Suara Pencipta Kenangan #Selingan2

Seorang gadis menjadi pelanggan pertama toko kami hari ini. Gadis itu tampak cantik dengan kuncir satu, tubuhnya dibalut dengan sweeter abu-abu dan celana jeans panjang berwarna senada. Sebuah tas rajut terselempang di samping tubuhnya. Wewangian parfum yang menyeruak menjadi tanda kehadirannya yang lain. Dari bangku kasir, aku dapat melihatnya dengan jelas sedang membaca sinopsis beberapa buku dengan khidmat. Wajahnya sangat serius, dan bibirnya yang berwarna kemerahan itu berkomat-kamit seakan sedang merapal mantra.

Ini hari pertamaku bekerja sebagai penjaga sekaligus kasir toko buku kecil di Kotaku. Tidak banyak yang mengetahui kehadiran toko buku ini, toko buku dengan bangunan yang hampir reyot. Tapi aku tidak keberatan selama masih mendapat gaji setiap bulannya. Lagipula, toko buku ini selalu ada pengunjungnya. Itu yang ku tahu setelah beberapa kali mengunjungi toko buku ini sebelum bekerja menjadi kasir.

Radanya sedikit membosankan. Pelanggan itu masih sibuk membaca, masih kebingungan memilih buku apa yang akan dibelinya kelak. Aku memperhatikannya dengan penasaran. Kalau aku menjadi dirinya, aku akan memilih untuk review beberapa buku bagus di Internet sehingga tidak akan kebingungan saat membeli buku seperti dirinya. Dia hanya menghabiskan waktunya dengan kegamangan.

Dia gadis yang unik, bisa kau lihat buku-buku yang ingin dibelinya? Semuanya dongeng. Aku yakin, dia bukan ibu muda yang ingin membelikan anaknya buku pengantar tidur. Tidakkah kau merasa tertarik?”

“Tentu saja tidak…” Kataku membalas pemilik suara yang terdengar cerewet.

Mataku segera memperhatikan judul buku yang digenggam gadis itu. Peterpan, Romeo & Juliet… dan beberapa buku yang ditulis oleh seorang Philip Pulman. Entah, aku tak tahu menahu soal penulis. Tapi dia benar soal buku-buku dongeng.

“Jika aku menjadi dirimu, kelak, saat gadis itu membayar bukunya, aku akan mengajaknya berbasa-basi. Bila dia kembali ke sini, aku akan meminta nomor teleponnya dan seterusnya hingga aku bisa tahu seluk beluk dirinya. Tidakkah kau memikirkan hal yang sama?”

“Aku tidak segila itu dalam mengincar wanita.” Ujarku sembari mengalihkan pandangan keluar jendela. Awan hitam mulai berkumpul, menutupi sinar mentari yang teriknya minta ampun.

“Lihat, sebentar lagi badai akan tiba. Perlambatlah pekerjaanmu kelak saat dia membayar. Tahanlah dia di sini dan kalian bisa mengobrol sepatah dua kata. Bukankah itu ide bagus?”

Dahiku mengernyit. Suara itu seperti suara setan yang berkumandang memenuhi telingaku, menggodaku untuk melakukan hal aneh. Kali ini aku tidak menjawab. Aku memperhatikan gadis itu di sana, aku harap dirinya sudah memutuskan apa yang ingin dibelinya sehingga dia dapat pulang tanpa gangguan badai.

Dasar kau sok tak tertarik! Aku bukannya ingin membuatmu suka dengan gadis itu. Aku hanya menawarkan cara mudah agar gadis itu mau menjadi pelanggan tetap toko ini. Apa kau tidak mau mendapatkan bonus dari laba penjualan buku?”

Sial. Ucapannya ada benarnya. Tapi aku tidak mau menjadi pria brengsek.

“Yang mengatakan kau brengsek siapa? Gila. Aku hanya menawarkan cara baik sebagai penjual. Bukannya kau tahu, sebagai penjual kau harus ramah pada pembelimu.”

Aku tidak menjawab. Pelanggan pertama toko buku ini sudah berada di hadapanku, menyerahkan 3 buku dongeng dengan judul berbahasa Inggris yang tidak ku tahu artinya. Mataku mencuri pandang keluar jendela. Awan hitam makin pekat di langit. Apabila dia pulang sekarang, kemungkinan besar dia akan berhenti di tengah jalan menunggu badai reda. Dia mungkin akan kedinginan dan badannya akan sedikit basah kuyup karena percikan air.

Seperti kata suara itu, tapi dengan alasan yang berbeda, aku memperlambat pekerjaanku hingga gemercik hujan berbunyi di luar sana. Aku melihat gadis itu menghela napas pelan, wajahnya tidaj menunjukkan kekecewaan berarti.

“Tungguin hujan reda aja dulu mba, kalau balik sekarang entar basah.” Kataku mencoba ramah. Dia mengangguk pelan sembari tersenyum tipis.

Ketika aku ingin menyebutkan total harga jualannya, seorang pria bersweeter hitam memasuki toko. Rambut sebahunya yang ikal sedikit basah, sepertinya terkena hujan sebelum memutuskan untuk menepi. Gadis di hadapanku memperhatikan sosok yang sama, senyumnya merekah. Senyum yang membuat wajahnya makin terlihat cantik.

“Kirain mau nunggu di luar aja.” Kata gadis itu.

Mataku mengerjap beberapa kali sebelum aku sadar bahwa gadis di hadapanku ini berbincang dengan pria itu.

Pria itu tersenyum lebar. “Hujan dear. Kalau demam ntar aku repotin kamu.”

Oh. Sekarang aku mengerti. Tanpa membuang banyak waktu aku kembali menyadarkan dua sejoli itu dengan menyebutkan harga buku yang dibelinya. Dengan ling-lung aku berusaha membuang muka, enggan menatap kegiatan dua sejoli itu yang kemudian bercengkrama di deretan rak buku mengenai seorang penulis ternama Indonesia. Bukannya mendapatkan pelanggan, aku malah mendapatkan tontonan gratis FTV picisan yang nyata.

“Hahahahahaha… lihat mereka, cocok sekali rupanya. Pria itu sama uniknya dengan pelanggan pertama kira hari ini. Wow, hari ini kau sangat berjasa membuat keduanya memiliki kenangan baru di tempat ini! Bravo kawan.. bravo!”

P.s
Toko buku di samping ATM BRI itu mengusik pikiranku. Ada banyak buku tidak biasa di sana! Ingin sekali ke sana, tapi kantong menahan diri dengan mengunci mulutnya. Ya ampun… kegalauanku akhirnya tertumpah di cerita ini. Ah. Ada kemunculan Beautiful Boy di sini. Sosok yang selalu mencuri pandanganku di jalan ^_^ Rambutnya ingin sekali ku miliki hahahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s