Diary Mama

image

Diary beliau terlampaui banyak, menurutku.

Beliau berkata, semua curahan hatinya berada di sana. Tertulis rapi menggunakan kata-kata puitis ala zaman 80-an. Curahan atas segala hal mengenai hidupnya. Aku pikir, ini salah satu alasan mengapa aku suka merangkai kata. Ternyata beliau juga melakukan hal sama saat seumuranku.

Beliau tipe gadis penyabar yang tidak banyak menguar cerita. Tipe sanguinis yang kerap menyimpan segalanya sendirian. Beliau tidak suka bercerita akan masalahnya kepada orang lain. Alasannya satu, dia tidak mempercayai siapa pun di dunia ini. Ketika ku tanya mengapa, beliau menjawab, “Karena memang seperti itu.”

Awalnya aku mengelak. Aku memiliki sahabat dan aku mempercayainya. Tetapi, seiring waktu aku pun mengerti bahwa apa yang beliau katakan benar. Manusia memiliki mulut, organ terfenomenal yang sukar berhenti bila sudah bekerja. Bukan berarti sahabatku memperlakukanku seperti itu. Hanya saja, ada beberapa orang yang ku pikir bisa ku percayai ternyata pernah menguar curhatanku kepada orang lain. Itu pengalaman berharga yang juga menyadarkanku bahwa orangtua selalu benar mengenai nasihat kehidupan, mereka sudah berpengalaman.

Sangking tidak percayanya beliau kepada orang lain, beliau membakar diary-diarynya bila sudah terisi penuh. Beliau terlalu takut bila ada orang yang membacanya sehingga membakar adalah satu cara yang paling efisien. Ketika ku tanya, apakah ada rasa sesal? Beliau menjawab tidak. Beliau juga bukan tipe manusia yang suka menguar cerita lama, sudah banyak yang dilupakannya.

Ketika menulis diary, secara tidak sadar ada rasa lega yang timbul dan masalah pun rasanya seperti sudah terbuang jauh entah ke mana. Itu kata beliau. Ku amini pula karena dulu aku merasakan hal yang sama.

Kini?

Aku tidak lagi menulis diary alias sangat jarang. Curahan hatiku banyak tertuang dalam cerita-cerita yang ku tulis lewat blog atau sekedar cerpen. Masih pula aku berkeluh-kesah dengan orang lain–hal yang ingin ku hentikan. Aku pikir, sudah seharusnya aku mengurus masalah sendiri tanpa orang lain tahu. Karena, apabila orang lain tahu mereka akan menganggap kita adalah sosok yang lemah. Aku tidak ingin presepsi itu.

Mama juga berkata, aku seharusnya bisa membuka diri kepada orang lain. Aku harus berkawan banyak. Jujur, aku tidak tahu bagaimana cara bersosialisasi yang baik. Beliau pun memberiku nasihat, “Jadilah pendengar, jangan jadi yang ingin didengar agar orang-orang dapat mempercayaimu.”

Ya, aku mengambil nasihat beliau. Ingin ku pelajari agar tidak lagi ‘bocor’ atas masalah sendiri di depan orang lain. Bukan berarti aku sudah memilih untuk menjadi dewasa, hanya saja ada beberapa hal yang harus diubah. I’ll fight for it! Be better of myself!!

FYI, aku masih merasa nyaman dengan tingkah laku seperti anak-anak. Walau tidak sepenuhnya, aku akan selalu membuat pemikiranku seperti anak-anak. Bukan egoisnya, tetapi atas kepercayaannya atas mimpi ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s