Prolog; Sembunyi

image

Dia sedang membaca jurnal. Jurnal berwarna ungu tua yang terlihat berantakan dengan beberapa kertas terselip menjuntai keluar dari beberapa halaman. Matanya berkilat tajam, menguar optimis setiap membaca kata yang tercetak di atas kertas. Rambut pendeknya bergerak mengikuti arah angin, tapi itu tidak menganggunya. Dia malah makin terlarut dalam bacaan, seakan dunia membisu dan memberinya waktu untuk menikmati kesibukannya. Dia terlihat cantik.

Jun tidak tahu sejak kapan menatap si ‘dia’ menjadi rutinitasnya selama dua minggu sekali. Menatap dari meja bar yang tidak pernah sepi. Jun tidak paham, tapi dia bisa tahu ada yang bergejolak dalam hatinya saat melaksanakan kegiatan itu. Dia mengerti bahwa kebiasaan ini sudah menggerogoti separuh hatinya. Ya, Jun merasa hatinya telah jatuh kepada si ‘dia’.

Si ‘dia’ atau biasa disebut oleh karyawannya sebagai Nona Jelajah adalah gadis berperawakan tomboy yang telah menjadi langganan Cafenya sejak setahun yang lalu. Walau tidak sering, si Nona Jelajah selalu datang 2 minggu sekali–atau paling lama sebulan–ke sini, memesan Macaroon dan segelas Milk Tea. Kudapan favoritnya adalah blackberry macaroon dengan krim keju ekstra.

Ah. Jun bahkan ingat apa yang disukai Nona Jelajah. Kadang, dia merasa tidak waras saat meminta para karyawannya untuk melakukan ini-itu berkaitan kepada sang gadis tomboy; memberikan macaroon gratis atau ice cream gratis dengan alasan bahwa cafenya sedang untung besar. Sebuah perhatian yang diberikan Jun secara cuma-cuma agar gadis intaiannya betah berlama-lama di cafe.

Mata Jun masih mengarah pada gadis itu. Sesekali melayani pengunjung–yang pada akhirnya ditangani oleh bartender. Dia sadar, dia penasaran akan isi jurnal ungu yang digenggam gadis itu. Jurnal yang selalu dibawa sang gadis ke cafenya. Jurnal yang unik karena kelapukannya. Jun bisa menebak bahwa jurnal itu sudah berumur lebih tua dari sang gadis, terlihat dari warna kertas yang menguning.

Tiba-tiba, ketika alam mulai berkonspirasi untuk menyeleksi. Mata Jun dan gadis itu bertemu. Mereka saling bertatapan dalam sepersekian detik dan diakhiri dengan senyum tipis si gadis yang kemudian hilang ditelan isi jurnal. Jun mendesah, dia menjilati bibir, merasa gugup akan suasana yang tiba-tiba terkesan membiarkannya dan gadis itu saling terkoneksi melalui tatapan singkat. Hanya melalui tatapan, dan Jun merasa hampir mati karena kehilangan oksigen.

Jatuh cinta itu memang gila.

Dan seperti yang sudah-sudah, Jun kembali melirik gadis itu. Ada hasrat untuk berkenalan, tetapi dia enggan. Setidaknya untuk saat ini, dan entah sampai kapan.

______

Maya merasa gugup. Pria berkemeja kotak-kotak biru itu masih menatapnya intens dari meja bar. Ada ketakutan yang merajai, walau harus saling bergesekan dengan rasa senang yang tidak beralasan. Maya sadar, dia mungkin sudah terlalu sering ke cafe ini–pada hari yang selalu sama setiap 2 minggu sekali atau paling lama sebulan sekali. Membuat pria yang tidak pernah mengajaknya berbicara itu menatapnya dengan sangat intens, penasaran.

Sudah banyak karyawan cafe yang mengenalnya. Si Nona Jelajah, itulah sebutannya di cafe ini. Sebutan yang disukainya karena seperti itulah dirinya. Ya, kesibukannya selama ini hanyalah bertraveling, menjelajah dari satu daerah ke daerah lain. Mencari kepuasan yang disuguhi oleh ciptaan Tuhan secara nyata atau menikmati secuil kehidupannya yang terlalu fana. Dia senang itu. Menjelajah memberikannya banyak pelajaran. Pelajaran yang banyak diulisnya dalam sebuah jurnal tua yang kumal berwarna ungu tua.

Perlahan, Maya membuka satu per satu lembaran jurnal. Mencari sebuah kata yang digarisbawahi oleh dirinya sendiri. Sebuah kata yang merujuk pada destinasi yang ingin dikunjunginya selanjutnya, sekaligus mencari kontak yang dapat dihubunginya kelak di tempat tujuan.

Fosil Karst

Senyum Maya mengembang. Dia mengangkat wajah, dan pada saat itu juga matanya bertemu dengan pria berkemeja kotak-kotak di bar. Kali ini Maya dapat melihatnya lebih jelas, pria itu mengenakan kacamata dan rambutnya ikal menutupi telinga. Terlihat menawan.

Sial. Maya segera menurunkan pandangan, merutuki kejadian yang baru dinikmatinya dalam sepersekian detik. Ini belum saatnya baginya unuk jatuh cinta. Tidak sampai kepuasan yang diidamnya tercapai, atau ada kejadian yang membuatnya harus bertekuk lutut pada cinta. Tetapi, Maya berharap tidak kali ini. Dia harus pintar menghindar dari segala hal berkaitan tentang cinta. Bahkan, sampai harus merelakan perasaannya.

4 thoughts on “Prolog; Sembunyi

  1. Hai…, salam kenal.
    Selamat ya, kamu dapat Liebster Award dariku.
    Untuk lebih lengkapnya bisa dicek di http://girlwithwritingproblems.wordpress.com/2014/07/31/liebster-award/
    Thank you…πŸ˜€

    Aku harap cerita Jun dan Maya ini ada lanjutannya karena kasihan kalau mereka saling menyukai tapi rasa suka itu tersimpan begitu saja. Seperti setiap destinasi yang Maya tulis dalam jurnalnya, hatinya juga pasti ingin menjelajahi hati yang ingin ia tuju, hatinya JunπŸ˜‰

    • Salam kenal juga mba Ria ^^

      Terima kasih atas Liebster Awardnya!!πŸ˜€ aku akan berusaha mencari 11 teman lainnya ‘-‘9 hehe… nantikan jawabanku ya mba~

      I hope soπŸ˜‰ semoga cerita keduanya tidak ngadat seperti cerita lainnya hehe. Stay aja di sini ya mba, nungguin cerita mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s