Fosil Karst

image

Taman Nasional Bantimurung

“Kamu tahu tidak, Kak Gala bikin Grasshopper gara-gara liat semut di halaman,”

“HAAAAA?? Kerennn…. terus?”

“Iya, dia mikir bagaimana yah kalau semut-semut ini kayak manusia. Dan, jadilah sketsa awal Grasshopper.”

Potongan pembicaraanku dengan Akbar, kira-kira 5 tahun yang lalu, selalu terngiang begitu memikirkan Fosil Karst. Saat itu kami–aku, adik-adik kami, dan dirinya–sedang bermain di halaman rumahnya. Kami sedang bermain bulu tangkis, aku dan dia terduduk di teras menunggu giliran sembari memperhatikan deretan semut hitam yang berjalan di batas lantai dan tanah.

Kak Gala adalah kakaknya yang tertua. Kini dia sedang berada di salah satu kota di Jawa, menjadi komikus ternama. Bila dia bercerita mengenai Kak gala, aku akan mendengarnya dengan khidmat. Aku sangat tertarik dengan dunia yang digeluti Kak Gala. Dunia yang sempat ingin ku icip.

Setahun kemudian, Om Sur–ayah Akbar–datang ke rumahku yang baru. Beliau membawakan sebuah komik yang telah lama ku incar. Grasshopper. “Ini spesial buat Nana. Gratis.” Kata beliau yang ku terima dengan malu-malu. Saat ku baca, ada salah satu bagian yang berisi catatan Kak Gala. Di sana, termuat ide awal pembuatan Grasshopper. Aku pikir, Akbar men-copy paste isi bagian itu kepadaku. Ya, mengenai semut di halaman rumah.

Hadiah yang sangat istimewa. Sampai-sampai aku terbawa bayangan ide Kak Gala. Setiap minggu aku dan keluarga sering pulang ke Makassar lewat pegunungan yang berkelok-kelok. Perjalanan dari Sengkang ke Makassar hanya butuh waktu 4 jam dengan jalur darat. Sabtu siang ke Makassar, minggu sore balik ke Sengkang. Untuk beberapa bulan kegiatan itu terus terulang. Di setiap sesi perjalanan, aku suka mengkhayal sebelum akhirnya tertidur. Selain mengkhayalkan anggota Super Junior, aku mengkhayalkan bagaimana bila pegunungan yang ku lewati ini ternyata hidup.

Khayalan mengenai hidupnya gunung itu selalu berlangsung ketika aku melewati daerah Maros. Daerah Taman Nasional Bantimurung lebih tepat lagi. Daerah yang terkenal akan wisata Desa Rammang-rammang dan Air Terjun Bantimurung itu memang masih sangat asri dengan susunan Gunung Karst di sekeliling jalan, selain sawah tentunya. Saat itu aku berpikir, Pegunungan Karst bisa saja berupa fosil dinosaurus utuh yang tertutupi tanaman. Kemudian, pikiran itu berlanjut mengenai sebuah ide jalan cerita fantasi–yang membuat pegunungan itu hidup. Khayalan ini dikarenakan ide Kak Gala. Bila semut bisa dijadikannya tentara Grasshopper yang super keren, mengapa Pegunungan Karst tidak? Hehe…. khayalan anak kecil.

Kemudian, keluargaku dan keluarga Akbar harus terpisah ke pulau yang berbeda. Aku hampir melupakan Grasshopper. Sampai akhirnya aku teringat kembali ketika salah satu episode Jalan-jalan Men menampilkan Desa Rammang-rammang. Aku jadi rindu dengan perjalanan yang selalu ku lalui setiap minggunya di Sengkang. Aku rindu pemandangan indah yang ditawarkan alam Sukawesi itu. Aku rindu…

Kerinduanku akhirnya terbayar. Tanggal 3 Agustus 2014 yang lalu, aku berkesempatan mengantar Kakak Sapi KKN di Bone. Untuk ke Bone sampai ke Desa tempat Kak Sapi tinggal butuh waktu 6 jam perjalanan darat. Dan senangnya, untuk ke sana aku dan keluarga menggunakan jalur Cijantung. Jalur Maros, yang artinya aku akan melewati Pegunungan Karst. Saat itu khayalanku kembaki bermain. Aku menikmati perjalanan panjang ini dengan senang hati. Bahkan, aku sempat singgah ke Bantimurung dan melihat-lihat kupu-kupu yang diawetkan di Museum Kupu-kupu. Tidak lupa dengan sosok anak laki-laki yang ku segani. Dia penangkap kupu-kupu yang juga bertugas sebagai guide.

“Kepompong ini nantinya akan menjadi kupu-kupu yang besar, yang paling cantik itu. Masih ada 21 hari sebelum dia keluar.”

Mati-matian aku mengingat pelajaran IPA-ku waktu SMP. Dan dengan mudahnya dia bercerita apa saja mengenai kupu-kupu. Memang, dia pasti sudah terbiasa menjelaskan. Tapi aku tidak bisa tidak kagum padanya.

Jaring besar yang selalu dibawanya selalu ingin ku pinjam. Katanya, jaring besar itu dia gunakan untuk mengambil kupu-kupu yang ada di luar untuk dimasukkan ke dalam penangkaran. Bila waktu tidak sempit, rasanya aku ingin tinggal lama di sana hanya untuk menangkap kupu-kupu bersama. Sayang, perjalanan 6 jam itu harus segera dimulai karena kami juga akan kembali ke Makassar pada hari itu juga.

Perjalanan pun dilanjutkan. Masih dengan sayangnya, aku belum bisa berkunjung ke Rammang-rammang.

image

Sudah banyak berubah... 6 tahun yang lalu tidak begini, lho

17.09.14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s