Back to #5

image

Kadang kita menganggap perpindahan itu suatu hal yang nggak mengenal kata kembali. Seperti pemikiranku sebelumnya, yang menganggap ada kesulitan untuk kembali menginjakkan kaki di atas daratan para destinasi. Destinasi yang ku maksud adalah tempat yang pernah ku tinggali selama hidupku ini. Destinasi yang menjadi tempat kedua orangtuaku dipindah tugaskan.

Kesulitan itu berupa akomodasi keuangan. Tetapi, setelah dipikir-pikir keuangan bukan menjadi masalah bila ada kemauan besar. Rasa kemauanku sangat tinggi untuk kembali mengunjungi para destinasi, dengan harapan dapat meneruskan hubungan yang sempat terputus dengan ranah destinasi maupun dengan manusianya. Ada pula keinginan untuk menelisik ‘harta’ tersembunyi di setiap destinasi. Harta apa itu? Aku pun belum tahu🙂

Kemudian, apa yang ku pikirkan memang benar. Bahwa masih ada jalan untuk kembali. Seperti tiga hari sebelumnya, dengan mendadak Kak Sapi membeli tiket kapal laut dengan destinasi #5, Baubau. KKN Kak Sapi yang sempat mengambil jadwal pada tanggal 25 Juni dimundurkan pada tanggal 10 Juli, membuat mama ngebet ingin para anak perempuannya ke Baubau untuk memulai puasa pertama bersama.

Aku pikir ini kesempatan besar yang telah Allah berikan untuk proyek yang belum terwujud sebelum orangtuaku pindah ke Sulawesi Tengah selepas Idul Fitri nanti. Ya, destinasi selanjutnya mungkin adalah Palu atau kemungkinan lainnya adalah kota di mana aku akan berkuliah. Destinasi ke #6 yang masih menjadi misteri… hehehe.

Proyek yang akan ku wujudkan adalah sebuah proyek bertema perjalanan. Seperti passion, panggilan jiwa yang telah lama ku pendam sebagai sosok yang menggilai petualangan. Proyek ini adalah sebuah Ramadan Trip Around Baubau bersama soulmate passion-ku, Uya dan kuda putihnya *motor maksudnya* yang dipanggil Utih. Kami akan mengunjungi beberapa tempat di Baubau sembari mengisi waktu di bulan Ramadan. Tujuan dari trip ini bagiku adalah untuk mendokumentasikan Baubau sebelum akhirnya pindahhhh.

Sebelumnya, selepas pelulusan aku memang sempat berpikir bila suatu saat nanti aku akan kembali ke Baubau, entah kapan. Pemikiran itu berawal dari rasa ingin mengelilingi Pulau Buton. Jujur, baru beberapa bagian Buton yang sudah ku datangi, itu pun jarang didokumentasikan. Maka dari itu, aku berpikir, “Ah! Aku belum pernah keliling Kota Buton! Kalau begitu, akan ada waktu dan alasan untuk kembali ke sana.”

Bayangan kembali itu seperti nge-trip bareng teman komunitas di masa mendatang. Ya, tapi sepertinya bayangan itu terlalu jauh karena kini aku nge-trip dengan teman SMA yang memang udah tahu seluk-beluk Kota Baubau. Itu bakal lebih asyik lagi, lebih gila! Gokil!

Lumayan sih karena aku bakal tinggal di Baubau lebih lama lagi dan tidak ngikut Kak Sapi untuk kembali ke Makassar pekan mendatang. Dan tentu saja, tidak uring-uringan di Makassar tanpa teman hehehe.

Sekarang, saat menulis postingan ini aku sudah sampai di Baubau. Terbangun di pagi hari yang adem, dingin, dan segar. Nggak kayak di Makassar yang bangun jam 5 pun sulitnya minta ampun. Atmosfirnya yang bersahabat buat badan luwes bergerak tanpa ngantuk. Mungkin juga kebiasaan sejak 3 tahun yang lalu yah ==v). Tapi inilah yang selalu buat aku kangen akan Baubau. Ada rasa lega dan syukur yang terpanjatkan di setiap pagi. Ah… rasanya berat untuk ninggalin Kota ini untuk destinasi selanjutnya.

Semoga ini bukan terakhir kalinya aku kembali ke Baubau. Pulau Buton terlalu besar untuk dikunjungi dalam waktu sehari. Dan pasti rasa kangen akan selalu tercipta dalam relung ini, sama halnya seperti rasaku pada destinasi yang lain.

28 Juni 2014, Baubau, Sulawesi Tenggara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s