The Answer

image

Dari Taman BRI

Selama 3 hari ini proyek perjalananku ngadat. Masalahnya berada di hati. Mengenai STPC. Bukan dikarenakan tokoh yang sama, kali ini berbeda, dengan konteks yang berbeda pula. Hal ini yang membuatku enggan keluar. Enggan berinteraksi dengan pria–lain, walau pada dasarnya kami hanya teman.

Emosiku pun akhirnya memuncak siang ini. Tidak mau melampiaskannya pada orang itu, aku melampiaskan kepada kamera yang kebetulan lensa normalnya lagi bermasalah. Filter UV-nya macet, putarannya terlalu kuat pada lensa sambungan makro juga pada lensa normalnya sendiri. Memang ada cara tertentu yang bisa menyembuhkan permasalahan ini. Tetapi, karena tidak sabaran, emosi pun meluap.

Kebetulan aku juga memiliki lensa tele, aku pikir berhijrah ke lensa satu itu tidak masalah sampai aku sadar pergerakan lensa tele butuh topangan tripod (tangan ini suka gemetaran). Teringatlah bahwa kemarin aku sempat mengumpulkan uang untuk membeli tripod. Tapi, karena sesuatu akhirnya uang itu ludes. Menangis ayamlah aku di atas sofa ruang tamu, sembari menatap keluar jendela yang memperlihatkan pemandangan pelabuhan plus kapal pelni yang tengah bersandar. Rasanya ingin memotret moment itu. Hati pun berseru, “Keluar, yuk!”

Dengan seruan itu aku sempat berkhayal bertemu seorang penjual Pentol Batagor di sekitaran Pantai Kamali. Dalam khayalan itu aku sedang mengobrol dengannya. Secara tidak sadar kami berbicara soal permasalahan yang santer ku ingat setiap hari. Perihal keberlanjutan pendidikanku ke jenjang perguruan tinggi. Secara wise dia memberiku wejangan atas masalah itu juga jalan keluar atas masalah lain. Aku tahu itu sekedar khayalan tapi aku berharap benar bertemu dengannya sehingga seruan hati itu ku iyakan.

Selepas sholat Ashar aku pun bersiap. Berbekal lensa tele aku naik sepeda menuju Taman BRI untuk motret kesibukan pelabuhan. Tidak peduli dengan rute jalan yang kutempuh–melawan pergerakan kendaraan di jalan satu arah. Akhirnya aku sampai di sana. Sungguh, aku lupa bila jarak pengambilan lensa tele itu lumayan jauh sehingga gambar yang ku dapat tidak memuaskan. Karena itu, aku pun kembali ke rumah–bersyukur jarak rumah dan Taman BRI tidak jauh–untuk mengambil lensa wide yang nyambung dengan lensa normal dan makro.

image

Pakai tele

image

Wide...

Tidak peduli dengan tatapan orang yang bingung melihatku kembali, aku segera memotret sembari menunggu waktu pas untuk ke Pantai Kamali. Tetapi, karena bosan akhirnya aku kembali gowes ke entah berantah [#NP-Banda Neira, Ke Entah Berantah :P]. Melewati kantor polisi, Taman Segitiga, SD 2, (mantan) sekolahku tercintahh sampai Lembah Hijau. Dan akhirnya sepedaku terhenti di sebuah Tempat Sakti yang dikenal sebagai Toko Buku Ria.

Dengan suara yang penuh semangat, aku berteriak, “YAYASSSS!!!!”

Kebetulan, tempat sakti itu adalah toko buku milik temanku. Tempat yang juga memiliki beberapa kenangan. Oh ya, walau di Baubau tidak ada toko buku seperti gramedia, setidaknya toko buku kecil seperti milik Yayas ini cukup membuat orang-orang yang lapar membaca dapat kenyang dengan beberapa buku yang tersedia.

Yayas keluar dengan setelan baju dan jilbab merah muda. Dia terkejut melihatku naik sepeda dan berkata, “Kok kamu gemukan?”

[Nggak gemuk, kok. Cuma bajunya aja yang kebesaran. Fakta]

Ngabuburit pun dihabiskan dengan cerita mengenai beberapa buku, drama asia, dan tes masuk perguruan tinggi. Ternyata sudah banyak teman yang berangkat ke Makassar untuk mengikuti tes masuk UMI. Salah satunya Uya. Pantas aku tidak pernah lagi diajaknya melihat sunrise di Keraton. Begitu pun dengan Yayas yang pada tanggal 12 mendatang akan berangkat ke Makassar.

Diam-diam aku menyimpan rasa iri di dalam hati. Bila saja minatku ada di salah satu bidang sains mungkin aku tidak akan terkatung-katung dalam memilih jurusan–atau harus menunggu tahun depan untuk tes. Sayangnya takdir berkata lain, minatku cukup berbeda dari orang kebanyakan.

Perbincangan terus berlanjut sampai akhirnya aku melihat seorang kuli bangunan masuk ke toko. Aku pikir beliau ingin membeli minum, ya… sejak kecil aku sering melihat kuli yang tidak berpuasa karena pekerjaan mereka. Tetapi presepsiku salah saat beliau mengambil sebuah buku Bahasa Inggris untuk anak-anak dan segera membayar kepada Yayas. Cukup enam ribu rupiah.

Meski tidak tahu diperbelikan kepada siapa, entah mengapa, hati ini terenyuh. Pikirku sih kepada anaknya. Beliau membuatku tersenyum diam-diam di hadapan Yayas. Mendapatkan uang sebanyak enam ribu pasti sulit bagi mereka dan membelanjakan uang demi sebuah buku untuk anaknya pasti harus berpikir dua kali. Tapi, beliau tidak.

Aku jadi tersadar bahwa aku salah satu dari orang beruntung di dunia ini. Beruntung karena kedua orangtuaku dapat dengan mudah membelikan banyak buku mahal untukku sejak kecil. Beruntung karena kedua orangtuaku dapat membiayai semua kebutuhanku tanpa kekurangan sampai saat ini.

Mungkin tidak mengapa rencana membeli tripod ditunda. Yang lebih penting adalah aku harus mempersiapkan diri dari sekarang untuk tes tahun depan. [Entah mengapa aku tidak terlalu berharap pada SBMPTN]

Tak lama suara masjid berkumandang. Bacaan ayat suci Al-Qur’an membuatku harus segera kembali ke rumah. Tidak lupa ku berikan Yayas semangat untuk tesnya kelak dan kiriman salam untuk teman-teman yang juga ikut tes.

Gowes lagi…

Di rumah aku tidak lagi bersedih. Senyumku terkembang dengan semangat yang penuh untuk meraih mimpi. Walau tidak bertemu dengan penjual sakti yang wise, setidaknya kejadian kecil yang terjadi di toko Yayas cukup membuatku sadar akan banyak hal. Tidak perlu mengeluh atas apa yang ku miliki dan tidak ku miliki saat ini, bisa hidup berkecukupan saja sudah sangat beruntung. Toh, banyak orang yang tidak seberuntung diriku🙂

10 Juli 2014, Baubau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s