Salam Jempol

image

Tidak mudah untuk mencari sahabat. Butuh berbulan-bulan waktu untuk melintasi jalan menuju satu kata penuh makna itu. Sampai akhirnya, dia, si gadis berambut sepinggang datang menerobos dinding besar itu.

Pagi yang tak begitu baik. Aku melewatinya dalam bunga tidur tanpa jalan, bermimpi bertemu seorang guru SMP dan menanyainya perihal tujuanku selepas lulus yang diakhiri dengan keributan televisi yang menampilkan sang pesepak bola asal Argentina, Messi, memegang sebuah piala emas. Setelah melihat jam aku baru sadar, aku sudah tertidur selama lebih dari 8 jam.

Tidak ada yang istimewa. Kali ini aku absen berpuasa sehingga makan siang dengan mie berkuah telur adalah kegiatan kedua setelah mandi. Tidak lama ponsel ku berbunyi. Pesan dari seorang kawan beda kelas yang ku kenal baik karena pribadinya yang periang. Dia bertanya, “Rumahmu sebelah mana?”

Ku jawab dengan hati-hati. “Tepat sebelah Lapangan Merdeka.”

Ada rasa enggan terselip di hati. Kata orang, aku terlalu mencintai kesendirian. Aku terlalu nyaman dengan kesepian sampai tidak mau satu orang pun mengusiknya. Mereka benar. Seperti yang ku rasakan saat itu. Aku berharap dia tidak mengunjungi rumahku dengan berbagai alasan mendadak. Tapi, ternyata dewi fortuna tidak bersamaku karena beberapa menit kemudian dia hadir di hadapanku bersama 3 kurcaci.

Bahkan, membawa kurcaci? Diam-diam aku berdoa, berharap para keponakannya itu tidak bertindak nakal di sekitar rumah.

Kami bercerita tanpa tujuan di teras rumah, bersama teriakan para kurcaci dan angin sepoi-sepoi berhawa panas. Tidak ada yang istimewa. Dia bercerita banyak soal seseorang yang ku kenal baik, seseorang yang membuat dunia SMA-nya berwarna–warna yang hanya dirasakannya sendiri. Aku yang beberapa kali sempat bertemu dengan ‘seseorangnya’ hanya mampu menceritakan kabar. Walau begitu dia tetap ceria, seakan dia baru saja bertemu dengan orang itu.

Tetapi, dalam keceriaan itu terselip rasa iri. Dia ingin bertemu dengan orang itu.

Kemudian berlanjut mengenai kelanjutan pendidikannya selepas lulus. Miris. Aku tidak pernah merasa seberuntung ini, selain cerita di toko Yayas tempo lalu. Dia tidak memiliki banyak uang untuk melanjutkan pendidikan dan berniat untuk mencari kerja. Semalam aku memang sempat bertanya mengenai kabarnya lewat pesan singkat, yang lalu berubah mengenai pertanyaan ‘Di mana ada lowongan kerja, bil?’

Aku memberinya beberapa saran. Salah satunya untuk mencari tempat Pelatihan Kerja di Baubau. Tetapi, tidak semudah itu. Sama halnya ketika aku ditanyai untuk mengikuti tes di beberapa universitas di Makassar. Dia berpikir keras. Menyembunyikan raut gamangnya dengan mengganti topik.

Kebetulan, tanggal 22 Juli mendatang para alumni SMANSA tahun 2008-2014 akan mengadakan buka puasa bersama. Aku pun mengajaknya, menyebut-nyebut seseorangnya agar dia mau ikut. Tentu saja rayuan itu berhasil, walau aku sendiri tidak tahu bisa hadir atau tidak. Dan berlanjut kepada dua janji dariku yang masih diingatnya.

Aku–katanya–pernah berjanji untuk mengupload beberapa fotonya waktu workshop fotografi dan perpisahan di sekolah. Dan satu janji, yang aku sendiri masih ingat, untuk berkeliling Kota Baubau. Aku katakan Insya Allah untuk keduanya. Perihal janji kedua, aku katakan pula bila hal itu tidak bisa direalisasikan sekarang.

