Curcol…#1

image

Entah harus berkata apa kepada kedua orangtuaku. Kedua bibir ini kelu bila sudah berada di hadapan mereka untuk sekedar berucap. Karena mereka aku jadi bisa mengerti kemauan sendiri, bisa jadi seperti saat ini, yang mungkin orang awam pikir bukan apa-apa. Ya, bagi mereka aku memang bukan apa-apa, bukan anak lulusan terbaik pula. Tetapi, bagi kedua orangtuaku, aku anak ajaibnya.

Bukan siswa yang lulus snmptn. Bukan pula anak berintuisi baik dalam bidang akademik. Nilai UN yang dapat ku katakan tidak begitu baik–lemme say that Allah give me one important lesson about life–dan hidup yang belum tentu selepas pelulusan. Kadang aku berpikir, apakah aku yang bodoh atau aku benar-benar tidak bisa melakukan apapun?

Ya, pemikiranku yang salah. Aku hanya terbawa arus sistem pendidikan Indonesia yang selalu menitikberatkan pada bidang akademik dalam menilai seseorang. Tidak pintar dalam bidang sains membuatku terlihat seperti orang bodoh di antara anak-anak yang lulus di tahun ini. Seakan aku tidak punya jalan lain untuk menjadi someone success. Seakan hidupku, sekali lagi, harus dipertaruhkan dalam bidang yang setiap detiknya bisa membuatku terlihat makin bodoh.

Tahun ini adalah tahun yang penuh kebimbangan. Aku bisa menjadi optimis dan pesimis dalam satu waktu hanya karena ditanya mengenai kelanjutan pendidikan di masa mendatang. Pun dengan tanya menyebalkan yang menjurus memaksaku memilih apa yang tidak pernah ku pikir sebelumnya.

Baiklah, akan ku tanya balik, “Ini hidup anda atau hidup saya?”

Bahkan, kedua orangtuaku tidak pernah memaksa diri ini memasuki jurusan yang mereka pikir baik. Tidak pula memaksa kehendak anaknya untuk tidak berhijrah ke daerah lain demi pendidikan. Sebaliknya, mereka memberiku tanggungjawab yang sangat besar dalam memilih apa yang ingin ku lakukan selepas lulus. Mudahkah? Ini bahkan lebih sulit daripada apa yang ku duga sebelumnya.

Tetapi, memang itu yang ku harapkan. Lengan besar mereka seakan melepas tubuh ini dari dekapannya, membiarkanku memapaki jalan yang belum pernah dilewati seorang pun. Aku menghormati apa yang telah mereka lakukan, apa yang telah mereka relakan demi keras kepalanya seorang anak mereka–yang sekali lagi tidak sepintar anaknya yang lain.

Kebebasan yang mereka berikan membuatku makin percaya dan bertanggungjawab atas mimpi-mimpiku. Dalam hal ini, aku pun percaya bahwa mereka juga percaya pada impian. Walau tidak pernah diucapkan, aku tahu mereka percaya pula pada diriku.

Bila sudah seperti ini, sudah semestinya aku menutup mata atas keirian hati melihat teman-teman yang masih berjuang mengikuti tes di berbagai lembaga pendidikan. Semua orang tidak pernah bisa sama. Aku memang berbeda dari mereka, perbedaan yang sangat signifikan sehingga tak pelak sering melahirkan delikan aneh dari khalayak umum. Aku tidak peduli. Ya, aku memang tidak peduli.

Aku musti fokus dengan apa yang ku percayai. Fokus dengan apa yang ku miliki, menjadikannya sebuah keahlian yang dapat membuat diri ini bahagia tanpa tekanan. Tidakkah orang tahu bahwa ciri orang sukses adalah kebahagiaan? Aku rasa tidak semua tahu. Mereka terlalu mematok bahwa ciri orang sukses adalah orang-orang dengan harta berlimpah atau hanya sekadar manusia penyandang status pendidikan tertinggi. Padahal, tidak semua orang kaya atau orang panyandang status tertinggi itu bahagia.

Tahun ini akan ku jadikan masa untuk mempelajari diri sendiri. Mempelajari lebih banyak lagi hal mengenai hidup. Menggali pengetahuanku yang lain–bukan pengetahuan sains–tetapi mengenai segala hal yang ingin ku ketahui. Aku memang haus akan ilmu. That’s way, too easy to be bored of something. I need something new that could increase my life-interest. Sesuatu yang juga membuatku percaya bahwa Allah tidak pernah membuat ciptaan-Nya menyerah akan impian.

Untuk apa bermimpi bila tidak bisa meraihnya?

Sadar ya, alam ini tidak pernah membawa manusia jauh dari impiannya, tetapi diri manusianyalah yang membuatnya jauh. Hidup ini simpel, nggak se-complicated rumus aljabar.

Meski pilihanku nanti terdengar bodoh, aku tetap percaya bahwa apa yang ku pilih adalah sebuah kebaikan. Orang lain hanya tidak tahu apa yang ku pikirkan, biarkan mereka terus memberikan argumen. Aku mungkin akan menjadi pendengar yang baik bagi mereka ^^,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s