Pengalaman Ngajar Itu…

image

Tanggal 19 April 2014 aku sukses merantau ke tanah kelahiran sendiri setelah 17 tahun mengitari beberapa wilayah di Indonesia Timur dan Tengah. Ujung Pandang atau sekarang disebut sebagai Makassar. Kota ini mulai tumbuh sebagai kota ‘hidup’ setelah pembangunan gedung-gedung megah serta arus modernisasi yang terus berlanjut. Rasanya sudah banyak yang berubah setelah mengingat kembali memori masa kecil. Dan kini aku kembali, tidak untuk waktu yang lama.

Sekitar pukul 09.00, Kak Sapi mengajakku untuk mengikuti kegiatannya sebagai seorang volunteer di komunitas @sobatLemina. Kegiatannya cukup menarik, mengajar di SDN 01 Cilallang Makassar. Saat itu aku segera mengiyakan berhubung aku memang ingin hunting bertemakan human interest. Selain itu, hal yang diajarkan pun menyangkut dunia penulisan. Sebuah dunia yang sudah menjadi bagian hidupku sejak beberapa tahun.

Awalnya sedikit gugup karena aku memiliki pengalaman yang kurang baik dalam berhubungan dengan anak SD (mengingat susahnya mengatur kemauan anak-anak suku Bajo Wabula tahun lalu *baca; Wabula). Aku lebih senang mengajar anak SMA, jujur saja, karena kondisi pemikiran mereka yang lebih cepat menangkap maksud ucapanku dan sikapnya yang mudah diatur. Tapi, itu tidak kunjung membuatku mundur. “Aku senang dengan anak kecil!” batinku mencoba memberi sugesti kepada diri sendiri.

Benar saja, begitu masuk kawasan sekolah, saat aku mulai memotret, anak-anak mengerubungiku dan minta untuk difoto. Tentu saja aku mengiyakan, lagipula Kakak-kakak Baubaugraphy pernah mengatakan bahwa kondisi yang ku alami saat itu adalah sebuah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Dengan sabar aku memotret mereka, walau gaya mereka sedikit mengejutkan hati. Pasalnya tidak sedikit yang mengangkat jari tengahnya di depan kamera, sebuah ketidakwajaran yang dilakukan anak sekecil mereka. Banyak pula yang bertanya ini-itu, bahkan ada yang memaksa ingin meminjam kameraku.

image

See? That bad sign...

Aku bisa bebas dari terjangan anak-anak ketika setelah salah seorang volunteer senior berdiskusi dengan wali kelas IV dan kami pun masuk kelas beliau dibarengi sorakan para siswa. Ada sekitar 4 volunteers termasuk diriku di sana. Kondisinya lumayan kacau karena anak-anak merasa bebas berseliweran ke sana ke mari, padahal wali kelas masih berada di kursinya–sedang memeriksa tugas mereka. Parah. Aku tidak pernah memikirkan kekacauan ini, di lain hal aku tidak suka suasana yang ribut (That’s way… teacher’s job absolutely not easy).

Untuk waktu yang cukup lama aku terdiam memandang kelas, sedangkan itu Kak Sapi, Kak Ply, dan salah seorang Kak yang ku lupa namanya mulai berkoar-koar mengenai kegiatan mereka hari ini. Selain karena blank, aku juga mencoba menyelaraskan hati dengan lingkungan untuk mendapatkan gambar yang memuaskan. Akhirnya, setelah dipaksa-paksa aku pun mengunjungi salah satu baris bangku, tidak untuk bercengkrama dengan anak-anak, melainkan untuk duduk di salah satu bangku sembari memainkan kamera.

