Permen Karet Pikiran

Aku ingin bercerita, kawan. Cerita yang menguak memori yang telah ku simpan dalam cache, dan ku endapkan jauh dari inti otakku. Cerita ini harusnya sangat penting karena berisi peristiwa manis, tapi karena waktu, manis itu lama-kelamaan menghambar. Tiada rasa lagi seperti permen karet yang selalu dikunyah. Enek. Ingin dibuang saja, jauh dari ingatan. Tapi, sayangnya memori itu tidak dapat dibuang semudah membuang permen karet.

Berbeda seperti permen karet yang tidak lagi lengket bila lama dikunyah, memori ini makin lama makin erat menempel di pikiran. Dia enggan beranjak walau ada ribuan memori yang berusaha menggantikannya.

Memori itu bermula saat aku menemui teman SMP-ku dalam reuni di sebuah Mall. Sebelum bersiap ke tempat tujuan, seseorang mengirimkanku pesan selular untuk segera bersiap. Seseorang itu adalah Andi, salah satu teman SMP-ku. Kami jarang berkirim pesan, tapi hari itu namanya tiba-tiba muncul dalam kotak masuk pesanku. Aku membalasnya dengan singkat dan sibuk bersiap, meskipun–kau tahu–aku tidak begitu peduli dengan fashion.

Sesampainya di Mall, aku segera menemui beberapa teman yang sudah duduk manis di salah satu ruang VIP Restauran kecil. Tidak banyak yang kuceritakan pada mereka, kecuali kehidupan masa SMA, kuliah, dan dunia kerja yang ku jalani. Tiba-tiba telepon selularku bergetar, sebuah pesan dari Andi kembali menyerang. Dia menyuruhku untuk menemuinya di luar restauran. Dia sepertinya baru tiba. Ya, mau tidak mau aku menurutinya. Kau tahu kan, betapa tidak enaknya diriku untuk menolak sebuah permintaan?

Satu, dua, tiga… beberapa kali aku melangkah, sosok Andi sudah terlihat di depan mataku. Dirinya tengah bersandar di dinding pembatas restauran dengan toko lain, aku menemuinya. Sebelum mengejutkannya, dia sudah berbalik melihatku. Tiba-tiba senyumnya mengembang lebar.

“Lama nggak ketemu,” katanya membuatku tertawa. Ya, memang benar. Kami sudah tidak pernah bertemu lebih dari 3 tahun lamanya.

Tidak banyak yang berubah dari dirinya selama 3 tahun ini. Hanya kumis tipis yang dibiarkannya tumbuh membedakan penampilan remajanya dulu. Kali ini ada sisi dewasa yang muncul dari auranya. Badannya yang tinggi dan proposional juga tidak berubah. Sepertinya dia tidak pernah absen bermain basket, meskipun sudah bekerja di salah satu perusahaan swasta.

“Ayo masuk!” Ku ajak dirinya untuk segera masuk.

Dia menuruti dengan berjalan di sampingku. Badannya yang cukup besar mengkerdilkan badanku yang memiliki ukuran tubuh standar. Rasanya seperti berjalan di samping monster–atau mungkin seperti ayah dan anak yang sedang berjalan bersama. Entahlah. Aku berusaha membuang pikiran itu jauh-jauh dan menertawai kebodohanku dalam menyamakan sesuatu.

“Ketawain apa?” Dia bertanya tiba-tiba, memasang wajah penasaran dengan mata yang lurus ke mataku. Pandangannya dalam.

Cepat-cepat ku alihkan pandangan. “Kumisnya minta dipanjangin kayak Tukul Arwana.” Jawabku asal, kemudian tertawa lebih besar lagi. Gila. Aku tahu, jawabanku kala itu memang sangat aneh.

Dia tidak tertawa, hanya mendelik kepadaku. Tapi tidak ku balas delikan itu dan segera memasuki kawasan reuni. Maka, 3 jam setelahnya kami sibuk mengobrol dengan teman-teman yang lain.

Sebelum beranjak dari acara reuni yang hampir selesai, Andi kembali mengirimkanku pesan untuk bermain Ice Skating di lantai atas Mall. Aku menolak dengan alasan tidak tahu bermain Ice skating. Upayanya tidak berhenti di situ, dia malah menawarkanku untuk menonton sebuah film di Cinema, yang lagi-lagi ku tolak. Aku pikir Andi akan berhenti menerorku dengan ajakannya setelah penolakan itu, tapi dia malah segera mengajakku ke lantai atas Mall setelah acara reuni selesai. Ya, aku tidak bisa menolak karena kali ini dia ingin mengajariku bermain di arena.

