Kenyataannya

image

Setelah membaca Audy:21, chronicle buku 4R yang ditulis oleh Orizuka, aku sadar bahwa hidupku tidak sejujur penuturan Audy mengenai hidupnya. Dan karena ketidakjujuran itulah yang membuatku merasa bosan. Selain itu, aku memaksa diriku untuk menjadi sosok ‘awam’ untuk menjadi normal. Padahal… itu tidak menyenangkan sama sekali.

Aku tahu, sangat sulit untukku berkata tidak formal pada siapa pun. Mendengar kata-kata ‘kotor’ pun masih sangat jarang untukku. Padahal tidak semua unformal atau kata-kata kotor itu buruk. Malah, aku sering merasa iri dengan orang yang dapat dengan mudahnya berprilaku friendly dengan sikap unformal mereka.

Oke… aku ingin menjadi jujur kepada diriku sendiri terlebih dahulu. Kemudian mencoba bersikap unformal kepada anak-anak camp–yang sering kewalahan dengan sikapku yang too kind.

Resolusi 2015? Not at all.

Aku tetap menolak untuk memikirkan perasaan dan hubungan-terhadap-lawan-jenis walau anganku selalu mendambakan hal itu. I have to be tough to myself about that. Ya… meskipun sulit sekali menahan segala perasaan sejenis itu. Kadang masih kecolongan pula. But, what should I do? Aku juga manusia, aku juga perempuan.

Kejujuran yang lain adalah… dua hari terakhir aku didatangkan oleh mimpi aneh–yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan. Dua pria yang wajahnya disamarkan menggenggam tanganku dengan erat dan kala itu jantungku berdentam keras. Untuk perempuan, itu mimpi yang dapat membuat mereka bercerita 1001 angan bahagia mengenai sosok pria di hadapan teman perempuan mereka. Membuat mereka meramal apa yang akan terjadi mengenai hubungan percintaan mereka–padahal sangat tidak akurat. Ooohh teenlite.

Padahal aku telah membuat maklumat awal tahun untuk tidak memikirkan hal itu. Agak goyah, tapi bila dilihat dari realita tampaknya aku tidak perlu khawatir karena jarang ada orang yang tertarik padaku. Bila pun ada aku mungkin akan membuatnya ilfeel.

Kejujuran ketiga. Aku menyukai kura-kura hanya karena sebuah kenangan masa kecil, disaat aku bermain PS2 Kura-Kura Ninja. Raphael, Donnatelo, Leonardo, dan Michelengelo. Permainan favorit kala sekolah usai. Karakter favoritku adalah Donnatelo.

Kemudian, aku suka bergaul dengan orang tua dan anak-anak. Maka dari itu, sulit untuk mendapati teman seumuran karena lingkup pergaulanku berbeda. Aku senang bergaul dengan orang tua karena aku senang mendengarkan kisah dan nasihat mereka. Aku senang bergaul dengan anak-anak karena aku senang mendengar ocehan mereka yang polos dan aku pun dapat melampiaskan perasaan childish yang selalu tertahan. Aku selalu memisahkan diri dari teman seumuran karena merasa tidak cocok dengan topik obrolan mereka.

Dan, aku sebenarnya sangat egois. Aku juga selalu ingin tampil berbeda dari orang lain. Alasan mengapa aku selalu mengautiskan diri di Pare, selain ingin menikmati dunia sendiri, aku juga ingin berpenampilan berbeda dari orang lain yang ada di Pare. I like to be different, because different is always special.

Lain dikata, lain di hati. Aku tidak senang cek cok dengan orang sehingga aku selalu setuju dengan opini mereka–yang ku pikir tidak melenceng–walau aku punya opini sendiri yang hanya ku simpan di hati.

Tidak senang bergosip, walau selalu ingin tahu. Mencuri pembicaraan adalah keahlianku.

Aku senang berteman dengan orang-orang rebel. Dan kenyataan selalu mempertemukanku dengan orang-orang genius yang bisa membuatku down dalam satu kali pembicaraan. Aku senang bersikap menyimpang dalam artian yang masih bisa diterima. Tapi kenyataan selalu membuatku terbiasa menjadi sosok formal yang tidak membelot.

I am a fussy girl. Tidak banyak yang tahu soal ini karena aku lebih senang menahan apa yang ingin ku katakan. Aku bisa diam selama 5 jam. Tetapi benakku sudah berantakan dengan ribuan kata yang telah tersusun. Kecerewetanku hanya berlaku pada orang-orang tertentu dan saat ini aku lebih ingin melatih diri menjadi pendengar yang baik. Menjadi fussy malah akan membuatku terlihat egois. Aku tidak senang menjadi sosok egois.

Wow… aku tidak tahu postingan ini akan berisi mengenai hal-hal yang selama ini ku pendam. Asal tahu saja, memendam sesuatu itu memang tidak nyaman. Apalagi memendam jati diri. Jadi, memang akan lebih baiknya bila langsung dikeluarkan daripada dipendam-pendam dan menjadi penyakit hati.

Manusia perlu menjadi jujur pada dirinya dalam mencari jati diri. Bukannya membohongi keadaan yang hanya membuatnya tersiksa dengan ribuan pertanyaan mengenai diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s