Jangan-jangan…

Maya menahan senyum begitu melihat kontak BBM-nya penuh dengan titik merah. Banyak pesan yang tak terbaca, padahal dia baru saja meninggalkan ponselnya ke kamar kecil.

Dia akhirnya sampai di rumah rumah, setelah melepas penat di cafe dekat komplek perumahannya. Di sana dia menyempatkan diri membuka jurnal, mencari kosakata yang digarisbawahinya bila menulis sebuah catatan kecil yang dia rasa penting pada waktu yang tak menentu. Alhasil, dia mendapatkan kosakata fosil karst pada halaman tengah jurnal. Pada halaman itu pula tertulis sebuah kontak yang dapat dihubunginya. Kontak yang dapat membawanya ke sebuah tempat yang dinamakan Maya sebagai Fosil Karst.

Kegiatan Maya menggarisbawahi kosakata tidak tanpa alasan. Itu adalah kebiasaannya untuk menandai nama daerah yang ingin dikunjunginya suatu saat. Seperti Fosil Karst, yang sebenarnya dikenal sebagai Rammang-rammang.

Rammang-rammang sendiri adalah daerah yang terletak di Desa Salendrang, Maros, Sulawesi Selatan. Daerah yang terkenal akan keindahan Pegunungan Karstnya, hampir menyamai Pegunungan Karst yang ada di Hanoi. Rammang-Rammang dapat ditempuh Maya selama setengah jam menggunakan motor atau mobil dari kediamannya. Tidak jauh memang, tetapi berkelana sendiri tidak ada asyiknya tanpa teman. Maka dari itu, kontak yang ditulisnya adalah sebuah rujukan mencari teman seperjalanan.

Maya tidak bisa menyebut dirinya sebagai Traveler atau Backpacker. Baginya, seluruh manusia adalah seorang pejalan atau traveler. Memiliki kaki atau tidak, mereka pasti pernah berpindah dari satu posisi ke posisi yang lain–dan seperti itulah traveler. Maya sendiri lebih senang dipanggil sebagai penjelajah. Dan kali ini dia ingin menjelajah sebuah tempat di mana sering dijadikannya objek khayalan sejak kecil. Gunung Karst.

PING!

Lagi-lagi dering ponselnya. Dia baru saja mengetik pesan, membalas pesan temannya yang kegirangan membaca statusnya di BBM, dan kini ada pesan lain yang masuk. Hari ini dia sibuk melayani social media, menjadi gila karena obrolan mengenai Karst bersama kumpulan manusia yang tergabung dalam Komunitas Lubang Jarum Makassar.

Ya, kontak rujukannya kali ini bukanlah berupa person. Tetapi, sebuah grup di media sosial chating BBM. Grup mengatasnamakan dirinya sebagai Pinholes Makassar atau Lubang Jarum Makassar. Maya teringat, suatu hari dia memang pernah mengobrol dengan salah satu anggota Lubang Jarum. Mereka mengobrol mengenai hunting ke Desa salendrang. Berpikir mengenai memotret keindahan gunung Karst menggunakan barang bekas.

Sejujurnya, Maya tidak begitu aktif dalam komunitas itu. Dia hanya seorang anggota pasif yang datang semaunya untuk memotret tanpa kamera. Bahkan, sejauh ini Maya hanya pernah menghadiri 2 workshop yang diadakan komunitas itu dan untuk membayar rasa penasaran bagaimana cara memotret a la kamera analog menggunakan barang bekas. Hanya menampakkan muka kepada ketua komunitas yang juga teman saudari perempuannya.

‘Ke Rammang-Rammang?’
‘Kapan?’

Si Ketua Komunitas yang dipanggil Maya sebagai Kak Ren mengirim pesan. Segera dibalasnya pesan itu dengan cekatan. Dia harus pergi ke Rammang-Rammang segera, tidak perlu takut bersikap gengsi berbalas pesan kepada pria. Nekat adalah jalan utama meraih mimpi.

‘Sesegera mungkin, kak!’

Maya menggenggam ponsel sembari menangkupkan kepala layaknya seseorang yang tengah berdoa. Dia jelas sangat berharap Kak Ren mengiyakan ajakannya ke Rammang-Rammang. Berdoa pria berambut sedagu itu mempermudah jalannya ke tempat yang selama ini diimpikannya. Tempat yang telah membawanya ke dunia khayal yang lebih jauh.

Fosil Karst.

________

Jun tengah sibuk memeriksa ponsel, membaca tiap kalimat yang dikirim oleh anggota-anggota grup yang diikutinya dalam aplikasi Blackberry Messanger. Chat room yang biasanya sunyi tiba-tiba berubah ramai. Asal usulnya diketahui Jun dari seorang anggota bernama Maya Aryani. Orang itu mengirim pesan, mengajak komunitasnya ke sebuah daerah tidak jauh dari Makassar untuk merekam memori.

Ajakan Maya cukup menggoda. Sudah lama Jun dan komunitasnya, Lubang Jarum Makassar, tidak mengadakan workshop. Selain itu, dia ingin pula berkunjung ke Rammang-Rammang, tempat yang disebut Maya sebagai Pegunungan Karst. Dia teringat sebuah acara teve yang memperlihatkan tempat itu, sebuah desa asri yang dipenuhi dengan sawah dan dikelilingi oleh Gunung Karst.

Berusaha tanggap, Jun menginvite Maya. Perempuan itu menjadikan potret pantai berpasir putih sebagai foto profilnya. Dia tidak bisa menebak seperti apa sosok Maya, tidak pernah ingat pula ada seorang Pinholers bernama Maya. Setelah diaccept, Jun pun segera memulai obrolan dengannya. Kalau pun Ren–ketua komunitasnya–tidak menyetujui ajakan Maya, dia tetap ingin ke Rammang-Rammang. Dia penasaran setengah mati dengan tempat itu.

