Bila Kardus Bisa Bicara

image

Fokus ke kardus aja :p

Cerita ini tercipta di awal Bulan Juni, sebelum tes SBMPTN dimulai. Ketika itu aku menghadiri salah satu workshop yang diadakan oleh Makassar International Writers Festival 2014–disingkat #MIWF2014. Acara ini adalah acara tahunan bagi para penulis Indonesia, terutama Indonesia Timur, untuk saling share pengetahuan kepada sesama penulis maupun pembaca mereka.

Workshop yang ku ikuti ini bertema: Travel beyond destinations and how to craft your travel stories. Workshop ini dibawa oleh seorang Windy Ariestanty, di mana pada awal pertemuan kami ditantangnya untuk membuat cerita mengenai Kamar Tidur seperti cerita travel. Tentu saja, dengan senang hati aku menulis seperti apa yang dikatakannya. Tetapi, lama-kelamaan tulisanku berakhir dengan sebuah cerita bertema Perpindahan.

Inilah coretanku mengenai 2 kardus besar di bawah jendela.

Ketika kamu masuk ke kamarku, kamu akan melihat ruangan besar beratap tinggi khas bangunan tempo doloe bercat putih kuning. Seperti warna telur dadar yang tidak tercampur dengan baik. Bagian putih tersebar dari atap sampai dinding atas, sedangkan bagian kuning tersebar di bagian dinding bawah. Warna yang sejujurnya tidak ku sukai.

Di dalam kamar ada banyak perabotan berbahan kayu. Dimulai dari meja rias yang sebenarnya lebih mirip seperti meja guru. Meja tersebut ada di bagian kanan sebelah pintu masuk. Di atas meja, tergantung sebuah cermin persegi panjang yang mulai berdebu. Sedangkan, di samping meja ada sebuah lemari pakaian berwarna cokelat muda–lagi-lagi tebuat dari kayu.

Kedua benda itu berseberangan dengan ranjang kayu besar yang selalu ku gunakan untuk beristirahat. Tepat di sebelah ranjang, ada pintu berfentilasi rapat yang menghubungkan kamar dengan dunia luar. Pintu yang ku tutupi menggunakan horden cokelat karena tidak lagi ku gunakan. Beberapa centi dari kiri pintu, terdapat jendela besar yang ku tutupi dengan horden putih. Jendela itu adalah tempat yang selalu ku pandang bila pagi tiba. Sinar mentari yang masuk ke kamar terlihat lebih soft karena adanya horden.

Bersebelahan dengan jendela, ada meja belajar yang tidak pernah absen ku gunakan untuk merenung. Meja itu tidak tepat bersebelahan dengan jendela, melainkan berada di sudut kamar. Meja itu terlihat ‘ramai’ dengan stick note bertuliskan kalimat motivasi yang ku dapat saat merenung, salinan quote buku atau kata-kata orang di sekitarku. Di samping meja belajar sendiri ada lemari plastik yang terisi penuh oleh buku.

Dua benda selanjutnya adalah kipas angin dan televisi. Kipas angin hanya teman kala siang, karena saat malam udara terasa sangat dingin akibat fentilasi-fentilasi yang ada di pintu mau pun jendela. Sedangkan, televisi hanya teman malam sebelum tidur.

Tetapi, kini ada dua benda lagi yang mengisi luasnya kamarku. Dua benda itu adalah kardus-kardus besar berisi barang-barangku selama ini. Kardus yang kebanyakan diisi oleh buku yang berhasil ku kumpulkan selama 3 tahun. Aku sama terkejutnya denganmu saat menginjakkan kakiku kembali ke dalam kamar setelah berhijrah ke kota besar.

Seakan kedua kardus itu berbicara padaku. “Kemaslah kami segera dan persiapkan dirimu untuk melihat tempat baru!”

image

Kamarku. Sisa satu kardus. Kardus yang lain sudah dikemas di gudang ;_;

P.s
Cerita ini bukanlah cerita asli yang ku tulis ketika workshop. Aku hanya mengambil garis besar dari ceritaku kemarin. Lagipula, mba Windy hanya memberikan waktu kurang dari 5 menit untuk kami. Saat itu pun aku tidak pede mengangkat tangan untuk menceritakan hasil tulisanku yang acakadul :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s