Anak-anak masih ribut, kondisi mental mereka juga sensitif jadi banyak yang saling melemparkan cemooh bila sedang mengobrol. Cemooh mereka memakai bahasa Makassar asli yang memiliki arti yang begitu kotor. Miris mendengarnya, sehingga aku sering mengerutkan kening menatap mereka yang bertengkar atau hanya menaruh jari telunjuk di depan bibir untuk menyuruh mereka diam. Usahaku tidak membuahkan hasil karena mereka hanya menertawaiku atau mencoba membela diri kemudian meminta untuk difoto.

image

Setelah asyik memotret aku pun terjun dalam medan perang. Kegiatan hari ini adalah menulis karangan mengenai barang-barang yang ada di rumah. Banyak yang bingung dan tidak tahu harus menulis apa. Seperti yang ku duga, kebanyakan dari mereka hanya mencoba untuk diperhatikan. Tidak sedikit yang mengeluh, tidak ingin mengarang. Dengan sabar (lagi) aku mencoba menjelaskan mereka contoh-contoh isi karangan sembari menyuruh mereka untuk tetap tenang.

Begitu waktu mengarang selesai, Kak Sapi memintaku untuk membantunya memeriksa hasil karangan. Dengan telaten dan penuh semangat aku pun membantunya karena merasa bagian ini adalah bagian yang ku senangi. Hasilnya? Jangan tanya… tapi memang dasarnya anak SD, masih banyak cara penulisan yang salah. Aku tidak ingin menyalahkan karena jujur saja aku sama seperti mereka ketika masih duduk di bangku SD. Jadi ingat kesalahan masa lalu :p kemudian bagian yang perlu menjadi perhatian adalah kebiasaan anak-anak yang tidak lepas dari okkots atau logat Makassarnya dalam karangan.

Contohnya kata yang memiliki huruf N di akhir, dalam hal ini mereka akan menambahkan huruf G setelahnya. Seperti, masa depan menjadi masa depang. Dan lain sebagainya. Lucu. By the way, terkadang aku juga begitu.

Begitu kegiatan mengarang selesai, kegiatan selanjutnya yang bertemakan game berlangsung. Beberapa volunteers senior datang, membuat suasana kelas lebih tenang dari sebelumnya. Tetapi, kondisi kelas kembali kacau karena game yang diadakan menyita semangat mereka untuk meraih kemenangan. Kembali banyak cemooh yang tidak mengenakkan telinga keluar dari mulut mereka. Banyak yang tidak sportif, tapi begitulah anak SD (It reminded me).

Dalam cemooh mereka aku mencoba untuk menenangkan, seperti yang sudah-sudah, aku mengajak beberapa di antara mereka untuk mengobrol. Walau aku tidak begitu baik dalam urusan komunikasi (dengan orang dewasa), tapi begitu di depan anak-anak komunikasiku terasa lebih klop (kalau moodnya mau ngelakuin itu). Aku ingat sebuah kejadian di Baubau, seorang anak yang nakal bisa takluk di hadapanku hanya karena sebuah obrolan ngolor-ngidul. Ya, obat anak-anak hanyalah perhatian. Mereka senang bercerita mengenai banyak hal, itu yang ku tahu.

Jadi, sekitar 2 anak yang bisa ku tangani. Aku lupa siapa nama mereka, tetapi keduanya bisa lebih tenang menjawab pertanyaan game kakak-kakak volunteers–walau cemooh mereka kadang tak lepas dari grup lain.

image

Tapi, yah… untuk saat ini aku angkat tangan dalam urusan anak-anak nakal. Kenakalan mereka seringnya membuatku risi, sehingga aku lebih banyak diam atau mencoba mendekati secara perlahan dan apabila tidak kunjung mendapatkan hati si anak, maka aku akan berlalu. Sejujurnya aku suka dengan anak-anak, tetapi kemerosotan perilaku membuatku enggan untuk mendekati mereka lagi. Banyak yang bertindak di luar nalar dan ketidaksopanan mereka yang membuatku takut.

Impianku di masa depan untuk anak-anak Indonesia mungkin terdengar seperti bualan, tapi aku ingin membangun sekolah gratis yang bertemakan minat. Sekolah yang tidak hanya mementingkan materi dan ilmu pendidikan alam tetapi juga sekolah yang mengajari mengenai akhlak kesopanan perilaku, mengenai minat tanpa paksaan, dan kehidupan.

Note:

Thanks to @SobatLemina Makassar, Kak Sapi, and all volunteers yang hebat bisa mengajar anak-anak dengan sabar dan tanpa pamrih. Maybe, I can’t be one of a good volunteer but you guys really awesome! @SobatLemina 짱이다!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s