Terima Kasih Atta!

image

Atta
0813 5736 ****
To Yaya

Tulisan di atas kertas HVS itu selalu mencuri pandanganku. Setiap menit ketika aku sedang berada di dalam kamar asrama. Susunan 4 cupboard tempel berjejer rapi di seberang kasur persegi panjang. Pada lemari kedua, kertas HVS itu tertempel. Lemari bukuku yang isinya cukup berantakan. Kenangan di malam para roomate-ku berteriak tidak jelas sembari menempel kertas HVS itu masih bersemayam di otakku. Dasar tante-tante mak comblang!

Aku sering bertanya di dalam hati, mengapa mereka tidak mencari cinta untuk diri mereka sendiri daripada bersusahpayah menjodohkanku?

Tapi pertanyaan itu segera hilang karena aku tidak begitu suka mengurusi kehidupan orang lain. Proses perjodohan antara aku dan pria bernama Atta itu pun sedikit redam karena aku tidak melakukan pergerakan berarti. Fokus utama yang ingin ku kejar selalu terbayang di benakku, sehingga urusan hati ku tendang jauh-jauh. Menurutku, kalau pun aku dan Atta berjodoh, kami akan selalu didekatkan oleh Yang Maha Kuasa. Jadi, itulah alasan mengapa aku tidak melakukan pergerakan.

Atta. Nama itu cukup singkat–ya, aku tidak tahu nama aslinya. Pria itu adalah salah satu anggota asrama pria tempatku tinggal saat ini. Kami sama-sama berasal dari Sulawesi, sama-sama tinggal di asrama yang diperuntukkan siswa asal Sulawesi yang menuntut ilmu di Pare, Kampung Inggris. Aku sudah mengenal wajahnya sejak pertama kali menempati asrama, kami sekelas di program Pronounciation sebuah lembaga kursus. Hanya sekedar wajah karena aku tidak memperhatikannya saat pengenalan diri.

Singkat cerita, beberapa bulan tinggal di sini aku mendengar desas-desus bahwa namaku sering disebut oleh anak asrama pria. Aku turut penasaran, walau akhirnya aku membuang rasa penasaran itu karena takut kegeeran. Roomate-ku yang merupakan salah satu pengurus asrama selalu menceritakan betapa hebohnya asrama pria bila dia berkunjung. Anak-anak menyebut namaku, menanyai keadaanku–yang ku dengar dengan heran karena aku hampir tidak mengenal seluruh anak asrama pria.

Hingga suatu saat aku harus berkunjung ke asrama pria dan menemukan Atta tersenyum lebar kepadaku. Aku membalas senyumnya tanpa ragu karena ingat bahwa dia adalah salah seorang teman kelasku dulu. Dia bertanya padaku, hanya sedikit, yang kemudian digoda oleh anak-anak lain. Aku hanya mampu tersenyum simpul. Tidak ada semburat merah di wajahku, hanya di wajah Atta. Jantungku pun berdentam seperti biasa.

“Kapan mau balik?” Dia bertanya di tengah sorakan anak asrama.

“25an Februari, kemungkinan besar.” Jawabku segera. Aku melihat alisnya bergerak naik, sedikit terkejut.

“Mau balik bareng?”

Aku terdiam untuk sementara. Bila dihitung-hitung, idenya lumayan bagus daripada aku berangkat sendirian tanpa teman bicara. Aku juga tidak bisa membayangkan apabila seluruh teman mobil travel menuju Bandara Juandaku kelak adalah pria yang tidak ku kenal. Aku pun mengangguk, “Iya, baguslah kalau mau bareng.”

“Nanti dilihat lagi, ya.” Katanya. Aku mengangguk lagi.

Kejadian berikutnya adalah kejadian memalukan untuk Atta karena dia menjadi korban kejahilan anak asrama. Saat itu pula aku tahu bahwa orang yang selalu menanyai keadaanku kepada roomate-ku adalah dirinya–dan segala informasi lain yang menguak gosip tersebutnya namaku di asrama pria.

Hingga akhirnya tulisan bertinta merah di kertas HVS itu tertempel di lemariku. Sudah hampir 2 minggu dia bertengger di sana dan aku belum kunjung menghubunginya, bahkan memasukkan nomornya dalam kontak telepon selularku pun tidak. Aku butuh alasan jelas untuk menghubunginya. Omong-omong, bukan Atta yang menulisnya, tapi Mr. Farma. Kejahilan Mr. Farma memang patut diacungi jempol. Dia benar-benar ingin aku dan Atta berhubungan dekat.

“Miss Atta!!!!”

Sebuah tangan menepuk pundakku. Roomate yang ku panggil Miss Nancy tersenyum tipis kepadaku. Ah ya, karena Atta aku mendapat julukan baru. “Mobil Travelnya udah ada.”

Aku mengangguk, mempersiapkan seluruh barangku ke teras asrama. Sekali lagi ku tatap kertas HVS itu. Aku tersenyum simpul kemudian berarak keluar kamar yang telah ku tinggali selama kurang dari 4 bulan ini. Mungkin memang akan ada saatnya. Entah kapan. Entah kapan aku akan menemukan nomor Atta dalam kontak telepon selularku. Ya, ternyata aku harus beranjak kembali tanpa teman asrama, tanpa Atta yang hampir berjanji untuk kembali bersama.

Atta… terima kasih atas perhatiannya, kalau jodoh tak ke mana kok!

P.s
Based on true story in Pare. Ehm… ya, about myself and someone who admire me so much. Thanks for your attention, by the way Mr. Ehm. Keep struggle on your dream, do not struggle to reach me because I’m just a human. ^_^

2 thoughts on “Terima Kasih Atta!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s