patut bersyukur  mendapat kursi bagian F 1-2 sehingga dengan mudah memantau sang gadis lewat tolehannya. Tahu sedang dipandang, gadis itu menegakkan kepala dan mendapati mata Bimo memandangnya intens. Gadis itu tersenyum, menganggukkan kepala kemudian kembali berkutat memandangi kameranya. Bimo menelan ludah. Sepertinya hatinya berhasil diketuk oleh seorang gadis kecil. Gadis kamera yang mungkin berumur jauh lebih muda darinya.

Tidak mengapa. Bimo menggigit bibir bawah, mungkin ini cara Tuhan membuatnya kembali bersemangat menyelami hidup. Membuatnya belajar dari kegiatan aneh si gadis kamera yang selalu memperhatikan hal detail, hal yang sering dilupakannya untuk menikmati sepotong kehidupan. Hidup itu ternyata indah, seindah permainan cahaya pada onggokan barang yang tak lagi berarti yang kemudian menjadikannya sangat berarti.

 

END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s