Pagi ini…

Pagi ini bulan masih tampak saat aku mengayuh sepeda menuju perempuran pertama bersama grammar di salah satu kursus ternama Pare. Udara masih terasa segar, ayam-ayam berkeliaran bebas, lantunan ayat suci Al-Qur’an pun masih berkumandang di campcamp Arab. Ini sudah kedua minggunya aku mengalami rutinitas yang sama, tapi baru kali ini aku memperhatikan segalanya dengan detail.

Ya, periode ini pertempuranku dengan Grammar sudah dimulai sejak pagi buta. Bertempur dengan materi Modal Auxiliary yang kadang membordairku dengan kebingungan. Tapi, hari ini adalah hari akhir pertempuran. Periode akan berakhir. Sayangnya, kebiasaan memiliki kelas di pagi buta tidak akan berakhir begitu saja.

Karena mengejar setoran, sebelum kembali ke Makassar 2 pekan mendatang, aku terpaksa mengambil 5 kelas dalam sehari. Dimulai pukul 05.30 WIB sampai 17.30 WIB–dengan beberapa spasi waktu untuk istirahat. Semuanya berkaitan dengan Grammar. Dari Writing Essay, Syntax, HP7, HP8 sampai HP9. Semuanya ingin ku lahap karena takut timbul penyesalan di lain hari. Aku akan menguatkan diri sendiri bila disangkut-pautkan dengan kesehatan tubuh.

Jangan khawatir, asal aku menyukainya, aku akan bertahan hingga titik darah penghabisan.

Mengenai pagi ini. Kronologinya berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Kali ini, setelah kembali dari pertempuran Modal, aku mengadakan sharing bersama 2 Brothers asal Sulawesi. Kami berbicara mengenai membaca, buku, dan sedikit filsafat. Aku tak tahu mengapa, lingkunganku saat ini mempertemukanku dengan anak-anak filsafat yang memiliki bacaan yang sangat berat. Rata-rata. Bahkan, roomate-ku sendiri adalah anak Filsafat Agama lulusan salah satu universitas di Yogyakarta.

Meskipun tidak terlalu mengerti pembicaraan mereka mengenai filsafat, aku tetap mendengarkan dengan khidmat. Hitung-hitung menambah ilmu, pikirku. Aku akan ikut cerewet bila bercerita mengenai buku dan membaca–yang ku sisipkan materi mengenai menulis.

Ya, akhirnya topengku terbuka juga. Sebelumnya aku berpikir bahwa, sekalipun aku akan kembali, aku tidak akan pernah dekat dengan anak-anak asrama pria. Kenyataannya terbalik karena sekarang aku sering bercerita dan menyapa mereka. Bahkan kami saling meminjamkan buku–kebanyakan ku pinjamkan-,-).

Kami sharing sampai kelasku selanjutnya akan dimulai. Pertemuan kali itu ditutup dengan permintaanku dengan salah seorang dari mereka untuk meminjamkanku buku The Da Vinci Code dari Dan Brown yang belum ku selesaikan.

Rasanya makin betah tinggal di Pare. Banyak saudara, teman atau kenalan yang ku dapat. Sayang, hanya 2 minggu waktu yang tersisa untukku–untuk menikmati lingkungan yang ditawarkan di sini. Tapi, seperti itu memang kenyataannya. Di mana pun, seenak apa pun tempat yang kita kunjungi, pasti akan ada waktu untuk kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s