Dia yang Berbeda

Dia berkacamata dan berkulit sawo matang. Matanya bulat, menampakkan ketegasan yang selalu menghipnotisku untuk selalu ingin mencuri pandang. Dia tidak tampan seperti idola boyband Korea–tidak juga secantik mereka. Dia sederhana dengan tampilan super biasa sebagai pria berumur 20an, tampak manis dengan warna kulitnya. Pakaian apa pun rasanya cocok. Ah… Kali kesekian untuk jatuh hati pada seseorang.

Aku tidak pernah menyangka, akan sebegini gilanya melihat pria yang termasuk dalam daftar pria ideal versi khayalan. Ya, aku tidak pernah memasang target untuk ukuran pria karena jatuh hati itu subjektif, tergantung sudut pandang orang yang jatuh hati. Setahuku, apabila hati sudah klop, mau diapa lagi?

Kali pertama aku melihatnya bukan ketika awal masuk kelas. Malah hampir seminggu aku baru menyadari kehadirannya–saat dia duduk di sampingku dan aku bertanya mengenai materi hari sebelumnya. Kebetulan hari sebelumnya aku tidak hadir karena hujan yang begitu deras. Aku cukup terkejut. Dia manis, sopan, dan kata-kata sederhana yang keluar dari mulutnya terdengar begitu hangat di telingaku. Tiba-tiba aku merasa nyaman dan ingin berlama-lama di dekatnya. Tapi awareness di dalam diri emang sudah tumbuh besar. Dinding pelindung diri selalu tercipta bila aku berada di dekat pria yang tidak ku kenal baik.

Tidak banyak yang kami tuturkan. Hanya proses peminjaman buku yang sederhana, kelewat sederhana karena tidak lama menyalin, sang tutor di HP3 datang memulai materi. Ku kembalikan bukunya dengan berat hati. Seseorang pun mengusik posisi kami dengan menyeruak di tengah. Tidak ada kesempatan untuk berbicara banyak.

Aku sadar jatuh hati padanya saat mata ini selalu kedapatan melihatnya di kelas. Hati selalu ingin mencuri pandang. Selalu ingin melihat senyum hangat itu. Selalu ingin melihat mata dari balik kacamata minus itu. Rasanya sejuk.

Sayang seribu sayang, tidak ada perkembangan berarti hingga kelas memasuki hujung period. Esok adalah hari akhir pertemuan kami di kelas Grammar fase 3 di salah satu course Pare. Aku tidak tahu apa kami akan bertemu lagi di fase berikutnya atau tidak–walau besar harapan iya. Dan entah mengapa aku ingin berjanji, apabila kami dipertemukan kembali aku harus sudah mengenalnya dengan akrab.

Melupakan sebentar pertanyaan, ‘Apakah dia sudah memiliki wanita spesial atau belum?’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s