Selingan 1

Tubuh jangkungnya menutupi pandangan jalanan di hadapanku, walau kurus, tetap saja masih bisa menghalangi mata ini mencuri pandang pada kawanan pria yang sedang duduk menikmati kopi di warung seberang. Singkat saja, mencuri pandang pada seorang pria yang berhasil mencuri hati ini dengan senyuman.

“Lama nggak jumpa,” ucapnya, menyadarkanku yang berharap ditatap si empunya senyum manis di seberang.

“Biasa aja.” Aku berujar pelan. Ada sedikit rasa kecewa saat mata di seberang itu tidak sedikit pun menatapku.

Kini, ku pusatkan pandangan pada pria di hadapanku. Tubuhnya tinggi kurus, seperti orang-orang sawah tanpa pakaian compang-camping dan rambut jerami. Kulitnya hitam, tidak gosong–tidak juga semanis sawo. Hanya seorang biasa yang sudah bosan ku lihat selama kurang lebih empat tahun. Waktu yang lama. Hati ini sungguh tidak berdentam keruan. Detaknya pelan, seperti biasa.

“Gimana kuliahnya?” Dia bertanya. Kali ini menghampiriku yang sedang memangku tangan di atas pagar datar bangunan kosanku. Aku tidak mempersilahkannya masuk, ya, pasalnya kehadirannya hanya untuk sementara.

“Seperti biasa. Mana bukunya Bang Arjun?” Pintaku to the point sembari menengadahkan tangan. Dia mengangkat salah satu alisnya. “Kenapa? Malas ngomong sama aku?”

Sial. Dia bukan peramal atau seorang mentalis, tapi kali ini dia benar dalam menebak perasaan tidak nyaman itu. Bukan tidak suka dengan kehadirannya, hanya saja aku tidak ingin kehadirannya memberikan presepsi lain pada diriku dari seseorang di seberang sana. Sayang apabila presepsi single dikira have a relationship with other man olehnya. Boleh saja untuk berharap, bukan?

No! Doesn’t mean like that! Hanya ada tugas dari editor majalah kampus. Makanya mau cepat-cepat. Ngerti aja, ya. Biasa, mahasiswi sibuk.” Kataku beralasan. Tidak ku pedulikan delikan penuh curiganya.

“Ya sudah, ini.”

Ku ambil buku bersampul gambar-gambar lukisan khas penjajahan itu dari tangannya. Sebuah judul terpampang jelas Angkatan ’66. Buku itu milik Bang Arjun, saudara laki-laki pria di hadapanku. Sudah kesekian kalinya aku meminjam buku pada Bang Arjun. Berbeda dengan adiknya yang malas membaca, Bang Arjun adalah seorang bookworm paling keren yang pernah ku kenal.

“Kapan harus selesai ku baca?”

Pria itu terdiam selama beberapa detik untuk mengingat-ngingat pesan Bang Arjun yang selalu dititipnya untukku kala meminjam buku. “3 hari as possible, paling lambat 5 hari. Tapi nggak usah diturutin pesannya keleus. Itu hak kamu mau baca sampai kapan.”

“Oke. 3 hari datang ke sini lagi kamunya.” Kataku cepat tidak ingin mendengar ocehannya. Dia selalu begitu, selalu mengatakan hal yang bertolakbelakang dengan apa yang dikatakan kakaknya.

Tapi aku tidak keberatan dengan pesan Bang Arjun. Dengan batas waktu aku bisa menjamin bahwa buku itu bisa tandas ku baca tanpa menunggu mood–atau sampai rasa malas mendera yang menyebabkanku menunda kegiatan membaca. Bang Arjun memiliki tujuan yang baik agar aku bisa melatih kebiasaan membaca tanpa perlu menunda. Lagipula, apabila terlalu sering menunda, maka kebiasaan membaca akan hilang sedikit demi sedikit.

“Yakin?”

“3 hari deh. Udah ya, ada tugas nih!” Kataku seakan mengusirnya untuk kembali ke rumah. Dia menghela napas, “ya udah, aku balik ya. Good night.”

Good night. Don’t miss me.” Seperti biasa, kalimat itu menjadi penutup pertemuan kami. Dia mengangkat bahu kemudian menggunakan helm hitam dan menstater motor bebek milik Bang Arjun yang selalu digunakannya bergantian.

Aku tetap berdiri di dekat pagar. Melihatnya bersiap sembari mencuri pandang kembali ke arah warung seberang. Di warung seberang, pria pemilik senyum menawan itu masih menikmati kopinya. Mata kami sempat bertemu sebelum sahabatku-yang-membosankan memanggil namaku untuk berpamitan.

See yaaa Kimii!!!”

Ah… aku harap pria di seberang sana tidak berpikiran aneh. Aku tidak membalas teriakan sahabatku itu dan segera berbalik masuk ke dalam kosan. Buku Angkatan ’66 sudah di tangan. 3 hari ke depan aku harus paham isi buku ini. Harus.

** P.s

Actually, I just want to practice again my writing skill, it has been more than 3 months I was seldom to write. And I realized, I miss what I always do in the past. My heart even sick when I remember all things happen when I write. So, this is not the best of my story. Hanya selingan, pokoke.

Selingan satu. Pare, Kediri Jatim, 2015 February 1st.

3 thoughts on “Selingan 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s