Para Berkelok

Pikiran ini enggan move on walau sudah disuap oleh biodata singkat seseorang di akun sosial media; Twitter. Ada rasa ingin tahu lebih banyak, tapi rasa ingin menulis mengalahkannya dalam hitungan detik.

Aku pikir, hari ini aku akan absen menulis di blog. Ya, aku tidak benar-benar absen rupanya karena ada peristiwa yang menurutku penting–baru saja terjadi. Tiga gadis dengan karakter fisik dan mental yang berbeda, sharing passion di ruang tengah camp dengan menggunakan Bahasa Indonesia di tengah macan-macan yang ingin menerka. Syukur, ketiga gadis itu memiliki “pelindung” ajaib hingga para macan tidak bisa berkutik.

Ketiga gadis itu, ku beri nama Para Berkelok. Mereka memiliki selera dan hobi yang sama. Sebuah aliran lagu menyatukan mereka pertama kali, kemudian berlanjut hingga ke peristiwa kecil yang selalu mereka alami sehari-hari. Mereka juga bisa disebut sebagai para editor amatir yang memiliki tangan berkudis–selalu gatal hanya karena kesalahan kecil yang dibuat orang lain. Para gadis yang menyukai dunia perfilman, tapi tidak tahu bagaimana cara membuat film.

Para alayers yang sudah berubah, mereka enggan dengan hal yang berbau mainstream. Tidak suka tulisan yang over. Tidak suka dengan musik-musik Pop yang kadang kala dicampur dendangan Melayu. Semuanya berubah kala mendengar dendangan lain dari petikan gitar yang mendayu. Suara sarat makna menjerat mereka, membuat arah pandangan mereka berubah aral.

“Ya, aku pikir, hanya aku yang menjadi alien di dunia ini.” Kata gadis berbaju hitam. Tahi lalat di samping kiri atas bibirnya membuatnya makin terlihat manis.

“Tidak. Tapi, aku malah berpikir bahwa aku memang berbeda dari yang lain.” Sahut gadis berpiyama biru.

“Ah…, yang jelas tidak seperti mereka yang terlalu mainstream.” Kata gadis terakhir dengan cuek.

Ketiganya tertawa bersama dan melanjutkan cerita mengenai buku, editor ternama, dan tidak lupa para penulisnya. Tidak memperdulikan para macan yang mulai lelah. Para Berkelok tetap melanjutkan kisah, satu per satu menceritakan pengalaman dan buku-buku kesukaannya. Bagaimana bisa selama minggu mereka saling menolak untuk melirik atau berbicara satu sama lain tanpa tahu bahwa mereka memiliki passion yang sama?

Bodoh memang. Walau tidak suka hal-hal mainstream, mereka tetaplah manusia yang kadang bersikap egois. Manusia yang memiliki topeng–enggan mengeluarkan sifat aslinya sampai ada yang bisa melelehkan topeng itu. Tapi begitulah takdir. Tanpa tahu kapan datangnya. Pagi sekali, siang bolong, atau tengah malam bisa saja terjadi tanpa pernah diprediksi. Sama seperti mereka, takdir melelehkan topeng mereka di kala malam, lewat dendangan kecil.

“Parapa… parapaa… parap parara… nikmati jalan Jakarta~” Gadis berpiyama biru berdendang, mengingat-ngingat lirik lagu musik kesukaannya.

“Dasar! Anak Banda Neira ternyata,”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s