Meraih Masa Lalu

image

Biasanya aku mencibir pada Kak Sapi bila melihat kebiasaannya menempelkan harga buku pada lembar depan bukunya. Seakan ingin orang di sekitarnya tahu, seberapa banyak dan seberapa mahalkah buku yang pernah dibelinya. Jujur, itu sedikit membuatku risi. Terlebih ketika aku meminjamkannya kepada teman-temanku. Mata mereka melebar sembari berseru, “Aseekk… harganya ee.”

Tetapi, pemikiran itu segera tumbang ketika aku tahu sebuah tag harga bisa membawaku ke sebuah alam lain. Alam yang setiap manusia memilikinya, alam yang sering mereka coba lupakan. Alam itu, ku sebut ia masa lalu.

Seperti yang baca dalam buku Nulis itu “Dipraktekin”. Ada satu bab yang menjelaskan mengenai penggunaan flashback. Dalam bab tersebut, penulis mengatakan “Dengan flashback, anda dapat menunjukkan perubahan yang terjadi pada karakter dalam cerita anda terutama perubahan yang sangat dramatis, atau drastis.”

Bagiku ini bukan hanya sebuah penjelasan mengenai trik mengisi bab novel, tetapi juga merupakan sebuah penjelasan bagaimana manusia perlu menengok ke belakang dan memperhatikan apa yang telah berubah di dalam dirinya. Tidak lupa, saat itu manusia pun harus merasa puas dan berkata “Yes, aku udah sejauh ini!” Dan kembali melangkah menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Flashback atau lebih sering ku sebut sebagai nostalgia adalah ajang di mana aku bisa membangun semangat baru dalam menata hidup. Terlebih setelah merasakan dua kali pahitnya bangku pendidikan, di mana aku belum lolos PTN mana pun. Bahkan, aku pun masih tidak tahu di mana tempat yang dapat menampungku kelak. Ya, tidak ada rencana kuliah. Aku hanya ingat untuk Ke Entah Berantah dan menggali sesuatu yang memang ku pertanyakan selama ini.

Selepas lulus SMA, kamu–aku akan mengingat banyak hal yang telah terjadi dalam hidupmu sebelumnya. Seperti yang ku lakukan selama menjabat sebagai salah satu pengangguran di Indonesia. Selama ini, selain sibuk mengurus kepindahan, aku sering membuka file foto atau video. Melihat-lihat perubahan yang terjadi dalam diriku. Bahkan, aku baru sadar bahwa salah satu mimpiku telah terwujud. Aku telah menjadi seorang fotografer!!!

Meski belum profesional, setidaknya aku sudah mencapai tahap amatiran. Lagipula, amatir adalah sebuah kata yang lebih bermakna–dimana kamu mencintai apa yang kamu kerjakan.

Kini aku telah kembali ke Makassar. Benar-benar meninggalkan Kota Baubau–entah sampai kapan–dengan segudang kenangan yang kapan saja bisa kembali terkuak. Dengan sifat yang menyukai kepingan kenangan, aku akan mengingat segala rinci hal yang pernah terjadi 3 tahun yang lalu. Kenangan yang tidak mampu digantikan oleh apa pun. Biar otak ini penuh kenangan, setidaknya mereka membuat diri ini bahagia walau tidak seberapa.

Mungkin terdengar klise bahwa otakku hanya dipakai untuk menyimpan masa lalu. Tetapi, apa yang ku lakukan tidak ada yang tidak berguna. Mengutip quote dari seorang Natalie Goldberg, “As writers, we live twice, like a cow that eats its food once and digest it again. We have a second chance at biting into our experience and examining it.”

WORTH IT!?

Ya, semua kenangan yang ku simpan ‘kan ku jadikan ladang ide ceritaku kelak. Siapa yang menduga? Pengalamanku berinteraksi dengan banyak jenis manusia, di tempat-tempat berbeda, dan segala hal di dalamnya membuatku tahu banyak hal. Seperti apa yang ku tulis kali ini, berawal dari sebuah price tag buku yang ku beli kemarin. Berawal dari keasyikan menonton video setahun lalu di kelas. Semuanya berasal dari masa lalu. Sebuah masa yang enggan diungkit banyak orang.

Coba dipikir-pikir. Bagaimana jadinya bila setahun lalu aku bersama 2 kawanku tidak membuat video lypsinc di kelas? Atau bagaimana aku bergeming dengan para price tags dan membuangnya di tong sampah terdekat? Tulisan ini mungkin tidak pernah ada. Bila masa lalu tidak ada, maka semua yang ku lakukan hari ini pun tidak ada, begitu pun masa depan.

Seseorang pernah berkata bahwa hidup ini hanya sebuah fase berulang. Masa lalu-Hari ini-Besok. Ketiga hal itu saling berkait. Tanpa masa lalu maka tidak ada hari ini, tanpa hari ini maka tidak ada esok. Mereka saling berinteraksi, menciptakan perubahan dalam diri seseorang. Tetapi, manusia terlalu malas untuk melihat ke belakang dan tergopoh-gopoh hanya untuk mengejar tanda tak kepuasan. Melupakan masa lalu yang digunakan untuk belajar, melupakan hari ini untuk menikmati setiap helaan napas yang ada, dan mengejar esok yang tidak pernah ada akhirnya.

Tamak. Iya.

Maka dari itu, dibandingkan merasa pusing mencari tempat kuliah, aku lebih memilih untuk menikmati setiap helaan napas yang ku embuskan melalui hidung. Sejujurnya, aku tidak ingin berkuliah. Aku hanya ingin ‘mencuri’ beberapa ilmu yang memang ingin ku ketahui sejak kecil. Aku tidak terlalu menginginkan adanya skripsi, dosen, tugas merajalela atau segala hal yang bertentangan dengan pikiranku. Yang ku inginkan hanyalah belajar. Belajar segala hal dengan cara yang berbeda.

Ah… sulit untuk dijelaskan apa yang ku inginkan itu. Orang awam mungkin tidak mengerti dan mengataiku bodoh karena tidak pernah ingin mencoba atau mengatakan ini hanyalah sebuah alasan untuk bermalas-malasan. Sungguh, tidak sedikit pun dari sel tubuhku ingin bermalas-malasan.

Coba bayangkan bagaimana rasanya menjadi anak kecil yang ingin tahu banyak hal? Seperti itulah yang ku rasakan saat ini. Aku ingin Ke Entah Berantah, menyelam dan menjelajahi setiap hal yang terjadi di dalam hidup ini.

Atau… perlukah aku membuat project Berkeliling Indonesia menggunakan sepeda?😀 terdengar menyenangkan memang hihihi…

Melihat masa lalu. Aku tidak tahu mengapa hal sekecil itu bisa membuatku bahagia, plus tumpukan semangat membara untuk meraih impian. Price tag… benda kecil itu memiliki jalan pikiran yang senada denganku. Dengan hanya melihatnya aku ingat bagaimana kejadian aku membelinya di toko buku. Aku ingat seberapa besar uang yang dapat ku gunakan untuk membeli buku pada tahun ini–yang pasti akan berbeda di tahun-tahun berikutnya.

Ya… akhirnya aku melakukan hal yang sama dengan Kak Sapi. Membubuhkan price tag buku ke salah satu halamannya–ku pilih di halaman akhir :p dengan harapan bahwa aku akan selalu mengingat masa lalu, selalu ingat bahwa aku tidak pernah tidak memiliki kenangan. Masa lalu untuk dipelajari, bukan untuk dilupakan.

2 thoughts on “Meraih Masa Lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s