Selain dikarenakan Uya yang masih di Makassar dan aku yang harus kembali ke Makassar tanggal 25, ternyata kedua orangtuaku sudah harus beranjak ke Palu bulan Agustus mendatang. Intinya, tahun ini adalah tahun tersibuk yang pernah ku lalui. Waktu tersempit untuk tetap tinggal di Baubau. Bagiku cukup menyedihkan, di mana rencanaku tidak direalisasikan dengan baik. Benar kata orang, “Boleh berencana dan segeralah laksanakan. Jangan berencana di jauh hari kalau sendiri masih ragu.”

Dia sedih mendengar alasanku. Marah pula karena aku sudah harus segera beranjak, padahal ini baru pertama kalinya dia berkunjung ke rumah. “Astaga! Ini belum kesekian kalinya saya datang ke rumahmu, bil! Dan sekarang kamu mau pindah?”

Senyum tipis ku sunggingkan. Memperdengarkannya sebuah prinsip yang selalu ku percayai, “Ketika rencanaku tidak berjalan baik sekarang–di tempat ini, maka akan ada alasan untuk kembali. Entah kapan.”

Apa yang ku katakan segera membangkitkan semangatnya. Dia pun mulai meracau mengenai beberapa hal yang akan kami lakukan di masa mendatang. Bahkan, dia mengharuskanku tinggal di rumahnya bila aku kembali ke Baubau untuk berkunjung. Dengan sedikit menggoda, aku berkata. “Kalau saya datang ke sini, saya ajak ‘dia’ buat keliling Baubau bareng, ya.”

Dia tertawa renyah. Menggeleng dan mengatakan bahwa dia tidak mengharapkan hal itu. Racauannya kembali, kali ini berkata bahwa dia hanya sekedar kagum pada seseorangnya dan menginginkan orang yang jauh lebih tua darinya sebagai seorang kekasih. Aku kembali bercanda, mengajaknya datang ke acara bukber alumni untuk mencari ‘korban’ dari para alumni tahun 2008. Otomatis dia mengiyakan seakan tidak sabar akan datangnya hari H.

Di tengah tawa, dia berkata, “Saya datang ke sini mau cerita banyak hal sama kamu. Tapi rasanya tidak bisa karena kamu belum jadi sahabatku.”

Jujur, aku bingung. Aku bisa menjadi pendengar yang baik, kepada siapa pun tanpa memperdulikan batas hubungan. Dan kini, dia memintaku menjadi pendengarnya asal aku menjadi sahabatnya. Awalnya aku mengelak, memintanya bercerita tanpa mementingkan hal itu. Tapi, dia tampak keras kepala.

Dalam racauannya aku berpikir. Tidak ada salahnya menjalin persahabatan kepada orang lain selama aku masih bisa menjadi orang yang berguna. Selain itu, yang paling penting dalam persahabatan adalah berbagi. Itu memang bukan hal mudah dan waktu akan terus berjalan, bagaimana pun itu, aku juga pasti akan belajar berbagi kepada sahabat baru.

“Saya juga sahabatmu.” Aku menyerah.

Dan dia tampak senang sembari menjulurkan jari jempolnya, mengajakku untuk ikut mengangkat jari jempol. “Nah, hanya ini yang saya butuhkan!”

Di siang hari yang terik itu pun kami bersalaman, menggunakan jari jempol sebagai ikrar yang menghubungkan tali persahabatan baru. Selanjutnya, dia pun bercerita–masih dengan kocak–mengenai beberapa hal yang tidak pernah diceritakannya kepada orang lain. Mempercayaiku sebagai salah satu sahabatnya untuk menyimpan rahasia yang selama ini disimpannya secara rapat.

Ternyata mengikrarkan sahabat tidak sesulit yang ku duga. Hanya butuh kepercayaan antar para sahabat yang menjadi dasarnya. Seperti aku dan dia–seorang gadis periang yang tidak pernah muram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s