Home

“Pian kawa bebahasa Banjar?” I asked them directly, could you speak Banjar language?

They were noded and started to speak with me by Banjar accent. It was the first time for several years I spoke Banjar with the native-Banjar. And the feeling of longing home changed by happiness atmosphere.

Even I was not in home; gather with my parent, my old sister and two brothers. I felt like I find what I need. I found my home that there was two women from Banjarmasin study English in the same regency with me. We met and we talked use Banjar’s language.

My homesick was heal, but I aware… I gotta more miss my hometown.

@@@@@

Selepas hujan turun, gemercik air yang terjatuh dari pohon mangga yang berkerumun di sekitar camp berbunyi. Suaranya pelan, sarat makna yang tidak dapat ku artikan. Bunyinya saling berlomba, bergantian. Walau berada di daerah yang berbeda, ‘rasa’ hujan tidak pernah berubah. Hujan selalu membawa kerinduan. Rindu yang kadang bisa didefinisikan, kadang pula tidak.

Musim hujan mulai menampakkan hidungnya. Hampir tiada hari tanpa sirangan langit yang selalu membuat suasana melankoli muncul. No lucky, nor unlucky… hujan selalu membawa anganku terbang ke masa lalu di mana aku dan keluargaku sering berkumpul di dalam rumah sembari menikmati teh hangat buatan mama bersama kudapan gorengan yang hangat. Selepas pulang les, dalam perjalanan menuju camp aku selalu berharap bahwa ada teh hangat dan gorengan  yang menunggu. Tentu saja, hanya harapan palsu.

Sehingga, aku hanya bisa gigit jari sesampainya di camp.

Hari ini, di mana hawa melankoli kembali menyelimutiku, aku terdiam menghabiskan sore dengan mengkhayal. Ditemani gerimis yang tidak kunjung reda, aku teringat kehangatan rumah. Lagi-lagi aku merindukan pisang goreng hangat dan canda Nanda–adik bungsuku yang tidak pernah kehabisan topik. Aku sungguh merindukannya.

Ketika malam tiba, rasa rindu itu belum kunjung hilang. Hingga akhirnya aku masuk ke kelas Vocab in Context di Kresna. Ku pikir hariku akan biasa-biasa saja, dengan hapalan dan materi Bahasa Inggris, serta rasa rindu yang setengah mati ku tekan. Ternyata oh ternyata ada kejutan di sana. Aku bertemu dengan dua gadis berhijab yang berasal dari Banjarmasin.

Tiba-tiba atmosfer melankoli hilang. Semangatku kembali muncul. Beberapa pertanyaan ku haturkan pada mereka, tidak lupa, ku gunakan Bahasa Banjar yang selama ini hanya bisa terpendam. Mereka terkejut dan mengikuti alur pertanyaanku dengan Bahasa serta aksen yang sama. Aku tidak peduli dengan orang sekitar yang mungkin saja merasa diri ini lebay. Yang jelas, apa yang telah ku pendam selama ini akhirnya tersalurkan.

Aku tidak pernah berpikir akan kehilangan Bahasa yang telah menemaniku sejak 6 tahun yang lalu. Lagipula, bila keluarga besar berkumpul, ada aksen dan sedikit kosakata Banjar yang keluar dari mulut kami. Aku selalu merasa bahwa Banjar adalah akar dari hidupku. Bukan Makassar. Bukan Baubau. Aku native Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Mungkin karena masa kecil yang banyak ku habiskan di sana, serta akar nenek moyang yang juga berasal dari daratan yang sama. Di lain hal, aku tidak pernah dekat dengan adat Sulawesi. Aku tidak begitu tahu kosakata Bahasa Makassar. Yang ku tahu hanya aksen dan pelengkap kalimat seperti; mi, ka, toh, dsb. Bila ada perkawinan dari keluarga pun, rata-rata masih memakai adat Banjar. Masih kental.

Penjelasan yang berapi-api. Sepertinya aku memang sangat mencintai ranah Borneo itu.

Dari Mba Windy, dalam bukunya, dia menulis bahwa Traveling adalah perjalanan mencari dan menemukan rumah. Ya, aku mendapatkannya hari ini. Di mana aku homesick, dan mencari kehangatan rumah yang selama ini ku sia-siakan. Kemudian ku temukan rumah lain di sini, rumah yang berisi canda tawa dan percakapan Bahasa Ibu yang selama ini ku rindu.

Aku harap bisa bertemu orang Banjarmasin lagi di sini. Dan yang bisa membawaku berjalan-jalan lagi di sana.

25 November 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s