Mencari Rumah

image

Kota Palu

Ini hari ke-empat aku menginjakkan kaki di ranah Sulawesi Tengah. Ya, aku berada di Palu.

Rasa-rasanya, sejak tahun 2008 aku mulai menjelajahi Pulau Sulawesi. Pekerjaan bapak ternyata belum membawaku ke ranah Jawa, Sumatera, dan Papua. Dan kini aku merasa bukan lagi tanggung jawab mereka. Kini aku hampir berusia 18 tahun. Dalam sistem kekeluargaan Belanda, pada usia inilah para keluarga harus melepaskan anaknya untuk hidup sendiri–mandiri. Yang berarti, bila kemudian orangtuaku pindah kembali, aku tidak bisa mengikuti mereka untuk tinggal lama di tempat yang baru. Sudah saatnya aku yang pindah sendirian, merantau ke entah berantah dan menjalani kehidupan yang baru.

Itu prinsipku, yang belum kunjung ku laksanakan karena terlalu banyaknya tekanan yang membuatku ragu. Jujur, memang aku tipe peragu.

Hingga kini aku masih menyimpan ragu. Apakah aku perlu berkuliah atau tidak? Apakah aku hanya perlu bekerja untuk mengumpulkan uang dan mulai berkeliling dunia?

Dan, tujuanku berkeliling dunia hanyalah untuk mencari ‘rumah’ yang selalu ku damba. Serta mencari jati diri. Apakah itu terlalu sederhana untuk dijadikan alasan?

Aku pikir tidak. Orang terlalu tabu mengartikan rumah. Rumah ya tempat tinggal, pikir mereka. Tapi aku tidak. Aku berpikir rumah adalah tempat di mana aku selalu merasa nyaman, bahagia, dan tempat yang membuatku menjadi diriku apa adanya. Aku ingin rumah yang bisa membuatku lebih ‘hidup’. Dan, aku bertanya-tanya di mana aku bisa mendapatkannya.

Bukan berarti rumah yang ku tinggali saat ini tidak memiliki artian itu. Aku senang bersama kedua orangtuaku, aku senang bersama adik-adikku. Tetapi, lama-kelamaan aku pun bertanya-tanya. Bila aku hanya berdiam diri di sini, apa tujuanku sebenarnya untuk hidup di dunia? Bukankah ini terlalu membuang waktu. Lagi pula, aku cepat merasa bosan atas semua hal yang dilakukan secara berulang-ulang. Aku bosan berdiam diri di rumah. Aku ingin keluar dan akan kembali lagi bila aku telah merasa puas atas apa yang telah ku raih.

Selama ini aku merasa belum hidup. Di rumah aku hanya bermalas-malasan dan itu membuatku menjadi seperti Zombie. Makan-tidur-nonton-membaca-menulis. Hal lumrah yang ku lakukan. Tapi aku butuh hal baru. Hal yang dapat membuatku lebih hidup, membuat jantungku berdentam tidak sabaran, membuat rasa penasaranku tak tertahankan. Aku ingin hidup lebih hidup lagi.

Karena kebingungan yang selama ini ku rasa, hidupku mulai terbengkalai. Aku tidak lagi mengurus blog. Tidak melanjutkan postingan mengenai Liebster Award di blog pribadi. Tidak melanjutkan cerita mengenai kisah dua penjelajah mimpi. Dan tidak berbagi cerita perjalananku selama di Palu. Aku seperti mati rasa untuk memulai semuanya dari awal. Mati rasa untuk membangun ulang rencana yang sempat ku susun. Rasanya ingin kabur dari rutinitas membosankan. Aku ingin bergerak menuju tempat yang dapat membuatku lebih hidup.

Mungkin akan lebih afdol bila postingan ini ku sisipkan rasa maaf kepada, sahabatku, Khadijah dan kepada pengirim Liebster Award. Maaf aku terlalu bingung dengan semua kejadian yang menimpaku akhir-akhir ini, aku terlalu malas untuk menulis dan lebih banyak merenung–yang diakhiri dengan senyum ketidakpuasan.

Maaf.

16 Agustus, Palu (Sulawesi Tengah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s