Selama beberapa menit aku merasa ling-lung di dalam arena. Andi dengan luwesnya bermain memutari arena Ice Skating tanpa takut terjatuh. Pelan-pelan aku mencoba meluncur, tetapi kebanyakan ku isi dengan berjalan di samping arena sembari memegang pembatas. Sial. Jujur saja, kala itu aku cukup kesal dengannya. Katanya, dia akan mengajariku tapi nyatanya dia malah keasyikan bermain.

“Ayo!”

Aku terkejut. Sebuah tangan menarikku meluncur di atas permukaan es. Tangan besar itu menggenggam erat tanganku yang kecil, genggamannya sangat kuat hingga membuatku tidak mampu berkutik kecuali mencengkram balik dan menutup mata saking ketakutan. Aku harap, aku tidak terjatuh. Itulah doaku satu-satunya.

“Buka matanya dong! Mau belajar, nggak?” Andi bertanya dibalik mataku yang tertutup.

Perlahan ku buka pelupuk mataku, kini Andi berdiri di hadapanku dengan tangan yang masih menggenggam kedua tanganku erat. Aku melihat ke sekitar dan sadar bahwa kami berada tepat di tengah arena. Karena terkejut aku makin mengeratkan genggaman, enggan menjauh darinya yang menyimpan senyum jail.

“Jangan tegang, rileks aja.” Katanya yang segera ku turuti. Mau tak mau, kawan.

“Nah, caranya ya kayak main sepatu roda. Terus meluncur, jangan takut terjatuh. Ayo!” Dia menjelaskan kemudian menarikku untuk menggerakkan kaki.

Dengan santai dia berjalan mundur, mengajariku dengan telaten dan sabar. Tidak peduli betapa sakitnya tangannya yang ku cengkram dengan kuat. Kadang aku berteriak pelan, merengek ketika dia menjailiku. Ya, dia berbohong ingin meninggalkanku di tengah arena. Senyumnya kadang membuatku ingin menginjak kakinya, tapi tidak bisa ku lakukan karena berada di atas es yang licin.

“Ayo!”

Mungkin lelah, dia akhirnya menarikku kembali untuk berputar-putar arena. Tangannya menarikku di belakang, menghadapkanku dengan punggungnya yang besar. Beberapa kali aku hampir memeluknya karena pemberhentian mendadak. Aku sudah lupa bagaimana merahnya wajahku diperhatikan orang-orang di sana. Ah… ya, mungkin mereka tidak memperhatikanku. Aku tahu, aku mungkin  kegeeran.

Itu baru awal kejadian, karena setelahnya kami sering berkirim pesan. Saling mengingatkan hal-hal kecil satu sama lain. Kadang kami berjalan bersama, mengobrol di atas motor–berlomba dengan angin untuk mencuri pembicaraan, dan menoton film bila ada waktu senggang.

Hingga akhirnya aku mendapat kenyataan bahwa aku harus dipindahtugaskan ke sebuah daerah, jauh dari kota tempat kami dibesarkan. Aku memberitahukan informasi itu padanya, yang dia sayangkan, namun didukungnya pula. Dimulai dari saat itu, pesannya jarang bermunculan. Dibarengi dengan kesibukanku menjelang pindah, kami tidak pernah lagi bertemu atau jalan bersama. Perlahan  tapi pasti, komunikasi kami pun putus total.

Sudah hampir setahun kejadian itu bermula. Kenangan akannya tetap bersemayam, walau sudah ku coba 1001 cara untuk mengganti kenangan itu dengan kenangan yang ku pikir lebih baik. Tapi sayang, sebaik apapun kenangan lain, dia tetap tidak dapat tergantikan. Aku habis pikir, lelah mencari kenangan yang berbeda untuk menggantikannya.

Mungkin seperti itulah kenangan sejati, kawan. Setiap manusia pasti memilikinya. Entah kenangan baik atau buruk. Dan mereka tidak bisa terganti meski waktu tidak pernah berhenti bergulir, malah, kenangan itu menguat tertempel di dinding-dinding pikiran. Iya kawan, aku mungkin akan membawanya hingga beberapa tahun ke depan–sampai aku mendapatkan kenangan yang lebih sejati lagi. Tidak tahu kapan, karena aku bukan Tuhan yang memiliki rencana pasti akan masa depan.

P.s

Based on true story–again. Kali ini, emang kenangan ini yang nggak bisa dihilangkan meskipun sudah mencoba move on ke mana-mana(?). Ya, sampai sekarang masih mencoba mencari kenangan sejati lainnya, yang bisa melemahkan tempelan kenangan itu di dinding pikiran. May I luck!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s