‘Beneran pengen ke Rammang-rammang?’

Pesan segera dibalas dengan penjelasan penuh keoptimisan. Jun tersenyum kecil, Maya ternyata begitu terobsesi dengan Rammang-rammang. Berbagai kalimat pendek yang dikirim Maya diisi oleh pengharapan agar ajakannya diiyakan oleh seluruh anggota Pinholes. Jun membalas pesan Maya dengan penuh kehati-hatian. Dia juga ingin ke Rammang-rammang dan tidak ingin terlalu menampakkan keinginannya itu.

Dasar gengsi, memang. Tapi, begitulah dirinya. Demi mempertahankan jati dirinya sebagai pria cool.

Tidak lupa, Jun juga bertanya soal kehadiran Maya sebagai seorang Pinholers di setiap pertemuan. Dia tidak terlalu penasaran, tetapi sebagai salah satu anggota yang dituakan di komunitas, dia merasa perlu bertanya. Alhasil, dia pun tahu bahwa Maya hanyalah seorang anggota pasif. Perempuan itu hanya pernah mengikuti dua kali kegiatan workshop Pinholes. Plus, dia juga kenalan Ren.

________

Saya sudah di Bugies Cafe. Kakak di mana?’

Pesan itu dikirim Maya ke Ren sesampainya ia di cafe langganannya di kawasan Panakukang. Cafe yang setiap dua minggu sekali didatanginya hanya untuk menyantap Macaroon dan Ice Milk Tea. Cafe yang ternyata dimiliki oleh salah satu Pinholers yang kini dikenal Maya sebagai Andi Junaidi. Si Jun.

Belum ada balasan dari Ren. Maya juga belum memberitahukan kehadirannya kepada Jun. Dia akan menghubungi Jun setelah mendapatkan kursi di lantai dua Cafe ini. Tidak sulit mencari kursi, saat ini belum waktu ramai Cafe Bugies sehingga Maya mengambil tempat persis di depan balkon sehingga nantinya dia mudah mengamati kedatangan Ren.

Di sini dia terdiam. Matanya mengarah ke langit yang mulai menguning. Senja akan tiba sesaat lagi dan Makassar akan padat. Setidaknya dia tidak akan kesulitan untuk kembali ke rumah, hanya butuh kekuatan kaki. Tetapi, merasakan rutinitas Makassar yang makin sibuk membuatnya kehilangan. Dia ingat bagaimana masa kecilnya berlangsung di sini. Dan semuanya terasa berubah. Tidak. Semuanya memang telah berubah.

PING!

Maya berjengit. Oh. Dia lupa menghubungi Jun. Segera dia membuka ponsel. Di aplikasi chat itu dia mendapat pesan dari Ren. Pria itu masih dalam perjalanan dan kemungkinan akan datang terlambat. Sungguh. Maya paling tidak suka menunggu. Tahu begini dia akan datang setelah Ren tiba. Setidaknya rumahnya tidak terlalu jauh. Malang nian rasanya. Mau tidak mau Maya beralih ke Jun, berharap pria itu sudah berada di sini.

“Kak Maya! Tumben duduk di balkon atas.” Maya beralih dari ponsel. Seorang gadis berseragam pelayan yang tidak asing menegurnya.

Dalam pegangan gadis itu terdapat nampan berisi 2 macaroon blueberry. Maya mengernyit, dia dapat dengan mudah menebak maksud si gadis. Tetapi, bukannya dia belum membeli apa pun?

“Itu buat saya ya, Nita?” Maya bertanya, menunjuk nampan.

Nita mengangguk. “Seperti biasa, kak. Hapal ya… enak sekali dapat gratisan terus.”

“Nah, itu dia. Saya belum mesan apa-apa, malah dapat gratisan.” Kata Maya tidak terima. Dia sepertinya lupa bahwa Jun adalah pemilik cafe ini. Bila dia ingat–tentu saja–dia akan bertanya kepada Jun, sekalian berterimakasih.

Nda tahu juga kakak, makan saja mi. Syukur-syukur dapat gratisan.” Ujar Nita kemudian menaruh nampan dan berlalu.

Maya menggaruk kepalanya. Dia menatap macaroon penuh minat. Tetapi, dia belum membeli minum dan berniat memakannya setelah Ren tiba nanti. Mendadak ponsel yang ditaruhnya di samping nampan bergetar. Pesan dari Jun.

Kamu di mana?

Meja 27, kak balas Maya tanpa membuang waktu.

Pesan dari Jun membuat Maya mengedarkan pandangan ke arah tangga. Dia ingin memastikan apa pria bernama Jun melihatnya atau tidak. Walaupun, Maya tidak ragu lagi bahwa pria itu tahu di mana posisinya. Bukankah Jun pemilik Cafe ini? Setidaknya Jun tahu di mana saja posisi-posisi kursi–setidaknya itu presepsi Maya bagi seorang owner.

Tidak lama kemudian seorang pria berkacamata yang dilihat Maya tempo lalu tiba. Pria berambut ikal yang senang meliriknya itu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru lantai dua hingga akhirnya mata mereka bertemu. Maya mendadak gugup. Dia mengalihkan pandangan dengan melihat ke luar balkon. Pikirannya mulai berkecamuk. Jangan-jangan…

“Kamu, Maya?”

… Jun.

Note:

Ah… apa yang telah ku lakukan? /_\ ini cerita apa? Picisan, ya? Aku tidak pernah membuat cerita bersambung. Maksudku, yang berlatar di salah satu Pulau di Indonesia. Well, tidak ada yang ku harapkan. Aku hanya sekedar menuang ide di sini. Semoga imaji ini tidak ngadat. Semoga…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s