Jawaban

“… If you never think about your heart, you will always be sad.”

Kalimat itu tiba-tiba menusuk ke hati. Tepat ke sisi yang paling sensitif. Betul atau tidaknya kata-kata itu tidak dapat ku pastikan. Yang jelas, aku jadi sadar bahwa aku ini juga bebal. Bebal, tidak seperti curahanku yang kadang mengidentifikasikan kealayan masa remaja.

Semalam aku berteleponan dengan seseorang yang pernah mengukir namaku di atas Gunung Mahameru. Seseorang yang tidak bisa ku tebak isi kepala mau pun hatinya. Dia seorang Pinokio yang setiap katanya tidak bisa ku percayai. Akibatnya, ya, dia tidak bisa pula mendapatkan hatiku.

Entah sudah berapa kali dia mengulang kalimat, Could you understand my heart? Yang ku jawab dengan I don’t know, you always make me confused. Ya, aku menjawab dengan jujur tapi dia tetap saja bertanya dengan kalimat yang sama. Sayangnya, percakapan lewat telepon itu tetap tidak bisa ku percayai 100%. Mungkin sudah ada lebih dari 1000 wanita yang menerima pertanyaan yang sama. Entahlah.

Tetapi postingan ini bukan mengenai Pinokio. Bukan pembohong yang mungkin sedang terkena akibat kelakuannya. Postingan ini hanya mengenai kalimat di atas.

Sejujurnya, realitanya atau apalah itu, aku adalah seorang yang keras kepala soal perasaan. Aku selalu mengenyampingkan perasaan, walau rasa itu ada. Dan benar, menulis hanya sebagai ajang menumpahkan perasaan itu. Karena yang ada di otak dan hatiku hanyalah Impian. Aku memang akan terobsesi dengan seorang pria bila berada jauh darinya dan bila mendekat aku yang menjauh. Aneh memang.

Dan Pinokio mengataiku sebagai seseorang yang terlalu fokus hingga lupa mengurus hati. Ya, mungkin saja ruang-ruang hatiku sebenarnya dipenuhi oleh sarang laba-laba karena tidak pernah terisi. Tidak semua, sih. Karena ada pula beberapa ruang yang terisi oleh cinta dari Keluarga, Sahabat, Teman, dan tentu saja Kepercayaanku. Harusnya tidak mengapa, bukan?

Ah… itu jawabannya. Aku masih punya keluarga, sahabat, teman, dan Tuhan. Semoga aku masih bertahan dengan kesendirian ini. Mimpiku masih berada di depan sana, sudah ada sedikit bias yang terlihat. Akan sangat menyesal diriku nanti bila aku tidak melanjutkan perjalanan ini. So, go on….

Writer, Photographer, Filmmaker, and Traveler. All is me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s